Rabu, 30 Januari 2013

Race 2: Betrayal is Survival

Siapa yang masih ingat dengan Ranvir Singh? Seorang pengusaha yang nekat dengan ide-idenya. Iya, setelah ia berhasil menyingkirkan adik tirinya, ia menyapa kita semua dengan wajah-wajah baru. Tidak ada yang sama, kecuali Robert D'Costa yang selalu memakan buah, dari anggur, mangga, apel, strawberry, pisang dan lainnya.
Kali ini Saif Ali Khan, ditemani dengan aktris cantik Deepika Padukone dan villain yang tidak diragukan lagi aksinya, John Abraham. Dan kali ini karakter Ranvir Singh sudah mulai terbentuk, dan sangat iconic. Berjarak 4 tahun lebih, akhirnya film ini rilis untuk sequelnya.
Pembawaan cerita sama seperti yang sebelumnya, adanya narasi perkenalan karakter, dan seakan dialah karakter utamanya. John Abraham yang sangat tampak berbeda dari Dhoom (itu saya pertama kalinya nonton film John Abraham), badan lebih berisi, lebih tegap dan lebih rapi.
Dikisahkan kalau Armaan Malik (John Abraham) adalah seorang miliuner kaya raya yang sangat menyukai uang. Hidup dikelilingi kemewahan, dan tidak pernah ada yang bisa melawannya. Sebenarnya dia adalah seorang biasa, yang mencari duit dari aksi tinju secara gelap. Lalu secara ajaib ia bertemu dengan seorang ayah baptis yang merubah hidupnya. Menjadi Armaan yang sombong, dan angkuh.
Ia tidak sendiri, ia ditemani oleh Omisha (Jacqueline Fernandez), kekasihnya yang memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama mencintai uang. Semua harta itu bukanlah milik Armaan sendiri, setengahnya milik Alina (Deepika Padukone) sehingga sering terlihat sering berdua, apalagi dalam hal bisnis.
Bagaimana Ranvir Singh dan Armaan Malik bertemu? Apa yang membuat dua insan yang saling tidak berhubungan ini bertemu? Itu yang menjadi kunci dalam film ini. Dan itu tidak terlepas dari kisah awal.
Meski banyak menggunakan efek yang kurang bersih, tapi film ini sudah dapat membawa penonton ke dalam ceritanya. Khas memang, cerita dengan begitu banyak twist, adanya pemalsuan penglihatan terhadap penonton membuat Race 2 tidak jauh berbeda.
Mereka ditemukan oleh Thapar, seorang pemilik 5 casino yang ternama. Aksi pertama Ranvir adalah membuat Thapar bangkrut. Dengan imingan duit yang 3 kali lipat lebih banyak dari yang diinvestasikan, Thapar setuju untuk ikutan investasi, yang ternyata Thapar meminta pinjaman kepada Armaan. Twist pertama adalah ternyata Ranvir sudah bertemu dengan Armaan terlebih dahulu, sehingga mereka berdua sudah saling kerja sama untuk menjerumuskan Thapar.
Dan mulailah mereka berteman, pendekatan secara personal, berupaya saling menguntungkan satu sama lain. Alina mulai tertarik dengan kecakapan Ranvir, hingga terciptalah hubungan yang lebih intim diantara mereka berdua.
Sonia? Kalian merasa heran kenapa Ranvir mendekati Alina, diakhir film kita tahu bahwa Ranvir bersama dengan Sonia, yang dia sayangi. RD sempat bertanya, "Sonia apa kabar?" dan Ranvir menjawab, "Sonia? Kita sudah tidak bersama lagi." ketika Ranvir mendatangi RD untuk minta dikenalkan dengan Armaan. Sonia tewas dalam kebakaran mobil yang ditumpangi oleh Ranvir dan dirinya. Merupakan pembunuhan berencana, Ranvir mengejar si Algojo untuk mencari tau, siapa yang berada di belakang ini semua. Dari situlah ketahuan bahwa Thapar yang menyuruh algojo tersebut, atas permintaan Armaan. Itu twist kedua.
Di sini saya sangat menghargai upaya screen writer yang berhasil membuat hubungan dari satu sequel ke sequel sebelumnya. Jarang ada yang bisa membuat sequel seperti ini. Jadi tujuan Ranvir adalah membalaskan dendamnya terhadap kematian Sonia. Dengan membuat Armaan kehilangan semua hartanya.
Ketika Ranvir bertemu dengan Omisha, ia melihat foto Sonia di dalam dompet Omisha. Di sini sepertinya si SW mencoba membuat penonton berpikir bahwa Omisha ada hubungannya dengan Sonia. Cerita menceritakan bahwa Omisha adalah adiknya Sonia, dan mencari celah untuk balas dendam kepada Armaan. Ranvir memastikan akan hal ini, sayangnya Armaan tidak sebodoh yang dikira, ia telah memastikan Ranvir percaya bahwa Omisha adalah adiknya Sonia, Tanya Martin. Di sini kita dapat melihat, villain lebih pintar dari pada yang terdahulu, Rajiv. Penonton percaya bahwa Omisha berada di pihak Ranvir? Saya juga demikian. Hingga beberapa saat setelah itu, Armaan datang ke apartment Omisha, dan mencari Ranvir. Ternyata Tanya Martin adalah palsu. Itu adalah setup dari Armaan untuk Ranvir. Terlihat, lawan Ranvir sudah maju terlebih dahulu. Itu adalah twist ketiga yang kita lihat.
Sekarang, ketika kita menonton, pasti mengira bahwa Ranvir sudah tertinggal jauh. Dan kita juga sudah yakin bahwa Ranvir lebih dulu maju, layaknya Don, "Don already made his first move before enemies do." Kemudian datanglah ke bagian dimana ceritanya sama dengan National Treasure pertama, dimana Nicholas Cage mencoba mencuri perjanjian atau apalah yang berasal dari museum. Untuk hal ini tidak perlu dijelasin lebih lanjut. Tujuannya adalah mendapatkan uang dari Armaan, dengan imingan keuntungan yang tidak terbatas, unlimited.
Setup yang dibuat oleh Ranvir adalah membuat RD berada di pihak Armaan, sehingga ia merasa semua terkontrol sesuai keinginan dia. Sebelum merencanakan pencurian kain kafan Turin, Ranvir didatangi oleh Alina, dan sesaat setelah itu mereka berencana pergi. Namun Armaan menelpon untuk memberi kabar bahwa dimobil tersebut sudah dipasang bom oleh Thapar. Aksi Ranvir memang sedikit keren di sini, dengan kecepatan 80kmph, ia mencoba membuang bom yang ditanam di bawah mobil Alina.
Armaan dengan buru-buru menyusul mereka, memeluk Alina seketika mengetahui Alina selamat dari bom tersebut. Setelah itu akhirnya Alina berterus terang kepada Ranvir, membuat Ranvir tidak terlihat kaget, hanya saja bingung kenapa Alina, saudara Armaan malah membeberkannya. Ternyata bom tersebut tidak dari Thapar, melainkan dari Armaan. Sehingga Alina memilih mendukung Ranvir karena sikap Armaan yang begitu rakus.Ya, ini merupakan twist keempat.
Ranvir yang masih berhubungan dengan Omisha mengatakan bahwa transaksi nanti menggunakan kain kafan duplikat, yang asli ada di loker bandara. Yang kita tahu bahwa Omisha pasti bakal melaporkan hal berikut kepada Armaan. Sehingga Armaan merasa aman, dan bisa menjatuhkan Ranvir, demi uang.
Pada saat transaksi semua berjalan seperti rencana Armaan yang mengikuti rencana Ranvir. Namun ternyata minuman Ranvir telah diracuni. Disini jika kita menganggap twist kelima, tidak salah. Hanya saja kita pasti sadar, pemeran utama tidak mungkin mati. Itulah peraturan di semua film kan?
Ternyata Aline membocorkan rencana Armaan, sehingga membuat Armaan terlihat aman, dan terkontrol menurut keinginannya. Ketika mereka bertiga, Armaan, Alina dan Omisha berada di pesawat pribadi mereka Armaan membuka jati dirinya, ia berniat membunuh Alina saat itu juga dengan pistol. Sama seperti ketika Sonia mau dibunuh oleh orang suruhan Rajiv, Ranvir datang dengan sedikit kehebohan.
Terjadi drama yang lumayan, hingga akhirnya pertarungan hand by hand Ranvir dan Armaan. Ternyata Armaan lebih dulu memiliki exit plan, dengan menembak pilot, menembak parasut, dia dan Omisha kabur membawa uang dan sertifikat. Sementara itu, our hero keluar dari pesawat dengan mobil! Agak tidak masuk akal sih apa mobil bisa keluar dari pintu pesawat untuk penumpang. Tapi begitulah ceritanya. Yang ternyata di mobil tersebut ada parasut empat, sehingga mereka berdua selamat.
Armaan yang meminjam duit godfather Anza, memberi kain kafan asli. Seorang ahli didatangkan, mungkin kalian tau seketika apa yang akan terjadi. Iya, benar, itu bukan yang asli. Armaan benar-benar kalah dari Ranvir kali ini.
Seperti film sebelumnya, diakhiri dengan pertemuan RD berserta Cherry (Ameesha Patel). Sedikit intermezzo mengenai RD, ia sudah tidak bersama Mini, kini ia sudah bersama Cherry yang berhasil diseducenya ketika di Roma. RD bertanya pada Ranvir, lantas dimana yang asli. Ranvir menjawab, yang asli tidak pernah meninggalkan gereja.
Namun jika di akhir film yang pertama Ranvir berkata "Semoga kita tidak bertemu lagi" kepada RD, kali ini ia berkata, "Kita akan bertemu lagi." sepertinya akan ada sequel dari Race 2. So, stay tunned. (as)

Senin, 28 Januari 2013

From Shah Rukh Khan...

I am an actor. Time does not frame my days with as much conviction as images do. Images rule my life. Moments and memories imprint themselves on my being in the form of the snapshots that I weave into my expression. The essence of my art is the ability to create images that resonate with the emotional imagery of those watching them.

I am a Khan. The name itself conjures multiple images in my mind too: a strapping man riding a horse, his reckless hair flowing from beneath a turban tied firm around his head. His ruggedly handsome face marked by weathered lines and a distinctly large nose.

A stereotyped extremist; no dance, no drink, no cigarette tipping off his lips, no monogamy, no blasphemy; a fair, silent face beguiling a violent fury smoldering within. A streak that could even make him blow himself up in the name of his God.
Then there is the image of me being shoved into a back room of a vast American airport named after an American president (another parallel image: of the president being assassinated by a man named lee, not a Muslim thankfully, nor Chinese as some might imagine! I urgently shove the image of the room out of my head).

Some stripping, frisking and many questions later, I am given an explanation (of sorts): “Your name pops up on our system, we are sorry”. “So am I,” I think to myself, “Now can I have my underwear back please?”
Then, there is the image I most see, the one of me in my own country: being acclaimed as a megastar, adored and glorified, my fans mobbing me with love and apparent adulation.

I am a Khan.

I could say I fit into each of these images: I could be a strapping six feet something – ok something minus, about three inches at least, though I don’t know much about horse-riding. A horse once galloped off with me flapping helplessly on it and I have had a “no horse-riding” clause embedded in my contracts ever since.

I am extremely muscular between my ears, I am often told by my kids, and I used to be fair too, but now I have a perpetual tan or as I like to call it ‘olive hue’ – though deep In the recesses of my armpits I can still find the remains of a fairer day. I am handsome under the right kind of light and I really do have a “distinctly large” nose. It announces my arrival in fact, peeking through the doorway just before I make my megastar entrance. But my nose notwithstanding, my name means nothing to me unless I contextualize it.

Stereotyping and contextualizing is the way of the world we live in: a world in which definition has become central to security. We take comfort in defining phenomena, objects and people – with a limited amount of knowledge and along known parameters. The predictability that naturally arises from these definitions makes us feel secure within our own limitations.

We create little image boxes of our own. One such box has begun to draw its lid tighter and tighter at present. It is the box that contains an image of my religion in millions of minds.

I encounter this tightening of definition every time moderation is required to be publicly expressed by the Muslim community in my country. Whenever there is an act of violence in the name of Islam, I am called upon to air my views on it and dispel the notion that by virtue of being a Muslim, I condone such senseless brutality. I am one of the voices chosen to represent my community in order to prevent other communities from reacting to all of us as if we were somehow colluding with or responsible for the crimes committed in the name of a religion that we experience entirely differently from the perpetrators of these crimes.

I sometimes become the inadvertent object of political leaders who choose to make me a symbol of all that they think is wrong and unpatriotic about Muslims in india. There have been occasions when I have been accused of bearing allegiance to our neighboring nation rather than my own country – this even though I am an Indian whose father fought for the freedom of India. Rallies have been held where leaders have exhorted me to leave my home and return to what they refer to as my “original homeland”.
Of course, I politely decline each time, citing such pressing reasons as sanitation words at my house preventing me from taking the good shower that’s needed before undertaking such an extensive journey. I don’t know how long this excuse will hold though.
I gave my son and daughter names that could pass for generic (pan-Indian and pan-religious) ones: Aryan and Suhana. The Khan has been bequeathed by me so they can’t really escape it. I pronounce it from my epiglottis when asked by Muslims and throw the Aryan as evidence of their race when non-Muslims enquire.

I imagine this will prevent my offspring from receiving unwarranted eviction orders and random fatwas in the future. It will also keep my two children completely confused. Sometimes, they ask me what religion they belong to and, like a good Hindi movie hero, I roll my eyes up to the sky and declare philosophically, “You are an Indian first and your religion is humanity”, or sing them an old Hindi film ditty, “Tu Hindu banega na Musalmaan banega – insaan ki aulaad hai insaan banega” set to Gangnam Style.

None of this informs them with any clarity, it just confounds them some more and makes them deeply wary of their father.

In the land of the freed, where I have been invited on several occasions to be honored, I have bumped into ideas that put me in a particular context. I have had my fair share of airport delays for instance.

I became so sick of being mistaken for some crazed terrorist who coincidentally carries the same last name as mine that I made a film, subtly titled My name is Khan (and I am not a terrorist) to prove a point. Ironically, I was interrogated at the airport for hours about my last name when I was going to present the film in America for the first time.
I wonder, at times, whether the same treatment is given to everyone whose last name just happens to be McVeigh (as in Timothy)??

I don’t intend to hurt any sentiments, but truth be told, the aggressor and taker of life follows his or her own mind. It has to nothing to do with a name, a place or his/her religion. It is a mind that has its discipline, its own distinction of right from wrong and its own set of ideologies. In fact, one might say, it has its own “religion”. This religions has nothing to do with the ones that have existed for centuries and been taught in mosques or churches. The call of the azaan or the words of the pope have no bearing on this person’s soul. His soul is driven by the devil. I, for one, refuse to be contextualized by the ignorance of his ilk.
I am a Khan.

I am neither six-feet-tall nor handsome (I am modest though) nor am I a Muslim who looks down on other religions. I have been taught my religion by my six-foot-tall, handsome Pathan ‘Papa’ from Peshawar, where his proud family and mine still resides. He was a member of the no-violent Pathan movement called Khudai Khidamatgaar and a follower of both Gandhiji and Khan Abdul Gaffar Khan, who was also known as the Frontier Gandhi.

My first learning of Islam from him was to respect women and children and to uphold the dignity of every human being. I learnt that the property and decency of others, their points of view, their beliefs, their philosophies and their religions were due as much respect as my own and ought to be accepted with an open mind. I learnt to believe in the power and benevolence of Allah, and to be gentle and kind to my fellow human beings, to give of myself to those less privileged than me and to live a life full of happiness, joy, laughter and fun without impinging on anybody else’s freedom to live in the same way.

So I am a Khan, but no stereotyped image is factored into my idea of who I am. Instead, the living of my life has enabled me to be deeply touched by the love of millions of Indians. I have felt this love for the last 20 years regardless of the fact that my community is a minority within the population of India. I have been showered with love across national and cultural boundaries, from Suriname to Japan and Saudi Arabia to Germany, places where they don’t even understand my language. They appreciate what I do for them as an entertainer – that’s all. My life has led me to understand and imbibe that love is a pure exchange, untempered by definition and unfettered by the narrowness of limiting ideas. If each one of us allowed ourselves the freedom to accept and return love in its purity, we would need no image boxes to hold up the walls of our security.
I believe that I have been blessed with the opportunity to experience the magnitude of such a love, but I also know that its scale is irrelevant. In our own small ways, simply as human beings, we can appreciate each other for how touch our lives and not how our different religions or last names define us.

Beneath the guise of my superstardom, I am an ordinary man. My Islamic stock does not conflict with that of my Hindu wife’s. The only disagreements I have with Gauri concern the color of the walls in our living room and not about the locations of the walls demarcating temples from mosques in India.
We are bringing up a daughter who pirouettes in a leotard and choreographs her own ballets. She sings western songs that confound my sensibilities and aspires to be an actress. She also insists on covering her head when in a Muslim nation that practices this really beautiful and much misunderstood tenet of Islam.

Our son’s linear features proclaim his Pathan pedigree although he carries his own, rather gentle mutations of the warrior gene. He spends all day either pushing people asie at rugby, kicking some butt at Tae Kwon Do or eliminating unknown faces behind anonymous online gaming handles around the world with The Call of Duty video game. And yet, he firmly admonishes me for getting into a minor scuffle at the cricket stadium in Mumbai last year because some bigot make unsavory remarks about me being a Khan.

The four of us make up a motley representation of the extraordinary acceptance and validation that love can foster when exchanged within the exquisiteness of things that are otherwise defined ordinary.

For I believe, our religion is an extremely personal choice, not a public proclamation of who we are. It’s as person as the spectacles of my father who passed away some 20 years ago. Spectacles that I hold onto as my most prized and personal possession of his memories, teachings and of being a proud Pathan. I have never compared those with my friends, who have similar possessions of their parents or grandparents. I have never said my father’s spectacles are better than your mother’s saree. So why should we have this comparison in the matter of religion, which is as personal and prized a belief as the memories of your elders. Why should not the love we share be the last word in defining us instead of the last name? It doesn’t take a superstar to be able to give love, it just takes a heart and as far as I know, there isn’t a force on this earth that can deprive anyone of theirs.
I am a Khan, and that’s what it has meant being one, despite the stereotype images that surround me. To be a Khan has been to be loved and love back – that the promise that virgins wait for me somewhere on the other side.

- Shah Rukh Khan, Outlook Turning Points 2013

src=http://www.twitlonger.com/show/krng1d

Minggu, 27 Januari 2013

Munna Bhai M.B.B.S - ancestor of 3 Idiots

Siapa yang tidak kenal dengan film Aamir Khan yang sangat fenomenal ini? 3 Idiots. Di tahun 2010, film ini merupakan film yang sangat-sangat mendapat pujian. Dimana tokoh Rancho di dalam film ini menjadi sangat iconic. Mungkin yang suka dengan film ini akan mengerti bahwa Rancho menjadi sangat sentral di dalam film ini. Semua orang menyayanginya, ia bagaikan Tuhan.
Dan jujur, saya juga kagum dengan tokoh Rancho ini. Bagaimana ia berusaha menjadi seorang yang sukses tanpa harus dituntut macam-macam dari universitas. Meninjau kembali, apa gunanya manuia, dan apa tujuan manusia itu hidup.
Munna Bhai, produksi dari Vidhu Vinod Chopra ini bertemakan hampir sama, hanya saja tidak menekankan kepada pendidikan. Menekankan terhadap moral manusia, dan bagaimana ia harus bersikap. Cerita awalnya tentang seorang anak yang mengaku jadi dokter kepada orang tuanya. Dan seketika, orang tuanya mendadak datang, dan akhirnya ia menyulap tempat kerjanya, sebagai rentenir, menjadi sebuah klinik.
Di sini juga ada Boman Irani. Kalau kalian ngeh, kalian pasti tau, dia itu Virus. Di sini Boman Irani sebagai dokter, dan memiliki anak perempuan, kalau kalian berpikiran hampir sama dengan 3 Idiots, memang. Karena mereka berasal dari orang yang sama, hanya berbeda pada kemasan, dan pemerannya.
Yang membuat saya ngeh malah di dokter Asthana ini, ia memiliki seorang putri dan melarang putrinya untuk menikah dengan Munna Bhai, si pemeran utama. Setelah itu saya juga baru sadar bahwa tokoh Munna Bhai ini sangat sentral, ia dibantu oleh anak buahnya, dan orang-orang rumah sakit mulai menyukainya. Persis dengan 3 Idiots, dimana tidak hanya temannya yang mendukung dia, tapi juga akhirnya kepintarannya membuatnya menjadi orang yang sukses.
Ketika dikasih hadapan seperti itu, meskipun tidak bisa dibilang sama, tapi itu cukup membuat nilai 3 Idiots jatuh, karena pada tahun 2003, VVC sudah membuat film seperti itu, hanya saja masih kurang dalam packaging.
Di akhir filmnya, memang happy ending. Meskipun cerita yang diangkat masih terlihat dangkal, tapi untuk sebuah permulaan itu sudah bagus. Hanya saja, dengan pola yang sama, mau mengharapkan sesuatu yang lebih bagus? Itu tidak segampang itu.

Ah, jadinya ngomong aneh... Segitu dulu ya...

Race, not knowing blood and relatives.


Sebuah film yang diproduksi oleh UTV ini sangat-sangat membuat pusing penonton. Jalan cerita yang disuguhkan begitu jumpy, dan pengarahan sang director juga membuat film ini terkesan misterius. Dengan Saif Ali Khan sebagai hero atau di beberapa istilah dikenal dengan lead male. Disusul dengan Anil Kapoor sebagai second lead male, dan Akshay Khanna sebagai villain dalam film ini.
Film sejenis ini tidak lepas dari yang namanya cewe. Di film ini ada Bipasha Basu dan Katrina Kaif. Siapa yang tidak kenal dengan dua orang wanita seksi ini? Katrina Kaif yang baru saja bersanding dengan Shah Rukh Khan dalam film romansa Alm. Yash Chopra.
Penokohannya Saif Ali Khan sebagain Ranvir Singh. Seorang eksekutif muda, kaya raya, hobi dengan lomba (race) dari lomba pacuan kuda, hingga lomba balap mobil-pun ia senangi. Ia memiliki seorang adik, yang bernama Rajiv Singh, yang diperankan oleh Akshay Khanna sendiri.
Balutan arahan dari Burmawalla bersaudara ini sangat-sangat bertipe layaknya film Hollywood. Memang tidak sebagus Nolan, tapi untuk ukuran Bollywood boleh dikatakan bagus. Tidak hanya sering jump, juga sering menampilkan beberapa fakta yang akan membuat penonton sadar apa gunanya di akhir film.
Sebelum membeberkan tentang cerita film ini, saya ingin berkomentar tentang film ini. Selain pusing dibuatnya, saya juga mempelajari hal yang lumayan penting jika ingin membuat film yang serba twist seperti ini. Terlalu banyak twist, penonton akan mudah membaca twist apa lagi yang akan terjadi. Sehingga, secara pribadi, saya tidak terkejut dengan akhir dari film ini, tapi saya malah pusing dibawa dari A ke B lalu ke D, balik lagi ke C, dan begitu seterusnya.


Ranvir memiliki seorang Personal Asistant, Sophie (Katrina Kaif) yang sangat menarik. Dan akan bertunangan dengan Sonia (Bipasha Basu), seorang model yang sedang naik daun. Namun, belum sempat terjadi, adinya, Rajiv mengutarakan isi hatinya bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Sonia. Dan di sini yang menentukan, bagaimana pintarnya Ranvir dan juga penonton.
Terlihat sangat galau, Ranvir sudah mendekati Sonia untuk beberapa lama, ia merelakan Sonia untuk adiknya. Dan iapun tetap sibuk dengan dirinya dan perusahaannya Stallion. Tak butuh waktu lama, ternyata ketahuan bahwa Rajiv ingin mendapatkan uang yang banyak, dengan cara mengklaim kematian saudaranya, Ranvir. Akhirnya ia mencoba menjadikan Sonia sebagai partner. Sebelum pernikahan terjadi, Rajiv bertanya akan hal ini kepada Sonia. Dan karena terkepung dengan fakta yang bisa membuat karirnya hancur, akhirnya ia setuju.
Sebelum hal ini terjadi, ketika Sophie datang ke mansion Ranvir untuk meminta tanda tangan, sang sutradara membuka celah untuk penonton berpikir, dan mengawasi Sophie dengan pertanyaan, "Apakah tidak perlu dilihat dulu?" menuju kepada kertas yang harus ditanda tangani oleh Ranvir.
Ya, kita pasti akan berpikir bahwa Sophie adalah tangan kanan si villain, yang saat itu kita masih belum tau kalau Rajiv-lah villain. Tuduhan itu langsung sirna karna Sophie dan Rajiv tidak dekat. Mereka kerap kali bertemu, tapi tidak ada hubungan yang spesial diantaranya.
Hingga akhirnya Rajiv sukses dengan rencananya, mendapatkan uang asuransi atas kematian saudaranya. Dan saat itulah Inspector Robert D'Costa (Anil Kapoor) muncul bersama sekretarisnya, Mini. Dan keadaan semakin memanas. Terlihat dengan pembawaan RD yang kocak, seolah membuat ada pesan yang tersirat di dalam kasus yang berusaha ditutupi oleh Rajiv.
Semua orang telah diintrogasi oleh RD, hingga muncul Sophie yang terlihat histeris. Seperti yang saya bilang tadi, Sophie tidak bersalah. Dia mengaku kalau dia telah menikah dengan Ranvir, yang membuat kita, sebagai penonton semakin tercengang, karena Rajiv juga ikut tercengang.
Semuanya sudah diikuti sesuai prosedur, penelusuran oleh RD juga membuat kita jadi sadar beberapa hal. Sehingga akhirnya Sophie yang berkulit domba, akhirnya terbuka, menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Seekor serigala yang mematikan.
RD yang sudah menemukan kejanggalan ini akhirnya datang ke Rajiv, yang saat itu bersama dengan Sophie. Bingung? Itu yang menyebabkan saya pusing, kenapa semuanya berbeda dari awal. Rajiv meminta RD untuk diam, tak disangka, RD setuju. Dan akhirnya Rajiv dan Sophie pun mengambil uang tersebut. Karena status Sophie sebagai istri Ranvir, maka ia berhak untuk mendapatkan uang tersebut.
Rajiv ternyata menggunakan Sonia untuk memancing Ranvir, karena ia tau kalau Ranvir jatuh cinta pada Sonia lebih dulu. Dan ia telah berencana untuk membunuh Sonia ketika ia mendapatkan uang itu. Di sinilah semuanya terbongkar. Ranvir yang ternyata masih hidup, datang menyelamatkan Sonia yang hari itu sudah diincar oleh orang suruhan Rajiv.
Akhirnya Rajiv mengetahuinya, Ranvir datang kerumah tersebut, lalu menjelaskan tentang lomba apa yang sedang mereka jalani. Mungkin Sophie sudah tidak punya muka di depan Ranvir, ia terdiam kaku. Rajiv merasa ide sempurna miliknya hancur, emosi seketika. Ia bertanya pada Ranvir apa yang ia ingini. Lalu Ranvir menjelaskan bahwa ia akan mendapatkan uang 2 kali lipat dibanding apa yang didapatkan oleh Rajiv, karena ia telah mengatur lomba sesungguhnya.
Di akhir film, Rajiv dan Ranvir masih balap mobil, berusaha menunjukan siapa yang lebih pintar, dan siapa yang akan mati. Mereka berdua sama-sama licik, dan sama-sama memiliki tujuannya masing-masing. Ternyata semua ini setup oleh Ranvir, ketika ia mengetahui kalau Rajiv berusaha membunuhnya seolah kecelakaan. Begitulah ceritanya, perlombaan ini belum selesai, ujar RD yang mendapatkan lagi bagiannya karena ia telah membantu Ranvir menjalankan rencananya dengan bagus. (as)



Minggu, 20 Januari 2013

Filmfare

I will give you several result of Filmfare which is live in India right now.
This is purely copied from @filmfare

  • Award for Best Costume: Manoshi Nath & Rushi Sharma (Shanghai)
  • Award for Best Sound Design: Sanjay Maurya & Allwin Rego (Kahaani)
  • Award for Best Production Design: Rajat Podar (Barfi!)  
  • Award for Best Editing: Namrata Rao (Kahaani)  
  • Award for Best Cinematography: Setu (Kahaani)  
  • Award for Best Action: Sham Kaushal (GOW)  
  • Award for Best Background Score: Pritam (Barfi!)  
  • Award for Best Choreography: Bosco-Caesar (Aunty Ji - Ek Main Aur Ekk Tu)  
  • Award for the Best Playback Singer (Female): Shalmali Kholgade( Pareshaan) ( Ishaqzaade)  
  • Award for the Best Playback Singer (Male): Ayushmann Khurrana (Paani Da Rang) (Vicky Donor)  
  • Award for the Best Lyrics: Gulzar ( Challa), Jab Tak Hai Jaan  
  • Award for the Best Music Director: Pritam (Barfi!)  
  • Award for the Best Actor in a Supporting Role (Female): Anushka Sharma (Jab Tak Hai Jaan)  
  • Award for the Best Actor in a Supporting Role (Male): Annu Kapoor (Vicky Donor)  
  • Award for Best Story: Juhi Chaturvedi (Vicky Donor)  
  • Award for Best Screenplay: Sanjay Chouhan & Tigmanshu Dhulia (Paan Singh Tomar)  
  • Award for Best Dialogue: Anurag Kashyap, Akhilesh Jaiswal, Sachin K Ladia & Zeishan Qadri (GOW)  
  • Lifetime Achievement Award: Yash Chopra  
  • Award for the Sony Trendsetter of the Year: Barfi!  
  • Award for Best Actor Female (Critics): Richa Chaddha (Gangs Of Wasseypur)  
  • Award for Best Actor Male (Critics): Irrfan Khan (Paan Singh Tomar)  
  • Award for Best Film (Critics): Gangs Of Wasseypur  
  • Award for the Best Debut (Female): Ileana D’cruz  
  • Award for the Best Debut (Male): Ayushmann Khurrana  
  • Award for the Best Debut Director – Gauri Shinde (English Vinglish)  
  • Anushka Sharma pays tribute to the divine actresses of the golden era at the 58th Idea
  • Award for the Best Film: Barfi!
  • Award for the Best Actor (Female): Vidya Balan (Kahaani)
  • Award for the Best Actor (Male): Ranbir Kapoor ( Barfi! )  

Wakil Rakyat? Sudahkah "Anda" memakai Otak?

Siapa yang sudah melihat video ini? Video yang merupakan keberanian suatu pers dalam menanggapi masalah yang sudah menjadi darah daging di dunia per-poli-tikus-an kita. Wacana ini terjadi di JakTV, dan sedang membahas tentang kebingungan Jakarta 1 perihal MRT. Untuk mengenai nama narasumber, atau yang lebih dikenal dengan inkumben anggota DPRD untuk wilayah Jakarta.
Jika kalian melihat dengan seksama, ketika penelpon, yang merupakan warga Jakarta. Terlihat dia sangat bingung, ia takut gegabah.
Ada satu ucapan yang menarik bagi saya, "India saja sudah punya 3 MRT" ya, India. Sebenarnya, kalau dilihat, India dan Indonesia itu merupakan negara yang hampir mirip. Masih ada kemiskinan, korupsi, kriminal. Tapi yang hebatnya, India memang memberi fasilitas kepada masyarakatnya. Berbeda dengan Indonesia. Memang bukan tidak memperhatikan rakyat, tetapi masih banyak yang belum terpenuhi untuk sarana dan prasarana masyarakat itu sendiri.
"Dulu ngapain aja dia?" lontar ibu Astri, dari kejauhan. Dan si nara sumber membalas, dia curiga bahwa semuanya pro terhadap Jokowi. Sangat jelas bahwa si narasumber berusaha untuk menjaga harga dirinya. Kalau menurut saya, sebagai wakil rakyat, seharusnya sudah bukan saatnya untuk menciptakan image bagus atau buruk, saat ini yang dibutuhkan itu bukti, dan hasil. Tidak hanya pandai mengomong, pandai membawa arus, dan semacam nara sumber ini, yang dibahas A, dia malah asik membahas B.
Terasa juga sindiran dari Ibu Astri ada benarnya, "Lain kali kalau undang narasumber, yang smart". Hal ini sempat menjadi perbincangan keras di twitter. Sekarang saya bertanya, kepada pembaca semua, kepada warga Jakarta.
  1. Salah tidak tanggapan penelpon (yang semuanya pro terhadap Jokowi)
  2. Pantas atau tidak seorang wakil rakyat tidak mau terlihat salah, atau kurang benar.
  3. Setuju tidak dengan tanggapan ibu Astri?
Saya tunggu jawabannya, di sini.

Minggu, 13 Januari 2013

Tanah Surga... Katanya...

Baru aja saya menonton film ini, yang katanya sih fiilm terbaik, versi apa sih saya sendiri tidak tau, sekilas pernah baca, tapi tidak ingat. Film ini berbasiskan suatu dusun tepat di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Nilai yang disodorkan di dalam film ini adalah murni tentang bagaimana kita seharusnya mencintai tanah Indonesia ini, dan jangan pernah berhenti untuk mencintainya, walau hanya sekejap.
Di dusun itulah hidup sebuah keluarga, seorang kakek dengan dua orang cucunya, Salman, dan Salina (agak lupa juga sih namanya) mereka sekolah di sebuah sekolah, yang memang seadanya. Kelas 3 dan kelas 4 berada di satu kelas, hanya dibagi dengan sebuah tripleks.
Salman dengan sangat bersemangat mendengar cerita kakeknya mengenai bagaimana mengusir penjajah, meski negara ini sudah merdeka. Kegiatan mereka tidak jauh dari anak-anak Belitong di Laskar Pelangi. Hanya saja ini terlihat lebih belum terjamah, dan masih adanya ketidak seimbangan budaya.
Bahasa yang dibawakan antara bahasa Melayu yang ada di Gantong, atau bahasa Malaysia, benar-benar konsistensinya kurang.
Namun hal yang positif dari film ini adalah memacu adrenalin untuk mencintai negeri sendiri tanpa henti. Dari segi cerita, Salman yang memilih untuk tidak meninggalkan Indonesia karena sang Kakek tidak ingin meninggalkan tanah Indonesia. Terpaksa ia berpisah dengan adiknya, Salina.
Ketika itu, saya berpikir bahwa filmnya akan membuat dramatis, dengan lompat ke sepuluh tahun atau lebih, dan Salman mengejar bapaknya, yang ternyata di Malaysia sang bapak tidak begitu sukses, tapi film ini dibuat lebih sederhana.
Ternyata filmnya berlanjut dengan datang seorang dokter dari kota, diperankan oleh Ringgo Agus. Klise memang terjadi di sini, karena dokter Anwar, tertarik dengan seorang guru yang bernama ibu Astuti, yang ternyata mengajar di sekolah tersebut karena tidak sengaja. Dan akhirnya jatuh cinta sendiri terhadap dusun tersebut.
Kisah mereka tidak diulas, karena bukan menjadi perhatian pertama penonton, hanya saja, tonjolan utama dari film ini adalah di mana Salman memberi sebuah kain sarung kepada pedangan di Sarawak, demi mendapatkan pusaka bendera merah putih.
Pendapat saya pribadi sih kurang sinematis, karena kita mengharapkan suatu yang benar-benar membuat penonton bisa lebih menghargai negaranya sendiri, sedikit menjatuhkan negara lain tidak apa-apa, asal tidak membuat suatu kebohongan publik.
Namun ada terjadi dua arah yang berbeda, dimana satu teguran untuk pemerintah sendiri, atau yang kedua, menjadi suatu media untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa sendiri. Adanya dua tujuan yang kurang simetris ini membuat filmnya jadi terasa biasa, meski setting yang bagus.

Kamis, 10 Januari 2013

Perfilman Indonesia, Membaik atau Memburuk?

Siapa yang tidak akrab dengan Kuntilanak, Pocong, Suster Ngesot, Kakek Cangkul, Nenek Gayung? Semua itu hanya di dapatkan di Indonesia. Ada yang bilang imaginasi atau kepercayaan orang Indonesia itu beragam, dengan ragamnya itu, maka banyak juga makhluk jejadian, mulai dari pocong hingga rentetan saudaranya, penghuni alam lain.
Banyak diangkat menjadi sebuah film, dan disuguhkan di bioskop, untuk ditonton bersama teman, keluarga, ataupun pacar. Dengan stigma bahwa film horror itu seru, menegangkan, memacu adrenalin, hingga ada yang mendapatkan jackpot dari gebetan, biasanya sih berupa pelukan. Njess...
Apakah itu saja film yang ada di Indonesia? Tidak, masih ada film-film drama, ataupun film yang diangkat dari novel, atau diadaptasi. Karenanya, film-film seperti itu mendapat suatu nilai lebih dari masyarakat Indonesia. Sama halnya yang terjadi dengan 5cm. Bombastis! Orang pada berbondong ke bioskop untuk menonton film Indonesia satu ini. Lantas tidak heran jika dalam 10 hari, dapat mengumpulkan 1 juta penonton. Sebuah rekor yang baru. Setelah industri film Indonesia mengalami krisis identitas. Lalu disambung dengan sebuah biopic "Habibie dan Ainun" bahkan ini memecahkan rekor 5cm. Dalam seminggu berhasil meraih 1 juta penonton. Apakah ini prestasi yang gemilang atau hanya aji mumpung, dan membuka jalan untuk sineas lainnya.
Film yang merupakan hasil sulapan anak-anak Dapur Film ternyata membawa 'adik'nya. Mungkin orang-orang tidak sadar siapa yang dibelakang layar. Reza Rahardian mendapatkan pujian dalam memerankan mantan presiden kita. Dan juga Bunga Citra Lestari yang berhasil membawa Alm. Ibu Ainun yang sangat ikonik.
Di belakangnya dengan gamblang ada Faozan Rizal, sang sutradara, yang menciptakan adegan-adegan yang terlihat sangat sinematis dan dramatis. Faozan Rizal itu sutradara yang bisa dibilang didikan Hanung Bramantyo.
Tadi saya mengatakan membawa adiknya, iya, tak lain adalah film yang mendapat hujatan dari suku Minang, karena telah berani membuat set (latar belakang) seorang Katholik yang tinggal di Padang, dan berbahasa Minang. Cinta Tapi Beda, karya Hestu dan didampingi dengan Hanung sendiri, ntah itu memang seperti pawang, atau memang mereka berdua yang membuat film ini.
Lalu menyusul juga karya sang master, Gending Sriwijaya. Film yang bertemakan medieval Indonesia pada masa kerajaan dulu. Membawa artis-artis senior seperti Jajang C. Noer, Slamet Raharjo, serta artis veteran yang kini fokus terhadap bisnis sembari syiar Islam, Sahrul Gunawan. Selain itu ada juga artis yang selalu fenomenal, Julia Perez. Yang membawakan sejarah mengenai Sriwijaya.
Ini merupakan tiga serangkai karya dapur film. Dan yang paling mendapatkan celaan adalah film karya Hestu, yang membawa perbedaan di dalam hubungan kasih sayang.
Selain itu juga ada film yang lagi dan lagi tidak berasal dari Production House terkenal seperti MD, SinemArt, Soraya. Bermodalkan 10 co-Pro, film ini berhasil masuk ke jajaran bioskop nasional.
Ada pertanyaan unik yang sekiranya hanya bisa dijawab dengan sikap penonton ataupun yang tidak menonton. Apakah film Indonesia semakin membaik apa memburuk? Ketika dimasa dimana film-film Horror  yang kerap kali memamerkan bagian tubuh sang artis, semua pada adem ayem, dan ketika ada film yang bukan film Horror, pada heboh. Antara senang atau tidak. Tidak jelas. Apakah sudah menjadi adat Indonesia untuk tidak menghargai karya orang lain? Karya anak bangsa. Apakah hanya melihat dari satu sudut pandang dan membawa berbagai tuduhan untuk mengatakan film itu tidak bagus.
Lantas maunya rakyat Indonesia ini apa?
Aneh bukan?

Sekarang saya tanya sama kalian, yang baca, apa yang kalian inginkan untuk industri perfilman kita?

Selasa, 08 Januari 2013

Suku Batak, di tanah Bandung

Indonesia kaya dengan ragam budaya. Mungkin Bali sudah terkenal di seluruh penjuru dunia, Bali dengan adatnya. Lalu Jawa, tak banyak yang membeberkan apa itu adat Jawa, tapi orang sudah mengerti. Selain itu masih banyak lagi etnis dan suku yang ada, salah satunya adalah Batak. Suku yang dominan berdomisili di Medan dan Sumatra Utara ini juga khas bangsa Indonesia. Ada beberapa artis berdarah batak, anggap saja Lulu Tobing, Giovanni L. Tobing, Ruhut Sitompul, dan masih ada lagi.
Kali ini Sammaria Simanjuntak, Produser film fenomenal Cin(t)a ini menggarap film yang membawa sukunya sendiri, Hala Batak! Anak batak ini tidak hanya cakap dalam membuat cerita, namun juga menggarapnya. Ada yang unik dari film Demi Ucok ini, selentingan ada curhatan sang penulis. Tapi, tidak semua kisah di Demi Ucok ya.
Durasinya memang sedikit lebih pendek dari film-film biasanya. Sekitar 70 menit, tapi sukses membawa suasana kocak kepada penonton. Tokohnya cuma ada empat, yaitu Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) sebagai tokoh utama, dan mamaknya Mak Gondut (Mak Gondut) serta seorang temannya Niki (Saira Jihan) yang sedang hamil tua, dan teman mereka A Cun (Sunny Soon) yang ingin jadi artis terkenal.
Glo, biasanya ia dipanggil. Ia telah sukses membuat sebuah film, dan ia percaya bahwa film pertama bisa dibuat secara amateur, dan yang kedua tidak boleh, harus profesional. Ia ingin membuat film keduanya, hanya saja terhalangi dengan dana. Ia mencari produser yang mau menerima script nya, namun gagal. Di sisi lain, Mak Gondut divonis memiliki penyakit yang membuat umurnya tak lama lagi. Karena menurutnya Keberhasilan seorang wanita batak itu dilihat dari anaknya, akhirnya ia semangat mencari sesosok 'ucok' untuk Glo, anaknya.
Kekocakan terjadi karena dengan semangatnya, Mak Gondut bergabung di tiga partai, dari yang berwarna Biru, Ungu, hingga Hijau yang terkenal dengan islaminya. Sementara Glo giat mencari produser, Mak Gondut selalu menyuguhkan tawaran lelaki kepada Glo. Namanya juga batak, bukan batak kalau tidak keras pendirian. Glo bersikukuh, Mak Gondut sedikit merenggang. "Mau berapa duit kau? 1 M? Gampang, nanti mamak kasih." Mungkin kalau yang sudah melihat trailernya, pasti bakal ngerti.
Tetap saja, mana ada anaknya yang ingin mamaknya mati. Begitu juga dengan Glo. Glo putus asa karena A Cun pergi ke Jakarta untuk meraih mimpinya, sementara Niki, yang menurutnya hanya ada dua cowo di dunia ini, one who want to fuck me or want to fuck guy senang menjalani hidupnya yang datar, menjual dvd bajakan. Bagian Glo - Niki agak susah diceritain, soalnya sentral plot cuma ada di Glo dan Mak Gondut.
Mak Gondut menawarkan Glo uang 1 M dari pinjaman temannya di partai, sayangnya duit itu hasil korupsi. Glo menolak.
Hampir saja dipakai Glo, karena ia sudah tidak punya harapan lagi, namun ketika melihat A Cun sukses, ia akhirnya membuang cek itu. Niki datang dengan ide sejenis fund-raise di website www.demiapa.com di situ bisa submit film apa yang ia ingin buat, dan orang akan membantu. Dalam waktu satu bulan, mereka merencanakan bakal dapat 1 M dari 10.000 orang, sayangnya tidak dapat, karena informasi film tidak jelas, bahkan A Cun menyarankan untuk memakai fotonya, tapi tetap saja tidak berhasil.
Satu-satunya jalan adalah Glo berbaikan dengan Mak Gondut, ia mencoba mendekatkan diri dengan Tumpal, anak batak. Karena itu, Mak Gondut senang, dan mengirim secara berantai kepada semua temannya, sudah hampir 1 M uang yang terkumpul, tiba-tiba saja lenyap karena Glo tidak ingin menikah dengan Tumpal, semua hanya permainan Glo semata.
Mak Gondut kecewa, Glo berpisah dari rumah Mak Gondut, tinggal di dekat Niki. Suatu hari dikabarkan Mak Gondut jatuh sakit karena merasa dibenci oleh anaknya sendiri, dan orang lain. Glo yang saat itu bertemu dengan produser idolanya langsung lari menuju rumah sakit. Kasih Ibu memang tidak ada putusnya.
Dan akhirnya Glo memutuskan untuk membuat film yang amateur lagi, dengan Mak Gondut sebagai bintangnya, dan A Cun sebagai harimau jejadian. Di malam premier, Mak Gondut drop, Glo merasa sedih, ia mengira mak Gondut meninggal. Tapi ternyata tidak, sebelum mak Gondut melihat Glo menikah. Ntah itu siksaan atau berkah untuk Glo.
Iya, filmya sampai disitu saja. Gak rugi deh nontonnya. Banyak sindiran untuk pemerintah maupun untuk pribadi.

Gak ada ide sih mau komenin apa, selain bangga sama Batak. Eh, gini-gini saya ada darah batak loh. Get married, forget her dream, live boringly ever after.
Oh iya, kenapa di tanah Bandung? Karena lokasinya full di Bandung. Dan juga banyak orang bataknya. Saatnya kita tunggu film-film yang mengangkat nama Indonesia di mata perfilman Internasional.

Pertentangan Dua Sahabat...

Film yang tayang di awal semester tahun 2012 ini memiliki cast yang cukup handal. Ada Reza Rahardian, yang merupakan emasnya Indonesia saat ini, keberhasilannya memerankan veteran presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Lalu ada Darius Sinathrya, yang sudah kita kenal di bidang olah raga, iya, artis satu ini dengan istrinya, Donna Agnesia memang penggemar bola, tapi namanya dikenal publik memang karena dunia entertainment. Lalu ada Julie Estelle, siapa sih yang gak kenal wanita cantik satu ini? Adiknya Cathy Sharon, yang terkenal, dan bahkan ia lebih cantik dari kakaknya.

Kalau ditanya soal tehnik penyampaian cerita, agak sedikit sulit untuk dipindahkan ke dalam tulisan. Tapi saya coba untuk menulisnya untuk anda semua. Dan agak tidak susah untuk mengikutinya, karena benar-benar sesuai dengan sinopsis yang beredar.
Menceritakan tentang seorang Editor, bernama Olivia (Julie) yang sedang ditelfon dengan iseng oleh seorang penulis, bernama Aryo (Darius) Oliv sebenernya risih dengan telfon tiap hari yang ia terima, hingga suatu hari, temannya menyarankan untuk bertemu, kali aja suka, karena Oliv masih merasa kehilangan Jamie (Reza), yang ia temui di suatu malam di kala hujan, kata Oliv sih, "Mirip cerita India." lalu mereka jadi sering berhubungan, berpacaran, sering mengucapkan janji setia di setiap bulannya. Dan tiba-tiba Jamie menghilang dari hidup Julie begitu saja.

Aryo datang ke kantor Oliv, dan mulai menggoda Oliv dengan ajakan dinner. Oliv masih ragu, ia tidak ingin menghianati perasaannya terhadap Jamie, sudah lama Aryo menunggu di cafe tersebut, hampir putus asa, ia sudah meminta bill kepada waitress, sayangnya ditahan oleh Oliv yang baru datang, kisah cinta Oliv dan Aryo dimulai di sini.

Meskipun Oliv terkadang masih teringat dengan moment nya bersama dengan Jamie, tapi ia menjalani hubungannya dengan Aryo secara tulus. Ia mulai menghapus segala ingatannya terhadap Jamie, dan mulai membuka lembaran baru. Sampai saat ini, saya mengira ini bakal seperti cerita bollywood, yang berjudul Kal Ho Na Ho. Itu anggapan saya hingga dua sahabat ini mengalihkan perhatian saya.
Aryo adalah sahabatn Jamie, tinggal di apartment yang sama, hanya beda unit, dan itu juga bersebelahan. Jamie yang meminta Aryo untuk mendekati Oliv, karena Jamie tidak ingin Oliv dimiliki oleh orang lain. Kerap kali Jamie bertanya, apa kabar Oliv, apa dia bahagia atau tidak, layaknya kekasih sejati. Aryo berjanji ia akan memberikan cinta Jamie melalui dirinya. Lagi, saya masih percaya kalau ini berdasarkan Kal Ho Na Ho.
Ternyata Jamie selama ini menghilang karena ia sakit. Dan ia tidak ingin memberi tahu keadaannya dengan keluarga dan juga Oliv, oleh karena itu ia menyuruh Aryo untuk datang di kehidupan Oliv. Sementara hubungan Oliv dan Aryo semakin dekat, Jamie pun semakin nekat untuk ada di tempat yang sama dengan mereka, ini yang mengakibatkan konflik di antara dua sahabat ini.
Aryo sangat tidak suka dengan sikap Jamie yang tidak memperhatikan kondisinya, terlalu egois. Jamie datang dengan alasan, ia ingin melihat Oliv senyum, bahagia. Hal ini kerap kali menjadi masalah di antara mereka berdua.Hingga beberapa kali Aryo menyerah, ia ingin memutuskan hubungannya dengan Oliv, namun selain dilarang oleh Jamie, ternyata Aryo juga sudah memiliki rasa tersendiri terhadap Oliv.

Hubungan Aryo dan Oliv terus berlanjut, Oliv memperkenalkan Aryo, mengajak mereka berpesta di apartment Aryo, Aryo membuat opor ayam yang dibantu oleh Oliv. Oliv mau membuang sampah, Aryo melarang, tapi Oliv akhirnya membuang sampah, yang tepat Jamie berada di depan pintu, sebelum pintu terbuka, Jamie menoleh kebelakang, lalu beringsut ke dinding menuju unit-nya.
Setelah masuk, Oliv bertanya kepada Aryo, "Apa kita ribut banget ya? Tadi ada kakek-kakek, kayanya terganggu dengan party ini." pertentangan dua sahabat ini akhirnya dimulai, Aryo yang terlanjur sayang terhadap Oliv dipaksa putus oleh Jamie, tidak ada alasan yang kuat, hanya karena Oliv masih ingat terhadap Jamie. Absurd memang, tapi memang sudah wataknya Jamie demikian. Hingga malam itu menjadi puncaknya, Aryo yang sangat peduli terhadap Jamie dan juga sangat sayang terhadap Oliv tidak ingin kehilangan keduanya. Ia akhirnya menyetujui untuk mengakhiri hubungannya dengan Oliv. Tetapi sampainya di unit-nya, ia malah menghancurkan semua yang ada, ia emosi.

Oliv bingung kenapa Aryo susah dihubungi, mulai paranoid, takut akan Aryo meninggalkan dirinya seperti Jamie lakukan. Sementara Aryo sedang terdiam kaku, bingung akan tindakan apa yang ia ambil. Akhirnya Aryo menelfon kembali, ia meminta maaf karena ketiduran. Lalu ia menjemput Oliv, di mobil mereka berbicara, Oliv sadar ada yang berubah dari Aryo, hari ini lebih pendiam, ditanya ada masalah dijawab tidak ada. Hingga akhirnya Aryo mengatakannya, ia ingin mengakhiri hubungan mereka. Oliv tersentak, ia bertanya kenapa, tidak ada penjelasan lebih, dan Oliv lari masuk ke rumah.
Selang beberapa waktu, Jamie ditemukan tergeletak di lantai apartment, Aryo membawanya ke Rumah Sakit, sembari Jamie dirawat, Aryo menghampiri Oliv. Awalnya Oliv tidak suka, lalu Aryo berkata, "Ada hal yang kamu tidak tau mengenai aku dan sahabat aku." iya, Oliv tau kalau Aryo punya sahabat yang lagi sakit komplikasi. Aryo membawa Oliv dan seorang temannya ke Rumah Sakit, tapi sayangnya Jamie sudah tidak ada. Ditelfon, Jamie mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Semarang.

"Dia pergi ke Semarang. Aku harus susul dia." ujarnya kepada Oliv, lalu ia pergi, lalu kembali lagi untuk memeluk sambil berkata "Aku sayang kamu." Dan hari itu adalah hari terakhir Oliv bertemu dengan Aryo, karena dengan tragis, Aryo kecelakaan di jalan, dan Jamie yang memberi kabar. Jamie meminta maaf kepada Oliv, "Maafkan Aryo. Ini semua cuma karena dua sahabat yang sangat sayang kamu." The End.

Iya, tipikal Indonesia, Aryo mati, lalu Jamie tidak tau gimana kabarnya, apakah selamat dari penyakit apa ngga. Bahkan ini di bawah harapan saya, yang sudah pernah menonton Kal Ho Na Ho pasti merasakan besar cintanya Aman terhadap Naina, ia bahkan memberikan cinta yang lebih dari Rohit, untuk Naina. Karena Aman sadar, ia tidak memiliki banyak waktu, apalagi untuk menyakiti hati Naina.
Memang sih, dunia kreatif seperti ini rawan dengan saduran, atau sejenisnya. Paling tidak Kal Ho Na Ho jelas, memang film romantis yang dikemas dengan keluarga juga. Nah kalau Broken Hearts ini, ujung-ujungnya cuma menceritakan pengorbanan dua orang sahabat demi Oliv, tidak lebih. Agak terlihat klise, dan juga useless.
Segitu aja sih rekap dari saya. Kalau ada kurang dan salah mohon dimaafkan.

Senin, 07 Januari 2013

Berbeda Keyakinan, Satu dalam Cinta


Sebuah film hasil Dapurfilm, sebuah sanggar kreatif yang bergerak dalam bidang theater maupun perfilman yang lumayan terpandang di Indonesia. Jika kalian mengenal Hanung Bramantyo, kalian pasti sudah akrab dengan Dapurfilm, karena beliau salah satu pendiri dari Dapurfilm. Di akhir tahun 2012, ada dua judul film yang diarahkan langsung oleh anak-anak Dapurfilm, salah satunya Habibie dan Ainun, film terlaris di tahun 2012, mengalahkan The Raid. Dan sedikit info untuk kalian semua, hari Senin, 7 Januari 2013, di Citra XXI, hampir penuh untuk tayangan malam.
Kali ini saya akan membawa kalian semua ke dalam haru birunya dunia Cahyo dan Diana. Dua insan yang saling jatuh hati, saling melengkapi, hanya saja mereka terlahir di dua keyakinan yang berbeda. Film yang langsung dipegang oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra ini mengangkat kasus yang sering terjadi, namun tidak ada penyelesaian lebih lanjut untuk kasus ini.
Bukan Hanung namanya jika ia tidak mantap dengan ide-ide briliannya. Masih ingatkah dulu, ketika film "?" dikecam oleh masyarakat, dan sekarang masyarakat sudah tidak memikirkannya lagi. Industri kreatif memang sarat akan kecaman, tapi jarang mendapat penghargaan yang layak, dan sesuai dengan ukuran yang ada. Selalu memakai ukuran luar negeri, tidak seimbang.
Oke, cukup intermezzo nya, setelah saya utarakan bagaimana kisah ini, akan saya lanjutkan lagi.

Film ini dimulai dengan alasan kenapa Cahyo Fadholi (Reza Nangin) memilih chef menjadi pekerjaanya. Ia menerangkan bahwa ilmu tata boga itu ada hubungannya dengan cinta, dimana butuh banyak unsur untuk membuatnya indah, begitu juga dengan cinta, butuh banyak unsur untuk membuatnya indah, kokoh, dan abadi. Saat itu ia bekerja di salah satu cafe, yang sebenarnya adalah milik Marcel Chandrawinata dan keluarga. Iya, kalau kalian yang bermukim di sekitar Jalan Suryo, kalian pasti tau Commune. Iya, di situlah latar belakang pekerjaan Cahyo, dan Diana? Nanti, ia belum muncul.
Hari itu tepat pukul 5 sore hari, ia bergegas keluar dari cafe, dengan melepaskan seragam tentunya, ia ada janji kencan dengan Mitha (Ratu Felisha). Kekasihnya.
Pribadi Cahyo sangatlah unik, ia lebih memilih melawan Jakarta dengan sepeda ketimbang dengan motor atau dengan mobil. Di tengah jalan, ia ditelfon oleh Mitha, mengatakan bahwa kencannya dibatalkan saja, ada urusan kantor mendadak, sayangnya lokasi mereka saat itu sama, di sebuah lampu lalu lintas (traffic light), Cahyo yang melihat langsung menyusuri jalanan yang lagi berhenti, meninggalkan sepedanya.
"Mitha... Mitha..." ucapnya kepada handphone Nexian itu. Namun Mitha mematikannya, hingga Cahyo mengetuk kaca mobil di mana ada Mitha dan seorang lelaki dan terlihat mesra. Saat itu juga, kisah Cahyo dan Mitha berakhir.
Tiga bulan kemudian, Cahyo mengunjungi budhenya yang merupakan instruktur tari di suatu sanggar. Saat itu ada pementasan tari yang bertajuk "All you can eat". Cahyo cuma mau memberi makanan yang ia buat, namun budhe sangat sibuk, ia mencari satu orang yang akan tampil. Dan tidak sengaja Cahyo ditarik dari balik gorden berwarna hitam gelap itu. Diana Fransisca (Agni Pratistha) sedang demam panggung. Iya, itulah pertama kalinya mereka bertemu. Tidak ada perasaan apa-apa, bak orang asing yang bertemu di jalan.
Seusai pementasan, Cahyo menghampiri budhe untuk menyampaikan apresiasi terhadap arahannya dalam pementasan tersebut, sembari mereka mengobrol, Diana datang, dan mengucapkan terima kasih, karena telah diberi kepercayaan dan tetap memberi dukungan, meski Diana adalah anak yang paling tidak bisa mentoleransikan penyakit demam panggungnya itu.
Budhe Diyah menawarkan mereka pulang bareng, Cahyo menolak, karena ia membawa sepeda, dan Diana memilih pulang naik taksi. Lalu budhe memberi wejangan kepada Cahyo untuk memastikan Diana dapat taksi, baru ia pulang. Mobil budhe sudah melesat, makanan masih ada di tangan Cahyo. "Yah... sayang.." tuturnya. Dianapun langsung memberi ekspresi sehingga Cahyo bertanya, "Kamu mau?" dan berbalaslah, "Iya, aku mau. Aku paling gak suka kalau ada makanan yang terbuang." lalu mereka makan di pinggir jalan.
Cahyo ditelfon oleh ibunya dari Jogja, dan Diana menyeletuk "Ternyata orang Jogja itu meski anaknya sudah besar, masih dikontrol juga ya..." selang beberapa menit kemudian, handphone Diana berdering, dari Mamanya (Jajang C. Noer) mereka tertawa bersama-sama.
Setelah berpisah, mereka saling mempraktekkan gimana kalau mereka berkenalan nanti. Ya, kalau sering nonton film maupun FTv, pasti tau gimana scene itu. Oh iya, sebelumnya, ada promosi lagi loh, Commune25. Karena makanannya ada label itu, dan juga ternyata Diana suka makan di sana. (Ini sekali promosi ya promosi aja, maap ya Cello)
Mereka bukan dipertemukan lagi oleh Tuhan, tapi Diana mendatangi tempat kerja Cahyo, dengan niat ingin kenalan. Meskipun ada pak Subaktio (Executive Chef) yang selalu mengawasi segala hal yang ada di Commune. Setelah itu mereka akhirnya berkenalan, secara resmi. Dari awal mereka sudah tau kalau mereka memiliki keyakinan yang berbeda.
Mulailah kasih itu tumbuh di antara mereka. Cahyo mulai diajak main ke rumah tantenya Diana, yang ternyata juga pernikahan beda agama, dimana ada Om Thalib (Leroy Osmani) yang Katholik, dan ada tante yang muslim (Ayu Diah Pasha) mereka mulai khawatir akan kedekatan Cahyo dan Diana. Mereka takut disalahkan atas ketidak-berhasilan mereka untuk menjaga Diana tetap menjadi pengikut Kristus.
Cahyo merasa mantap dengan Diana, ia mengajak Diana ke Jogja, sunatan adiknya Cahyo. Sebelum berjalan masuk ke rumah, Diana sempat bertanya "Apa aku copot saja kalungku?" Cahyo melarangnya, ia ingin adanya transparansi. Sembari mereka berdua di Jogja, Mama Diana datang dari Padang. Dan setelah itu masalah demi masalah mereka hadapi. Di mulai dari pelecehan terhadap Diana yang diutarakan sendiri oleh bapaknya Cahyo, meski dalam bahasa Jawa.

Lalu kecurigaan Mama akan Cahyo telah memuslimkan anak bungsunya tersebut. Ia sangat takut anak bungsunya akan meninggalkan dirinya dan akan meninggalkan Kristus demi cinta. Cahyo kerap kali mendapatkan perlakuan tidak adil dari Mama, ia terus menerus diacuhkan. Tidak hanya itu, Diana pun diantar ke sanggar, dan ditemani, bak bodyguard. Entah kemana dua hati yang saling jatuh tersebut harus pergi hingga bisa memadu kasih. Kepada siapa mereka harus bertanya, harus mengadu...

Mama Diana menelfon Okta, seorang dokter yang merupakan Jamaat di gereja yang sama, di Padang. Ia ingin menjodohkan anaknya dengan Okta (Choky Sitohang), demi menjaga Kristus di dalam darah mereka. Cahyo pun kepikiran, bagaimana ia memiliki Diana, bagaimana ia bisa mendapat restu. Ia gundah, gelisah, bahkan masakannyapun tidak seenak dulu. Seperti kata Cahyo, meracik makanan itu sama halnya dengan cinta, ketika cinta itu tidak terasa, maka makanan yang jadipun tidak terasa enak.

Hingga penampilan Diana yang bertajuk "Dua Hati", Okta datang, dan terjadilah emosi yang sangat tercurah di sini. Cahyo yang ingin mendapat restu dari Mama Diana, dan beliau ingin menjodohkan Diana dengan dokter Okta, serta Diana yang tidak ingin dipisahkan dengan Cahyo. Sangat-sangat kompleks. Hingga akhirnya jawaban itu tetap tidak. Yang mengakibatkan Diana pingsan, lalu terpisahkanlah mereka. Diana dibawa balik ke Padang. Bukan drama jika kedua tokoh utama tidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaanya. Sayangnya Cahyo mendapat surat putus hubungan kerja, karena sudah dua bulan ini ia tidak fokus dengan pekerjaannya. Diana, ia memilih kabur dari Padang untuk bertemu dengan Cahyo. Mereka berusaha untuk mendapatkan legalitas atas pernikahan mereka berdua. Hingga akhirnya mereka putus asa, dan kembali ke rumah masing-masing.

Di Padang Bukit Tinggi, Diana dan Okta mulai mendekatkan diri satu sama lain, dan Diana pasrah, ia menuruti kemauan sang ibu. Menikah dengan Okta. Di belahan dunia lainnya, Cahyo kembali pulang, mohon ampunan atas sikapnya yang sudah tidak menghormati bapaknya. Hari pernikahan Diana pun tiba, ia mengabari Cahyo, dan melihat itupun Ibu Cahyo tidak tega, ia merestui hubungan mereka, dan juga ia membantu Cahyo untuk mendapatkan restu dari bapak. Okta membatalkan pernikahan di atas altar, ia menunjukkan kepada Mama Diana bahwa sisa umur Diana akan dihabiskan dengan bersedih, seperti di hari pernikahan Diana.
Filmnya berakhir dengan bersatunya mereka. The End.

Untuk saya, film ini merupakan memori dan juga bahan pikiran. Dua kali saya menyukai orang yang berbeda agama dengan saya. Ya bisa dianggap sekali deh, yang pertama juga orangnya ngeselin, satu kelas benci ama dia. Iya, ini mengingatkan saya pada Oktober 2010, tanggal 14. Saat itu saya sedang suka dengan seorang Katholik. Iya sih, saya tidak sampai di tahap seperti Cahyo dan Diana, yang saling cinta, lalu memiliki hubungan. Saya hanya mencintai dia dari belakang, hingga ia merasa terganggu dengan cinta tersebut. Dan juga selain cerita pribadi saya, saya ingin memberi kritik terhadap film ini.
Kalian bisa membaca dengan jelas bukan, apa tagline dari film ini, "Apa yang dipersatukan TUHAN tidak dapat dipisah oleh Manusia." kenapa saya membawa tagline? Karena saya berharap memang TUHAN tersebut berperan, ia menunjukkan kepada manusia-manusia yang tiada dayanya ini kekuasaannya. Saya berharap Cahyo dan Diana mati, di dua tempat yang berbeda, bukan karena bunuh diri, tapi karena mereka tidak disatukan. Akan terkesan lebih dramatis, dan juga bisa dibalut dengan metode film Karan Johar, bercerita. Jadi ketika dihadapkan dengan masalah tersebut, mereka, yang ditinggal tau bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan.
Iya, akan terasa lebih dramatis, lebih menguras air mata. Dan lebih memperlihatkan kekuasaan Tuhan. Tapi apa daya, ceritanya dibuat seperti itu. Dan dengan cerita seperti ini saja sudah banyak cekaman yang diterima, mulai dari penghinaan terhadap suku Minang, yang kalau saya lihat tidak ada niat dari penulis ataupun sutradara untuk menjelekkan Minang, ya maaf kata, saya sendiri juga jera berurusan dengan suku minang. Masalah pribadi sih, tapi itu cukup menggambarkan keseluruhan orang minang itu gimana. Padang itu identik dengan minang, tapi tidak semua penduduk Padang adalah orang islam.
Karna film aja, orang pada ribut. Wajar saja film Indonesia jarang ada yang bagus, karena sekali tersinggung, langsung dikecam. Negara Indonesia tetaplah negara jumpalitan. Yang arah tujuannya tidak satu, melainkan banyak Sesuai dengan ego masing-masing.
Untuk hari ini, sekian. Selanjutnya saya akan membahas tentang Broken Hearts.



source: http://static.inilah.com/data/berita/foto/1926000.jpg
http://www.cintatapibeda.com/cast.html
http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/01/07/11/120921/Hina-Minang-Film-Cinta-Tapi-Beda-Dijerat-Hukum
http://dapurfilm.com/about/

Minggu, 06 Januari 2013

Student of the Year 2012

Pertama sekali, gue mau minta maaf, kalau tulisan gue terlalu pendek untuk ukuran blog. Gue udah kebiasaan dengan 140 characters yang dimiliki oleh twitter. Jadi, harus bisa ngebiasain diri lagi untuk menulis dengan panjang.
Kali ini gue bakal ceritain, iya, ceritain Student of the Year. Karena DVD sudah ada, jadi gue gak ragu untuk membeberkan ceritanya, karena kalian bisa download, atau beli DVD di luar.
Mungkin kalian akan susah untuk mengikutinya, karena filmnya agak flashback, dan kalau kalian mengikuti karirnya Karan Johar, pasti kalian mengerti bagaimana ia membuat film.

Filmnya diawali dengan kabar dean atau seperti kepala sekolah untuk kawasan Indonesia dan sekitarnya jatuh sakit, dan masuk rumah sakit. Permintaan terakhir dari Yogander Vashist (Rishi Kapoor) adalah mengumpulkan 7 orang sahabat. Dimana mereka merupakan angkatan terakhir Yogi menjadi dean. Tepat 25 tahun Yogi menjadi kepala sekolah di Saint Theresa, atau lebih dikenal dengan ST's.
Sebenarnya Yogi sudah menutup jalur komunikasi dari siapapun, kecuali dari seorang guru olah raga, yang menjadi pasangan impiannya, Karan Shah, atau akrab dipanggil Coach Shah. Dari situlah semuanya bisa berkumpul.

Pseudo, sosok yang gemuk, dan orang yang menjadi penggembira di dalam cerita ini. Pseudo merupakan alasan kenapa Yogi memilih pensiun dari jabatannya, karena di hari pengumuman Student of the Year, Pseudo mendukung tindakan Rohan Nanda (Varun Dhawan) untuk tidak mengambil trophy atas kemenangannya menjadi pelajar terbaik tahun 2012.

Lalu Pseudo yang telah menjadi pengacara pergi ke rumah sakit itu, sembari mengabari Shruti, sahabat Shanaya Singhania (Alia Bhat), dan juga mengabari Jeet, anak buah dari Rohan ketika masih sekolah dulu. Mereka bertemu di rumah sakit, ada Shruti, Pseudo, Jeet, dan Tanya Israni (Sana Saeed).

Tanya Israni itu adalah ketua pesorak (cheer leaders) ST, dan Tanya suka dengan Rohan Nanda, yang saat itu menjadi kekasih Shanaya. Hingga suatu hari, Abhimanyu Singh (Shidhart Malhotra) datang ke ST, dan merubah strata yang ada di ST. Dan saat itu juga persahabatan mereka mulai terbentuk.

Ketika Abhi datang, Abhi tidak merasa takut terhadap Rohan, yang merupakan anak orang kaya di Mumbai, Ashok Nanda (Ram Kapoor) seolah Rohan menjadi raja di dalam sekolah tersebut. Dan di suatu hari, Abhi memarkir motornya di parkir yang seharusnya untuk mobil Rohan, Pseudo melihat hal itu, lalu berusaha memanggil Abhi, menyarankan untuk memindahkan motornya segera, tapi ternyata Abhi tidak terpengaruh, dan Dimpy datang, memberi kabar bahwa film akan segera mulai, iya film drama yang dibawa oleh Rohan, orang terkaya di ST.

Pada saat itu Rohan menyuruh dengan nada yang sedikit sopan, tidak memerintah dengan kasar, hanya saja Abhi langsung berkomentar tentang mobil Rohan, dan Rohanpun menyuruh Abhi untuk memarkirkan mobilnya, lalu mencuci motor Abhi, sehingga sedikit terlihat lebih bagus. Namun, Abhi tidak ingin direndahkan, ia malah membuat mobil Rohan yang cantik itu penuh dengan kotoran tanah, dan karenanya mereka berdua dipanggil oleh Yogi, menghadap mereka. Untuk secara visual, kalian bisa nonton langsung, gue cuma bisa bilang, Yogi itu lebih seperti cewe, dalam tubuh cowo.

Dan saat itu Rohan sadar, Abhi akan menjadi saingannya, dan mulailah ia menjaili Abhi, namun Abhi tetap menjaga mereka dari masalah. Dengan itu, Rohan tersentuh, dan mulai mendekati Abhi, di mana mereka sama-sama pemain tim sepak bola ST.

Yogi datang ke lapangan bola, dimana anak-anak sedang latihan, dan memberi kejutan kecil kepada coach Shah, dia mengatakan bahwa sudah saatnya kalau mereka menang melawan Saint Lawrence di dalam pertandingan sepak bola. Akhirnya pada hari itu, coach Shah memilih Jeet sebagai kapten tim. Dan ternyata benar, ST kali ini menang pertandingan sepak bola, dengan Rohan Nanda sebagai top scorer, dan semenjak itulah persahabatan Abhi dan Rohan menjadi akrab.

Rohan mengajak Abhi ke rumahnya, memperkenalkan temannya kepada orang rumah, namun ayahnya, Ashok, sudah mengetahui Abhimanyu Singh, dan membandingkan anaknya dengan Abhi, dan saat itu Rohan sedikit kesal.

Pada suatu pagi, ketika Abhi menginap di rumah Rohan, dan Rohan sedang latihan main gitar, Abhi menyusul yang lain sarapan di bawah, dan Abhi diundang ke pesta pernikahan Ajay, anak tertua Ashok. Acaranya di Bangkok, dan saat itu yang datang ada Tanya, dan Shanaya. Di sini terjadilah kecemburuan antara Rohan - Tanya, dan Shanaya - Abhi. Sehingga akhirnya Abhi memberi saran untuk Shanaya segera mengambil Rohan dari Tanya, karena Shanaya sendiri tidak ingin menghancurkan suatu hubungan, apa lagi yang sudah lama.
Dan tak disangka, ternyata Abhi sendiri terjebak di dalam idenya, dia akhirnya mencintai Shanaya, dan menyimpan perasaan itu dalam-dalam. Namun Shruti menyadarinya, lalu berusaha mengatakan kepada Shanaya, tapi Shanaya tidak percaya, hingga akhirnya ia bertanya langsung kepada Abhi, dan ternyata sikap Abhi telah berubah terhadap Shanaya, ia menjadi lebih cuek dari biasanya. Dan Abhi menjadi lebih ambisius, ia ingin mendapatkan trophy Student of the Year.

Dan tak lama, kompetisi tahunan tersebut dibuka oleh dean Vashist. Tahap pertama adalah test IQ, yang ternyata Jeet menduduki peringkat pertama, mengalahkan Pseudo di peringkat dua, dan Abhi di peringkat ketiga. Lalu treasure hunt, yang mengandalkan kepintaran dan fisik juga. Lagi, mereka semua berhasil melewati babak ini, hingga ada 12 besar, dan akan diadakannya dance, untuk eliminasi 4 orang lagi. Setelah hal itu, Rohan memaksa Abhi untuk mengundangnya ke rumahnya, dan akhirnya Abhi mau tidak mau mengajak Rohan ke rumahnya, di mana ia tinggal bersama tante dan om nya, dan juga neneknya. Dan pada malam itu juga neneknya jatuh sakit, di bawa ke rumah sakit, lalu Shanaya dan Rohan setiap hari datang ke rumah sakit untuk menemani Abhi.

Semenjak Neneknya meninggal, Abhi menjadi lebih penyendiri, Shanaya datang ke kamar Abhi, ingin menghibur, lalu mengajak bicara. Namun Abhi masih sangat emosional, dan ia ingin Shanaya untuk pergi dari hidupnya. Tak disangka, di sini mereka berciuman, dan disaksikan oleh Rohan. Lalu mereka mulai bersaing satu sama lain. Tidak hanya dua pria ini, Shruti pun ingin Shanaya kalah dari kompetisi tersebut. Shruti menyarankan kepada Shanaya untuk menyerah, karena kalau ia memilih pergi ke prom bareng Rohan, akan memnyakiti Abhi yang sudah sakit, dan ketika memilih pergi dengan Abhi, ia akan membuat Rohan malu, begitu banyak pertimbangan.

Ternyata Shanaya setuju dengan ide Shruti, hanya saja, ia berubah pikiran, ia memilih lanjut dengan Jeet sebagai pasangan. Namun malangnya, Shanaya dieliminasi di babak tersebut, bersama Pseudo dan Tanya Israni.

Babak terakhir, Triathlon. Yang menang Rohan. Namun semua itu karena Abhi mengalah, tidak hanya demi Shanaya, tetapi juga ia ingin Rohan mendapatkan perhatian penuh dari ayahnya. Lalu mereka ketemu lagi, dan akhirnya mereka berantam, saling mengeluarkan emosi satu sama lain, dan akhirnya mereka berpelukan, karena mereka sadar, sebenarnya mereka adalah sahabat, hanya saja terbatasi oleh ambisi masing-masing.

-The End-


Maaf ya kalau agak kucel, gue banyak skip, soalnya film ya banyak adegan tanpa dialog, belum lagi nari-narinya. Gak rugi kok nontonnya.

Sabtu, 05 Januari 2013

Dunia Perfilman Indonesia, Tahun 2012 di mata Nisa

Sebelum memulai film apa yang terbaik menurut gue, ada baiknya gue tampilin ke kalian semua, apa sih yang telah dibuat di dunia sineas Indonesia.

  1. 3 Pocong Idiot
  2. 5 cm
  3. Bangkit dari Kubur
  4. Bangkitnya Suster Gepeng
  5. Bidadari Bidadari Surga
  6. Bila
  7. Broken Hearts
  8. Cinta Tapi Beda
  9. Cinta di Saku Celana
  10. Dendam dari Kuburan
  11. Dilema
  12. Enak Sama Enak
  13. Fallin' in Love
  14. Forever Love
  15. Gadis Pelari
  16. Habibie dan Ainun
  17. Hantu Budeg
  18. Hattrick
  19. Hello Goodbye
  20. Hi5teria
  21. Kafan Sundel Bolong
  22. Kakek Cangkul
  23. Keumala
  24. Kita vs Korupsi
  25. Kungfu Pocong Perawan
  26. Kuntilanak-Kuntilanak
  27. Langit Ke Tujuh
  28. Lo Gue End
  29. Love is You
  30. Love is Brondong
  31. Malaikat Tanpa Sayap
  32. Mama Minta Pulsa
  33. Meaning of Love
  34. Misteri Pasar Kaget
  35. Mr. Bean Kesurupan Depe
  36. My Last Love
  37. Negeri 5 Menara
  38. Nenek Gayung
  39. Perahu Kertas
  40. Perahu Kertas part II
  41. Perjanjian Alam Gaib
  42. Pulau Hantu 3
  43. Republik Twitter
  44. Rumah Bekas Kuburan
  45. Rumah Kentang
  46. Rumah Hantu Pasar Malam
  47. Sampai Ujung Dunia
  48. Santet Kuntilanak
  49. Seandainya
  50. Sule Ay Need You
  51. Tali Pocong Perawan
  52. Tanah Surga, Katanya...
  53. Test Pack
  54. The Raid
  55. Tragedi Penerbangan 574
  56. Ummi Aminah
*ini gak semua film ya, ini yang gue dapetin ada tritnya di forum. Oke, gue langsung to the point aja, dari 56 film yang ada di sini, cuma 6 film yang gue tonton. Kita mulai secara descending ya. 

  • The Raid
    • Film ini sih katanya bagus, cuma ketika gue nonton, gue kehilangan kepercayaan dengan omongan orang-orang di twitter. Iya, gue dapat rekomendasi film biasanya dari twitter. Apa yang gempar, gue percaya itu pasti bagus. Menurut gue, The Raid hanya mengandalkan action, bukan film action. Soalnya, setidaknya harus ada cerita di dalam sebuah film, tapi untuk ukuran The Raid, gue bisa bilang kurang. Karena gue sendiri lebih suka kalau ada ceritanya, sehingga ada kesan sebab-akibat. Bukan hanya sekedar akibat aja, sana sini babak belur. Score? Gue kasih 6 dari 10 deh. Itu juga gue udah berbaik hati. Mhihi.
  • Test Pack
    • Gue nonton film ini ketika Tante Mer (Meriam Bellina) teriak dari kejauhan, waktu itu malam minggu, gue lupa kapan, sekitaran September kalo gak salah, "Siapa di sini yang sudah nonton Testpack!?" gue sendiri sebenernya gak mau nonton, karena gue bete sendiri sama Reza Rahardian. Sebelum ini ada Broken Hearts, trus masih banyak film Reza Rahardian lainnya. Untuk filmnya sendiri, gue sangat suka dengan akting Acha yang begitu bagus, dan ternyata Tante Mer main di film ini, pantes tante nanyain segerombolan orang yang datang ke Persari waktu itu. Kalau segi cerita sih udah pasti ketebak, hanya saja flow nya dapat, emosi tercurahkan, bagaimana keadaan keluarga kecil, keluarga besar, serta harapan. Gue kasih nilai 6.5/10.
  • Negeri 5 Menara
    • Gue nonton ini karena gue udah baca novelnya. Tidak seindah Laskar Pelangi, cuma dapat dikatakan film yang berdasarkan Based on Novel yang bagus, dibuat apik, dari latar, dialog, dan pesan yang ingin disampaikan sangat bagus. Untuk cerita kalian bisa googling, gue yakin udah banyak yang buat resensi mengenai film ini, dan gue akan memberi nilai 7/10.
  • Habibie dan Ainun
    • Ada yang bilang ini biopic, tapi menurut gue ini masih film yang tanggung, untuk dibawa ke film ini hampir semuanya kisah nyata, tapi kalau untuk transparansi, gue rasa masih belum bisa. Dan kita anggap saja film ini mengenai romantisme seorang veteran presiden. Filmnya bagus, cuma tidak untuk ditonton berkali-kali. Dan ini film paling booming di tahun 2012, karena berhasil mengalahkan 5cm yang bisa mengumpulkan 1 juta penonton dalam 10 hari. Gue kasih nilai 7.2/10 untuk film ini. 
  • 5 cm
    • Gue ada novelnya, cuma belum pernah baca. Gue beli karena katanya best seller. Gue nonton film ini dua kali, secara tidak sengaja, dan gue masih merasa film ini menghibur untuk kedua kalinya. Apalagi dengan adanya twist di film ini, akan membuat kalian terpesona ketika kalian menontonnya untuk ke dua kalinya. Awalnya sih gue pikir bakal boring, karena kita udah tau gimana jalan ceritanya, ternyata gue salah. Gue tetap terpesona, ntah ini karena besutan Rizal Mantovani, atau karena pembawaan Junot sangat bagus untuk memerankan Zafran. Film ini gue kasih 7.5/10
  • Bidadari Bidadari Surga
    • Ini film lumayan bagus, gue gak tau judul apa saja dari novel Tere Liye yang sudah di film kan, tapi gue sangat suka sama cerita ini, dan gue merasa tersentuh dengan ide yang dibawa. Dan gue gak pungkiri, gue nyesek juga nontonnya. Bukan karena gue punya kakak, dan juga bukan karena gue adalah seorang kakak. Gue merasa keluarga Laisa itu sederhana, dan penuh cinta. Walaupun gue ketinggalan 10 menit filmnya, tapi gue bener-bener suka. Di film ini gue ngerti akan slogan, if it is not happy, it isn't the end. 
Kalau dari gue segini untuk film Indonesia di tahun 2012. Dan gue akui gue nonton film yang berkesan ya 3 film terakhir yang rilis di akhir tahun.

Feel free to comment ya. :)

Kamis, 03 Januari 2013

Di Belakang Layar...


Alur-alur gimana bisa membuat sebuah sinetron mulai dari tahap yang paling dasar sampai dalam pengambilan gambar..Semoga ini bisa menambah wawasan kalian dalam dunia per film an..

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahapan Produksi

Tahapan Produksi Suatu produksi program TV yang melibatkan banyak peralatan, orang dan dengan sendirinya biaya yang besar, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi juga perlu suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Setiap tahap harus jelas kemajuannya dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Tahapan produksi terdiri dari tiga bagian di televisi yang lazim disebut standard operation procedure (SOP), seperti berikut:

a. Pra-produksi (ide, perencanaan dan persiapan);
Tahap ini sangat penting sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik, sebagian pekerjaan dari produksi yang direncanakan sudah beres. Tahap pra-produksi meliputi tiga bagian seperti berikut ini.
1) Penemuan Ide/Pembuatan Skenario Film

Tahap ini dimulai ketika seorang penulis menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah sesudah riset.Tahap ini masih dibagi lagi menjadi beberapa tahap:

MENENTUKAN CERITA
  Sasaran Cerita: Anak-anak, Remaja, Dewasa, dan Umum.*) 
  Jenis Cerita: Drama (Tragedi, Komedi, Misteri, Laga, Melodrama, Sejarah, dll), Dokumenter (Adat Istiadat, Tempat Bersejarah, Biografi, dll), Propaganda (Layanan Masyarakat & Layanan Niaga).*) 
  Tema Cerita: Percintaan, Rumah Tangga, Perselingkuhan, Persahabatan, Petualangan, Kepahlawanan/Heroik, Balas Dendam, Keagamaan/Religi, dll.*) 
  Intisari Cerita/Premise: Sebuah kalimat semacam kata mutiara yang berisi tentang isi cerita tersebut.*) 
  Ide Cerita: Bisa dari Penulis, Novel, Roman, Cerber, Cerpen, Film, Produser.*) 
  Alur Cerita/Plot: Plot Lurus (film dan FTV), Plot Bercabang (serial dan stripping).*) 
  Grafik Cerita: Grafik ala Aristoteles, Fraytag’s Pyramide, Misbach Yusa Biran, Hudson, dan Elizabeth Lutters (1= film dan ftv, 2= serial dan stripping).*) 
  Setting Cerita: Bisa diartikan sebagai Media/Tempat dan Budaya.

MELAKUKAN OBSERVASI
Observasi adalah pengamatan terhadap sebuah kasus untuk kebutuhan penulisan skenario. Pengamatan yang dimaksud di sini bukan sebatas mengamati atau melihat secara fisik dari dekat ataupun jauh, namun yang lebih penting kita harus dapat menyelami dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh tersebut.MELAKUKAN RISET
Riset hampir sama dengan observasi, namun lebih diartikan penelitian yang sifatnya mencari data kebenaran tentang sesuatu hal. Riset ini biasanya dibutuhkan jika kita mendapatkan pesanan tulisan tentang hal-hal yang bertemakan sejarah atau memerlukan penyelidikan ilmiah.

MENULIS SINOPSIS
Setelah seluruh hal tentang cerita, observasi, dan riset dipahami, langkah selanjutnya adalah membuat sinopsis. Ini adalah praktik pertama kita menulis, sebelum sampai pada tahap membuat skenario. Sinopsis adalah ringkasan cerita. Namun dalam sebuah cerita film atau sinetron, sinopsis bukan sekedar ringkasan cerita, melainkan sebuah ikhtisar yang memuat semua data dan informasi dalam skenario.

MENULIS KERANGKA TOKOH
Setelah selesai membuat sinopsis, praktik berikutnya adalah membuat kerangka tokoh dalam bentuk skema, yang menjelaskanhubungan antar tokoh yang ada dalam skenario. Tokoh-tokoh yang ditampilkan sebaiknya dibatasi pada tokoh sentral/utama dan pembantu utama saja.

MENULIS PROFIL TOKOH
Berdasarkan kerangka tokoh yang telah dibuat, kita akan membuat Profil Tokoh satu persatu dari tokoh yang akan ditampilkan. Profil Tokoh ini sering disebut dengan karakter tokoh, namun istilah karakter tokoh sengaja tidak saya pakai karena penjabaran saya tidak sebatas pada karakter tapi juga fisik dan latar belakang tokoh, yaitu:*) Nama Tokoh*) Tipologi Tokoh (Tipe Fisik= Piknis, Leptosom, Atletis, Displastis dan Tipe Psikis= Sanguinis, melankolis, Koleris, Flegmatis.)*) Status Tokoh (Sudah menikah atau belum)*) Agama Tokoh (Bila untuk cerita religi)*) Profesi dan Jabatan Tokoh*) Ciri Khusus Tokoh (Ciri Fisik & Ciri Kelakuan)*) Latar Belakang Tokoh (Keluarga, Budaya, Ekonomi, Sosial, Pendidikan)*) Peran Tokoh (Protagonis, Antagonis, Tritagonis, Peran Pembantu)


MENULIS TREATMENT atau SCENE PLOT
Langkah selanjutnya adalah membuat Treatment/Scene Plot. Treatment adalah pengembangan jalan cerita dari sebuah sinopsis yang di dalamnya berisi plot secara detail namun cukup padat. Treatment bisa diartikan sebagai kerangka skenario yang tugasnya adalah membuat sketsa dari penataan konstruksi dramatik. Dalam bentuk sketsa ini kita akan mudah memindah-mindahkan letak urutan peristiwa agar benar-benar tepat.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
  • · Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
  • · babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
  • · Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain pada babak 1.
  • · Babak 4: protagonis dan antagonis
  • · Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
  • · Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
  • · Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
  • · Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
  • · Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya

MEMAHAMI SKENARIO
Setelah selesai membuat treatment/scene plot, langkah praktik selanjutnya adalah mulai memahami apa itu skenario. Skenario adalah naskah cerita yang sudah lengkap dengan deskripsi dan dialog, telah matang, dan siap digarap dalam bentuk visual. Skenario disebut juga screenplay, sering diibaratkan banyak hal oleh beberapa penulis skenario. Saya sendiri lebih merasa pas jika menganggap skenario adalah roh/jiwa dari sebuah tayangan sinetron atau film. Sementara teori lain mengibaratkan skenario seperti cetak biru (blue print) bagi insinyur, atau kerangka tubuh bagi manusia. Semua pengibaratan itu sebenarnya memiliki arti yang kira-kira sama yaitu bahwa skenario adalah sesuatu yang membuat hidup sebuah tontonan sinetron atau film. Seperti halnya tubuh tanpa jiwa, atau tubuh tanpa kerangka, film/sinetron tanpa skenario tak akan ada.

MEMFORMAT SKENARIO
Format Skenario atau teknik penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat hal-hal sebagai berikut:*) Judul Scene.*) Nama Pemeran.*) Deskripsi Visual.*) Tokoh Dialog.*) Beat/Irama/Tempo.*) Dialog (Siapa yg berdialog? Dengan siapa dia berdialog? Apa latar belakangnya? Di mana berdialognya? Suasanan hatinya bagaimana? Apa tujuan dialog tersebut? Dsb.)*) Transisi.

HARUS ADA UNSUR DRAMATIK
Dalam skenario harus juga termuat Unsur Dramatik. Unsur Dramatik dalam istilah lain disebut Dramaturgi, yakin unsur-unsur yang dibutuhkan untuk melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada pikiran penontonnya.*) Konflik: Permasalahan yang kita ciptakan untuk menghasilkan pertentangan dalam sebuah keadaan sehingga menimbulkan dramatik yang menarik. Konflik biasanya timbul jika seorang tokoh tidak berhasil mencapai apa yang diinginkannya.*) Suspense: Ketegangan. Ketegangan yang dimaksud di sini tidak berkaitan dengan hal yang menakutkan, melainkan menanti sesuatu yang bakal terjadi, atau harap-harap cemas (H2C). Penonton digiring agar merasa berdebar-debar menanti risiko yang bakal dihadapi oleh tokoh dalam menghadapi problemnya.*) Curiosity: rasa ingin tahu atau penasaran penonton terhadap sebuah adegan yang kita ciptakan. Hal ini bisa ditimbulkan dengan cara menampilkan sesuatu yang aneh sehingga memancing keingintahuan penonton. Atau bisa juga dengan cara mengulur informasi sehingga membuat penonton merasa penasaran.*) Surprise: Kejutan. Dalam penjabaran sebuah cerita, perasaan surprise pada penonton timbul karena jawaban yang mereka saksikan adalah diluar dugaan. Untuk bisa menimbulkan efek surprise pada penonton, kita harus membuat cerita yang tidak mudah ditebak oleh penonton.

Tiga puluh tujuh situasi dramatik ini saya ambil dari sff.net dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena saya pikir sangat berguna buat para calon sineas (atau mungkin sudah sineas) Indonesia yang ingin membuat film tapi tak kunjung berhasil membuat suatu karya yang memiliki cerita yang dramatik. Situasi-situasi ini dapat anda terapkan kedalam film anda dan memungkinkan anda untuk mengembangkannya.Georges Polti mengatakan bahwa semua cerita yang ada di dunia ini pada dasarnya terbuat dari 36 situasi dramatik dan berangkat dari situasi-situasi itu. Ada orang lain (tidak diketahui) yang menambahkan situasi dramatik ke-37.

Urutannya acak, dan bukan berarti nomor satu adalah situasi paling dramatik. Klik pada linknya untuk penjelasan lebih detail. 
1. Supplication (Permohonan)
2. Deliverance (Pembebasan/Pelepasan)
3. Crime Punished by Vengeance (Kejahatan yang Dihukum dengan Balas Dendam)
4. Vengeance Taken For Kindred Upon Kindred (Dendam oleh Anggota Keluarga kepada Anggota Keluarga)
5. Pursuit (Pengejaran)
6. Disaster (Bencana)
7. Falling Prey to Cruelty or Misfortune (Korban yang Jatuh ke dalam Kekejaman atau Kesengsaraan)
8. Revolt (Revolusi)
9. Daring Enterprise (Sekelompok Orang yang Berani)
10. Abduction (Penculikan)
11. The Enigma (Teka-teki)
12. Obtaining (Usaha untuk Memperoleh)
13. Enmity of Kinsmen (Persengkataan Dalam Keluarga)
14. Rivalry of Kinsmen (Persaingan antar Anggota Keluarga)
15. Murderous Adultery (Pembunuhan karena Perzinahan)
16. Madness (Kegilaan)
17. Fatal Imprudence (Kelalaian yang Fatal)
18. Involuntary Crimes of Love (Kejahatan Cinta yang Tak Disengaja)
19. Slaying of a Kinsman Unrecognized (Membunuh Orang Tak Dikenal yang Ternyata Anggota Keluarga Sendiri)
20. Self-sacrificing for an Ideal  (Pengorbanan Untuk Sebuah Idealisme)
21. Self-sacrifice for Kindred (Pengorbanan Untuk Anggota Keluarga/Kerabat)
22. All Sacrificed for a Passion (Pengorbanan Banyak Orang untuk Sebuah Hasrat)
23. Necessity of Sacrificing Loved Ones (Perlunya Mengorbankan Orang yang Dicintai)
24. Rivalry of Superior and Inferior (Persaingan antara yang "Kuat" dan "Lemah")
25. Adultery (Perzinahan)
26. Crimes of Love (Kejahatan Cinta (hoho)) ( CINTA FITRI BANNGEEETTT)
27. Discovery of the Dishonor of a Loved One (Terungkapnya Perbuatan Tidak Terhormat dari Orang yang Dicintai)
28. Obstacles to Love (Kendala dalam Mencapai Cinta)
29. An Enemy Loved (Mencintai Musuh)
30. Ambition (Ambisi)
31. Conflict With a God (Konflik dengan Tuhan/Dewa)
32. Mistaken Jealousy (Kecemburuan namun SalahPaham)
33. Erroneous Judgement (Keputusan yang Keliru)
34. Remorse (Penyesalan yang Mendalam)
35. Recovery of a Lost One (Ditemukannya Sesuatu yang Dicintai)
36. Loss of Loved Ones (Hilangnya Sesuatu yang Dicintai)
37. Mistaken Identity (Kekeliruan Identitas)


BAHASA DALAM SKENARIO
Sebaiknya bahasa yang digunakan pada dialog dalam skenario bukanlah bahasa buku, melainkan bahasa lisan yang biasa digunakan sehari-hari, kecuali pada deskripsi visual. Pada deskripsi visual kita bisa menggunakan bahasa buku mengingat kegunaannya yang memang untuk dibaca dan divisualkan, bukan sebuah kalimat yang harus diucapkan tokoh dalam tayangan sinetron atau film.


MENULIS SKENARIO
Setelah Anda mencermati dan memahami segala aspek yang sudah ditulis dalam teori ini, niscaya menulis skenario menjadi pekerjaan yang paling mudah, seakan tinggal merangkai kalimat. Maka saat hendak menulis skenario, lepaskan pikiran kita dari hal-hal yang berada di luar cerita yang akan kita tulis. Masuklah dan sedapat mungkin menjadikan diri kita berada pada posisi tokoh-tokoh kita. Sehingga saat akan menulis dialog, segalanya akan muncul dengan sendirinya mewakili karakter tokoh-tokoh yang akan kita munculkan. Jika kita telah siap memosisikan diri sebagai tokoh-tokoh tersebut, kita tak perlu ragu lagi untuk duduk dan mulai menulis skenario kita.

ini contoh skenario:


Fade In
Act 1

01. EXT. MALL-PAGI (HARI 1)
Pemain: Fitri,Faiz

Fitri dan Faiz ingin bertemu di sebuah mall untuk membahas rencana menemukan Lia...


FAIZ:
Fit..Kamu kemana aja semalam..Semalam Polisi itu nyari-nyari kamu..

FITRI:
Semalem aq ngumpet di gudang belakang Rumah..Dan aq melihat Farel membakar Foto2 aq..

FAIZ:
Sekarang apa yang harus kita lakuin Fit..Mami sekarang disekap sama Mischa..Dan sekarang kamu menjadi Buronan Polisi
Dialog dan seterusnya….

CUT TO
02. INT.RUANG TENGAH – SIANG (HARI 1)
Pemain: Farel,Mischa

Farel duduk di kursi dengan perasaan yang galau..Dan Mischa mendekati Farel untuk  meyakinkan Farel bahwa ini semua adalah perbuatan Fitri

Mischa:
Yank..Kamu kenapa yank??Udahlah yank..Lebih baik kita serahin ini semua ke Polisi...Biar Polisi yang mengurus Fitri..Sudah terbukti bahwa Fitri lah yang membunuh mami..

Farel:
AQ gak tau Mis..AQ sedang bingung saat ini..rasanya aq gak percaya Fitri bisa melakukan hal ini..( dengan mata yang berkaca-kaca )

Dst

CUT TO
03…………….
04………………….
FADE OUT

Keterangan:
Fade In : Cerita dimulai
Act 1 : Babak 1
01 : Scene 1 (scene [pemandangan]= potongan peristiwa)
EXT : Exterior (peristiwa terjadi di luar), INT=interior
MALL,RUANG TENGAH : Lokasi peristiwa
Pagi : Waktu kejadian
Hari 1 : Hari kejadian (untuk membedakan kostum dll)
Pemain: ….. : Pemain yang main pada film

CUT TO : Pemisah antar scene.
Fade Out : Tanda cerita sudah usai

Selain Cut To masih ada turunannya spt: intercut to, disslove to, paralel cut to, dll

Setelah membaca dialog diatas kalian kalian akan  tau seberapa banyak dialog yang diciptakan dalam 1 eps..selain menguras pikiran dan tenaga juga menguras waktu

HAL PENTING DALAM MENULIS SKENARIO:
*) Jangan sampai lupa unsur-unsur dramatik.
*) Dialog jangan verbal.
*) Plot jangan melebar ke hal-hal yang tidak perlu.
*) Hubungan antar tokoh harus jelas.
*) Grafik cerita yang dibangun jangan sampai kendur.
*) Dalam deskripsi jika hendak menjelaskan tentang beberapa tokoh berbeda, pakailah baris tersendiri pada setiap tokohnya.
*) Buatlah konflik dalam setiap scene-nya.
*) Pahamilah tanda baca yang benar, terutama pada kolom dialog.
*) Jagalah continuity karakter tokoh.
*) Perhitungkan saat commercial break (iklan). Berikan suspense pada scene sebelum commercial break, hal ini penting untuk emngikat penonton.
*) Perhatikan juga unsur parallel cutting, yaitu adegan kesinambungan, atau dua unsur peristiwa yang ditampilkan dalam waktu bersamaan atau terkesan bersamaan.
*) Hal lain yang perlu kita ingat adalah factor symbol. Hal ini ditampilkan agar gambar tidak vulgar di layar.
*) Jangan emmbuat adegan dalam scene yang isinya hampir sama.
*) Yang tak kalah pentingnya adalah daya imajinasi harus kita kerahkan semaksimal mungkin sehingga dalam cerita kita timbul fantasi dan sensasi cerita yang berbeda.

PERTANYAAN PENTING
Ada 7 pertanyaan penting yang harus dijawab penulis skenario agar skenarionya bagus. Tujuh pertanyaan itu ialah:

1. Siapa tokoh utamanya?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?
3. Siapa antaginisnya? Apa hal yang menghalangi tercapainya keinginan protagonis?
4. Bagaimana protagonis bisa mencapai keinginannya?
5. Apa pesan yang ingin kamu sampaikan dalam cerita itu?
6. Bagaimana kamu nyeritain cerita itu?
7. Bagaimana perubahan nasib tokoh-tokohnya?

Itulah “prosedur” penulisan skenario film. Lebih jelasnya kamu bisa baca pada buku-buku panduan menulis skenario.

HAL YANG HARUS TERDAPAT DALAM SKENARIO

Siti Nurbaya.  Plot yang paling laku dipakai adalah seputar pernikahan.  Detil konflik boleh bermacam-macam, tapi harus ada minimal sepasang manusia (biasanya tokoh utamanya) yang menjalin cinta namun tidak disetujui oleh para orang tua.  Sebagai tambahan, perlu diingat pula bahwa hal yang paling sering menyebabkan para orang tua tidak merestui hubungan anak-anaknya dengan seseorang (paling tidak di jagat sinetron) adalah beda status ekonomi.  Dendam keluarga di masa lampau menyusul pada posisi kedua.
Fisik.  Kegantengan / kecantikan tokoh utama harus selalu didahulukan daripada faktor-faktor lainnya.  Akting tidak perlu terlampau dipusingkan, karena berdasarkan data statistik, orang-orang menonton sinetron hanya karena tidak punya hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.  Alternatif pengisi waktu kosong yang terbaik adalah memandangi para aktor yang ganteng dan cantik.  Karena itu, berikanlah apa yang para pemirsa inginkan!
Totalitas.  Dalam membuat skenario tidak boleh tanggung-tanggung.  Artinya, kalau mau menciptakan karakter orang kaya, sekalian saja ciptakan karakter selevel Paris Hilton ; anak orang kaya yang akan tetap kaya meskipun kerjanya cuma dugem.  Kalau mau menciptakan karakter orang miskin, tidak cukup dengan rumah gubuk dan hutang yang tak mungkin lunas tujuh turunan, sekalian ciptakan pula pemeran pembantu yang akan menindas mereka sehabis-habisnya.  Kalau kejam tidak boleh tanggung-tanggung, demikian juga orang baik tidak boleh tanggung-tanggung.
Simpati.  Karena bangsa kita ini memiliki sejarah ratusan tahun sebagai budak beliannya bangsa lain, maka penonton akan segera simpati pada mereka yang tertindas.  Dengan demikian, menciptakan tokoh utama yang tertindas adalah suatu langkah yang amat strategis.  Untuk menciptakan ikatan simpati yang lebih kuat lagi antara penonton dan tokoh utama, maka biarkan ia mengalami musibah yang bertubi-tubi.
Air Mata.  Anda perlu mempertimbangkan karakter-karakter yang mudah menangis untuk membangun simpati penonton secara lebih mendalam.  Sebagai model, boleh mencontoh karakter yang diperankan oleh Naysilla Mirdad di sinetron “Intan” atau tokoh utama di sinetron “Candy”.  Walaupun kerjanya hanya menangis, tapi hasilnya terbukti efektif untuk meningkatkan rating sinetron.
Plot-Plot Umum.  Ada beberapa plot yang sangat umum digunakan, dan kenyataannya masih laku hingga detik ini.  Misalnya, Anda bisa menciptakan tokoh utama yang lahir dari keluarga superkaya (bukan sekedar kaya) yang sejak bayi sudah dipisahkan dari keluarganya karena suatu sebab dan harus menjalani hidup yang berat sebagai orang miskin.  Anda juga bisa menciptakan tokoh yang hamil di luar nikah dan kemudian ditelantarkan oleh pasangannya.  Dan, tentu saja, seperti telah ditegaskan pada poin pertama, konflik ‘ala Siti Nurbaya’ nyaris selalu menjadi inti ceritanya.
Learn From The Best.  Kalau Anda mengetahui film seri dari luar negeri (biasanya seputar Jepang, Taiwan atau Korea) yang Anda rasa bagus, jangan malu-malu untuk menirunya.  Bagaimana pun, kita hanya bisa sukses dengan meniru cara orang lain yang sudah duluan sukses, bukan?  Menulis skenario sinetron tidak mesti kaku seperti menyusun skripsi.  Sekarang, copy-paste dari komik pun dianggap sah dan tidak memalukan.
Yadi dan Eeng.  Walaupun tokoh utama bisa berbeda-beda karakternya, tapi di jaman sekarang ini selalu ada tempat untuk Yadi Timo dan Eeng Saptahadi.  Ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk memakai salah satu atau keduanya dalam sinetron Anda nanti.  Meskipun sebagai penulis skenario kemungkinan besar Anda tidak akan terlibat dalam proses casting, tapi Anda boleh yakin bahwa jika skenario Anda benar-benar diolah menjadi sinetron, maka 80% kemungkinan satu dari dua aktor ini akan bermain di dalamnya.  Anda sudah tahu tipikal karakter yang mereka perankan, bukan?
Segar.  Meskipun Anda berniat membuat sebuah kisah drama tragedi yang serius dan (dimaksudkan untuk) membuat para penonton berpikir keras, namun Anda harus pandai-pandai menyisipkan elemen-elemen konyol untuk menjaganya tetap segar.  Biasanya selalu ada pemeran pembantu culun untuk memenuhi maksud ini.
Tikungan.  Dalam logika sinetron, jika karakter bikinan Anda berlari-lari di tikungan jalan, maka 90% kemungkinan ia akan tertabrak mobil yang sedang melintas kencang.  Nyaris 100% kemungkinan ia tak sadarkan diri, dan hampir semuanya mengalami satu dari dua masalah : (a) amnesia, atau (b) lumpuh.
Penyakit.  Jika Anda ingin karakter Anda memiliki tempat yang spesial di hati pemirsa, maka penyakitnya pun harus spesial.  Jangan susahkan diri Anda dengan penyakit-penyakit ‘level rendah’ macam batuk-pilek dan flu.  Statistik menunjukkan bahwa nyaris semua sinetron ‘dibumbui’ dengan kanker otak, leukimia, dan kadang-kadang juga AIDS (khusus yang satu ini dianggap tidak cocok untuk menarik simpati pemirsa).  Dan jangan lupa, dalam jagat sinetron, dokter umum mana pun bisa memastikan keberadaan penyakit semacam tumor atau kelainan jantung hanya dengan pemeriksaan sedikit saja.  Anda tidak perlu pusing dengan laboratorium.
Aksesoris.  Jika Anda merencanakan kisah seputar remaja, maka perlu mempersiapkan aksesoris yang wah.  Untuk siswi sekolah harus diberikan ragam aksesoris yang berwarna-warni dan berukuran besar, misalnya anting-anting yang nampak mencolok dan kalung yang menjuntai kemana-mana.  Untuk siswanya, Anda harus memberikan porsi yang cukup untuk gel rambut.  Ya, bagi remaja lelaki versi sinetron, gaya rambut adalah hal yang sangat penting.  Gaya rambut berdiri di tengah ala Beckham biasanya selalu ada, dan ada sekian banyak variasi lain yang bisa Anda pilih.  Ingat pula bahwa dalam sinetron, para pelajar tidak pernah memasukkan baju seragam sekolahnya ke dalam celana atau roknya.

2) Perencanaan

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan artis, lokasi dan crew. Selain estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana alokasi merupakan bagian dari perencanaan yang perlu dibuat secara hatihati dan teliti.

3) Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesan semua kontrak, perizinan dan surat-menyurat. Latihan para artis dan pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang diperlukan. Semua persiapan ini paling baik diselesaikan menurut jangka waktu kerja (time schedule) yang sudah ditetapkan. Kunci keberhasilan produksi program TV sangat ditentukan oleh keberesan tahap perencanaan dan persiapan itu. Orang yang begitu percaya pada kemampuan teknis sering mengabaikan halhal yang sifatnya pemikiran di atas kertas. Dalam produksi program TV, hal itu dapat berakibat kegagalan. Sebagian besar pekerjaan dalam produksi program TV bukan shooting di lapangan. Shooting di lapangan hanya memerlukan waktu 7 atau 10 hari. Namun, perencanaan dan persiapan dapat makan waktu beberapa minggu dengan lebih banyak menggunakan kertas-kertas dan pena daripada kamera atau peralatan teknik yang lain. 

b. Produksi (pelaksanaan);
Baru sesudah perencanaan dan persiapan selesai betul, pelaksanaan produksi dimulai. Sutradara bekerja sama dengan para artis dan crew mencoba mewujudkan apa y ang direncanakan dalam kertas dan tulisan (shooting script) menjadi gambar, susunan gambar yang dapat bercerita. Dalam pelaksanaan produksi ini, sutradara menentukan jenis shot yang akan diambil di dalam adegan (scene). Biasanya sutradara mempersiapkan suatu daftar shot (shot list) dari setiap adegan. Sering terjadi satu kalimat dalam skenario (naskah sinetron atau film cerita) dipecah menjadi empat shot atau lebih.
Di dalam pelaksanaan di lapangan penata cahaya harus mempersiapkan wajah Yuni tidak terlalu kontras tampak di kamera karena panas matahari. Bayangan yang terjadi perlu dikurangi ketajaman kontrasnya dengan imbangan lampu yang sangat diperhitungkan. Sementara itu, wajah Andi dari balik kaca mobil perlu kclilnatan tanpa mengurangi kewajaran. Semua shot yang dibuat dicatat oleh bagian penrUal shot dengan mencatat time code pada saat mulai pengambilan, isi shot dan time code pada akhir pengambilan adegan. Kode waktu (time code) adalah nomor pada pita. Nomor itu berputar ketika kamera dihidupkan dan terekam dalam gambar. Catatan kode waktu ini nanti akan berguna dalam proses editing. Biasanya gambar hasil shooting dikontrol setiap malam diakhir shooting hari itu untuk melihat apakah hasil pengambilan gambar sungguh baik. Apabila tidak maka adegan itu perlu diulang pengambilan gambarnya. Sesudah semua adegan di dalam naskah selesai diambil maka hasil gambar ash (original material/ row footage) dibuat catatannya (logging) untuk kemudian masuk dalam proses post production, yaitu editing.  

c. pasca-produksi (penyelesaian dan penayangan). 
Pasca-produksi memiliki tiga langkah utama, yaitu editing off line, editing on line, dan mixing.
(1)   Editing off line
Setelah shooting selesai, script boy/girl membuat logging, yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang dibuat dan muncul dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shot dicatat. Kemudian berdasarkan catatan itu sutradara akan membuat editing kasar yang disebut editing off line (dengan copy video VHS supaya murah) sesuai dengan gagasan yang ada dalam sinopsis dan treatment. Materi hasil shooting langsung dipilih dan disambung- sambung dalam pita VHS. Sesudah editing kasar ini jadi, hasilnya dilihat dengan saksama dalam screening. Apabila masih perlu ditambah atau diedit lagi, pekerjaan ini dapat langsung dikerjakan sampai hasilnya memuaskan. Sesudah hasil editing off line itu dirasa pas dan memuaskan barulah dibuat editing script. Naskah editing ini sudah dilengkapi dengan uraian untuk narasi dan bagian-bagian yang perlu diisi dengan ilustrasi musik. Naskah editing ini formatnya sama dengan skenario. Di dalam naskah editing, gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas untuk memudahkan pekerjaan editor. Kemudian hasil shooting asli dan naskah editing diserahkan kepada editor untuk dibuat editing online. Kaset VHS hasil editing off line dipergunakan sebagai pedoman oleh editor.  
(2)   Editing on line
Berdasarkan naskah editing, editor mengedit hasil shooting ash. Sambungan- sambungan setiap shot dan adegan (scene) dibuat tepat berdasarkan catatan kode waktu dalam naskah editing. Demikian pula sound asli dimasukkan dengan level yang sempurna. Setelah editing on line ini siap, proses berlanjut dengan mixing. Pengarah acara didampingi operator VCR dan switcher yang sedang mengoperasikan mixer.
(3)   Mixing
Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga sudah direkam, dimasukkan ke dalam pita hasil editing on line sesuai dengan petunjuk atau ketentuan yang tertulis dalam naskah editing. Keseimbangan antara sound effect, suara asli, suara narasi dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saling Inengganggu dan terdengar jelas. Sesudah proses mixing ini boleh dikatakan bagian yang penting dalam post production sudah selesai. Secara menyeluruh produksi juga sudah selesai. Setelah produksi selesai biasanya diadakan preview. Penayangan program di stasiun TV dibatasi oleh frame waktu. Oleh karena itu, dalam screening hal ini juga perlu diperhatikan. Apabila program ternyata melebihi frame waktu yang disediakan, harus dipotong di tempat yang tidak akan mengganggu kontinuitas program. Selebihnya panayangan menjadi tanggung jawab petugas dari stasiun TV. Pemikiran-pemikiran itu merupakan hal yang sangat penting bagi seorang produser, penulis naskah dan sutradara. Pemikiran itu akan melahirkan mekanisme kerja yang penuh pemikiran, teratur, sistematis dan tepat waktu. Semua itu sangat diperlukan dalam suatu produksi program TV dengan video.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nah, semua hal tentang pembuatan skenario ini hanyalah masalah teori. Secara praktiknya, bisa saja kita sedikit bergeser karena dalam membuat skenario kita memang tidak bisa lugas. Jika feeling kita merasakan ada dramatik yang lebih menarik, teori bisa saja dikesampingkan. Sebab skenario tak ubahnya sebuah karya seni. Seni bukanlah matematika, jadi bisa saja 1+1=3. Dan bukan tidak mungkin terjadi perkembangan-perkembangan lain dalam teori penulisan skenario, seiring dengan perkembangan zaman.

Jika kita berbicara untuk Indonesia, semua itu tak lepas dari infrastruktur dan SDM yang dimiliki oleh sineas Indonesia, teori ini saya sesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia, tak adil jika kita hendak mengacu pada teori penulisan skenario ala Hollywood.