Jumat, 15 Februari 2013

Sampai Ujung Dunia

Film yang ditayangkan di tahun baru ini sebenarnya rilis tidak seberapa lama, sekitar November atau sebelumnya. Ceritanya merupakan cerita drama yang dibalut dengan persahabatan. Mungkin tidak bisa kita memandang Kuch Kuch Hota Hai, meski ini menceritakan tentang tiga orang sahabata yang terhalang cinta diantara mereka. Film gagasan Monty Tiwa ini membawa suasana baru di dalam perfilman Indonesia tersendiri, meski tidak begitu mendapat repson seperti 5cm atau Habibie dan Ainun.
Film ini sendiri membawa Gading Marten sebagai pentolan yang sangat penting, di mana kita dapat melihat begitu banyak fans pemilik twitter @gadiiing ini.
Selain itu ada Dwi Sasono sebagai lawan mainnya dan Renata. Cerita tentang tiga orang sahabat yang sedari kecil saling menghabiskan waktu bersama terhenti ketika kedua lelaki ini, Gilang (Gading Marten) dan Daud (Dwi Sasono) saling cemburu satu sama lain. Saat itu keduanya baru saja lulus sekolah, Annisa (Renata) yang anak panti asuhan tidak dapat sekolah, ia dibantu oleh Gilang untuk bekerja di percetakan milik ayahnya Gilang (Roy Marten).
Persahabatan antara Gilang dan Daud dalam sekejap berubah, mereka saling merasa dihina satu sama lain. Sehingga muncul pertanyaan dari Daud, "Lo pilih siapa Nis?" dan Annisa yang tidak kepikiran sama sekali untuk memiliki hubungan lebih lanjut dengan keduanya, kebingungan. Karena kedua sahabatnya bertindak bak anak kecil, Annisa pun dengan lantang memberi syarat, siapa yang berhasil membawa ia ke Belanda tanpa uang orang tua, dialah yang menang.
Dan saat itu Gilang yang merupakan anak orang kaya merasa bingung, bertanya lebih lanjut, tapi sayang, ia hanya mendapat sindiran dari Nisa. Nisa memberi selebaran, sehingga keduanya sepakat akan mengikuti persyaratan dari Nisa. Daud yang berkeluarga pas-pas, ia tidak bisa bermimpi lebih jauh, dan Gilang, dapat sindiran dari sang Ayah karenanya. Tetapi bukan cinta namanya kalau hal tersebut tidak terwujud. Daud berhasil masuk ke pelayaran, sementara Gilang di udara, alias Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan. Di sana kehidupan mereka berbeda.
Daud, yang memang tidak biasa hidup dengan santai, ia merasa tidak ada halangan, hanya saja Annisa selalu menjadi pikirannya selama di asrama. Gilang, selalu saja kena hukum, image telah terbentuk sebagai anak mama menjadikan Gilang selalu mendapat pengecualian, seperti ketika jatah pesiar, Gilang tidak bisa keluar karena ia seorang anak mama. Daud dengan bebas bisa menemui Annisa, hanya saja ia terlalu sibuk dengan kegiatannya.
Cerita yang dibawa sungguh menarik, dengan metode penceritaan ulang, membuat terasa itu adalah sebuah kisah yang patut didengar. Cerita ini berakhir di Belanda, ketika Gilang dan Daud mempertemukan Annisa dengan ibu kandungnya, Charlotte.
Di akhir film, saya merasa tidak seperti akhir dari sebuah cerita. Memang bisa dikatakan tamat, hanya saja masih banyak celah untuk membuat cerita ini jauh lebih panjang dan lebih menarik. Karena semasa sekolah, Gilang ditaksir oleh Rena, sementara Daud tidak dijelaskan. Mungkin mau membuat twist, karena penonton pasti sudah menduga kalau Annisa pasti lebih memilih Daud. Namun syaembara tetaplah jalan, Nisa mau tidak mau harus berada di sisi Gilang. Sementara Daud pergi berlayar. "Beri aku alasan untuk kembali nanti..." itu yang diucap oleh Daud ketika mereka berpisah. Rasanya drama ini kurang memainkan emosi penonton. (as)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar