Kamis, 10 Januari 2013

Perfilman Indonesia, Membaik atau Memburuk?

Siapa yang tidak akrab dengan Kuntilanak, Pocong, Suster Ngesot, Kakek Cangkul, Nenek Gayung? Semua itu hanya di dapatkan di Indonesia. Ada yang bilang imaginasi atau kepercayaan orang Indonesia itu beragam, dengan ragamnya itu, maka banyak juga makhluk jejadian, mulai dari pocong hingga rentetan saudaranya, penghuni alam lain.
Banyak diangkat menjadi sebuah film, dan disuguhkan di bioskop, untuk ditonton bersama teman, keluarga, ataupun pacar. Dengan stigma bahwa film horror itu seru, menegangkan, memacu adrenalin, hingga ada yang mendapatkan jackpot dari gebetan, biasanya sih berupa pelukan. Njess...
Apakah itu saja film yang ada di Indonesia? Tidak, masih ada film-film drama, ataupun film yang diangkat dari novel, atau diadaptasi. Karenanya, film-film seperti itu mendapat suatu nilai lebih dari masyarakat Indonesia. Sama halnya yang terjadi dengan 5cm. Bombastis! Orang pada berbondong ke bioskop untuk menonton film Indonesia satu ini. Lantas tidak heran jika dalam 10 hari, dapat mengumpulkan 1 juta penonton. Sebuah rekor yang baru. Setelah industri film Indonesia mengalami krisis identitas. Lalu disambung dengan sebuah biopic "Habibie dan Ainun" bahkan ini memecahkan rekor 5cm. Dalam seminggu berhasil meraih 1 juta penonton. Apakah ini prestasi yang gemilang atau hanya aji mumpung, dan membuka jalan untuk sineas lainnya.
Film yang merupakan hasil sulapan anak-anak Dapur Film ternyata membawa 'adik'nya. Mungkin orang-orang tidak sadar siapa yang dibelakang layar. Reza Rahardian mendapatkan pujian dalam memerankan mantan presiden kita. Dan juga Bunga Citra Lestari yang berhasil membawa Alm. Ibu Ainun yang sangat ikonik.
Di belakangnya dengan gamblang ada Faozan Rizal, sang sutradara, yang menciptakan adegan-adegan yang terlihat sangat sinematis dan dramatis. Faozan Rizal itu sutradara yang bisa dibilang didikan Hanung Bramantyo.
Tadi saya mengatakan membawa adiknya, iya, tak lain adalah film yang mendapat hujatan dari suku Minang, karena telah berani membuat set (latar belakang) seorang Katholik yang tinggal di Padang, dan berbahasa Minang. Cinta Tapi Beda, karya Hestu dan didampingi dengan Hanung sendiri, ntah itu memang seperti pawang, atau memang mereka berdua yang membuat film ini.
Lalu menyusul juga karya sang master, Gending Sriwijaya. Film yang bertemakan medieval Indonesia pada masa kerajaan dulu. Membawa artis-artis senior seperti Jajang C. Noer, Slamet Raharjo, serta artis veteran yang kini fokus terhadap bisnis sembari syiar Islam, Sahrul Gunawan. Selain itu ada juga artis yang selalu fenomenal, Julia Perez. Yang membawakan sejarah mengenai Sriwijaya.
Ini merupakan tiga serangkai karya dapur film. Dan yang paling mendapatkan celaan adalah film karya Hestu, yang membawa perbedaan di dalam hubungan kasih sayang.
Selain itu juga ada film yang lagi dan lagi tidak berasal dari Production House terkenal seperti MD, SinemArt, Soraya. Bermodalkan 10 co-Pro, film ini berhasil masuk ke jajaran bioskop nasional.
Ada pertanyaan unik yang sekiranya hanya bisa dijawab dengan sikap penonton ataupun yang tidak menonton. Apakah film Indonesia semakin membaik apa memburuk? Ketika dimasa dimana film-film Horror  yang kerap kali memamerkan bagian tubuh sang artis, semua pada adem ayem, dan ketika ada film yang bukan film Horror, pada heboh. Antara senang atau tidak. Tidak jelas. Apakah sudah menjadi adat Indonesia untuk tidak menghargai karya orang lain? Karya anak bangsa. Apakah hanya melihat dari satu sudut pandang dan membawa berbagai tuduhan untuk mengatakan film itu tidak bagus.
Lantas maunya rakyat Indonesia ini apa?
Aneh bukan?

Sekarang saya tanya sama kalian, yang baca, apa yang kalian inginkan untuk industri perfilman kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar