Minggu, 13 Januari 2013

Tanah Surga... Katanya...

Baru aja saya menonton film ini, yang katanya sih fiilm terbaik, versi apa sih saya sendiri tidak tau, sekilas pernah baca, tapi tidak ingat. Film ini berbasiskan suatu dusun tepat di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Nilai yang disodorkan di dalam film ini adalah murni tentang bagaimana kita seharusnya mencintai tanah Indonesia ini, dan jangan pernah berhenti untuk mencintainya, walau hanya sekejap.
Di dusun itulah hidup sebuah keluarga, seorang kakek dengan dua orang cucunya, Salman, dan Salina (agak lupa juga sih namanya) mereka sekolah di sebuah sekolah, yang memang seadanya. Kelas 3 dan kelas 4 berada di satu kelas, hanya dibagi dengan sebuah tripleks.
Salman dengan sangat bersemangat mendengar cerita kakeknya mengenai bagaimana mengusir penjajah, meski negara ini sudah merdeka. Kegiatan mereka tidak jauh dari anak-anak Belitong di Laskar Pelangi. Hanya saja ini terlihat lebih belum terjamah, dan masih adanya ketidak seimbangan budaya.
Bahasa yang dibawakan antara bahasa Melayu yang ada di Gantong, atau bahasa Malaysia, benar-benar konsistensinya kurang.
Namun hal yang positif dari film ini adalah memacu adrenalin untuk mencintai negeri sendiri tanpa henti. Dari segi cerita, Salman yang memilih untuk tidak meninggalkan Indonesia karena sang Kakek tidak ingin meninggalkan tanah Indonesia. Terpaksa ia berpisah dengan adiknya, Salina.
Ketika itu, saya berpikir bahwa filmnya akan membuat dramatis, dengan lompat ke sepuluh tahun atau lebih, dan Salman mengejar bapaknya, yang ternyata di Malaysia sang bapak tidak begitu sukses, tapi film ini dibuat lebih sederhana.
Ternyata filmnya berlanjut dengan datang seorang dokter dari kota, diperankan oleh Ringgo Agus. Klise memang terjadi di sini, karena dokter Anwar, tertarik dengan seorang guru yang bernama ibu Astuti, yang ternyata mengajar di sekolah tersebut karena tidak sengaja. Dan akhirnya jatuh cinta sendiri terhadap dusun tersebut.
Kisah mereka tidak diulas, karena bukan menjadi perhatian pertama penonton, hanya saja, tonjolan utama dari film ini adalah di mana Salman memberi sebuah kain sarung kepada pedangan di Sarawak, demi mendapatkan pusaka bendera merah putih.
Pendapat saya pribadi sih kurang sinematis, karena kita mengharapkan suatu yang benar-benar membuat penonton bisa lebih menghargai negaranya sendiri, sedikit menjatuhkan negara lain tidak apa-apa, asal tidak membuat suatu kebohongan publik.
Namun ada terjadi dua arah yang berbeda, dimana satu teguran untuk pemerintah sendiri, atau yang kedua, menjadi suatu media untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa sendiri. Adanya dua tujuan yang kurang simetris ini membuat filmnya jadi terasa biasa, meski setting yang bagus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar