Sabtu, 21 Desember 2013

Dhoom:3 - When Villain has Reason

Ah... Darimana harus dimulai Ketika berbicara mengenai franchise satu ini, mungkin akan teringat dengan lagu 'Dhoom' yang pernah hits ditahun 2004 lalu. Dinyanyikan oleh Tata Young, seorang penyanyi Thailand. Lalu, dua tahun kemudian lahir sebuah sequelnya. Blockbuster.
Hrithik Roshan disandingkan dengan Aishwarya Rai. Siapa yang menolak jika disuguhkan dengan pasangan ini? Meskipun sebatas pasangan on-screen, dua artis ini sangat memiliki chemistry yang tinggi. Tidak terelakkan. Sedari Dhoom:2, lalu disusul dengan Jodhaa-Akbar yang menjadi film favorit di Filmfare 2008, serta Guzaarish. Undebatable.
Awal tahun 2013 lalu telah dirancang untuk sequel ketiga dari duo Jai-Ali ini. Dan tak tanggung, Aamir Khan menjadi villain di sequel ini. Tidak hanya Aamir Khan, yrf ternyata menggaet si sexy Katrina untuk bermain di sini sebagai 'Dhoom Girl' yang lalu 'Aishwarya Rai'. Once said, there's nothing that Aamir can't do. Membuat film dengan jenis Art House-pun, akan menjadi sebuah big hits jika ia telah turun tangan. Tidak hanya sebagai actor, ia-pun berhasil menggaet 'Best Director' untuk filmnya Taare Zamen Paar. Film pertamanya, dan juga satu-satunya hingga saat ini.
Aditya Chopra selaku produser-pun telah berkata, kalau Dhoom:3 ini adalah film Aamir. Tidaklah tanpa alasan ia mengatakannya. Karena diantara Dhoom franchise ini, kali ini adalah film terbaik yang pernah ada. Sebelum memasuki Dhoom:3 ini, ada baiknya coba kita review dari villain yang ada. John Abraham (2004), Hrithik Roshan (2006). Untuk pertama kalinya, Jai Dixit (Abhishek Bachchan) merupakan seorang hero, dan di sequel selanjutnya, ia tampak berbagi scene dengan si villain. Untuk seri ketiga dari Dhoom ini, Jai Dixit terlihat lebih lemah dibanding yang kedua. Kalah dari segimanapun. So, Aditya was right. It's Aamir's, not Abhi.
Berlatar belakang di Chicago (United States of America) Sahir Khan (Aamir Khan) menjalankan aksinya. Baik itu sebagai pencuri, juga sebagai seorang sirkus. Film dimulai pada tahun 1990, ketika Sahir kecil berusaha mencari duit dengan menjual cincin dan juga jam tangannya. Ia melakukannya untuk menyelamatkan The Great Indian Circus milik ayahnya (Jackie Shroff) pada hari itu, direncanakan untuk melunakkan hati direktur Bank of Chicago, Mr. Anderson (Andrew Bicknell). Namun taktir yang dilakukan tidak berhasil, alih-alih mendapatkan keringanan, Iqbal Khan lebih memilih mengakhiri hidupnya, tepat di depan Sahir kecil.
Villain has reason. Begitulah yang saya dapat ketika melihat kejadian tahun 1990 ini. Dimana tidak pernah terjadi di dua sequel sebelumnya. Tidak ada penjelasan khusus mengenai villain, hanya kemampuan yang dimiliki oleh villain tersebut. Film arahan Vijay Krishna Acharya yang ketiga dalam installment-nya ini memang sangat berbeda. Baik itu dari segi penceritaan, juga lokasi.
Jika pada instalmen kedua mengambil lokasi separuh di Rio, Brasil. Kali ini hampir 80% berlatar belakang di Chicago. Ntah apa mau dikata. Ini Bollywood atau Hollywood. Tapi, memang sangat mengganggu jika latar belakang western dengan dialog Hindi. Masih terdengar kurang valid, setidaknya ditelinga saya.
Tidak jelas alasan Jai Dixit beserta Ali Akbar dipanggil ke Chicago. Tidak ada penjelasan sama sekali. Intersection yang dipilih oleh editor malah terkesan Jai dan Ali sedang berliburan ke luar negeri. Dan mungkin banyak yang setuju bahwa setengah awal dari film ketiga Dhoom ini membosan kan. Introduction Sahir Khan as villain cukup menarik perhatian dengan segala teknis yang dilakukannya, dan juga dengan teknik pengambilan gambar yang lebih mantap. Hanya saja tap dance yang dilakukan Aamir Khan tidak begitu bagus, tidak bisa dijadikan hiburan. Dalam hal dance, Aamir tidak bisa lebih bagus dari Hrithik. Everyone in Bollywood admitted it, Hrithik really good at dance.
Karena ketidak-jelasan alasan Jai Dixit dipanggil kepolisian setempat, membuat Jai Dixit beserta Ali Akbar, yang menjadi kunci dari serial Dhoom ini terlihat mati. Tidak memiliki peran yang begitu penting, ada ataupun tidak, diganti maupun tidak, pertunjukan Dhoom 3 akan tetap berlanjut. Ya, begitulah kasarnya. Bahkan duo Jai-Ali ini dikalahkan dengan Aaliya (Katrina Kaif), the Kamli Ladki.
Khusus untuk Katrina Kaif, kali ini saya lebih bisa menerima perannya, selain sedikit fokus, juga hanya menjadi tempelan, dan lebih memperlihatkan aksinya sebagai seorang gymnastic. Kali ini yrf tidak salah meletakkan Katrina di dalam filmnya. Tapi perannya cukup penting untuk kisah Sahir Khan the Magician ini.
Adanya Pritam sebagai Music Director untuk Dhoom:3 ini membuat identitas Dhoom lambat laun mulai menghilang. Memang, masih santer terdengar alunan musik 'Dhoom' yang telah ada dari sequel pertama, hanya saja Pritam lebih menggunakan musik baru untuk memperlihatkan battle, dan juga Sahir's single battle versus polices.
Selain itu, terlalu banyak drama yang mengikat. Jika Dhoom:2 terkenal dengan partner in crime - fall in love - conclusion, untuk Dhoom:3 ini sendiri adalah meeting - doubting - failing - ghost protocol. Ya seperti itulah, banyak perbedaan yang nyata dapat dilihat dari sequel Dhoom terbaru ini.
Namun untuk secara keseluruhan, dalam sebuah film, Dhoom:3 berhasil memukau penonton dengan hari pertama mendapatkan 40cr. Sebuah fakta yang mengejutkan. Hanya hari pertama, dengan advance booking dan sejenisnya, tidak aneh. Dan lagipula, entah ini sequel Dhoom atau tidak, akan selalu ada penonton untuk Aamir Khan.
Tidak tau siapa yang mengambil nama, apakah Aamir, atau Dhoom series sendiri, tapi yang jelas ekspektasi orang tinggi akan film ini. Namun banyak yang tidak tercapai ekspektasinya, dimulai dari cerita yang tidak menarik, serta hilangnya identitas Dhoom.
Tapi tetaplah sebuah film yang pantas ditonton bersama keluarga tercinta di momen liburan natal dan tahun baru ini. Banyaknya gimmick mobil hancur, trik yang memukau, dan segala Hollywood type. Dan juga jangan kaget jika twist yang disuguhkan lebih dramatis dari yang dibayangkan. Twistnya cukup besar, dan itu dimulai sejak intermission.
So, dhoom seekers, challe mere saath. Let's get immersed in Aamir's movie, and forgot about Jai and Ali. They are controlled by Sahir Khan. And yes, don't forget Samar Khan... Who is he? Just come to your nearest cinema, and get immersed in love and faith. If being harsh, I would like to say that this is Now You See Me, Prestige, and Rain Man in one movie. To say what I got, I have to revealed the twist, but I choose not to. Just enjoy the ride with Aamir. (as)

Kamis, 12 Desember 2013

Soekarno (2013) - Are We Really Freed?

Entah dari mana harus memulai tulisan satu ini, sisi sejarah, atau bisnis. Sineas atau otentik. Film ini bukan sebuah propaganda ataupun sebuah penggeseran karakter untuk seorang founding father. Dapurfilm yakin dengan memilih Ario Bayu akan membawa efek yang lebih besar dibanding sosok karismatik Anjasmara yang lebih meyakinkan.
Tak terelakkan, kontroversi terjadi, antara pihak keluarga dan pihak produser. Pihak keluarga yang diwakilkan oleh Rachmawati lebih mempercayai Anjasmara dibanding Ario Bayu, namun sang sutradara, Hanung Bramantyo mempertahankan Ario Bayu karena dedikasinya terhadap perfilman Indonesia, dedikasi saat kerja, maupun kecocokan karakter terhadap Soekarno sendiri.
Mari tinggalkan sejenak mengenai otentikasi, karena sayapun tidak begitu ingat akan pelajaran sejarah mengenai hal ini. Dan sudah sewajarnya kita memberi penghargaan untuk para sineas yang mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk mengubah sejarah yang bersifat tekstual menjadi lebih audio dan visual. Lebih menarik untuk disimak.
Meskipun Hanung Bramantyo terkenal dengan keberaniannya membuat film yang penuh akan kontroversial, tapi sepertinya kali ini ia serius dalam menggarap autobiography mengenai bapak negara kita satu ini. Memang sengaja tidak bergelimang bintang, lebih fokus terhadap masa sebelum kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Berpuluh-puluh tahun Inggit Garnasih (Maudy Koesnaidi) menemani suaminya, Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan untuk rakyat Indonesia. Ditahan di Banding, diasingkan di Ende, serta ke Bengkulu karena penyakit malaria yang dialami oleh Bung Karno. Dari mengajak rakyat untuk bersatu hingga menjadi guru di sekolahan, telah dialami oleh Bung Karno. Inggit Garnasih sendiri bukanlah istri pertama, dan Bung Karno juga bukan suami pertama untuk Inggit. Mungkin kita bisa melihat silsilah untuk hal ini di wikipedia.
Film yang berdurasi 2 jam 30 menit lebih ini lebih berfokus pada Bengkulu dan Jakarta. Bengkulu di mana sebuah intro yang bagus untuk karakter ibu negara nomor satu milik Indonesia, Fatmawati yang dilakonkan oleh Tika Bravani.
Dengan lengsernya Belanda dari tanah Indonesia, maka Bung Karno dan Fatma berpisah, meskipun Inggit tau benar apa yang terjadi, dan ia tetap setia mendampingi sang suami, ke manapun. Masuknya Nippon ke Indonesia menjadi gerbang tersendiri untuk Bung Karno, karena 350 tahun Belanda tidak dapat tergantikan dengan cepat oleh Nippon. Mereka membutuhkan dukungan pemerintah setempat, orang yang dapat menggerakkan hati rakyat.
Memang tidak terpaparkan dengan sangat jelas mengenai cerita cinta antara Bung Karno dan Ibu Fatma, tapi hingga berpindah ke Jakarta, Inggit masih menemani dengan setia, namun hubungan yang tidak terputus memaksa Inggit untuk berpisah dari Bung Karno, meskipun Bung Karno tidak pernah mau mengambil jalan cerai.
Sudah menjadi takdirnya Inggit hanya sebagai benefactor yang sangat berjasa untuk Bung Karno, selepas dari Inggit, Bung Karno (Ario Bayu) langsung meminang Fatma, dan sisanya bisa dibaca dalam biografi seorang Bung Karno. Film hanya mediasi untuk menjelaskan secara audio dan visual, bukan ilustrasi dari kata-kata.
Mungkin alasan Dapurfilm adalah nilai jual dari Ario Bayu, namun di dalam keseluruhan film tersebut, adanya Bung Hatta (Lukman Sardi) yang membuat cerita menjadi lebih hidup dibanding perkenalan hidup Bung Karno itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan akting Ario Bayu, hanya saja penjiwaannya lebih bagus dilakukan oleh Lukman Sardi, tidak tau kenapa, setiap film yang ia bintangi, cukup bagus dalam eksplorasi karakter.
Sebenarnya masih banyak kekurangan film ini selain minimnya informasi, karena tidak semua orang mengetahui detail yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan tersebut. Mungkin bisa menjadi pelajaran untuk generasi mendatang.
Logat yang dibawakan oleh Tika Bravani yang berperan sebagai orang Sumatera kurang fasih, serta bahasa-bahasa penting lainnya, bahasa Jepang, Belanda dan lainnya. Ditambah para pemain pendukung kurang menggunakan dialek yang terdapat pada tahun itu.
Effort yang bagus dilakukan oleh Ario Bayu dalam berkomunikasi, namun untuk menjalankan sebagai kepala rumah tangga, Ario Bayu masih kurang, kurang terlihat kehangatan di dalam rumah tangga tersebut. Dan kurang memperlihatkan sisi flamboyan seorang kepala negara. Mungkin memang belum saatnya, karena Indonesia baru saja merdeka. Serta Tanta Ginting yang berperan sebagai Sjahrir juga cukup menjadi scene-stealer. Dan dalam penulisan yang dilakukan oleh Ben Sihombing masih kurang banyak quotes yang dapat diambil serta sepertinya memang tidak disiapkan sebagai film yang inspirasional dan motivasional.
Namun scoring yang dihadirkan sangat bagus, menggetarkan hati nurani sebagai suatu bangsa yang memiliki dasar Pancasila. Masih banyak meninggalkan pertanyaan di dalam karya besutan Hanung Bramantyo ini, namun menjadi bonus tersendiri untuk nonton film yang lebih dari 120 menit. Serta adanya ajakan untuk berdiri sekedar menghormati lagu Indonesia Raya merupakan tindakan yang benar, dan sangat disayangkan, di saat saya menonton, Citra XXI, 18:05, Kamis, 12 Desember 2013, tidak sampai 50% yang berdiri ketika lagu nasional tersebut diputar.
Secara pribadi, saya berterima kasih kepada seluruh sineas yang telah membuat film ini, maupun autobiography lainnya, K.H. Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah, K.H. Hasyim Asyari dalam Sang Kiai. Terima kasih untuk para sutradara, para produser. Dan terima kasih untuk Raam Punjabi yang telah bersedia menjadi produser di dalam film ini. Dan ditunggu biography pejuang lainnya.
We have been encouraged to praise our local product, and it's a great milestone of film Industry whereas about historical idols, and historical events. It's time to know our country better before other tell us. It's time to love our local product rather than others'. And inputs really need in term of betterment. If we aren't, then who will? If we're not pleased with our product, then how we will survive? Will we always be colonized? Soekarno and his friends were feel the pain of colonized by others, and now we are suffered for being colonized by our own government.
Will we always be a consumptive country? Will we always be feeding by others' countries? We have been freed since 1945, but we haven't stand with our own feet. Hatta were asking, "Are we ready to govern about 79 mio people?" If Bung Karno said no, maybe we haven't been this far, but he replied, "Let next generation make it better."
Sejarah memang sebuah pelajaran untuk kita, namun masa kini bukanlah peninggalan sejarah, melainkan titipan masa depan. Kita yang akan menentukan seperti apa masa depan, bukan sejarah, dan bukan masa depan itu sendiri. (as)

Minggu, 08 Desember 2013

99 Cahaya di Langit Eropa - Let's learn History!

Masih teringat tahun 2006 lalu ketika novel pembangun jiwa "Ayat-Ayat Cinta" akan diangkat ke layar lebar. Mendapatkan masukan yang menarik, dan juga ekspektasi tinggi terhadap film itu sendiri. MD mempercayakan film ini kepada Hanung Bramantyo. Meskipun film ini bertahan hingga bulan ketiga di bioskop, setting yang tidak asli tetap menjadi nilai kurang dari dalam film ini. Alih-alih Mesir, India menjadi pilihan untuk menggantikan suasana mesir itu sendiri.
Lalu Ketika Cinta Bertasbih, diproduksi oleh SinemArt, membawa keunggulan lebih. Dimana casts utama bukanlah artis, melainkan orang-orang baru yang sengaja dicari hingga mirip dengan karakter imajinasi Kang Abik.
Kali ini, perjalanan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra yang tertuang di dalam sebuah buku berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" diangkat ke layar lebar. Untuk jujur, saya tidak tau mengenai judul ini, dan tidak ada bayangan bahwa ini adalah film yang bertajuk islami. Beralatar di Vienna, Jerman membuat film ini menjadi layak ditonton, selain dari orisinalitas scene dan set, juga casts yang berperan juga melakukan effort yang besar untuk film ini.
Berawal dari mengikuti suaminya, Hanum (Acha Septriasa) mencoba mengabadikan momen yang ia lihat di kota yang penuh inspirasi tersebut. Sementara Rangga (Abimana Aryasatya) sibuk dengan program doctorate dibawah didikan Professor Reinhard.
Plot di dalam film ini terbagi menjadi dua plot yang penting. Plot Hanum dan Rangga. Plot pertama, adanya Fatma Pascha (Raline Shah) seorang Turkestan, dengan anaknya Ayse (Geccha Tavvara) yang menemani Hanum menjelajahi Vienna dari sudut pandang Islam. Plot kedua, kehidupan di kampus Rangga, adanya Muhammad Khan (Alex Abbad) yang kerap menemani Rangga di dalam beribadah beserta Stefan (Nino Fernandes) yang selalu penasaran akan Islam, namun tetap tidak mengerti akan indahnya Islam. Lalu adanya Marissa Nasution (yang ini saya lupa karakternya) yang tertarik dengan Rangga.
Untuk part pertama ini, lebih banyak menyusuri indahnya Islam, serta tempat-tempat yang bersejarah. Adanya Marion (Dewi Sandra) sebagai salah satu special appearance di dalam film ini yang berkarakter sebagai orang Prancis yang juga teman dari Fatma.
Terlalu fokus terhadap perjalanan Hanum dengan Fatma membuat film ini terkesan benar-benar menelusuri Vienna dari sudut pandang Islam, padahal di plot kedua, terdapat masalah yang dapat dikembangkan. Tidak hanya sekedar pemilihan Tuhan dengan hal yang bersifat duniawi, lebih masalah-masalah yang akan menunjukkan indahnya Islam dan juga membagun jiwa para penonton.
Namun sepertinya tidak dapat dimunculkan di bagian pertama dari film ini, hal yang bersifat dramatis malah muncul di bagian kedua nanti. Memang, ini menjadi tantangan tersendiri untuk sutradara bagaimana mengatur komposisi film lanjutannya menjadi tidak hambar, dan penuh akan drama semata.
Adanya Fatin Shidqia Lubis sebagai cameo di dalam film ini mengurangi esensi film ini. Mungkin karena bias, tapi rasanya dengan ada atau tidak adanya Fatin, tidak akan mengganggu cerita dari film ini. Untuk cameo, rasanya seorang Fatin masih belum bisa, karena ia sendiri belum menjadi superstar.
Dan juga kurangnya musik dan scoring membuat film ini menjadi lebih fokus ke dalam motion picture itu sendiri dibanding dengan penjiwaan yang mendalam. Sebagai seorang yang belum membaca novel "99 Cahaya di Langit Eropa", saya merasa takjub dengan chemistry antara Acha dan Abimana, Acha dan Raline Shah. Namun di sini Raline Shah belum dapat mengeluarkan sisi keibuannya. Terlihat sangat kaku ketika di dekat Geccha. Serta tokoh Khan sendiri masih menjadi pertanyaan, apakah ia menjadi orang penting atau hanya karakter yang akan membantu Rangga semata.
Untuk cerita pada plot pertama, saya merasa kagum, dan terus menghadirkan tanda tanya terhadap scene selanjutnya. Pada plot kedua, saya sudah dapat menebak serentetan drama yang akan terjadi. Sengaja dibuat bersih dan transparan, meskipun jika dihadirkan twist yang kecil akan membuat film ini lebih indah.
Berbeda dengan Laura dan Marsha yang sama-sama mengambil setting di Eropa, "99 Cahaya di Langit Eropa" memilih set yang tepat, terutama ketika di Paris. Itu tempat yang legenda, dan tempat itu pernah menjadi lokasi shooting dari 'Before Sunset' (Julie Delphy and Ethan Hawkes). Selain menyampaikan pesan, film ini juga mengajak kita berjalan-jalan ke Eropa, bagian Eropa yang indah.
It has been a history in century that Islam was the light for European. It seems they forgot for the one who gave them the light of life, technology, and hopes. And there's nothing to lose to know what exactly is. So "99 Cahaya di Langit Eropa" is a good movie to spend the day with your beloved. Beside showing off how good Islam is, the way Hanum and Rangga (on screen) represent as husband-wife really good. Fit to each other, and will give you some inspiration toward it.(as)

Jumat, 15 November 2013

Goliyon Ki Rasleela Ram Leela - More than Romeo Juliet


Cinta selalu saja terlibat dengan perbedaan, mulai dari perbedaan sifat, sikap, hingga juga perbedaan kepercayaan. Ada juga seperti Romeo dan Juliet, Montague dan Capulet, dua clan ini pasti sangat terkenal, dan juga dikenal oleh semua yang belajar literatur Inggris. Siapa yang tidak kenal dengan karya William Shakespeare satu ini? Iya, pasti semuanya mengetahui kisah cinta yang terhalang oleh kebencian ini. Sanjay Leela Bhansali yang terkenal akan film-film yang menyentuh dan klasik terinspirasi akan kisah cinta yang dihalangi oleh kebencian satu sama lain itu.
Sanjay Leela Bhansali, terkenal dengan film Devdas (Shah Rukh Khan, Aishwarya Rai, Madhuri Dixit) yang pada tahun itu merupakan film termahal di industri Bollywod, dan juga Guzaarish, film yang dibintangi oleh Hrithik Roshan ini menobatkan ia sebagai sutradara terbaik di ajang Filmfare pada tahun 2011. Tidak heran jika orang mulai melihat karya-karya Sanjay Leela Bhansali yang kaya akan artistik dan klasik.
Lupakan Montague dan Capulet, Sanjay memperkenalkan Sanera dan Rajadi. Dua klan yang sama sekali tidak akrab dari 500 tahun lamanya. Meskipun saling bermusuhan, tapi dua klan ini bisa hidup berdampingan di dalam satu kota. Asap akan ada jika ada api, begitulah yang kerap terjadi di sana. Berlatar belakang kota yang bebas jual-beli senajata api ini kisah dua hati yang terhalang akan kebencian hadir.
Ram (Ranveer Singh) adalah putra dari kepala Rajidi, dan sangat tidak suka akan perperangan, apalagi perang besar yang bisa saja terjadi tanpa rencana. Ia lebih memilih berdamai, dan mengalah, dibanding memberi peluang untuk terjadinya pertumpahan darah.
Layaknya Romeo Montague, Ram juga iseng datang ke pesta yang diadakan Sanera. Perayaan Holi tersebut menjadi momen kali pertama Ram dan Leela (Deepika Padukone) bertemu. Pertemuan yang bisa dikatakan tidak biasa, mereka berdua sama-sama menodong pistol satu sama lain. Dan dari situlah kisah yang tak terelakkan ini terjadi.

Leela yang saat itu akan dijodohkan dengan seorang Arkeolog tamatan London-pun lebih memilih bercinta dengan Ram, seorang Rajidi, musuh abadi Sanera. Raseela, kakak-ipar Leela mengetahui apa yang terjadi, ia memilih diam, karena akan memperkeruh suasana yang ada jika info ini diketahui oleh Rajidi maupun Sanera. Hingga kejadian yang tak terelakkan terjadi, dimana suami Raseela tidak sengaja menembak mati abang dari Ram, dan panik, Ram-pun membunuhnya.
Tak terelakkan, Rajidi dan Sanera semakin keruh. Leela marah besar, namun Raseela menyuruhnya untuk memilih cinta dibanding kebencian. Hingga akhirnya Leela memilih kabur bersama Ram. Namun pelarian mereka tidaklah lama, selang beberapa hari, mereka tertangkap, dan dibawa pulang ke rumah masing-masing setelah menikah.
Ram marah besar, hatinya sakit, tapi ia tidak bisa untuk mengalah. Hingga akhirnya ia bersedia menjadi Don, menggantikan ayahnya, sembari memulai taktik untuk merebut Leela dari Sanera.
Setelah itu, terjadi interval, atau pengalihan tujuan, jika setengah bagian pertama fokus untuk menceritakan cerita cinta antara Ram dan Leela, di bagian kedua ini lebih fokus dalam taktik, dan juga politik. Adanya Bhavani (Gulshan Devaiah) sebagai semi antagonis yang haus akan kekuasaan mengikuti rencana Baa (Supriya Pathak) yang ingin membunuh Ram ketika berada di rumahnya, seolah terkesan Rajidi telah mencoba membunuh Baa, seorang Sanera.
Jatuhnya Baa mengharuskan Leela yang mengurus semua urusan pekerjaan, mulai dari ekspor-impor, dan juga bisnis lainnya. Bertemu dengan Ram tak terelakkan. Meskipun ada guyonan yang mengganggu, tapi masih manis untuk mengikuti ceritanya.
Hadirnya Kesar, janda dari abangnya Ram juga mempengaruhi keputusan Baa akan Sanera dan Rajidi. Sanera yang ternyata sudah bergerak lebih dahulu mulai menghabisi Rajidi, hingga Leela mengetahui hal ini. Antara sedih, atau lega, lega karena ia tidak perlu cemas akan nasib suaminya, atau sedih, karena kehilangan orang yang paling ia cintai.
Goli, anak dari Kesar berhasil merubah Baa yang kasar menjadi lembut, terlebih lagi menyentuh sisi keibuan dari seorang Ibu. Bhavani yang mengetahui inipun berontak, ia ingin Goli segera dimusnahkan. Alih-alih didengar, malah ia yang mendapatkan kado 'tembakan' dari Baa.

Ternyata cerita tidak harus memiliki akhir yang bahagia. Seketika itu Baa ingin memanggil Ram, agar disatukan dengan Leela, Raseela yang begitu lambat bergerak mengakibatkan kedua tokoh utama ini mengakhiri perselisihan antara Rajidi dan Sanera dengan kematian mereka. Iya, tidak jauh berbeda dengan akhir cerita Ishaqzaade, mengakhiri sesuatu untuk memulai yang baru.
Sanjay memilih untuk menjadi music director sekaligus di dalam film ini, dan ya, pilihannya tepat, karena dengan balutan musik dan scoring yang ia tentukan, cerita Ram dan Leela lebih dramatis, dan juga dapat menyayat hati penonton. Mungkin tidak dapat melawan Ranjhanaa dalam genre 'Romance' terbaik untuk 2013, tapi RamLeela adalah sebuah masterpiece yang tidak boleh terlupakan oleh penonton.
Memang, tema yang diangkat kali ini sudah biasa diangkat ke layar lebar. Tapi, RamLeela bisa jadi pilihan yang baik untuk kalian yang ingin menghabiskan waktu dengan pasangan kalian. Tidak ada salahnya belajar dari film ini, meskipun itu sudah banyak, tapi warna yang diciptakan hampir seperti Romeo dan Juliet ini membuat mata segar, ditambah dengan item songs yang tidak kalah menarik.
So, hatred will demolish everything, but love will let flower to grow, even in dessert. Hatred shouldn't be replied with hatred, it will make another events, another loss, but love is another way to end it. (as)

Sabtu, 02 November 2013

Hum Saath-Saath Hain (1999)

Balik ke zaman sebelum milenia ketiga. Jika Kabhi Khushi Kabhie Gham dapat menarik perhatian para penikmat Bollywood, Hum Saath-Saath Hain seharusnya bisa menarik perhatian juga. Film yang dibesut oleh Sooraj R. Barjatya ini membawa tema keluarga ke dalam layar lebar. Bergelimang artis. Itulah ketika melihat poster film ini.
Tidak heran juga, adanya Salman Khan menjadi daya tarik tersendiri untuk menonton film ini. Tidak hanya itu, adanya Saif Ali Khan, Karisma Kapoor, Neelam dan Tabu juga menambah eksklusivitas film ini. Cerita yang diangkat di dalam film ini, selain menonjolkan esensi trimurti, juga memberi pelajaran untuk tidak menjadi manusia yang tamak.
Di ulang tahun pernikahan yang ke 25, Ram Kishen dan Mumtaa dihadiahi dengan pernikahan Vivek (Monish Bahl), putra pertama mereka dengan Sadhna (Tabu). Tabu dapat menerima Vivek yang tangan kanannya tidak bisa digerakkan. Dan juga kepulangan Prem (Salman Khan) dari Inggris. Prem adalah anak yang dibanggakan, karena kemampuannya yang luar biasa, dapat sekolah tinggi, dan juga pintar tentunya. Adik mereka, Sangeeta (Neelam) telah menikah dengan Anand, dan memiliki seorang putri. Lalu anak terakhir yang menjadi tumpuan keluarga di dalam masa pertumbuhannya, Vinod (Saif Ali Khan).
Sudah menjadi hal yang lumrah untuk keluarga di India sana untuk tetap bersama, meskipun anak-anaknya sudah besar, dan sudah menikah.
Konflik yang ada hanya sebuah ketakutan berlebihan yang dialami oleh Mumtaa, sang Ibu, ketika Ram Kishen memilih Vivek untuk menduduki jabatan 'managing director' di dalam perusahaan mereka. Kegalauan yang melanda itu didasarkan oleh desakan ketiga temannya yang tidak memiliki keluarga, dan juga masih suka bermain judi.
Masalah muncul setelah intermission. Di awal film, terkesan seperti drama yang penuh akan cinta. Selain Vivek, Prem juga menemui jodohnya, Preeti (Sonali Bendre). Dan sesuai janji Ram Kishen, di hari ia melihat ketiga menantu wanitanya, ia akan memberikan seluruh hidupnya untuk Mumtaa. Vinod sangat dekat dengan Sapna (Karisma Kapoor), teman masa kecilnya. Yang menjadi penghuni terakhir di dalam keluarga Ram Kishen.
Berhasil dihasut oleh ketiga temannya, Mumtaa meminta alasan kenapa Vivek diberi jabatan yang tinggi, yang seharusnya itu adalah milik Prem, karena Prem yang pintar diantara mereka bertiga. Terlebih setelah Anand, suaminya Sangeeta mengalami masalah dengan saudaranya sendiri di perusahaan mereka, yang memaksa Anand pindah ke Bangalore untuk membuat perusahaan sendiri. Mumtaa tidak ingin hal itu terjadi pada Prem maupun Vinod nantinya. Sehingga ia memulai mengambil langkah.
Ia meminta kepada Ram Kishen untuk mempertimbangkan keputusannya. Ram sangat yakin kalau ketiga anaknya tidak mungkin haus kekuasaan. Tetapi kekhawatiran itu tetap saja ada, sehingga Vivek yang tau akan hal ini dari Sadhna, bersedia meninggalkan rumah beserta kantor, dan kembali ke kampung. Vinod tidak bisa membiarkan hal ini terjadi, ia memilih ikut Vivek ke kampung, juga dikarenakan di kampung ada Sapna.
Sepulangnya Prem, ia merasa kaget karena kamar yang biasanya ia huni sudah menjadi kamar yang asing, barang-barangnya telah dipindah ke kamar Vivek. Ia marah, ia ingin semuanya seperti dulu, dimana ia, Vivek dan Vinod berada satu kamar, dan ya mungkin sekarang Vivek sudah menikah, maka Vivek berhak keluar dari kamar, dan pindah ke atas.
Karena hal ini, Prem merasa keluarganya hancur, untung Preeti selalu ada di saat Prem butuhkan. Sehingga pada suatu saat, di mana Sadhna akan melahirkan, akhirnya Mumtaa sadar, keluarganya lebih penting dibandingkan teman-temannya, terlebih teman-temannya itu bukan orang dalam. Bukan yang menjalani hidupnya.
So, there were saying "Blood thicker than water" so does it. A mother can't fight with her kids, and once kids fight for others, that's the time we should recalculation. Something should be wrong. And yes, we stand united. (as)

Krrish 3 - Everyone could be Krrish


Krrish 3 merupakan lanjutan dari film yang bertajuk manusia super, Krrish. Dibintangi oleh Hrithik Roshan, cerita hingga penyutradaraannya oleh ayahnya sendiri, Rakesh Roshan. Siapa yang menyangka, dari magis 'Jaddoo' di Koi Mil Gaya membuka gerbang yang sangat lebar untuk FilmKRAFT. Jika suasana di Krrish masih terlihat India-Bollywood, kali ini, Krrish 3 menyuguhkan suasana yang berbeda, tetapi tetap menggunakan bahasa Hindi.
Untuk visual effect (vfx) kali ini dipegang oleh Red Chillies, perusahaan yang dulunya didirikan Juhi Chawla bersama Shah Rukh Khan. Kini Shah Rukh mantap dengan Red Chillies, setelah mengganti namanya dari 'Dreamz Unlimited'. Dengan vfx seperti ini, mungkin Bollywood dapat bersanding dengan kancah perfilman di negeri paman Sam sana.
Setelah bersatunya Rohit dan Krishna (Hrithik Roshan), kehidupan baru dimulai. Sudah tidak berlatar belakang di Singapura, tapi lebih ke kota Mumbai sendiri. Krishna dan Priya (Priyanka Chopra) memulai hidup baru. Priya tetap menjadi seorang jurnalis televisi, dan Krishna selalu saja mengalami krisis pekerjaan. Krishna lebih memilih bekerja sebagai security untuk bisa mencegah kejahatan di sekitarnya, namun itu yang membuat ia tidak bisa lepas dari Krrish.
Rohit tetap bergulat dengan eksperimen yang baru dan termutakhir. Hingga di Namibia terdapat suatu virus yang mematikan. Memang terlihat seperti War World Z, penuh dengan virus yang gampang menular, dan juga antidote yang susah ditemukan.
Di sisi lain, Kaal (Vivek Oberoi) bereksperimen dengan genetika, dimana ia ingin membuat dirinya menjadi lebih berkuasa. Banyak gen dari binatang yang telah dicampurnya dengan gen manusia, untuk menemukan gen yang cocok. Hasil dari mutasi gen tersebut, lahirlah mutant yang tak terduga, dari lizard man, mystique, dan lainnya. Untuk bagian ini, terasa sekali Rakesh sangat berpusat pada X-Men, bagian dari Marvel Universe ini.
Cerita yang diangkat oleh Rakesh Roshan ini tidak terlalu eksklusif, karena masih sangat kasar dan juga terdapat beberapa kemiripan dengan film yang telah lama ada. Namun bukan Bollywood namanya jika tidak dapat membuat suatu jiplakan yang memiliki nilai tersendiri.
Krrish sendiri memiliki campuran dari Batman dan juga X-Men, dimana jika Batman berasal dari seorang Bruce Wayne, Krrish berasal dari Krishna yang memiliki kekuatan super karena perbuatan 'Jaddoo' di Koi Mil Gaya. Tapi tetap memiliki satu persamaan dengan superhero lainnya, identitas. Krrish membuat orang percaya bahwa ia tidak akan selalu ada dengan doktrin bahwa setiap orang yang berbuat baik untuk kebaikan orang lain, terutama khalayak ramai, dialah Krrish.
Hal yang ditanamkan Rakesh Roshan dari awal film ini sangat bermanfaat untuk penyelesaian dari film Krrish 3. Dimana terdapat perperangan besar antara hero dan villain, yang mengakibatkan hampir seluruh kota hancur lebur karenanya. Kaal yang tidak bisa dimusnahkan begitu saja, melawan Krrish yang manusia biasa dengan beberapa kekuatan super.
Tak terelakkan, poin-poin yang telah dibeberkan dari film dimulai sangat penting untuk penyelesaian cerita Krrish 3. Begitu banyak pelajaran yang ingin disampaikan oleh Rakesh, hanya saja ia tidak sempat membuatnya lebih terarah. Fokus cerita tidak begitu kuat, ada bagian drama yang tetap berjalan, dan tetap ada insert song yang lebih bagus tidak ada.
Untuk Background music sendiri dipegang oleh Rakesh, ia berusaha untuk membuat irama 'jaddoo' jadi theme song untuk Krrish 3 kali ini. Untuk sekedar bgm, saya akui, bagus, cukup menegangkan untuk film bertajuk superhero, tapi untuk insert song, hanya ada satu yang rasanya lebih bagus jika tidak ditampilkan.
Sebagai penutup dari review ini, saya sarankan jika menonton, jangan berharap sesuatu yang lebih. Karena ceritanya kurang kuat dan sering melupakan detil, tapi semuanya terobati dengan dance Hrithik. Who wants to miss his dance? (as)

Rabu, 21 Agustus 2013

Chennai Express - Common Man Expressing Love

Siapa yang tidak mengenal artis yang sudah terkenal secara internasional satu ini? Shah Rukh Khan. Naam suna hogaya? Pastinya semua orang, terutama yang bermukim di Indonesia, pasti pernah menonton dua film hits yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan dan Kajol yang diarahkan oleh Karan Johar, Kuch Kuch Hota Hai, dan Kabhi Khushi Kabhie Gham.
Kreativitas tidak mengenal umur, di umurnya yang beranjak ke 48, Shah Rukh Khan terus berperan aktif di dunia perfilman Bollywood. Setelah tahun lalu ia merilis filmnya yang diproduseri oleh salah satu rumah produksi terbesar di India, Yash Raj, kali ini ia mencoba menggaet Rohit Shetty untuk membuat film yang memang ditujukan untuk bisnis.
Tahun lalu Red Chillies berkolaborasi dengan Dharma Productions dalam membuat Student of the Year, kali ini Red Chillies mencoba untuk menjadi rumah produksi yang utama didampingi oleh UTV dan Ronnie Screwvala.
Mungkin banyak yang tidak mengenal Deepika Padukone. Iya, dia pernah menjadi lawan main Shah Rukh Khan di film Farah Khan Om Shanti Om. Namun mungkin pada saat itu nama Deepika belum melejit seperti sekarang. Setelah mendapat nama dari film Housefull, Deepika melebarkan sayapnya ke level yang lebih tinggi, bahkan Katrina Kaif sampai kebakaran jenggot karena banyak endorsement yang melirik Deepika.
Sedangkan Rohit Shetty sendiri sukses membuat film komedi yang sampai 3 sekuel, Golmaal. Kebanyakan filmnya memiliki Ajay Devgn sebagai pemain utama. Rohit Shetty mampu membuat film yang bertema action dengan bagus. Dan makin ke sini, makin bagus dari segi pengambilan kamera dan lokasi. Lokasi? Mungkin itu idenya Shah Rukh, karena Shah Rukh yang mampu memikirkan hal-hal yang seperti itu.

Chennai Express mengambil latar di daerah Tamil Nadu (South of India) dimana Chennai Express sendiri adalah nama kereta api yang beroperasi dari Mumbai hingga Chennai. Mungkin begitu banyak film Bollywood yang mengambil latar di kereta api, dimulai dari Dilwale Dulhania Le Jayenge hingga Yeh Jawaani Hai Deewani.
Rahul (SRK) adalah seorang pria baya yang mendapatkan tugas dari sang nenek untuk membenamkan abu sang kakek ke Rameshwaram, daerah selatan India. Namun karena desakan teman dekatnya, ia merubah rute perjalanan dari Rameshwaram ke Goa. Namun takdir membuat ia tidak bisa sama sekali menjalankan rencananya untuk ke Goa.
Karena tidak sengaja ketinggalan abu sang kakek, Rahul harus kembali ke kereta, dan di sana ia bertemu dengan Meena, seorang wanita yang tergesa-gesa menyusul kereta. Rahul membantu Meena (Deepika Padukone), dan dari sini semuanya berubah.
Ada banyak scene yang sengaja dibuat untuk menambah durasi, terutama ceritanya sendiri lemah, bahkan diimingi dengan cerita Veer-Zaara yang mengundang emosi penonton. But show must go on.
Meena adalah anak orang terpandang di Komban. Ia mencoba melarikan diri karena tidak ingin dinikahkan, sayangnya Rahul yang begitu baik membantu empat orang suruhan ayah Meena. Berawal dari kebohongan membuat perjalanan Rahul dan Meena menjadi lebih indah.
Pada saat hari pernikahan Meena dengan Tangaballi, Rahul kembali ke Komban setelah tertangkap oleh polisi Sri Lanka. Kali ini Rahul membantu Meena untuk tidak menikah dengan Tangaballi. Dan perjalanan mereka membuat Meena sadar bahwa orang biasa dapat menjadi luar biasa. Balutan musik dari duo Vishal dan Shekar terdengar sangat fresh dan peletakan musiknya juga bagus.
Adanya Farah Khan membuat film Rohit Shetty terlihat lebih manis dibanding film-film dia yang lainnya. Nuansa romansa tercipta di dalam musik 'Titli' sangat jauh berbeda dari romansa Rohit Shetty lainnya.
Memang lemah di dalam cerita, namun Chennai Express merupakah tipikal film Rohit Shetty yang mengundang tawa.
Sebelum interval disuguhkan berbagai macam lelucon baik dari kata hingga scene. Setelah interval masuk ke dalam drama romansa Rahul-Meena serta action ala Rohit Shetty. Memang untuk ukuran Shah Rukh Khan, film seperti ini bukanlah film yang diharapkan. Namun Red Chillies mendapat keuntungan yang besar. Pada minggu pertama tayangan, mengalahkan Ek Tha Tiger yang tahun lalu merupakan highest grossing movie.
Reported A tiger was killed on the railway, salah satu lelucon yang menyatakan bahwa Chennai Express lebih menarik dibanding Ek Tha Tiger.
It's a good time to released. No matter good or not, the movie still have audiences, and of course, SRK's fans never miss this chance, once a year.(as)

Get M4rried - More to Hilarious

Film yang merupakan arahan Hanung Bramantyo di dua seri awalnya ini memang sudah mulai memiliki nama di masyarakat. Kisah yang berawal dari Maemunah (Nirina Zubir) yang tidak ingin menikah akhirnya luluh terhadap Rendy (Richard Kevin). Dulu memang Richard Kevin memiliki peran di dalam film Get Married, namun di kelanjutan sequelnya, Richard Kevin diganti oleh Nino Fernandes.
Apa yang diharapkan di dalam film yang bertajuk komedi ini? Iya, tidak lain adalah kecakapan film ini untuk menghibur semua penonton. Kisah Mae dan Rendy tidak lagi menjadi perhatian di sequel yang keempat ini. Mae yang sudah cakap akan mengurus rumah serta ketiga anak kembar mereka, dan juga ketiga sahabat Mae yang berubah profesi dari sequel sebelumnya.
Get M4rried menjumpai penonton tepat sebelum hari Raya Idul Fitri 2013 (Waktu Masehi). Untuk sequel yang keempat ini, Monty Tiwa berusaha untuk memperbaiki kesalahannya di Get Married 3 yang benar-benar tidak memiliki esensi "get married".
Sinopsisnya, adalah seperti berikut:
Di saat merayakan ulang tahun anak-anak Mae dan Rendy dengan Eman (Aming) sebagai Event Organizer, debut pertama party organizernya yang selalu berhasil memeras Mae dan Rendy untuk berbagai biaya tambahan mereka mendapat kabar mengagetkan. Sophie (Tatjana Saphira) mengumumkan kalau ia dan Kim Bum Park (Math Wang Kie), cowok Korea tidak bisa bahasa Indonesia yang baru ia kenal 3 minggu di saat ia liburan ke Korea, akan menikah. Mama Rendy (Ira Wibowo) yang dulu menikah pertama kali saat berusia 18 dengan pangeran dari Malaysia menyambut berita ini dengan gembira ria. Apalagi Kim ini anak dari pemilik perusahaan elektronik ngetop di Korea. Sementara Babe (Jaja Mihardja) dan Bu Mardi (Meriam Bellina) langsung menuduh Sophie pasti sudah hamil duluan. Benny (Ringgo Agus Rahman) yang sekarang sedang meniti karir untuk menjadi seorang Ustad, karena Ustad jaman sekarang banyak duitnya, malah mendukung pernikahan Sophie, dan siap menikahkan kalau Sophie mau menikah siri.
Mae pun mengatur strategi. Karena selama ini Sophie selalu juteg ke Mae, Mae akan mencoba pendekatan dan menjadi sahabat Sophie supaya secara perlahan tapi pasti, Mae bisa mempengaruhi jalan pikiran Sophie. Sementara Guntoro (Deddy Mahendra Desta), Benny dan Eman bertugas untuk mengalihkan perhatian Sophie ke cowok lain. Karena Mae yakin, yang namanya cinta monyet itu gampang hilangnya. Jadilah Guntoro, Benny dan Eman berusaha mencari cowok-cowok seantero ibukota yang bisa merebut hati Sophie dari si ganteng dan sempurna, Kim.
Tapi ternyata, senjata makan tuan. Saat pendekatan ke Sophie dan teman-temannya yang ABG tapi justru sudah sukses, memiliki karir, bahkan sudah keliling dunia, Mae jadi merasa ia sudah membuang-buang masa mudanya, dan dirinya belum melakukan apa-apa. Mae pun jadi lebih nyambung bergaul dengan geng Sophie daripada ke Rendy ataupun sahabat-sahabatnya sendiri. Rendy juga menjadi seperti cacing kepanasan karena curiga salah satu anak ABG ada yang naksir dengan Mae.
Sementara itu Guntoro, Benny dan Eman berhasil mendapatkan cowok baru buat Sophie, namanya Jali (Ricky Harun) anak betawi yang mereka latih supaya bisa menjadi cowok ideal buat Sophie
Tidak ada kisah yang tidak memiliki masalah, tidak ada mimpi yang selalu yang diharapkan. Terkadang apa yang kita lihat belum tentu yang ditakdirkan untuk kita. Begitulah keadaan Sophie, yang di akhir cerita diputuskan bahwa Sophie dan Jali dalam status kawin gantung. Sehingga dipastikan akan ada sequel selanjutnya yang membawa Ricky Harun ke belantara Get Married, dan untuk kualitas filmnya sendiri sudah sangat bagus, dan cocok untuk dinonton bersama keluarga.

Sabtu, 20 Juli 2013

Delhi 6 - Decision within human, themselves

Bollywood movies! Ya, film yang akrab disapa dengan bollywood tak pernah lepas dari yang namanya drama, romance, dan serentetan genre lainnya. Semuanya berawal dari sebuah cerita, apakah itu berdasarkan sebuah cerita nyata, atau hanya sebuah fantasi penulis, bisa dijadikan sebuah motion pictures oleh beberapa production house ternama.
Rakeysh Omprakash Mehra Production, sebuah production house yang dimiliki oleh sutradara yang terkenal dengan jiwa patriotismenya ini. Kesuksesan filmnya terdahulu, Rang De Basanti, membuatnya memiliki nama di kalangan sineas, dan juga penonton. Pasti ada sebuah pelajaran yang dapat diambil dari film besutan sutradara satu ini.
Tidak hanya mengandalkan cerita yang bermakna, Rakeysh juga berhasil menipu penonton dengan membuat Old Delhi terlihat lebih hidup, padahal semuanya itu dilakukan dengan bantuan teknologi CGI. Merupakan sebuah kesalahan untuk dunia sineas membuat setting dengan CGI. Tapi tim ini berhasil membuatnya terlihat nyata, sehingga kesalahan itupun bisa termaafkan.
Abhishek Bachchan sebagai pemeran utama dari film ini sebenarnya bukan pilihan utama, dimulai dari Siddhart (Rang De Basanti, Chashme Baddoor), Imran Khan, Ranbir Kapoor, Hrithik Roshan, dan Akshay Kumar menjadi pertimbangan Rakeysh. Dan tak hanya itu, untuk tokoh Bittu sendiri, ia tidak mendapatkan Sonam Kapoor melalui audisi casting, tapi cukup bicara dalam waktu yang cukup lama. Mungkin Rakeysh memiliki alasan tersendiri kenapa harus Sonam Kapoor.
Roshan Mehra (Abhishek) adalah seorang keturunan India yang sedari lahir telah tinggal di New York. Karena alasan keamanan, ia menemani neneknya (Waheeda Rehman) yang ingin kembali ke Delhi. Dan pada saat itu, Delhi lagi dihantui dengan sosok Black Monkey. Seorang yang menyamar jadi monyet dan melakukan tindakan kriminal lainnya.
Untuk yang tertarik bagaimana Delhi, maka Delhi 6 adalah jawabannya. Disuguhkan bagaimana keadaan kota yang sebenarnya. Penduduk yang padat dan memiliki kepentingan masing-masing membuatnya terlihat lebih padat daripada seharusnya.
Roshan sendiri merupakan seorang Muslim, namun neneknya adalah seorang Hindu. Iya, sudah sangat banyak contoh kasus inter-marriage ini. Namun tidak untuk membahas perbedaan di dua kepercayaan ini, masih ada materi lainnya yang ingin disampaikan oleh Rakeysh.
Dugaan Roshan ternyata salah. Delhi menyambut hangat sang nenek, dan ia mulai beradaptasi dengan keadaan Delhi yang padat. Harmonisnya hubungan keluarga Mehra dengan keluarga Sharma membuat Roshan tidak dapat menghindar dari rasa yang hari demi hari tumbuh.
Berbeda dengan Roshan, Bittu melakukan segalanya diam-diam, semula dari mengejar mimpinya untuk menjadi penyanyi melalui Indian Idol, hingga caranya untuk menghindar dari rencana pernikahannya. Harmonisnya hubungan Muslim dan Hindu membuat saya berpikir bahwa beginilah seharusnya hidup, rukun tanpa mempermasalahkan perbedaan, terlebih itu merupakan suatu kepercayaan.
Konflik menjadi sangat menarik ketika ada seorang "Pandit" yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Memicu konflik dengan pernyataan bahwa di mesjid itu dulunya adalah sebuah kuil. Dan mulai saat itu Muslim dan Hindu saling bermusuhan.
Roshan yang kerap menemani sang nenek ke kuil, mendapatkan masalah, dilarang, dan dihantam. Sehingga Roshan menjadi lelah dengan kontroversi ini, ia ingin kembali ke New York. Nenek tidak ingin pergi, karena ia ingin menghabiskan hidupnya di Delhi. Tak butuh waktu lama untuk merubah pikiran nenek, dikala nenek sudah menyerah, dan merasa kasian melihat Roshan dikucilkan karena keturunan Muslim. Dan disaat yang sama, Bittu memberanikan diri untuk lari, menghindar dari pernikahan yang direncanakan oleh ayahnya.
Dan Roshan merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu, ia tidak bisa membiarkan Bittu pergi begitu saja.
Dengan bantuan anak-anak kecil sekitar, Roshan memulai rencananya hingga ia menyamar menjadi Black Monkey.
Gobar(Atul Kulkarni) yang merupakan pesuruhpun disuruh mencari rambut dari Black Monkey. Jalebi (Divya Dutta) yang tertarik terhadap Gobar memberikan rambutnya. Demi membantu Gobar supaya tidak disudutkan karena tidak dapat mendapatkan rambut dari Black Monkey.
Klimaks terjadi ketika Roshan menghalangi Bittu, namun tertangkap basah karena menggunakan kostum black monkey. Dan perlahanpun Roshan dihakimi massa, hingga ia hampir tidak tertolong lagi. Ada perbedaan yang sangat tipis antara Tuhan dengan Manusia. Tanpa membawa kekuatan, sejatinya manusia berusaha untuk menjadi seperti Tuhan, dalam artian sifat. Tuhan itu maha pemaaf, seharusnya manusia seperti itu, dan masih banyak lagi. Namun manusia juga memiliki sisi jahat (Black Monkey) ingin mendahulukan diri sendiri. Dan manusia itu berhak memilih apakah dia akan mengikuti sifat Tuhan-nya, atau memilih untuk menjadi pengikut setan.(as)

Jumat, 12 Juli 2013

Raanjhanaa - A True Love


It's summer time. Begitulah yang kerap kali terdengar ketika film-film kelas atas mulai bermunculan. Di mulai dari Man of Steel, yang merupakan film yang diproduseri oleh sutradara trilogy Batman, Christopher Nolan. Dan disusul dengan serentetan film-film lainnya, dari action, hingga comedy dan berunsur cartoon cinema. Dan hal ini juga berlaku untuk dunia perfilman di India sana. Berbeda dengan Indonesia yang lebih memilih untuk menahan rilis filmnya karena takut tidak kebagian penonton. India dengan bangganya merilis film-film yang mereka yakinkan akan menjadi box-office, baik secara nasional maupun di luar.
Sudah tidak menjadi misteri lagi akan istilah inter-marriage. Ya, istilah yang menggambarkan pernikahan antara Hindu-Muslim yang sering terjadi di sana. Dan tentunya banyak kisah cinta terlarang yang terjadi. Tidak hanya di sana, tapi di seluruh belahan dunia. Terlarang akan perbedaan, baik dari agama, maupun dari suku.
Mengangkat unsur perbedaan, tidak hanya dari segi agama, tapi juga pendidikan, Raanjhanaa datang ke layar lebar untuk menghibur semuanya di musim panas, well, di musim liburan, dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Berlatar belakang di Benaras (Venarase) yang merupakan penghasil daun sirih terbesar di sana. Perbedaan antara Kundan (Dhanush) yang merupakan orang tamil, dan tentunya Hindu, membuat ia harus berjuang lebih keras untuk bisa bersatu dengan Zoya (Sonam Kapoor) yang merupakan seorang muslim. Hal ini bermula ketika Kundan kecil bertamu ke rumah Zoya, dan ia merasa bahwa doanya selama ini telah terkabul. Bahkan, pada saat itu Zoya yang sedang sholat.
Rasa itu dia pelihara hingga remaja. Ia beranikan diri untuk bertanya akan nama si gadis pujaannya tersebut. Tapi ia hanya dapat tamparan, namun ia tidak pernah berputus asa, hingga tamparan ke 15. Setelah itu ia mengetahui nama gadis tersebut. Dan mulai mengejarnya secara konsisten. Hingga ia beranikan diri menyatakan cinta, namun Zoya mengelak, hingga Kundan mengiris pergelangan tangannya di dalam sebuah angkutan umum, bukan rickshaw. Dan Zoya akhirnya mengatakan kalau ia juga cinta kepada Kundan. Padahal waktu ia sempat dibohongi oleh Kundan yang mengaku sebagai Rizwan. Karena itu Zoya akhirnya dipindahkan, disuruh tinggal bersama saudara mereka yang ada di luar kota.

Enam tahun kemudian, Zoya kembali, dan Kundan masih saja tetap menyimpan rasa itu. Murari, sahabatnya selalu membantu. Dari menghalangi orang tua Zoya menjemput, hingga hal lainnya. Namun takdir berkata lain, Zoya tidak mengenali Kundan sama sekali. Ia dan Rashmi, teman kuliahnya pergi melewati Kundan tanpa lirikan sedikitpun.
Namanya juga cinta, tidak pernah berhenti untuk menemui Zoya, mengingatkan Zoya akan masa kecil dulu, hingga Zoya akhirnya ingat, dan mereka mulai dekat. Sayang, sekali lagi sayang, Zoya akan dinikahkan oleh ayahnya, tanpa sepengetahuan Zoya, maupun Kundan. Hal ini membuat Zoya memberontak, dan akhirnya memanfaatkan Kundan untuk menyelamatkan hidupnya. Bermodalkan cinta, Kundan lagi dan lagi membantu Zoya. Ia memaksa Bindiya, teman kecilnya untuk membantu rencana mereka. Dan, rencananya berhasil.
Tidak secepat itu. Ternyata Kundan terlibat kedalam cerita cinta Zoya dengan Jasjeet (Abhay Deol), seorang aktivis yang ditemuinya di kampus, Delhi. Kundan hancur berkeping-keping, tapi ia tetap membantu Zoya supaya dapat menikah dengan Jasjeet, yang waktu itu Zoya kenalin sebagai Akram. Tiada hentinya Kundan bertemu ayah Zoya, mengatakan betapa lebih berharganya Akram dibanding dirinya yang merupakan seorang Hindu. Hingga akhirnya pernikahan Zoya dan Akram di depan mata.
Bindiya, ia memiliki tujuan tersendiri membantu Kundan selama ini, ia ingin menikah dengan Kundan. Dan dengan hal itu, Kundan akhirnya menyetujuinya. Karena sudah tidak ada harapan lagi dengan Zoya.

Hari pernikahan Kundan dan Bindiya bertepatan dengan hari pernikahan Jasjeet dan Zoya. Sebelum ikrar terucap, Kundan menemukan fakta bahwa Jasjeet bukanlah seorang muslim. Sesaat sebelum murkanya, ia menangis. Menangis menggunakan pakaian penikahan (lupa namanya). Ia langsung lari ke rumah Zoya, lalu menemui Jasjeet dan langsung meminta Jasjeet mengucapkan kalimat 2 sahadat. Seketika heboh, Kundan dikira mengacaukan pernikahan.
Naas tidak terelakkan. Ternyata keluarga Zoya tau kalau Akram itu hanya identitas palsu. Dan habislah ia. Zoya menderita, menyiksa dirinya dengan mengiris pergelangan tangan. Kundan tidak jadi menikah karena sibuk mencari Jasjeet yang dihajar oleh keluarga besar Zoya. Hingga akhirnya ia benar-benar diusir oleh ayahnya yang merupakan seorang pendeta.
Pada saat seperti inilah benar-benar terlihat betapa tulusnya cinta ia terhadap Zoya. Jasjeet meninggal karena kompleksitas akibat siksaan tersebut. Kundan tidak dapat pulang ke Benaras. Sedih. Hingga Kundan dapat berdiri lagi, menjadi insan manusia yang mandiri. Namun tak terlepas dari bayang Jasjeet. Hingga ia memilih untuk tidak berjuang untuk hidupnya lagi. Karena ia tau, seberapapun usaha dia, Zoya tidak akan pernah mencintai dia. (as)

Jumat, 31 Mei 2013

Yeh Jawaani Hai Deewani - Its beating fast!

Yeh Jawaani Hai Deewani, yang bisa diartikan dengan Masa Muda yang Gila, sejenisnya. 31 Mei 2013 menjadi tanggal yang spesial untuk film besutan Ayan Mukerji yang bernaung dibawah Eros Entertainment dan Dharma Movies, sebuah Production House yang kita tau telah berhasil menciptakan film-film box office.
Dengan pentolan Ranbir Kapoor, pemenang best actor di Filmfare 2012 beserta Deepika Padukone, yang ditahun ini ada 3 filmnya yang akan rilis, dan ini adalah film kedua untuk tahun 2013. Diawali dengan Race 2 bersama Saif-Ali Khan dan John Abraham, lalu berganti Yeh Jawaani Hai Deewani bersama Ranbir Kapoor, lalu akan menghibur penonton nanti, 8 Agustus 2013 bersama Shah Rukh Khan, setelah 6 tahun yang lalu, Om Shanti Om.
Ada hal yang menjadi daya tarik untuk menonton ini. Bahkan saya yang menonton di pertunjukan terakhir mendapat baris H, dimana itu jarang terjadi untuk film Hindi, ataupun Indonesia. Tidak hanya itu, para penonton sudah bersiap sedia di depan pintu auditorium 11 pada saat itu, tidak sabar. Dan iya, ternyata auditorium itu penuh, dari atas hingga ke paling bawah.

Skip that sweet-talks. Now we proceed to the review. Ya, seperti yang telah dibeberkan di trailernya dari dua bulan yang lalu. Ini mengenai perjalanan yang ditempuh oleh para sahabat, dan terbelit dengan kisah cinta, hingga pendewasaan diri. Tapi, ternyata yang menjadi inti dari cerita ini bukan petualangan tersebut, melainkan pilihan.
Kabir Thapar (Ranbir Kapoor) atau yang biasa dipanggil Bunny oleh dua orang sahabatnya, Avi dan Aditi ini adalah seorang petualang yang ingin terus bertualang. Perjalanan ke Manali tersebut menjadi perjalanan perpisahan mereka.
Naina Talwar (Deepika Padukone) menjalani perjalanan ke Manali ini untuk pertama kalinya, dan di perjalanan inilah ia menemukan sebuah hal yang berharga, yaitu cinta dan persahabatan yang terjalin.
Avi (Aditya Roy Kapoor) merupakan pecandu minuman yang suka taruhan kriket. Dan juga merupakan incaran dari Aditi (Kalki K) sahabatnya sendiri.
Apa yang terjadi di Manali diluar dugaan penonton. Di sinilah kegilaan itu terjadi, berlarian, menghindar, saling usil satu sama lain, saling cemburu, hingga saling jatuh hati satu sama lain. "We're never get old and wise if we're never young and crazy." Begitulah bunyi tagline yang acap kali terlihat di dalam trailernya. Dan itu semua terjelaskan di dalam film yang berdurasi 165 menit ini.
Perjalanan perpisahan. Karena Bunny diterima beasiswa di Chicago jurusan jurnalistik, sesuai impiannya, ingin melihat dunia dari segala sudut. Dan saat itu juga menjadi perpisahan untuk Naina, yang tak bisa melarang Bunny, yang baru ia kenal beberapa hari. Itu yang membuatnya menjadi kenangan, sekali saja.
Ada yang unik dari pasangan Ranbir dan Deepika ini. Selentingan terlihat awkward, tapi mereka berdua berhasil membuat karakter Naina dan Bunny hidup, dan tetap menjadi perhatian.
Konflik yang disuguhkan tidak sekedar konflik yang biasa. Bahkan Naina dan Bunny dan yang lain memiliki porsi yang sama. Sebagaimana pentingnya pernikahan Aditi, dan sebagaimana pentingnya impian Bunny, hingga seberapa pentingnya persahabatan mereka.
Setelah 8 tahun, mereka dipertemukan kembali dalam acara pernikahan Aditi. Ya, sebagaimana yang sudah dibeberkan di film-film bollywood yang lain. Pernikahan India itu tidak segampang yang kita bayangkan, banyak persiapan, di mulai dari lokasi, hingga tarian. Hal ini yang membuat mereka berempat bertemu lagi. Aditi yang dulunya tomboy sudah menjadi wanita, dan sangat dekat dengan Naina.
Yang terjadi dalam 5 hari tersebut merubah hidup mereka semua. Bunny, yang sangat ambisius dengan impiannya, memilih berhenti, dan mulai menghargai waktu. Aditi yang sembarangan menjadi wanita anggun, serta Avi yang suka taruhan dan judi jadi lebih dewasa dan memikirkan bisnisnya. Semuanya berubah.
Adanya Madhuri Dixit di bagian awal menjadi daya tarik sendiri, melihat artis bollywood satu ini yang sudah lama vakum, kini menemani penonton.
Madhuri Dixit di Yeh Jawaani Hai Deewani
Ada hal yang terpikirkan. Tracking. Ini bukan senasionalis 5cm. dan bukan juga seromantis Dilwale Dulhania Le Jayenge. Tapi iya, beberapa detik terpikir bahwa ini ada kemiripan dengan 5cm. Tapi tidak, tidak sama sekali, kehebohan yang terjadi di sini tidak ada di 5cm. dan begitu juga yang ada di 5cm. tidak ada di sini.
Masalah yang dihadapi Bunny terkesan sederhana. Antara memilih mimpinya, atau impiannya. Karena Naina tidak bisa mengikuti Bunny, namun Bunny tidak mau kehilangan Naina.
Jika kalian menontonnya, pasti akan terasa natural dengan pasangan ini, terasa sedang bermain bersama, dan juga terharu dengan keadaan mereka berdua yang sangat-sangat berbeda. Namun bukan cinta namanya jika tidak bisa merubah seseorang. Dan waktu tetap berperan penting di dalamnya. Tidak hanya Jab Tak Hai Jaan yang butuh 10 tahun untuk Meera dan Samar bersatu, Naina dan Bunny butuh 8 tahun untuk bersatu.
Iya, film ini merupakan film yang memiliki berbagai rasa. Berbagai emosi tercurah di dalamnya. Pastikan untuk menonton ini selagi sempat.(as)

Jumat, 26 April 2013

Iron Man 3 - It's Time to Fix Everything

3 May direncanakan menjadi tanggal rilis film besutan Marvel ini, memang, tidak ada yang berubah. Hanya saja untuk Asia dipercepat. Oleh karena itu Kamis kemarin, 25 April 2013, Iron Man 3 sudah bisa disaksikan di bioskop kesayangan anda.

Sebelum saya mulai menulis review, saya ingin menciptakan sebuah perizinan. Tolong yang baca, jangan sesekali mencampur dengan komik. Karena saya tidak baca komik, dan juga esensial film dan komik berbeda. Oh ya, dan satu lagi, gambar. Saya tidak bisa memberikan gambar yang bagus untuks saat ini, cukup dengan poster saja ya. Siap? Mari kita mulai.

Robert Downey Jr. alias Tony Stark ini selalu berhasil membawakan tokoh fiksi ini menjadi nyata, dan lebih philanthropic dibanding yang ada dikomik (lagi, ini asumsi). Cerita berawal dari ia menceritakan sebuah cerita (persis pola Bollywood movie) ia menceritakan sesuatu kepada Dr. Banner (Hulk) itulah yang menjadi kisah untuk Iron Man 3 ini.

Ia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan villain yang akan muncul di sequel ketiga ini, Mandarin atau Aldrich Killian (Guy Pearce) pertama kalinya. Berlatar tahun 1999 di Swiss, Stark sedang menghadiri pertemuan para ilmuwan, dan juga malam tahun baru. Pada malam itu ia ditemui oleh seorang peneliti yang sedang meneliti tentang AIM (Advance Idea Mechanics), sebuah teknologi re-code DNA, sehingga bisa memperbaiki DNA yang rusak. Flamboyan, sudah menjadi identitas Stark, ia mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Aldrich Killian di atas atap hotel, sayangnya ia lupa, karena ditemani oleh Maya (Rebecca Hall).
Every human create its own demon. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan pertama kali di dalam film ini. Ntah itu ditujukan terhadap Mandarin, atau bahkan dirinya sendiri. Yang jelas ceritanya sudah melewati masa Avengers, 2012 kemarin. Yang tersisa dari Tony adalah ketika ia panik, ia tidak bisa mengatur tindakannya, bisa saja membahayakan diri sendiri, atau bahkan orang lain. Okay here we go.
Seperti biasa, Stark bereksprimen di dalam laboratoriumnya sendiri, mulai dari memasukkan sensor untuk tubuhnya sendiri, maupun cloud control, mengontrol Iron Suit dari jauh. Tanpa harus ada pengemudi di dalam baju besi itu.

Happy (Jon Favreau) menjadi unsur komedi tersendiri, selain pembawaan RDJr yang memang memukau. Happy yang curiga ketika Aldrich mendatangi Pepper yang menjelaskan tentang AIM, tanpa memberi tau apa itu AIM. Ketika ia menjelaskan bahwa ia sudah pernah mencoba bicara dengan Tony, hanya saja ditolak, dan Pepper lantas menolak juga. Happy yang curiga, menghubungi Tony, di sini memang ditekankan tentang teknologi masa depan, terutama yang dipakai oleh Tony, ntah itu berupa Augmented Reality atau teknologi lainnya, tetap saja adalah sebuah teknologi yang memukau dan memanjakan mata.

Adegan romantis antara Ironbot dan Pepper menjadi poin yang penting untuk film ini, dan mungkin untuk Iron Man kedepannya, jika masih ada. Happy yang curiga dengan driver si Killian, mengikutinya, lalu tidak sengaja mengalami kecelakaan, yang menyebabkan Happy masuk rumah sakit, dan Tony mau tidak mau harus keluar dan memberi klarifikasi.

Sehabis dari rumah sakit, Tony dihadang oleh para wartawan, mengenai Mandarin yang telah meresahkan masyarakat serta pemerintah. Rhodes pun telah berubah profesi dari Colonel menjadi tentara War Machine yang diganti nama menjadi Iron Patriot. Tony yang memang suka bertindak sesukanya membuka pernyataan bahwa ia mengundang Mandarin ke rumahnya, ia memberikan alamat rumahnya.

Dan tak disangka Maya hadir lagi kedalam kehidupan Stark, meskipun bukan tipikal Mischa Amaira (Cinta Fitri season 2-7) tapi membawa bencana kedalam hidupnya Stark, dan juga Potts. Tak disangka, pesan iseng yang ia sampaikan akhirnya terjadi, Malibu Point hancur dalam seketika. Hasil kerja Tony tidak sia-sia, ia berhasil menyelamatkan Pepper dengan Iron Suit. Dan ini yang membuat ia menjalani petualangan di Tennesse.

Jarvis. Itulah satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Tony, dimanapun ia berada. Sayang sekali, kali ini Jarvis harus istirahat, sehingga Tony harus berjuang melawan Mandarin tanpa baju besi yang selalu ia gunakan. Munculnya Harley (Ty Simpkins), seorang anak berumur 8 atau 9 tahun yang membantu Tony, si Mekanis.
Iron Man bukanlah film yang berat seperti Batman yang kerap mengusung pemerintahan, Iron Man kali ini lebih fokus terhadap Tony Stark yang sudah membutuhkan bantuan.

Tanpa baju besi itu, ia berhasil menemui Mandarin (Ben Kingsley), yang ternyata adalah sebuah image penyamaran dari si villain yang sebenarnya, ini adalah sebuah twist story yang minor, bahkan dengan ada atau tidaknya si kedok Mandarin ini, musuhnya tetaplah pelopor AIM, Killian. Alhasil Tony ditangkap, begitu juga Pepper, hanya saja Pepper diracuni dengan teknologi AIM tersebut.
Kembalinya Jarvis, membuat Tony Stark bisa menyelamatkan Presiden maupun kekasihnya. Meskipun sejujurnya saya merasa teringat dengan Sherlock Holmes (2010) yang dimana RDJr berlari di crane atau sejenisnya itu, hanya mengingatkan.

Adanya kontroversi mengenai Clean Slate ini membawa pertanyaan yang tiada henti. Hanya saja 'Tony Stark Will Return' bukan jawaban dari segala pertanyaan yang ada. Kebanyakan dari segitu banyak film Marvel, Iron Man yang menjadi frontir untuk terciptanya Avenger the Movie. Lagi, saya tekankan, jangan membawa komik, meski semua ini berasal dari komik, karena tanpa suksesnya Robert Downey memerankan Tony Stark, mungkin Avengers the Movie akan ditunda hingga Iron Man itu sendiri sukses. Ada banyak film dari Marvel mengenai tokoh heroic ini, hanya saja Iron Man tetap yang menjadi pelopor, bahkan Captain America (Chris Evans) sendiri pernah bermain di film Marvel yang Fantastic Four. Memang Marvel belum siap dengan Avengers, tapi setelah Iron Man lahir, semuanya menjadi lebih lancar.

Iron Man 3 disinyalir menjadi sequel terakhir dari Iron Man, namun Iron Man masih akan hadir di Avengers 2. Well, kalau saya saranin, jangan muluk-muluk deh nonton 3D, karena jujur, itu semata hanya fake 3D, bukan native. Dan ya, kalau ditelaah, Tony Stark sudah mulai memperbaiki semua yang ia perbuat di masa lalu, dimulai dengan komitmen. Ia memang memperbaiki sebisa mungkin, dari image, hingga kehidupan orang sekitarnya.

I am not sure whether it has bad ending or good, but according to my sense, it's good enough, due to responsibility that Tony has, and the goal that he want to aim, it's really time to end it. And well, it is good to spare your time with beloved. I'm sure, indirectly Shane Black trying to send love message toward Tony Stark - Pepper Potts - Iron Man. (as)

Cloud Atlas - Define Us.

Ada yang bilang ini film bagus, ada yang bilang ini seperti Omnibus movie lainnya. Untuk orang seperti saya yang ingin mencari cerita, ntah itu drama atau romance, merasa tertarik untuk mengikuti cerita di setiap ceritanya, hanya saja, tujuan dibikinnya Cloud Atlas bukan untuk itu, tapi mengirimkan pesan "Past Present Future, Everything is Connected."

Cerita pertama, "The Pacific Journal of Adam Ewing" (1849) Menceritakan tentang seorang pemuda Adam Ewing (Jim Sturgess) yang merupakan seorang pengacara yang sedang menjalankan bisnis untuk ayah mertuanya, namun saat itu ia melihat adanya kekerasan terhadap budak, dan tak berapa lama, ia jatuh pingsan. Dokter Henry Goose (Tom Hanks) mencoba untuk berbuat jahat, alih-alih memberi obat untuk kesembuhan Adam Ewing, ia malah mencoba meracuni sedikit demi sedikit. Berhasilnya Atua meyakinkan Adam Ewing untuk membiarkan ia ikut berlayar sebagai orang yang bebas (bukan budak) adalah hadiah tersendiri untuk Adam Ewing, karena kelakuan Goose akhirnya ketahuan oleh Atua, dan hal ini yang membuat Adam Ewing berani melawan ayah mertuanya.

Cerita kedua, "Letters from Zedelghem" (1936) Cerita yang membuat saya percaya bahwa Gay itu bukan penyakit masa kini, tapi itu memang sudah lama adanya. Tentang seorang composer yang berdarah Inggris, Robert Fisher (Ben Wishaw) yang merupakan biseks, dan juga sangat handal dalam membuat musik. Hingga ia bekerja kepada Vyvyan Arys (Jim Broadbent). Namun Vyvyan malah ingin merampas hasil kerja Robert, yang berjudul "The Cloud Atlas Sextet", karena membaca perjalanan Ewing, ia akhirnya menembak Vyvyan, lalu kabur ke hotel. Dan memutuskan untuk bunuh diri sebelum Rufus Sixsmith (James D'Arcy) bertemu dengan dia.


Oh well... I'm not gonna retell it, you can google it, or wikipedia has it. Begitu banyak karakter yang harus dikenal, sehingga membuat say pusing sendiri, dan yang membuat saya kagum adalah bagaimana seorang Tom Hanks bisa bermain 6 karakter di dalam satu film, begitu juga Halle Berry, dan beberapa artis lainnya mengambil bebrapa karakter. Kagum.



Lihat saja itu bagan diatas. Mungkin kalau melihat secara visual tidak 'ngeh' itu siapa dan kenapa bisa begitu. Bagi saya melihat keadaan ini, semakin membuat penilaian terhadap para pemainnya tinggi. Lihat saja Tom Hanks, beberapa kali berada di zona evil, tapi ada juga berada di zona Good.

Itulah alasan kenapa saya membuat kata 'Define Us', karena ada kemungkinan kita seperti Tom Hanks, menjadi orang baik, atau jadi orang jahat, karena kita tidak pernah tau akan jadi apa, atau telah jadi apa di masa lalu. Namun hidup ini memiliki satu tujuan untuk tetap dijalani.

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others, past and present. Itulah kata-kata yang sangat saya ingat, dan membuat saya yakin akan kata-kata 'Define Us' karena menurut kepercayaan Cloud Atlas, kita semua saling berhubungan, satu sama lain, masa demi masa. Hanya saja kita tidak mengetahuinya, dan itu akan membawa ke sebuah ajaran atau ilmu lain mengenai hal ini. Banyak, dan masih merupakan topik yang menarik untuk ditelaah. Tapi, tetap bawa kepercayaan kalian, sebelum menyelam ke dalam rumitnya masalah reinkarnasi ini. (as)

Matru Ki Bijlee Ka Mandola - Sebuah Pesan

Oh well. Siapa yang tidak kenal dengan Anushka Sharma? Berhasil debut dengan lawan main Shah Rukh Khan membuatnya semakin dilirik oleh produser. Sebagai pemenang best supporting actress tidak membuatnya mudah puas. Ia tetap eksplorasi akting maupun skill dancing yang kerap kali merupakan kewajiban untuk para artis Bollywood.

Ingin meniru pamannya, Imran Khan mencoba membuat sebuah image yang pintar, yang bersifat heroic, tapi bukan pejuang cinta, seperti kebanyakan film-film Bollywood lainnya. Ini bukanlah cerita yang penuh dengan romantisme kekasih, melainkan intrik yang biasa, namun dibawakan secara penting.

Sejujurnya, untuk film ini, merupakan sebuah cerita biasa yang dapat kita saksikan di FTv (Frame Ritz), namun disini memang bertujuan untuk penciptaan image Imran Khan yang pintar dan total. Itulah kenapa film ini tayang di 21, bukan di blitzmegaplex. Karena ini memang bukan murni buatan Bollywood, ada campur tangan Fox Star.

Ceritanya berawal dari Matru (Imran Khan) yang putus kuliah Hukum di kota, lalu kembali ke desa untuk bekerja. Harry (Pankaj Kapur) adalah seorang yang terpandang di desa tersebut, bahkan desa itu diberi nama seperti namanya, Mandola. Ia memiliki seorang anak gadis yang suka berbuat nekat, Bijlee (Anushka Sharma).

Bijlee sudah memiliki kekasih, yang akan menikahinya kelak, namanya Badaal (Arya Babbar) yang merupakan anak dari seorang politisi yang korup, Chaudari Devi (Shabana Azmi). Tujuan Badaal menikahi Bijlee tidak lain adalah ingin menguasai desa tersebut, lalu merubahnya menjadi pabrik. Konflik ini yang membuat ceritanya sedikit membosankan dengan alur yang begitu lambat.

Tidak ada kejelasan kenapa Matru bisa mengerti rencana Chaudari Devi, yang jelas ia mencoba menjadi pahlawan untuk desanya, ia mencoba menjadi Mao, penyelamat. Ada juga Harry, yang memiliki kebiasaan buruk dengan minuman membuat ia harus berhenti berkomunikasi dengan alkohol. Ini yang membuatnya sering mengalami ilusi. Ia sering melihat sapi berwarna pink, yang merupakan poin penting untuk film ini.

Tidak terlihat dengan jelas kalau Matru ingin memiliki Bijlee, tapi dapat dipastikan bahwa Matru tau semua kegiatan Bijlee, yang membuat hubungan mereka menjadi dekat. Karena kecerobohan Badaal, akhirnya Bijlee membantu Matru untuk menyelamatkan desa.

Memang, seperti film yang memiliki misi. Begitulah Matru Ki Bijlee Ka Mandola. Mereka sukses mempertahankan desa mereka dengan kondisi Harry yang memiliki penyakit akut. Iya, penuh intrik tapi tidak rugi untuk ditonton. (as)

Lupus, Bangun Lagi Dong... - Sebuah Usaha Untuk Kembali


Hilman Hariwijaya. Bagi orang produksi, namanya tidak begitu asing, sukses menulis membuatnya bekerja dibagian belakang layar untuk dapat disuguhkan kepada penonton setia televisi. Karya yang paling diingat oleh seantero anak-anak 90's adalah Lupus.
Mungkin kalau memperkenalkan tokoh satu persatu akan memakan waktu yang banyak, dan jujur, saya tidak hapal semuanya. Karena saya berada dijaman Kambing Jantan, bukan Lupus. Tapi saya sempatkan diri menonton film ini karena ada Acha, seorang aktris yang saya anggap sangat promising untuk layar lebar.
Menceritakan pertemuan Lupus (Miqdad Addaussy) dengan Poppy (Acha Septriasa) di SMA Merah Putih.
Bangun Lagi Dong, sebuah rujukan terhadap suatu animo masyarakat yang dulunya sangat akrab dengan Lupus, Lulu dan Mami. Tidak hanya itu, film hasil kerja sama RCTI ini membawa tema go green untuk menarik empati masyarakat dan juga pemerintah.
Sebuah kisah klasik. Itu yang dapat saya simpulkan mengenai kisah Lupus yang sudah beranjak dewasa ini. Miqdad membawa karakter Lupus lebih dewasa, lebih bijak. Acha membawa Poppy lebih manusiawi, dan lebih nyata untuk sebuah karakterisasi tokoh fiktif. Adanya Daniel (Kevin Julio) yang merupakan pacar Poppy membuat film semi romantis ini menjadi lucu. Bukan komedi, tapi memiliki jokes tersendiri untuk beberapa pihak. Tidak hanya itu, ada juga artis pendukung lainnya seperti Ira Maya Sopha, Deddy Mizwar, dan Eko Patrio, yang merupakan salah satu produser. Mereka membuat cerita drama romantis ini menjadi komedi. Iya, Lupus memang komedi.
Romantis. Itulah yang saya dapatkan dari hubungan Lupus dan Poppy. Meski tidak dibalut untuk film yang romantis, tapi Miqdad dan Acha dapat melahirkan adegan romantis yang sederhana, dan sangat menyentuh. Tidak terlihat memang, Lupus mendekati Poppy, ia hanya berniat menjadi teman Poppy, tidak lebih. Namun Poppy berharap lebih, hanya saja Lupus menjaga tingkah laku karena Daniel bisa berbuat apa saja, selama masih bisa menjaga kedamaian, kenapa tidak? Itu mungkin yang dipikir oleh Lupus.
Gusur dan Boim menjadi pelengkap komedi di dalam film ini. Adanya Engkong Gusur yang notabene adalah artis yang telah lama berkecimpung di dunia perfilman, dan masih tetap setia terhadap dunia sineas ini, Didi Petet. Menjadi poin pending di dalam menghibur penonton, dimana kurangnya eksplorasi Lupus itu seperti apa, karena tidak semua orang mengenal Lupus, dan terlebih lagi ini adalah upaya untuk pengenalan Lupus kepada generasi selanjutnya, sangat disayangkan.
Singkat cerita, Lupus sendiri pernah membantu Daniel untuk dapat balikan dengan Poppy. Ia menampakkan baiknya Lupus, entah itu karena bijak, atau memang ia terlalu mendahulukan orang lain daripada kebahagiannya dirinya sendiri. Poppy marah, dan semua pekerjaan Poppy sebagai editor majalah sekolah berantakan. Disini tampaknya mas Hilman mencoba menyisipkan pentingnya persahabatan, sayangnya terlalu lama berkecimpung di dunia sinetron membuatnya terlalu fokus terhadap drama Lupus dan Poppy dibanding kepentingan pesan ini.
Menurut saya, ini adalah sebuah upaya untuk pengenalan kembali karakter yang dulu menjadi favorit. Untuk sebuah usaha, itu memang bagus, hanya saja untuk dikategorikan sebuah film, ini masih terkesan datar. Mungkin dengan cerita yang lebih menarik serta detil yang lebih mantap akan mengantarkan Lupus ke masa jayanya. (as)

Selasa, 16 April 2013

Finding Srimulat - Selamatkan Indonesia dengan Tawa


Siapa yang akrab dengan sekelompok pelawak yang disebut dengan Srimulat? Ada Tessy, Gogon, Nunung, Kadir, Mamik dan serentetan anggota lainnya. Jika kita melihat sekarang, mungkin Nunung masih eksis dibelantara komedian, sering tampil di OVJ, salah satu program dari Trans Corp.
"Srimulat bukan jokes, itu budaya!" seru Adi (Reza Rahadian) itulah yang menjadi alasan Charles Gozali untuk memulai project ini. Saya sendiri tidak begitu sepaham dengan hal ini, karena saya tidak tau apa itu Srimulat, dan kenapa dianggap budaya.

Adanya Reza Rahadian bisa saja menjadi nilai plus, ataupun minus. Untuk saya sendiri, saya tidak begitu suka dengan munculnya Reza dalam beberapa bulan terakhir, terlebih lagi di tahun 2012, ada banyak filmnya yang tayang di bioskop se-Indonesia. Suksesnya Reza berperan menjadi Bacharuddin J. Habibie tidak menjadikan dia artis nomor satu tentunya, begitu banyak artis yang bisa dipakai, kenapa Reza? Anyway, itu bukan jadi masalah besar, karena Srimulat sendiri lebih menarik perhatian dibanding Reza sendiri.
Berlatar belakang bangkrutnya tempat Adi bekerja yang ia tidak membiarkan Astrid Lyanna (Rianti Cartwright) istrinya, mengetahui apa yang terjadi, dikarenakan sedang hamil tua. Secara tidak sengaja ia menemukan sejenis baliho mengenai Srimulat, yang lantas muncul Kadir, yang memiliki warung soto, lantas ia berpikir untuk menyatukan lagi. Inilah yang membuka perjalanan Adi beserta Mamik dan Tessy untuk menghampiri ibu Tjutjuk dan Gogon di Solo. Adi beralasan bahwa perusahaan mengadakan perjalanan dinas ke Solo.

Bagi yang akrab dengan segala jokes Srimulat, akan terasa nyaman dengan perjalanan mereka selama di Solo. Adanya Icha (Nadila Ernesta) membuat karakter Adi sendiri bukanlah karakter hero yang biasanya ada di film-film lainnya. Icha yang dulu satu kantor dengan Adi, menyusul Adi ke Solo. Pertama kalinya, mereka mencoba untuk melakukan aksi di stasiun Balapan, dengan alasan bahwa dapat menarik perhatian orang banyak, tanpa harus melakukan pengorbanan seperti membeli tiket atau sejenisnya.
Amazingly, the ideas going smoothly, until they see a light.Ya, semuanya berjalan sempurna seperti yang telah diperhitungkan oleh Adi. Sampai mereka mendapatkan sponsor yang ingin Srimulat tampil, sayangnya, belum sempat pementasan, sponsor yang berupa individu itu telah dipanggil sang Khalik. Icha datang dengan solusi tanpa kejelasan. Adi dan yang lainnya telah kembali ke Jakarta, tanpa menemui Astrid, Adi langsung mengurus semuanya. Sayang, solusi yang dikasih oleh Icha ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang telah dipegang oleh Adi, solusi itu disediakan oleh JoLim (Fauzi Baadila). Seorang plagiat yang selalu mencuri ide-ide brilian dari Adi.

Putus asa. Itulah yang dirasakan oleh Adi. Uang sudah tidak ada, pementasan masih belum jelas gimana. Hingga akhirnya, scene yang menjadi favorit saya. Dimana terdapat sedikit twist, dan sebuah inspirasi tersendiri untuk tetap percaya dengan kepercayaan kita. Menonton film yang membuat kita melupakan masalah, merasa segar dengan lelucon dan pengambilan gambar yang bagus. Serta merasa Indonesia kaya akan dengan budaya yang seharusnya dijaga, bukan dilupakan, lalu bergerak kearah westernisasi. Kabar tidak ada source lain selain bioskop membuat keterpaksaan tersendiri untuk nonton, tapi, alangkah baiknya kalau ada source yang jika nanti kalau kita kangen, dapat menontonnya, kapan saja. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari perfilman horror dan sex yang mendominasi, dan lepas dari drama yang sentimentil dan terkesan biasa, saatnya revolusi perfilman. Mari kita selamatkan Indonesia dengan tawa.(as)

Senin, 15 April 2013

Tampan Tailor - Hidup itu berputar, seperti Roda.


Apa yang kamu harapkan dari sebuah film Indonesia tanpa promo yang kuat, Production House yang besar, serta cerita yang bisa dikatakan pasaran? Pasti secara tidak langsung akan memilih untuk tidak menontonnya. Tidak hanya karena itu film Indonesia, juga karena kurang familar dengan film tersebut, sehingga peluang majunya film Indonesia sangat tipis, maju, tapi butuh waktu yang lebih lama.

Tampan Tailor. Film yang dibintangi oleh Vino G. Bastian ini menjadi tanda tanya tersendiri, di mana pada hari yang sama, ada juga film yang dibintangi oleh suami Marsha Timothy ini, yaitu Madre. Madre tidak hanya terkenal karena promosi yang kuat oleh tim tersendiri, juga karena suksesnya Perahu Kertas, yang merupakan milestone untuk novelnya Dewi 'Dee' Lestari merangkak ke layar lebar.

Telah menjadi hal yang lumrah untuk penonton Indonesia, jarang melihat siapa sutradara, apa production house, hanya tau siapa artisnya, dan dari novel siapa. Hanya bermodalkan itu Madre sukses menjajal bioskop Indonesia, meski tidak selama Habibie dan Ainun, tapi cukup untuk sebuah film yang, sekali lagi saya katakan, biasa.

Berlatar belakang industri tekstil, Topan (Vino G. Bastian) dengan Tami, istrinya, membangun sebuah mimpi, untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Sayang kanker merebut kebahagian Topan, mulai dari istri tercinta, hingga uang. Itu yang membuat perjalanan 'Pursuit of Happyness' Topan dan Bintang dimulai.

Mulai berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, membuat Bintang secara paksa tidak lanjut sekolah. Serta masalah yang masih saja ditemui oleh Topan ketika ia sudah mulai berdiri, dan bisa memberi kehidupan yang layak untuk Bintang.

Adanya Prita, yang secara tidak sengaja Topan temui, membuatnya memiliki harapan lagi, harapan yang sama, mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Serta adanya Darman (Ringgo Agus Rahman) membuat film ini terasa lebih santai, dan lebih meyakinkan.

Tidak heran jika Maxima menerima inputan yang bagus melalui film ini. Selain pengambilan gambar yang bagus, juga berhasil menciptakan momen berharga, chemistry antara satu pemain dan pemain lainnya sangat nyaman untuk dinikmati. Jefan Nathanio dengan sukses memerankan Bintang, dan tidak hanya berperan sebagai anak kecil yang sedang berada di masa jail, juga chemistry dengan Vino tidak dapat dipungkiri, terlihat nyata.

Mungkin bagi beberapa orang, yang suka dengan pembawaan Vino, akan menyadari betapa bagusnya ia di sini. Tidak hanya dapat memerankan Topan dengan bagus, juga dapat menciptakan chemistry yang begitu hebat dengan Jefan, yang ia jarang sekali mendapatkan peran sebagai seorang ayah.

Hidup itu berputar. Di mulai dari bersama Darman menjadi calo tiket kereta api di stasiun Senen, lalu bekerja di sebuah perusahaan yang membuat Jas dan Tuxedo, serta menjadi stuntman untuk film action. Lalu menjadi pengusaha jas sendiri, dengan bantuan seseorang.

Lebih menekankan untuk tidak berputus asa, meski hidup kerap kali bermain dengan kita, tetap menjaga satu hal yang terpenting, yaitu harapan. Secara tidak langsung memberi pelajaran tersendiri untuk para kaum Adam diluar sana, bagaimana cara mendidik anak, serta bersikap kepada anak.

Selain dari hal diatas, dengan sangat tidak langsung, telah menjelaskan kepada penonton bahwa menjadikan suatu yang dicintai menjadi pekerjaan adalah jalan yang benar, karena ketika manusia sudah berbicara tentang hati, tidak ada yang salah.

Begitulah ketika sebuah cerita sederhana dibalut dengan pengambilan gambar yang bagus, dan chemistry antar tokoh yang kuat. Menjadikan sebuah film yang memorable bagi penonton. Jika anda ketinggalan menontonnya, harap beli DVD ataupun VCD originalnya. Hargai karya anak bangsa. Dari situ mereka hidup, dan dengan tindakan seperti itu membuat kita tidak terbiasa dengan hal yang buruk. (as)