Kamis, 03 Januari 2013

Di Belakang Layar...


Alur-alur gimana bisa membuat sebuah sinetron mulai dari tahap yang paling dasar sampai dalam pengambilan gambar..Semoga ini bisa menambah wawasan kalian dalam dunia per film an..

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahapan Produksi

Tahapan Produksi Suatu produksi program TV yang melibatkan banyak peralatan, orang dan dengan sendirinya biaya yang besar, selain memerlukan suatu organisasi yang rapi juga perlu suatu tahap pelaksanaan produksi yang jelas dan efisien. Setiap tahap harus jelas kemajuannya dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Tahapan produksi terdiri dari tiga bagian di televisi yang lazim disebut standard operation procedure (SOP), seperti berikut:

a. Pra-produksi (ide, perencanaan dan persiapan);
Tahap ini sangat penting sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik, sebagian pekerjaan dari produksi yang direncanakan sudah beres. Tahap pra-produksi meliputi tiga bagian seperti berikut ini.
1) Penemuan Ide/Pembuatan Skenario Film

Tahap ini dimulai ketika seorang penulis menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah atau meminta penulis naskah mengembangkan gagasan menjadi naskah sesudah riset.Tahap ini masih dibagi lagi menjadi beberapa tahap:

MENENTUKAN CERITA
  Sasaran Cerita: Anak-anak, Remaja, Dewasa, dan Umum.*) 
  Jenis Cerita: Drama (Tragedi, Komedi, Misteri, Laga, Melodrama, Sejarah, dll), Dokumenter (Adat Istiadat, Tempat Bersejarah, Biografi, dll), Propaganda (Layanan Masyarakat & Layanan Niaga).*) 
  Tema Cerita: Percintaan, Rumah Tangga, Perselingkuhan, Persahabatan, Petualangan, Kepahlawanan/Heroik, Balas Dendam, Keagamaan/Religi, dll.*) 
  Intisari Cerita/Premise: Sebuah kalimat semacam kata mutiara yang berisi tentang isi cerita tersebut.*) 
  Ide Cerita: Bisa dari Penulis, Novel, Roman, Cerber, Cerpen, Film, Produser.*) 
  Alur Cerita/Plot: Plot Lurus (film dan FTV), Plot Bercabang (serial dan stripping).*) 
  Grafik Cerita: Grafik ala Aristoteles, Fraytag’s Pyramide, Misbach Yusa Biran, Hudson, dan Elizabeth Lutters (1= film dan ftv, 2= serial dan stripping).*) 
  Setting Cerita: Bisa diartikan sebagai Media/Tempat dan Budaya.

MELAKUKAN OBSERVASI
Observasi adalah pengamatan terhadap sebuah kasus untuk kebutuhan penulisan skenario. Pengamatan yang dimaksud di sini bukan sebatas mengamati atau melihat secara fisik dari dekat ataupun jauh, namun yang lebih penting kita harus dapat menyelami dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh tersebut.MELAKUKAN RISET
Riset hampir sama dengan observasi, namun lebih diartikan penelitian yang sifatnya mencari data kebenaran tentang sesuatu hal. Riset ini biasanya dibutuhkan jika kita mendapatkan pesanan tulisan tentang hal-hal yang bertemakan sejarah atau memerlukan penyelidikan ilmiah.

MENULIS SINOPSIS
Setelah seluruh hal tentang cerita, observasi, dan riset dipahami, langkah selanjutnya adalah membuat sinopsis. Ini adalah praktik pertama kita menulis, sebelum sampai pada tahap membuat skenario. Sinopsis adalah ringkasan cerita. Namun dalam sebuah cerita film atau sinetron, sinopsis bukan sekedar ringkasan cerita, melainkan sebuah ikhtisar yang memuat semua data dan informasi dalam skenario.

MENULIS KERANGKA TOKOH
Setelah selesai membuat sinopsis, praktik berikutnya adalah membuat kerangka tokoh dalam bentuk skema, yang menjelaskanhubungan antar tokoh yang ada dalam skenario. Tokoh-tokoh yang ditampilkan sebaiknya dibatasi pada tokoh sentral/utama dan pembantu utama saja.

MENULIS PROFIL TOKOH
Berdasarkan kerangka tokoh yang telah dibuat, kita akan membuat Profil Tokoh satu persatu dari tokoh yang akan ditampilkan. Profil Tokoh ini sering disebut dengan karakter tokoh, namun istilah karakter tokoh sengaja tidak saya pakai karena penjabaran saya tidak sebatas pada karakter tapi juga fisik dan latar belakang tokoh, yaitu:*) Nama Tokoh*) Tipologi Tokoh (Tipe Fisik= Piknis, Leptosom, Atletis, Displastis dan Tipe Psikis= Sanguinis, melankolis, Koleris, Flegmatis.)*) Status Tokoh (Sudah menikah atau belum)*) Agama Tokoh (Bila untuk cerita religi)*) Profesi dan Jabatan Tokoh*) Ciri Khusus Tokoh (Ciri Fisik & Ciri Kelakuan)*) Latar Belakang Tokoh (Keluarga, Budaya, Ekonomi, Sosial, Pendidikan)*) Peran Tokoh (Protagonis, Antagonis, Tritagonis, Peran Pembantu)


MENULIS TREATMENT atau SCENE PLOT
Langkah selanjutnya adalah membuat Treatment/Scene Plot. Treatment adalah pengembangan jalan cerita dari sebuah sinopsis yang di dalamnya berisi plot secara detail namun cukup padat. Treatment bisa diartikan sebagai kerangka skenario yang tugasnya adalah membuat sketsa dari penataan konstruksi dramatik. Dalam bentuk sketsa ini kita akan mudah memindah-mindahkan letak urutan peristiwa agar benar-benar tepat.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
  • · Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
  • · babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
  • · Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada masalah orang lain pada babak 1.
  • · Babak 4: protagonis dan antagonis
  • · Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
  • · Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
  • · Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
  • · Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
  • · Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya

MEMAHAMI SKENARIO
Setelah selesai membuat treatment/scene plot, langkah praktik selanjutnya adalah mulai memahami apa itu skenario. Skenario adalah naskah cerita yang sudah lengkap dengan deskripsi dan dialog, telah matang, dan siap digarap dalam bentuk visual. Skenario disebut juga screenplay, sering diibaratkan banyak hal oleh beberapa penulis skenario. Saya sendiri lebih merasa pas jika menganggap skenario adalah roh/jiwa dari sebuah tayangan sinetron atau film. Sementara teori lain mengibaratkan skenario seperti cetak biru (blue print) bagi insinyur, atau kerangka tubuh bagi manusia. Semua pengibaratan itu sebenarnya memiliki arti yang kira-kira sama yaitu bahwa skenario adalah sesuatu yang membuat hidup sebuah tontonan sinetron atau film. Seperti halnya tubuh tanpa jiwa, atau tubuh tanpa kerangka, film/sinetron tanpa skenario tak akan ada.

MEMFORMAT SKENARIO
Format Skenario atau teknik penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat hal-hal sebagai berikut:*) Judul Scene.*) Nama Pemeran.*) Deskripsi Visual.*) Tokoh Dialog.*) Beat/Irama/Tempo.*) Dialog (Siapa yg berdialog? Dengan siapa dia berdialog? Apa latar belakangnya? Di mana berdialognya? Suasanan hatinya bagaimana? Apa tujuan dialog tersebut? Dsb.)*) Transisi.

HARUS ADA UNSUR DRAMATIK
Dalam skenario harus juga termuat Unsur Dramatik. Unsur Dramatik dalam istilah lain disebut Dramaturgi, yakin unsur-unsur yang dibutuhkan untuk melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada pikiran penontonnya.*) Konflik: Permasalahan yang kita ciptakan untuk menghasilkan pertentangan dalam sebuah keadaan sehingga menimbulkan dramatik yang menarik. Konflik biasanya timbul jika seorang tokoh tidak berhasil mencapai apa yang diinginkannya.*) Suspense: Ketegangan. Ketegangan yang dimaksud di sini tidak berkaitan dengan hal yang menakutkan, melainkan menanti sesuatu yang bakal terjadi, atau harap-harap cemas (H2C). Penonton digiring agar merasa berdebar-debar menanti risiko yang bakal dihadapi oleh tokoh dalam menghadapi problemnya.*) Curiosity: rasa ingin tahu atau penasaran penonton terhadap sebuah adegan yang kita ciptakan. Hal ini bisa ditimbulkan dengan cara menampilkan sesuatu yang aneh sehingga memancing keingintahuan penonton. Atau bisa juga dengan cara mengulur informasi sehingga membuat penonton merasa penasaran.*) Surprise: Kejutan. Dalam penjabaran sebuah cerita, perasaan surprise pada penonton timbul karena jawaban yang mereka saksikan adalah diluar dugaan. Untuk bisa menimbulkan efek surprise pada penonton, kita harus membuat cerita yang tidak mudah ditebak oleh penonton.

Tiga puluh tujuh situasi dramatik ini saya ambil dari sff.net dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena saya pikir sangat berguna buat para calon sineas (atau mungkin sudah sineas) Indonesia yang ingin membuat film tapi tak kunjung berhasil membuat suatu karya yang memiliki cerita yang dramatik. Situasi-situasi ini dapat anda terapkan kedalam film anda dan memungkinkan anda untuk mengembangkannya.Georges Polti mengatakan bahwa semua cerita yang ada di dunia ini pada dasarnya terbuat dari 36 situasi dramatik dan berangkat dari situasi-situasi itu. Ada orang lain (tidak diketahui) yang menambahkan situasi dramatik ke-37.

Urutannya acak, dan bukan berarti nomor satu adalah situasi paling dramatik. Klik pada linknya untuk penjelasan lebih detail. 
1. Supplication (Permohonan)
2. Deliverance (Pembebasan/Pelepasan)
3. Crime Punished by Vengeance (Kejahatan yang Dihukum dengan Balas Dendam)
4. Vengeance Taken For Kindred Upon Kindred (Dendam oleh Anggota Keluarga kepada Anggota Keluarga)
5. Pursuit (Pengejaran)
6. Disaster (Bencana)
7. Falling Prey to Cruelty or Misfortune (Korban yang Jatuh ke dalam Kekejaman atau Kesengsaraan)
8. Revolt (Revolusi)
9. Daring Enterprise (Sekelompok Orang yang Berani)
10. Abduction (Penculikan)
11. The Enigma (Teka-teki)
12. Obtaining (Usaha untuk Memperoleh)
13. Enmity of Kinsmen (Persengkataan Dalam Keluarga)
14. Rivalry of Kinsmen (Persaingan antar Anggota Keluarga)
15. Murderous Adultery (Pembunuhan karena Perzinahan)
16. Madness (Kegilaan)
17. Fatal Imprudence (Kelalaian yang Fatal)
18. Involuntary Crimes of Love (Kejahatan Cinta yang Tak Disengaja)
19. Slaying of a Kinsman Unrecognized (Membunuh Orang Tak Dikenal yang Ternyata Anggota Keluarga Sendiri)
20. Self-sacrificing for an Ideal  (Pengorbanan Untuk Sebuah Idealisme)
21. Self-sacrifice for Kindred (Pengorbanan Untuk Anggota Keluarga/Kerabat)
22. All Sacrificed for a Passion (Pengorbanan Banyak Orang untuk Sebuah Hasrat)
23. Necessity of Sacrificing Loved Ones (Perlunya Mengorbankan Orang yang Dicintai)
24. Rivalry of Superior and Inferior (Persaingan antara yang "Kuat" dan "Lemah")
25. Adultery (Perzinahan)
26. Crimes of Love (Kejahatan Cinta (hoho)) ( CINTA FITRI BANNGEEETTT)
27. Discovery of the Dishonor of a Loved One (Terungkapnya Perbuatan Tidak Terhormat dari Orang yang Dicintai)
28. Obstacles to Love (Kendala dalam Mencapai Cinta)
29. An Enemy Loved (Mencintai Musuh)
30. Ambition (Ambisi)
31. Conflict With a God (Konflik dengan Tuhan/Dewa)
32. Mistaken Jealousy (Kecemburuan namun SalahPaham)
33. Erroneous Judgement (Keputusan yang Keliru)
34. Remorse (Penyesalan yang Mendalam)
35. Recovery of a Lost One (Ditemukannya Sesuatu yang Dicintai)
36. Loss of Loved Ones (Hilangnya Sesuatu yang Dicintai)
37. Mistaken Identity (Kekeliruan Identitas)


BAHASA DALAM SKENARIO
Sebaiknya bahasa yang digunakan pada dialog dalam skenario bukanlah bahasa buku, melainkan bahasa lisan yang biasa digunakan sehari-hari, kecuali pada deskripsi visual. Pada deskripsi visual kita bisa menggunakan bahasa buku mengingat kegunaannya yang memang untuk dibaca dan divisualkan, bukan sebuah kalimat yang harus diucapkan tokoh dalam tayangan sinetron atau film.


MENULIS SKENARIO
Setelah Anda mencermati dan memahami segala aspek yang sudah ditulis dalam teori ini, niscaya menulis skenario menjadi pekerjaan yang paling mudah, seakan tinggal merangkai kalimat. Maka saat hendak menulis skenario, lepaskan pikiran kita dari hal-hal yang berada di luar cerita yang akan kita tulis. Masuklah dan sedapat mungkin menjadikan diri kita berada pada posisi tokoh-tokoh kita. Sehingga saat akan menulis dialog, segalanya akan muncul dengan sendirinya mewakili karakter tokoh-tokoh yang akan kita munculkan. Jika kita telah siap memosisikan diri sebagai tokoh-tokoh tersebut, kita tak perlu ragu lagi untuk duduk dan mulai menulis skenario kita.

ini contoh skenario:


Fade In
Act 1

01. EXT. MALL-PAGI (HARI 1)
Pemain: Fitri,Faiz

Fitri dan Faiz ingin bertemu di sebuah mall untuk membahas rencana menemukan Lia...


FAIZ:
Fit..Kamu kemana aja semalam..Semalam Polisi itu nyari-nyari kamu..

FITRI:
Semalem aq ngumpet di gudang belakang Rumah..Dan aq melihat Farel membakar Foto2 aq..

FAIZ:
Sekarang apa yang harus kita lakuin Fit..Mami sekarang disekap sama Mischa..Dan sekarang kamu menjadi Buronan Polisi
Dialog dan seterusnya….

CUT TO
02. INT.RUANG TENGAH – SIANG (HARI 1)
Pemain: Farel,Mischa

Farel duduk di kursi dengan perasaan yang galau..Dan Mischa mendekati Farel untuk  meyakinkan Farel bahwa ini semua adalah perbuatan Fitri

Mischa:
Yank..Kamu kenapa yank??Udahlah yank..Lebih baik kita serahin ini semua ke Polisi...Biar Polisi yang mengurus Fitri..Sudah terbukti bahwa Fitri lah yang membunuh mami..

Farel:
AQ gak tau Mis..AQ sedang bingung saat ini..rasanya aq gak percaya Fitri bisa melakukan hal ini..( dengan mata yang berkaca-kaca )

Dst

CUT TO
03…………….
04………………….
FADE OUT

Keterangan:
Fade In : Cerita dimulai
Act 1 : Babak 1
01 : Scene 1 (scene [pemandangan]= potongan peristiwa)
EXT : Exterior (peristiwa terjadi di luar), INT=interior
MALL,RUANG TENGAH : Lokasi peristiwa
Pagi : Waktu kejadian
Hari 1 : Hari kejadian (untuk membedakan kostum dll)
Pemain: ….. : Pemain yang main pada film

CUT TO : Pemisah antar scene.
Fade Out : Tanda cerita sudah usai

Selain Cut To masih ada turunannya spt: intercut to, disslove to, paralel cut to, dll

Setelah membaca dialog diatas kalian kalian akan  tau seberapa banyak dialog yang diciptakan dalam 1 eps..selain menguras pikiran dan tenaga juga menguras waktu

HAL PENTING DALAM MENULIS SKENARIO:
*) Jangan sampai lupa unsur-unsur dramatik.
*) Dialog jangan verbal.
*) Plot jangan melebar ke hal-hal yang tidak perlu.
*) Hubungan antar tokoh harus jelas.
*) Grafik cerita yang dibangun jangan sampai kendur.
*) Dalam deskripsi jika hendak menjelaskan tentang beberapa tokoh berbeda, pakailah baris tersendiri pada setiap tokohnya.
*) Buatlah konflik dalam setiap scene-nya.
*) Pahamilah tanda baca yang benar, terutama pada kolom dialog.
*) Jagalah continuity karakter tokoh.
*) Perhitungkan saat commercial break (iklan). Berikan suspense pada scene sebelum commercial break, hal ini penting untuk emngikat penonton.
*) Perhatikan juga unsur parallel cutting, yaitu adegan kesinambungan, atau dua unsur peristiwa yang ditampilkan dalam waktu bersamaan atau terkesan bersamaan.
*) Hal lain yang perlu kita ingat adalah factor symbol. Hal ini ditampilkan agar gambar tidak vulgar di layar.
*) Jangan emmbuat adegan dalam scene yang isinya hampir sama.
*) Yang tak kalah pentingnya adalah daya imajinasi harus kita kerahkan semaksimal mungkin sehingga dalam cerita kita timbul fantasi dan sensasi cerita yang berbeda.

PERTANYAAN PENTING
Ada 7 pertanyaan penting yang harus dijawab penulis skenario agar skenarionya bagus. Tujuh pertanyaan itu ialah:

1. Siapa tokoh utamanya?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?
3. Siapa antaginisnya? Apa hal yang menghalangi tercapainya keinginan protagonis?
4. Bagaimana protagonis bisa mencapai keinginannya?
5. Apa pesan yang ingin kamu sampaikan dalam cerita itu?
6. Bagaimana kamu nyeritain cerita itu?
7. Bagaimana perubahan nasib tokoh-tokohnya?

Itulah “prosedur” penulisan skenario film. Lebih jelasnya kamu bisa baca pada buku-buku panduan menulis skenario.

HAL YANG HARUS TERDAPAT DALAM SKENARIO

Siti Nurbaya.  Plot yang paling laku dipakai adalah seputar pernikahan.  Detil konflik boleh bermacam-macam, tapi harus ada minimal sepasang manusia (biasanya tokoh utamanya) yang menjalin cinta namun tidak disetujui oleh para orang tua.  Sebagai tambahan, perlu diingat pula bahwa hal yang paling sering menyebabkan para orang tua tidak merestui hubungan anak-anaknya dengan seseorang (paling tidak di jagat sinetron) adalah beda status ekonomi.  Dendam keluarga di masa lampau menyusul pada posisi kedua.
Fisik.  Kegantengan / kecantikan tokoh utama harus selalu didahulukan daripada faktor-faktor lainnya.  Akting tidak perlu terlampau dipusingkan, karena berdasarkan data statistik, orang-orang menonton sinetron hanya karena tidak punya hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan.  Alternatif pengisi waktu kosong yang terbaik adalah memandangi para aktor yang ganteng dan cantik.  Karena itu, berikanlah apa yang para pemirsa inginkan!
Totalitas.  Dalam membuat skenario tidak boleh tanggung-tanggung.  Artinya, kalau mau menciptakan karakter orang kaya, sekalian saja ciptakan karakter selevel Paris Hilton ; anak orang kaya yang akan tetap kaya meskipun kerjanya cuma dugem.  Kalau mau menciptakan karakter orang miskin, tidak cukup dengan rumah gubuk dan hutang yang tak mungkin lunas tujuh turunan, sekalian ciptakan pula pemeran pembantu yang akan menindas mereka sehabis-habisnya.  Kalau kejam tidak boleh tanggung-tanggung, demikian juga orang baik tidak boleh tanggung-tanggung.
Simpati.  Karena bangsa kita ini memiliki sejarah ratusan tahun sebagai budak beliannya bangsa lain, maka penonton akan segera simpati pada mereka yang tertindas.  Dengan demikian, menciptakan tokoh utama yang tertindas adalah suatu langkah yang amat strategis.  Untuk menciptakan ikatan simpati yang lebih kuat lagi antara penonton dan tokoh utama, maka biarkan ia mengalami musibah yang bertubi-tubi.
Air Mata.  Anda perlu mempertimbangkan karakter-karakter yang mudah menangis untuk membangun simpati penonton secara lebih mendalam.  Sebagai model, boleh mencontoh karakter yang diperankan oleh Naysilla Mirdad di sinetron “Intan” atau tokoh utama di sinetron “Candy”.  Walaupun kerjanya hanya menangis, tapi hasilnya terbukti efektif untuk meningkatkan rating sinetron.
Plot-Plot Umum.  Ada beberapa plot yang sangat umum digunakan, dan kenyataannya masih laku hingga detik ini.  Misalnya, Anda bisa menciptakan tokoh utama yang lahir dari keluarga superkaya (bukan sekedar kaya) yang sejak bayi sudah dipisahkan dari keluarganya karena suatu sebab dan harus menjalani hidup yang berat sebagai orang miskin.  Anda juga bisa menciptakan tokoh yang hamil di luar nikah dan kemudian ditelantarkan oleh pasangannya.  Dan, tentu saja, seperti telah ditegaskan pada poin pertama, konflik ‘ala Siti Nurbaya’ nyaris selalu menjadi inti ceritanya.
Learn From The Best.  Kalau Anda mengetahui film seri dari luar negeri (biasanya seputar Jepang, Taiwan atau Korea) yang Anda rasa bagus, jangan malu-malu untuk menirunya.  Bagaimana pun, kita hanya bisa sukses dengan meniru cara orang lain yang sudah duluan sukses, bukan?  Menulis skenario sinetron tidak mesti kaku seperti menyusun skripsi.  Sekarang, copy-paste dari komik pun dianggap sah dan tidak memalukan.
Yadi dan Eeng.  Walaupun tokoh utama bisa berbeda-beda karakternya, tapi di jaman sekarang ini selalu ada tempat untuk Yadi Timo dan Eeng Saptahadi.  Ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk memakai salah satu atau keduanya dalam sinetron Anda nanti.  Meskipun sebagai penulis skenario kemungkinan besar Anda tidak akan terlibat dalam proses casting, tapi Anda boleh yakin bahwa jika skenario Anda benar-benar diolah menjadi sinetron, maka 80% kemungkinan satu dari dua aktor ini akan bermain di dalamnya.  Anda sudah tahu tipikal karakter yang mereka perankan, bukan?
Segar.  Meskipun Anda berniat membuat sebuah kisah drama tragedi yang serius dan (dimaksudkan untuk) membuat para penonton berpikir keras, namun Anda harus pandai-pandai menyisipkan elemen-elemen konyol untuk menjaganya tetap segar.  Biasanya selalu ada pemeran pembantu culun untuk memenuhi maksud ini.
Tikungan.  Dalam logika sinetron, jika karakter bikinan Anda berlari-lari di tikungan jalan, maka 90% kemungkinan ia akan tertabrak mobil yang sedang melintas kencang.  Nyaris 100% kemungkinan ia tak sadarkan diri, dan hampir semuanya mengalami satu dari dua masalah : (a) amnesia, atau (b) lumpuh.
Penyakit.  Jika Anda ingin karakter Anda memiliki tempat yang spesial di hati pemirsa, maka penyakitnya pun harus spesial.  Jangan susahkan diri Anda dengan penyakit-penyakit ‘level rendah’ macam batuk-pilek dan flu.  Statistik menunjukkan bahwa nyaris semua sinetron ‘dibumbui’ dengan kanker otak, leukimia, dan kadang-kadang juga AIDS (khusus yang satu ini dianggap tidak cocok untuk menarik simpati pemirsa).  Dan jangan lupa, dalam jagat sinetron, dokter umum mana pun bisa memastikan keberadaan penyakit semacam tumor atau kelainan jantung hanya dengan pemeriksaan sedikit saja.  Anda tidak perlu pusing dengan laboratorium.
Aksesoris.  Jika Anda merencanakan kisah seputar remaja, maka perlu mempersiapkan aksesoris yang wah.  Untuk siswi sekolah harus diberikan ragam aksesoris yang berwarna-warni dan berukuran besar, misalnya anting-anting yang nampak mencolok dan kalung yang menjuntai kemana-mana.  Untuk siswanya, Anda harus memberikan porsi yang cukup untuk gel rambut.  Ya, bagi remaja lelaki versi sinetron, gaya rambut adalah hal yang sangat penting.  Gaya rambut berdiri di tengah ala Beckham biasanya selalu ada, dan ada sekian banyak variasi lain yang bisa Anda pilih.  Ingat pula bahwa dalam sinetron, para pelajar tidak pernah memasukkan baju seragam sekolahnya ke dalam celana atau roknya.

2) Perencanaan

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan artis, lokasi dan crew. Selain estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana alokasi merupakan bagian dari perencanaan yang perlu dibuat secara hatihati dan teliti.

3) Persiapan

Tahap ini meliputi pemberesan semua kontrak, perizinan dan surat-menyurat. Latihan para artis dan pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang diperlukan. Semua persiapan ini paling baik diselesaikan menurut jangka waktu kerja (time schedule) yang sudah ditetapkan. Kunci keberhasilan produksi program TV sangat ditentukan oleh keberesan tahap perencanaan dan persiapan itu. Orang yang begitu percaya pada kemampuan teknis sering mengabaikan halhal yang sifatnya pemikiran di atas kertas. Dalam produksi program TV, hal itu dapat berakibat kegagalan. Sebagian besar pekerjaan dalam produksi program TV bukan shooting di lapangan. Shooting di lapangan hanya memerlukan waktu 7 atau 10 hari. Namun, perencanaan dan persiapan dapat makan waktu beberapa minggu dengan lebih banyak menggunakan kertas-kertas dan pena daripada kamera atau peralatan teknik yang lain. 

b. Produksi (pelaksanaan);
Baru sesudah perencanaan dan persiapan selesai betul, pelaksanaan produksi dimulai. Sutradara bekerja sama dengan para artis dan crew mencoba mewujudkan apa y ang direncanakan dalam kertas dan tulisan (shooting script) menjadi gambar, susunan gambar yang dapat bercerita. Dalam pelaksanaan produksi ini, sutradara menentukan jenis shot yang akan diambil di dalam adegan (scene). Biasanya sutradara mempersiapkan suatu daftar shot (shot list) dari setiap adegan. Sering terjadi satu kalimat dalam skenario (naskah sinetron atau film cerita) dipecah menjadi empat shot atau lebih.
Di dalam pelaksanaan di lapangan penata cahaya harus mempersiapkan wajah Yuni tidak terlalu kontras tampak di kamera karena panas matahari. Bayangan yang terjadi perlu dikurangi ketajaman kontrasnya dengan imbangan lampu yang sangat diperhitungkan. Sementara itu, wajah Andi dari balik kaca mobil perlu kclilnatan tanpa mengurangi kewajaran. Semua shot yang dibuat dicatat oleh bagian penrUal shot dengan mencatat time code pada saat mulai pengambilan, isi shot dan time code pada akhir pengambilan adegan. Kode waktu (time code) adalah nomor pada pita. Nomor itu berputar ketika kamera dihidupkan dan terekam dalam gambar. Catatan kode waktu ini nanti akan berguna dalam proses editing. Biasanya gambar hasil shooting dikontrol setiap malam diakhir shooting hari itu untuk melihat apakah hasil pengambilan gambar sungguh baik. Apabila tidak maka adegan itu perlu diulang pengambilan gambarnya. Sesudah semua adegan di dalam naskah selesai diambil maka hasil gambar ash (original material/ row footage) dibuat catatannya (logging) untuk kemudian masuk dalam proses post production, yaitu editing.  

c. pasca-produksi (penyelesaian dan penayangan). 
Pasca-produksi memiliki tiga langkah utama, yaitu editing off line, editing on line, dan mixing.
(1)   Editing off line
Setelah shooting selesai, script boy/girl membuat logging, yaitu mencatat kembali semua hasil shooting berdasarkan catatan shooting dan gambar. Di dalam logging time code (nomor kode yang dibuat dan muncul dalam gambar) dan hasil pengambilan setiap shot dicatat. Kemudian berdasarkan catatan itu sutradara akan membuat editing kasar yang disebut editing off line (dengan copy video VHS supaya murah) sesuai dengan gagasan yang ada dalam sinopsis dan treatment. Materi hasil shooting langsung dipilih dan disambung- sambung dalam pita VHS. Sesudah editing kasar ini jadi, hasilnya dilihat dengan saksama dalam screening. Apabila masih perlu ditambah atau diedit lagi, pekerjaan ini dapat langsung dikerjakan sampai hasilnya memuaskan. Sesudah hasil editing off line itu dirasa pas dan memuaskan barulah dibuat editing script. Naskah editing ini sudah dilengkapi dengan uraian untuk narasi dan bagian-bagian yang perlu diisi dengan ilustrasi musik. Naskah editing ini formatnya sama dengan skenario. Di dalam naskah editing, gambar dan nomor kode waktu tertulis jelas untuk memudahkan pekerjaan editor. Kemudian hasil shooting asli dan naskah editing diserahkan kepada editor untuk dibuat editing online. Kaset VHS hasil editing off line dipergunakan sebagai pedoman oleh editor.  
(2)   Editing on line
Berdasarkan naskah editing, editor mengedit hasil shooting ash. Sambungan- sambungan setiap shot dan adegan (scene) dibuat tepat berdasarkan catatan kode waktu dalam naskah editing. Demikian pula sound asli dimasukkan dengan level yang sempurna. Setelah editing on line ini siap, proses berlanjut dengan mixing. Pengarah acara didampingi operator VCR dan switcher yang sedang mengoperasikan mixer.
(3)   Mixing
Narasi yang sudah direkam dan ilustrasi musik yang juga sudah direkam, dimasukkan ke dalam pita hasil editing on line sesuai dengan petunjuk atau ketentuan yang tertulis dalam naskah editing. Keseimbangan antara sound effect, suara asli, suara narasi dan musik harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak saling Inengganggu dan terdengar jelas. Sesudah proses mixing ini boleh dikatakan bagian yang penting dalam post production sudah selesai. Secara menyeluruh produksi juga sudah selesai. Setelah produksi selesai biasanya diadakan preview. Penayangan program di stasiun TV dibatasi oleh frame waktu. Oleh karena itu, dalam screening hal ini juga perlu diperhatikan. Apabila program ternyata melebihi frame waktu yang disediakan, harus dipotong di tempat yang tidak akan mengganggu kontinuitas program. Selebihnya panayangan menjadi tanggung jawab petugas dari stasiun TV. Pemikiran-pemikiran itu merupakan hal yang sangat penting bagi seorang produser, penulis naskah dan sutradara. Pemikiran itu akan melahirkan mekanisme kerja yang penuh pemikiran, teratur, sistematis dan tepat waktu. Semua itu sangat diperlukan dalam suatu produksi program TV dengan video.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nah, semua hal tentang pembuatan skenario ini hanyalah masalah teori. Secara praktiknya, bisa saja kita sedikit bergeser karena dalam membuat skenario kita memang tidak bisa lugas. Jika feeling kita merasakan ada dramatik yang lebih menarik, teori bisa saja dikesampingkan. Sebab skenario tak ubahnya sebuah karya seni. Seni bukanlah matematika, jadi bisa saja 1+1=3. Dan bukan tidak mungkin terjadi perkembangan-perkembangan lain dalam teori penulisan skenario, seiring dengan perkembangan zaman.

Jika kita berbicara untuk Indonesia, semua itu tak lepas dari infrastruktur dan SDM yang dimiliki oleh sineas Indonesia, teori ini saya sesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia, tak adil jika kita hendak mengacu pada teori penulisan skenario ala Hollywood.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar