Senin, 07 Januari 2013

Berbeda Keyakinan, Satu dalam Cinta


Sebuah film hasil Dapurfilm, sebuah sanggar kreatif yang bergerak dalam bidang theater maupun perfilman yang lumayan terpandang di Indonesia. Jika kalian mengenal Hanung Bramantyo, kalian pasti sudah akrab dengan Dapurfilm, karena beliau salah satu pendiri dari Dapurfilm. Di akhir tahun 2012, ada dua judul film yang diarahkan langsung oleh anak-anak Dapurfilm, salah satunya Habibie dan Ainun, film terlaris di tahun 2012, mengalahkan The Raid. Dan sedikit info untuk kalian semua, hari Senin, 7 Januari 2013, di Citra XXI, hampir penuh untuk tayangan malam.
Kali ini saya akan membawa kalian semua ke dalam haru birunya dunia Cahyo dan Diana. Dua insan yang saling jatuh hati, saling melengkapi, hanya saja mereka terlahir di dua keyakinan yang berbeda. Film yang langsung dipegang oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra ini mengangkat kasus yang sering terjadi, namun tidak ada penyelesaian lebih lanjut untuk kasus ini.
Bukan Hanung namanya jika ia tidak mantap dengan ide-ide briliannya. Masih ingatkah dulu, ketika film "?" dikecam oleh masyarakat, dan sekarang masyarakat sudah tidak memikirkannya lagi. Industri kreatif memang sarat akan kecaman, tapi jarang mendapat penghargaan yang layak, dan sesuai dengan ukuran yang ada. Selalu memakai ukuran luar negeri, tidak seimbang.
Oke, cukup intermezzo nya, setelah saya utarakan bagaimana kisah ini, akan saya lanjutkan lagi.

Film ini dimulai dengan alasan kenapa Cahyo Fadholi (Reza Nangin) memilih chef menjadi pekerjaanya. Ia menerangkan bahwa ilmu tata boga itu ada hubungannya dengan cinta, dimana butuh banyak unsur untuk membuatnya indah, begitu juga dengan cinta, butuh banyak unsur untuk membuatnya indah, kokoh, dan abadi. Saat itu ia bekerja di salah satu cafe, yang sebenarnya adalah milik Marcel Chandrawinata dan keluarga. Iya, kalau kalian yang bermukim di sekitar Jalan Suryo, kalian pasti tau Commune. Iya, di situlah latar belakang pekerjaan Cahyo, dan Diana? Nanti, ia belum muncul.
Hari itu tepat pukul 5 sore hari, ia bergegas keluar dari cafe, dengan melepaskan seragam tentunya, ia ada janji kencan dengan Mitha (Ratu Felisha). Kekasihnya.
Pribadi Cahyo sangatlah unik, ia lebih memilih melawan Jakarta dengan sepeda ketimbang dengan motor atau dengan mobil. Di tengah jalan, ia ditelfon oleh Mitha, mengatakan bahwa kencannya dibatalkan saja, ada urusan kantor mendadak, sayangnya lokasi mereka saat itu sama, di sebuah lampu lalu lintas (traffic light), Cahyo yang melihat langsung menyusuri jalanan yang lagi berhenti, meninggalkan sepedanya.
"Mitha... Mitha..." ucapnya kepada handphone Nexian itu. Namun Mitha mematikannya, hingga Cahyo mengetuk kaca mobil di mana ada Mitha dan seorang lelaki dan terlihat mesra. Saat itu juga, kisah Cahyo dan Mitha berakhir.
Tiga bulan kemudian, Cahyo mengunjungi budhenya yang merupakan instruktur tari di suatu sanggar. Saat itu ada pementasan tari yang bertajuk "All you can eat". Cahyo cuma mau memberi makanan yang ia buat, namun budhe sangat sibuk, ia mencari satu orang yang akan tampil. Dan tidak sengaja Cahyo ditarik dari balik gorden berwarna hitam gelap itu. Diana Fransisca (Agni Pratistha) sedang demam panggung. Iya, itulah pertama kalinya mereka bertemu. Tidak ada perasaan apa-apa, bak orang asing yang bertemu di jalan.
Seusai pementasan, Cahyo menghampiri budhe untuk menyampaikan apresiasi terhadap arahannya dalam pementasan tersebut, sembari mereka mengobrol, Diana datang, dan mengucapkan terima kasih, karena telah diberi kepercayaan dan tetap memberi dukungan, meski Diana adalah anak yang paling tidak bisa mentoleransikan penyakit demam panggungnya itu.
Budhe Diyah menawarkan mereka pulang bareng, Cahyo menolak, karena ia membawa sepeda, dan Diana memilih pulang naik taksi. Lalu budhe memberi wejangan kepada Cahyo untuk memastikan Diana dapat taksi, baru ia pulang. Mobil budhe sudah melesat, makanan masih ada di tangan Cahyo. "Yah... sayang.." tuturnya. Dianapun langsung memberi ekspresi sehingga Cahyo bertanya, "Kamu mau?" dan berbalaslah, "Iya, aku mau. Aku paling gak suka kalau ada makanan yang terbuang." lalu mereka makan di pinggir jalan.
Cahyo ditelfon oleh ibunya dari Jogja, dan Diana menyeletuk "Ternyata orang Jogja itu meski anaknya sudah besar, masih dikontrol juga ya..." selang beberapa menit kemudian, handphone Diana berdering, dari Mamanya (Jajang C. Noer) mereka tertawa bersama-sama.
Setelah berpisah, mereka saling mempraktekkan gimana kalau mereka berkenalan nanti. Ya, kalau sering nonton film maupun FTv, pasti tau gimana scene itu. Oh iya, sebelumnya, ada promosi lagi loh, Commune25. Karena makanannya ada label itu, dan juga ternyata Diana suka makan di sana. (Ini sekali promosi ya promosi aja, maap ya Cello)
Mereka bukan dipertemukan lagi oleh Tuhan, tapi Diana mendatangi tempat kerja Cahyo, dengan niat ingin kenalan. Meskipun ada pak Subaktio (Executive Chef) yang selalu mengawasi segala hal yang ada di Commune. Setelah itu mereka akhirnya berkenalan, secara resmi. Dari awal mereka sudah tau kalau mereka memiliki keyakinan yang berbeda.
Mulailah kasih itu tumbuh di antara mereka. Cahyo mulai diajak main ke rumah tantenya Diana, yang ternyata juga pernikahan beda agama, dimana ada Om Thalib (Leroy Osmani) yang Katholik, dan ada tante yang muslim (Ayu Diah Pasha) mereka mulai khawatir akan kedekatan Cahyo dan Diana. Mereka takut disalahkan atas ketidak-berhasilan mereka untuk menjaga Diana tetap menjadi pengikut Kristus.
Cahyo merasa mantap dengan Diana, ia mengajak Diana ke Jogja, sunatan adiknya Cahyo. Sebelum berjalan masuk ke rumah, Diana sempat bertanya "Apa aku copot saja kalungku?" Cahyo melarangnya, ia ingin adanya transparansi. Sembari mereka berdua di Jogja, Mama Diana datang dari Padang. Dan setelah itu masalah demi masalah mereka hadapi. Di mulai dari pelecehan terhadap Diana yang diutarakan sendiri oleh bapaknya Cahyo, meski dalam bahasa Jawa.

Lalu kecurigaan Mama akan Cahyo telah memuslimkan anak bungsunya tersebut. Ia sangat takut anak bungsunya akan meninggalkan dirinya dan akan meninggalkan Kristus demi cinta. Cahyo kerap kali mendapatkan perlakuan tidak adil dari Mama, ia terus menerus diacuhkan. Tidak hanya itu, Diana pun diantar ke sanggar, dan ditemani, bak bodyguard. Entah kemana dua hati yang saling jatuh tersebut harus pergi hingga bisa memadu kasih. Kepada siapa mereka harus bertanya, harus mengadu...

Mama Diana menelfon Okta, seorang dokter yang merupakan Jamaat di gereja yang sama, di Padang. Ia ingin menjodohkan anaknya dengan Okta (Choky Sitohang), demi menjaga Kristus di dalam darah mereka. Cahyo pun kepikiran, bagaimana ia memiliki Diana, bagaimana ia bisa mendapat restu. Ia gundah, gelisah, bahkan masakannyapun tidak seenak dulu. Seperti kata Cahyo, meracik makanan itu sama halnya dengan cinta, ketika cinta itu tidak terasa, maka makanan yang jadipun tidak terasa enak.

Hingga penampilan Diana yang bertajuk "Dua Hati", Okta datang, dan terjadilah emosi yang sangat tercurah di sini. Cahyo yang ingin mendapat restu dari Mama Diana, dan beliau ingin menjodohkan Diana dengan dokter Okta, serta Diana yang tidak ingin dipisahkan dengan Cahyo. Sangat-sangat kompleks. Hingga akhirnya jawaban itu tetap tidak. Yang mengakibatkan Diana pingsan, lalu terpisahkanlah mereka. Diana dibawa balik ke Padang. Bukan drama jika kedua tokoh utama tidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaanya. Sayangnya Cahyo mendapat surat putus hubungan kerja, karena sudah dua bulan ini ia tidak fokus dengan pekerjaannya. Diana, ia memilih kabur dari Padang untuk bertemu dengan Cahyo. Mereka berusaha untuk mendapatkan legalitas atas pernikahan mereka berdua. Hingga akhirnya mereka putus asa, dan kembali ke rumah masing-masing.

Di Padang Bukit Tinggi, Diana dan Okta mulai mendekatkan diri satu sama lain, dan Diana pasrah, ia menuruti kemauan sang ibu. Menikah dengan Okta. Di belahan dunia lainnya, Cahyo kembali pulang, mohon ampunan atas sikapnya yang sudah tidak menghormati bapaknya. Hari pernikahan Diana pun tiba, ia mengabari Cahyo, dan melihat itupun Ibu Cahyo tidak tega, ia merestui hubungan mereka, dan juga ia membantu Cahyo untuk mendapatkan restu dari bapak. Okta membatalkan pernikahan di atas altar, ia menunjukkan kepada Mama Diana bahwa sisa umur Diana akan dihabiskan dengan bersedih, seperti di hari pernikahan Diana.
Filmnya berakhir dengan bersatunya mereka. The End.

Untuk saya, film ini merupakan memori dan juga bahan pikiran. Dua kali saya menyukai orang yang berbeda agama dengan saya. Ya bisa dianggap sekali deh, yang pertama juga orangnya ngeselin, satu kelas benci ama dia. Iya, ini mengingatkan saya pada Oktober 2010, tanggal 14. Saat itu saya sedang suka dengan seorang Katholik. Iya sih, saya tidak sampai di tahap seperti Cahyo dan Diana, yang saling cinta, lalu memiliki hubungan. Saya hanya mencintai dia dari belakang, hingga ia merasa terganggu dengan cinta tersebut. Dan juga selain cerita pribadi saya, saya ingin memberi kritik terhadap film ini.
Kalian bisa membaca dengan jelas bukan, apa tagline dari film ini, "Apa yang dipersatukan TUHAN tidak dapat dipisah oleh Manusia." kenapa saya membawa tagline? Karena saya berharap memang TUHAN tersebut berperan, ia menunjukkan kepada manusia-manusia yang tiada dayanya ini kekuasaannya. Saya berharap Cahyo dan Diana mati, di dua tempat yang berbeda, bukan karena bunuh diri, tapi karena mereka tidak disatukan. Akan terkesan lebih dramatis, dan juga bisa dibalut dengan metode film Karan Johar, bercerita. Jadi ketika dihadapkan dengan masalah tersebut, mereka, yang ditinggal tau bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan.
Iya, akan terasa lebih dramatis, lebih menguras air mata. Dan lebih memperlihatkan kekuasaan Tuhan. Tapi apa daya, ceritanya dibuat seperti itu. Dan dengan cerita seperti ini saja sudah banyak cekaman yang diterima, mulai dari penghinaan terhadap suku Minang, yang kalau saya lihat tidak ada niat dari penulis ataupun sutradara untuk menjelekkan Minang, ya maaf kata, saya sendiri juga jera berurusan dengan suku minang. Masalah pribadi sih, tapi itu cukup menggambarkan keseluruhan orang minang itu gimana. Padang itu identik dengan minang, tapi tidak semua penduduk Padang adalah orang islam.
Karna film aja, orang pada ribut. Wajar saja film Indonesia jarang ada yang bagus, karena sekali tersinggung, langsung dikecam. Negara Indonesia tetaplah negara jumpalitan. Yang arah tujuannya tidak satu, melainkan banyak Sesuai dengan ego masing-masing.
Untuk hari ini, sekian. Selanjutnya saya akan membahas tentang Broken Hearts.



source: http://static.inilah.com/data/berita/foto/1926000.jpg
http://www.cintatapibeda.com/cast.html
http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/01/07/11/120921/Hina-Minang-Film-Cinta-Tapi-Beda-Dijerat-Hukum
http://dapurfilm.com/about/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar