Sabtu, 16 Februari 2013

Rectoverso, Cinta yang tak terucap

Jika ABC's of death adalah 26 cara untuk mati, dan 3Sum adalah 3 cerita oleh 3 sutradara, Rectoverso adalah 5 cerita dari 5 sutradara yang diangkat dari cerita-cerita pendek Dee Lestari, penulis Perahu Kertas yang di quarter akhir 2012 berhasil membuat penonton film yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo dan langsung dibuat dialog serta jalan ceritanya oleh Dee sendiri meneteskan air mata, karena terharu.
Kali ini, 5 sutradara yang kita kenal sekali sebagai artis, yaitu Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Olga Lidya, Cathy Sharon dan Happy Salma.
Menyuguhkan 5 cerita yang dipadu secara film omnibus. Tidak ada hubungan satu sama lain, hanya saja saya menemukan satu kesalahan di dalam film ini, meski itu tidak membawa dampak terhadap cerita film ini. Lima kisah yang diangkat itu berjudul Malaikat Juga Tahu, Hanya Isyarat, Firasat, Cicak di Dinding, serta Curhat Buat Sahabat.

Untuk Malaikat Juga Tahu diarahkan langsung oleh anak Tetty Liz Indriati ini bercerita tentang seorang yang kurang beruntung dalam segi perkembangan jiwanya. Bukan gila, hanya saja ia tidak bisa beradaptasi layaknya kita sebagai manusia normal. Abang, itulah biasanya ia dipanggil oleh anak-anak kost yang berada di kost Bunda. Abang sendiri diperankan oleh Lukman Sardi, artis yang namanya melambung semenjak bermain bersama Dedy Mizwar di Nagabonar Jadi Dua ini berhasil memukau penonton karena aktingnya. Tidak gampang untuk memerankan suatu karakter yang ketebelakangan secara mental maupun fisik.
Cerita yang berasal dari Dee ini ditulis untuk ditampilkan ke layar lebar oleh Ve Handojo. Adanya Prisia Nasution yang berperan sebagai Leia membuat cerita ini lebih indah serta dengan tambahan sesosok bunda yang diperankan oleh Dewi Irawan membuat pesan yang ingin disampaikan oleh Marcella menjadi terbagi dua, apakah itu cinta seorang ibu terhadap anaknya, atau cinta seorang lelaki pada seorang perempuan, adanya Marcell Domits membuat cerita lebih menggugah emosi, karena ia berperan sebagai Hans yang adalah adiknya Abang, dan ia tertarik dengan Leia. Begitu juga dengan Leia, yang terbuai akan kasih sayang Hans.
Ada alasan tersendiri kenapa Abang mempunyai perasaan khusus terhadap Leia. Dan Bunda yang sadar akan tulusnya cinta Abang terhadap Leia berusaha memberi tahu secara langsung. Ada kutipan yang saya ambil dari buku Dee langsung, dan di film memang ditekankan akan hal itu, tiada yang berbeda.
"Dia tidak bodoh.." ucap Bunda.
"Bunda, saya tahu dia tidak bodoh." balas Leia.
"Dia akan segera tahu kalian berpacaran." tegas Bunda.
"Biarkan dia tau sekarang, daripada nanti setelah kami menikah." Hans membalas Bunda.
"Bagi abangmu, apa bedanya sekarang dan nanti?"
"Kami tidak mungkin sembunyi seumur hidup!"
"Kalau perlu kalian sembunyi terus seumur hidup."
"Ini tidak adil... Ini tidak masuk akal." Hans tetap saja membantah Bunda.
"Jangan bicara soal adil dan masuk akal. Aturan kamu, aturan kita, tidak berlaku bagi dia." desis Bunda, "Kamu tidak tinggal di rumah,, kamu tidak kenal dia seperti Bunda kenal dia."
Hal ini membuat Leia dan Hans memutuskan untuk pergi dari rumah, dan balasan yang didapat Bunda akan hal itu adalah, tiap malam minggu, Abang selalu meraung, selalu mencari yang hilang dari hidupnya. Iya, hingga Abang sudah tidak ada di dunia, ia habiskan tiap minggu untuk meraung dan meraung, hingga seisi kost pun menghindar setiap minggunya.
Memang benar adanya bahwa ada perbedaan yang cukup signifikan dari Novel hingga ke layar lebar, begitulah yang saya hadapi, berapa waktu saya terenyuh... cerita yang hanya beberapa halaman itu dibuat lebih dramatis, tidak seperti yang disuguhkan di layar lebar yang lebih logis dan lebih emosional. Leia benar, ia bukan malaikat yang tau siapa yang lebih mencintai dirinya, dan berapa lama.
Seratus itu sempurna. Kamu lebih. Lebih dari sempurna. - Abang

Firasat. Cerita mengenai firasat ini disutradarai oleh artis sekaligus politikus Rachel Maryam. Cerita ini dibintangi oleh Asmirandah sebagai Senja, seorang gadis belia yang hobi membuat kue bersama ibunya, Widyawati. Kesehariannya dihabiskan dengan mengantar kue, ataupun menghadiri klub firasat yang di sana ia jumpa dengan Panca (Dwi Sasono). Seorang pria yang diperhatikan Senja sedari dulu, dan ia memiliki firasat terhadap Panca.
Untuk cerita ini sih agak berat, atau sama sekali tidak begitu bermakna kecuali bagaimana kita menerima firasat itu sendiri. Dan saya pernah bilang diatas, saya menemukan satu kesalahan film ini, adalah ketika ibunya Senja berkata, "Sekalian bawain kue ini ke Bundanya Abang." dialog itu sempat membuat saya berpikir kalau ini ada hubungannya, terlebih lagi ketika saya membaca sinopsis, saya yakin bahwa Asmirandah lebih cocok untuk menjadi seorang lead female. Ternyata ini omnibus... film yang ada beberapa cerita dan saling tidak ada kaitan satu sama lain.
Untuk cerita Cicak di Dinding, yang diarahkan oleh mantan VJ ini memang terlihat seperti budaya barat, adanya free sex, dan kehidupan yang glamor. Ada Saras (Sophia Latjuba) yang menarik perhatian Taja (Yama Carlos) namun ketika rasa itu mulai tumbuh, Saras menghilang. Mereka jumpa lagi ketika Saras diumumkan sebagai calon istri abang Irwan (Tio Pakusadewo).
Cerita mengenai Hanya Isyarat yang diarahkan langsung oleh Happy Salma mengenai bagaimana seorang manusia hanya bisa memberi isyarat, berusaha menyembunyikan perasaan, bahkan di depan orang itu sendiri. Ada yang saya suka dari sini, ketika Al (Amanda Soekasah) bercerita mengenai temannya yang selalu makan punggung ayam dan orang itu lebih beruntung daripada Al, karena Al hanya bisa melihat punggung seseorang, meski ia tau orang itu punya tubuh serta mata yang berwarna coklat muda.
Cerita yang terakhir, mengenai sahabat. Ada Amanda (Acha Septriasa) yang selalu bercerita kepada sahabatnya Regie (Indra Birowo). Ya, mungkin bagi yang merasa di friendzone cerita ini tepat sekali untuk dibaca, atau ditonton... ada makna dalam di dalam novelnya, bagaimana cinta tersebut bisa tua, lalu menghilang.
Secara garis besar, cerita yang paling menarik hati adalah cerita Abang, yang berhasil membuat saya terisak di dalam bioskop. Belum ada film yang membuat saya terisak, iya, film Indonesia. Seingat saya saya menitikkan air mata ketika menonton Jab Tak Hai Jaan, bukan karena cerita yang membuat terharu, tetapi karena kita semua tau kalau kita bakal rindu dengan cerita cinta yang dikemas oleh sutradara ternama Yash Chopra.
Sebagai sebuah film Indonesia, saya kagum akan subtitle yang sudah sedia, dan juga cerita yang menarik untuk diikuti. Porsinya sudah pas, jika cerita tentang Abang dibuat lebih panjang, orang akan berpikiran seperti Rain Man atau sejenisnya. (as)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar