Jumat, 26 April 2013

Iron Man 3 - It's Time to Fix Everything

3 May direncanakan menjadi tanggal rilis film besutan Marvel ini, memang, tidak ada yang berubah. Hanya saja untuk Asia dipercepat. Oleh karena itu Kamis kemarin, 25 April 2013, Iron Man 3 sudah bisa disaksikan di bioskop kesayangan anda.

Sebelum saya mulai menulis review, saya ingin menciptakan sebuah perizinan. Tolong yang baca, jangan sesekali mencampur dengan komik. Karena saya tidak baca komik, dan juga esensial film dan komik berbeda. Oh ya, dan satu lagi, gambar. Saya tidak bisa memberikan gambar yang bagus untuks saat ini, cukup dengan poster saja ya. Siap? Mari kita mulai.

Robert Downey Jr. alias Tony Stark ini selalu berhasil membawakan tokoh fiksi ini menjadi nyata, dan lebih philanthropic dibanding yang ada dikomik (lagi, ini asumsi). Cerita berawal dari ia menceritakan sebuah cerita (persis pola Bollywood movie) ia menceritakan sesuatu kepada Dr. Banner (Hulk) itulah yang menjadi kisah untuk Iron Man 3 ini.

Ia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan villain yang akan muncul di sequel ketiga ini, Mandarin atau Aldrich Killian (Guy Pearce) pertama kalinya. Berlatar tahun 1999 di Swiss, Stark sedang menghadiri pertemuan para ilmuwan, dan juga malam tahun baru. Pada malam itu ia ditemui oleh seorang peneliti yang sedang meneliti tentang AIM (Advance Idea Mechanics), sebuah teknologi re-code DNA, sehingga bisa memperbaiki DNA yang rusak. Flamboyan, sudah menjadi identitas Stark, ia mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Aldrich Killian di atas atap hotel, sayangnya ia lupa, karena ditemani oleh Maya (Rebecca Hall).
Every human create its own demon. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan pertama kali di dalam film ini. Ntah itu ditujukan terhadap Mandarin, atau bahkan dirinya sendiri. Yang jelas ceritanya sudah melewati masa Avengers, 2012 kemarin. Yang tersisa dari Tony adalah ketika ia panik, ia tidak bisa mengatur tindakannya, bisa saja membahayakan diri sendiri, atau bahkan orang lain. Okay here we go.
Seperti biasa, Stark bereksprimen di dalam laboratoriumnya sendiri, mulai dari memasukkan sensor untuk tubuhnya sendiri, maupun cloud control, mengontrol Iron Suit dari jauh. Tanpa harus ada pengemudi di dalam baju besi itu.

Happy (Jon Favreau) menjadi unsur komedi tersendiri, selain pembawaan RDJr yang memang memukau. Happy yang curiga ketika Aldrich mendatangi Pepper yang menjelaskan tentang AIM, tanpa memberi tau apa itu AIM. Ketika ia menjelaskan bahwa ia sudah pernah mencoba bicara dengan Tony, hanya saja ditolak, dan Pepper lantas menolak juga. Happy yang curiga, menghubungi Tony, di sini memang ditekankan tentang teknologi masa depan, terutama yang dipakai oleh Tony, ntah itu berupa Augmented Reality atau teknologi lainnya, tetap saja adalah sebuah teknologi yang memukau dan memanjakan mata.

Adegan romantis antara Ironbot dan Pepper menjadi poin yang penting untuk film ini, dan mungkin untuk Iron Man kedepannya, jika masih ada. Happy yang curiga dengan driver si Killian, mengikutinya, lalu tidak sengaja mengalami kecelakaan, yang menyebabkan Happy masuk rumah sakit, dan Tony mau tidak mau harus keluar dan memberi klarifikasi.

Sehabis dari rumah sakit, Tony dihadang oleh para wartawan, mengenai Mandarin yang telah meresahkan masyarakat serta pemerintah. Rhodes pun telah berubah profesi dari Colonel menjadi tentara War Machine yang diganti nama menjadi Iron Patriot. Tony yang memang suka bertindak sesukanya membuka pernyataan bahwa ia mengundang Mandarin ke rumahnya, ia memberikan alamat rumahnya.

Dan tak disangka Maya hadir lagi kedalam kehidupan Stark, meskipun bukan tipikal Mischa Amaira (Cinta Fitri season 2-7) tapi membawa bencana kedalam hidupnya Stark, dan juga Potts. Tak disangka, pesan iseng yang ia sampaikan akhirnya terjadi, Malibu Point hancur dalam seketika. Hasil kerja Tony tidak sia-sia, ia berhasil menyelamatkan Pepper dengan Iron Suit. Dan ini yang membuat ia menjalani petualangan di Tennesse.

Jarvis. Itulah satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Tony, dimanapun ia berada. Sayang sekali, kali ini Jarvis harus istirahat, sehingga Tony harus berjuang melawan Mandarin tanpa baju besi yang selalu ia gunakan. Munculnya Harley (Ty Simpkins), seorang anak berumur 8 atau 9 tahun yang membantu Tony, si Mekanis.
Iron Man bukanlah film yang berat seperti Batman yang kerap mengusung pemerintahan, Iron Man kali ini lebih fokus terhadap Tony Stark yang sudah membutuhkan bantuan.

Tanpa baju besi itu, ia berhasil menemui Mandarin (Ben Kingsley), yang ternyata adalah sebuah image penyamaran dari si villain yang sebenarnya, ini adalah sebuah twist story yang minor, bahkan dengan ada atau tidaknya si kedok Mandarin ini, musuhnya tetaplah pelopor AIM, Killian. Alhasil Tony ditangkap, begitu juga Pepper, hanya saja Pepper diracuni dengan teknologi AIM tersebut.
Kembalinya Jarvis, membuat Tony Stark bisa menyelamatkan Presiden maupun kekasihnya. Meskipun sejujurnya saya merasa teringat dengan Sherlock Holmes (2010) yang dimana RDJr berlari di crane atau sejenisnya itu, hanya mengingatkan.

Adanya kontroversi mengenai Clean Slate ini membawa pertanyaan yang tiada henti. Hanya saja 'Tony Stark Will Return' bukan jawaban dari segala pertanyaan yang ada. Kebanyakan dari segitu banyak film Marvel, Iron Man yang menjadi frontir untuk terciptanya Avenger the Movie. Lagi, saya tekankan, jangan membawa komik, meski semua ini berasal dari komik, karena tanpa suksesnya Robert Downey memerankan Tony Stark, mungkin Avengers the Movie akan ditunda hingga Iron Man itu sendiri sukses. Ada banyak film dari Marvel mengenai tokoh heroic ini, hanya saja Iron Man tetap yang menjadi pelopor, bahkan Captain America (Chris Evans) sendiri pernah bermain di film Marvel yang Fantastic Four. Memang Marvel belum siap dengan Avengers, tapi setelah Iron Man lahir, semuanya menjadi lebih lancar.

Iron Man 3 disinyalir menjadi sequel terakhir dari Iron Man, namun Iron Man masih akan hadir di Avengers 2. Well, kalau saya saranin, jangan muluk-muluk deh nonton 3D, karena jujur, itu semata hanya fake 3D, bukan native. Dan ya, kalau ditelaah, Tony Stark sudah mulai memperbaiki semua yang ia perbuat di masa lalu, dimulai dengan komitmen. Ia memang memperbaiki sebisa mungkin, dari image, hingga kehidupan orang sekitarnya.

I am not sure whether it has bad ending or good, but according to my sense, it's good enough, due to responsibility that Tony has, and the goal that he want to aim, it's really time to end it. And well, it is good to spare your time with beloved. I'm sure, indirectly Shane Black trying to send love message toward Tony Stark - Pepper Potts - Iron Man. (as)

Cloud Atlas - Define Us.

Ada yang bilang ini film bagus, ada yang bilang ini seperti Omnibus movie lainnya. Untuk orang seperti saya yang ingin mencari cerita, ntah itu drama atau romance, merasa tertarik untuk mengikuti cerita di setiap ceritanya, hanya saja, tujuan dibikinnya Cloud Atlas bukan untuk itu, tapi mengirimkan pesan "Past Present Future, Everything is Connected."

Cerita pertama, "The Pacific Journal of Adam Ewing" (1849) Menceritakan tentang seorang pemuda Adam Ewing (Jim Sturgess) yang merupakan seorang pengacara yang sedang menjalankan bisnis untuk ayah mertuanya, namun saat itu ia melihat adanya kekerasan terhadap budak, dan tak berapa lama, ia jatuh pingsan. Dokter Henry Goose (Tom Hanks) mencoba untuk berbuat jahat, alih-alih memberi obat untuk kesembuhan Adam Ewing, ia malah mencoba meracuni sedikit demi sedikit. Berhasilnya Atua meyakinkan Adam Ewing untuk membiarkan ia ikut berlayar sebagai orang yang bebas (bukan budak) adalah hadiah tersendiri untuk Adam Ewing, karena kelakuan Goose akhirnya ketahuan oleh Atua, dan hal ini yang membuat Adam Ewing berani melawan ayah mertuanya.

Cerita kedua, "Letters from Zedelghem" (1936) Cerita yang membuat saya percaya bahwa Gay itu bukan penyakit masa kini, tapi itu memang sudah lama adanya. Tentang seorang composer yang berdarah Inggris, Robert Fisher (Ben Wishaw) yang merupakan biseks, dan juga sangat handal dalam membuat musik. Hingga ia bekerja kepada Vyvyan Arys (Jim Broadbent). Namun Vyvyan malah ingin merampas hasil kerja Robert, yang berjudul "The Cloud Atlas Sextet", karena membaca perjalanan Ewing, ia akhirnya menembak Vyvyan, lalu kabur ke hotel. Dan memutuskan untuk bunuh diri sebelum Rufus Sixsmith (James D'Arcy) bertemu dengan dia.


Oh well... I'm not gonna retell it, you can google it, or wikipedia has it. Begitu banyak karakter yang harus dikenal, sehingga membuat say pusing sendiri, dan yang membuat saya kagum adalah bagaimana seorang Tom Hanks bisa bermain 6 karakter di dalam satu film, begitu juga Halle Berry, dan beberapa artis lainnya mengambil bebrapa karakter. Kagum.



Lihat saja itu bagan diatas. Mungkin kalau melihat secara visual tidak 'ngeh' itu siapa dan kenapa bisa begitu. Bagi saya melihat keadaan ini, semakin membuat penilaian terhadap para pemainnya tinggi. Lihat saja Tom Hanks, beberapa kali berada di zona evil, tapi ada juga berada di zona Good.

Itulah alasan kenapa saya membuat kata 'Define Us', karena ada kemungkinan kita seperti Tom Hanks, menjadi orang baik, atau jadi orang jahat, karena kita tidak pernah tau akan jadi apa, atau telah jadi apa di masa lalu. Namun hidup ini memiliki satu tujuan untuk tetap dijalani.

Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others, past and present. Itulah kata-kata yang sangat saya ingat, dan membuat saya yakin akan kata-kata 'Define Us' karena menurut kepercayaan Cloud Atlas, kita semua saling berhubungan, satu sama lain, masa demi masa. Hanya saja kita tidak mengetahuinya, dan itu akan membawa ke sebuah ajaran atau ilmu lain mengenai hal ini. Banyak, dan masih merupakan topik yang menarik untuk ditelaah. Tapi, tetap bawa kepercayaan kalian, sebelum menyelam ke dalam rumitnya masalah reinkarnasi ini. (as)

Matru Ki Bijlee Ka Mandola - Sebuah Pesan

Oh well. Siapa yang tidak kenal dengan Anushka Sharma? Berhasil debut dengan lawan main Shah Rukh Khan membuatnya semakin dilirik oleh produser. Sebagai pemenang best supporting actress tidak membuatnya mudah puas. Ia tetap eksplorasi akting maupun skill dancing yang kerap kali merupakan kewajiban untuk para artis Bollywood.

Ingin meniru pamannya, Imran Khan mencoba membuat sebuah image yang pintar, yang bersifat heroic, tapi bukan pejuang cinta, seperti kebanyakan film-film Bollywood lainnya. Ini bukanlah cerita yang penuh dengan romantisme kekasih, melainkan intrik yang biasa, namun dibawakan secara penting.

Sejujurnya, untuk film ini, merupakan sebuah cerita biasa yang dapat kita saksikan di FTv (Frame Ritz), namun disini memang bertujuan untuk penciptaan image Imran Khan yang pintar dan total. Itulah kenapa film ini tayang di 21, bukan di blitzmegaplex. Karena ini memang bukan murni buatan Bollywood, ada campur tangan Fox Star.

Ceritanya berawal dari Matru (Imran Khan) yang putus kuliah Hukum di kota, lalu kembali ke desa untuk bekerja. Harry (Pankaj Kapur) adalah seorang yang terpandang di desa tersebut, bahkan desa itu diberi nama seperti namanya, Mandola. Ia memiliki seorang anak gadis yang suka berbuat nekat, Bijlee (Anushka Sharma).

Bijlee sudah memiliki kekasih, yang akan menikahinya kelak, namanya Badaal (Arya Babbar) yang merupakan anak dari seorang politisi yang korup, Chaudari Devi (Shabana Azmi). Tujuan Badaal menikahi Bijlee tidak lain adalah ingin menguasai desa tersebut, lalu merubahnya menjadi pabrik. Konflik ini yang membuat ceritanya sedikit membosankan dengan alur yang begitu lambat.

Tidak ada kejelasan kenapa Matru bisa mengerti rencana Chaudari Devi, yang jelas ia mencoba menjadi pahlawan untuk desanya, ia mencoba menjadi Mao, penyelamat. Ada juga Harry, yang memiliki kebiasaan buruk dengan minuman membuat ia harus berhenti berkomunikasi dengan alkohol. Ini yang membuatnya sering mengalami ilusi. Ia sering melihat sapi berwarna pink, yang merupakan poin penting untuk film ini.

Tidak terlihat dengan jelas kalau Matru ingin memiliki Bijlee, tapi dapat dipastikan bahwa Matru tau semua kegiatan Bijlee, yang membuat hubungan mereka menjadi dekat. Karena kecerobohan Badaal, akhirnya Bijlee membantu Matru untuk menyelamatkan desa.

Memang, seperti film yang memiliki misi. Begitulah Matru Ki Bijlee Ka Mandola. Mereka sukses mempertahankan desa mereka dengan kondisi Harry yang memiliki penyakit akut. Iya, penuh intrik tapi tidak rugi untuk ditonton. (as)

Lupus, Bangun Lagi Dong... - Sebuah Usaha Untuk Kembali


Hilman Hariwijaya. Bagi orang produksi, namanya tidak begitu asing, sukses menulis membuatnya bekerja dibagian belakang layar untuk dapat disuguhkan kepada penonton setia televisi. Karya yang paling diingat oleh seantero anak-anak 90's adalah Lupus.
Mungkin kalau memperkenalkan tokoh satu persatu akan memakan waktu yang banyak, dan jujur, saya tidak hapal semuanya. Karena saya berada dijaman Kambing Jantan, bukan Lupus. Tapi saya sempatkan diri menonton film ini karena ada Acha, seorang aktris yang saya anggap sangat promising untuk layar lebar.
Menceritakan pertemuan Lupus (Miqdad Addaussy) dengan Poppy (Acha Septriasa) di SMA Merah Putih.
Bangun Lagi Dong, sebuah rujukan terhadap suatu animo masyarakat yang dulunya sangat akrab dengan Lupus, Lulu dan Mami. Tidak hanya itu, film hasil kerja sama RCTI ini membawa tema go green untuk menarik empati masyarakat dan juga pemerintah.
Sebuah kisah klasik. Itu yang dapat saya simpulkan mengenai kisah Lupus yang sudah beranjak dewasa ini. Miqdad membawa karakter Lupus lebih dewasa, lebih bijak. Acha membawa Poppy lebih manusiawi, dan lebih nyata untuk sebuah karakterisasi tokoh fiktif. Adanya Daniel (Kevin Julio) yang merupakan pacar Poppy membuat film semi romantis ini menjadi lucu. Bukan komedi, tapi memiliki jokes tersendiri untuk beberapa pihak. Tidak hanya itu, ada juga artis pendukung lainnya seperti Ira Maya Sopha, Deddy Mizwar, dan Eko Patrio, yang merupakan salah satu produser. Mereka membuat cerita drama romantis ini menjadi komedi. Iya, Lupus memang komedi.
Romantis. Itulah yang saya dapatkan dari hubungan Lupus dan Poppy. Meski tidak dibalut untuk film yang romantis, tapi Miqdad dan Acha dapat melahirkan adegan romantis yang sederhana, dan sangat menyentuh. Tidak terlihat memang, Lupus mendekati Poppy, ia hanya berniat menjadi teman Poppy, tidak lebih. Namun Poppy berharap lebih, hanya saja Lupus menjaga tingkah laku karena Daniel bisa berbuat apa saja, selama masih bisa menjaga kedamaian, kenapa tidak? Itu mungkin yang dipikir oleh Lupus.
Gusur dan Boim menjadi pelengkap komedi di dalam film ini. Adanya Engkong Gusur yang notabene adalah artis yang telah lama berkecimpung di dunia perfilman, dan masih tetap setia terhadap dunia sineas ini, Didi Petet. Menjadi poin pending di dalam menghibur penonton, dimana kurangnya eksplorasi Lupus itu seperti apa, karena tidak semua orang mengenal Lupus, dan terlebih lagi ini adalah upaya untuk pengenalan Lupus kepada generasi selanjutnya, sangat disayangkan.
Singkat cerita, Lupus sendiri pernah membantu Daniel untuk dapat balikan dengan Poppy. Ia menampakkan baiknya Lupus, entah itu karena bijak, atau memang ia terlalu mendahulukan orang lain daripada kebahagiannya dirinya sendiri. Poppy marah, dan semua pekerjaan Poppy sebagai editor majalah sekolah berantakan. Disini tampaknya mas Hilman mencoba menyisipkan pentingnya persahabatan, sayangnya terlalu lama berkecimpung di dunia sinetron membuatnya terlalu fokus terhadap drama Lupus dan Poppy dibanding kepentingan pesan ini.
Menurut saya, ini adalah sebuah upaya untuk pengenalan kembali karakter yang dulu menjadi favorit. Untuk sebuah usaha, itu memang bagus, hanya saja untuk dikategorikan sebuah film, ini masih terkesan datar. Mungkin dengan cerita yang lebih menarik serta detil yang lebih mantap akan mengantarkan Lupus ke masa jayanya. (as)

Selasa, 16 April 2013

Finding Srimulat - Selamatkan Indonesia dengan Tawa


Siapa yang akrab dengan sekelompok pelawak yang disebut dengan Srimulat? Ada Tessy, Gogon, Nunung, Kadir, Mamik dan serentetan anggota lainnya. Jika kita melihat sekarang, mungkin Nunung masih eksis dibelantara komedian, sering tampil di OVJ, salah satu program dari Trans Corp.
"Srimulat bukan jokes, itu budaya!" seru Adi (Reza Rahadian) itulah yang menjadi alasan Charles Gozali untuk memulai project ini. Saya sendiri tidak begitu sepaham dengan hal ini, karena saya tidak tau apa itu Srimulat, dan kenapa dianggap budaya.

Adanya Reza Rahadian bisa saja menjadi nilai plus, ataupun minus. Untuk saya sendiri, saya tidak begitu suka dengan munculnya Reza dalam beberapa bulan terakhir, terlebih lagi di tahun 2012, ada banyak filmnya yang tayang di bioskop se-Indonesia. Suksesnya Reza berperan menjadi Bacharuddin J. Habibie tidak menjadikan dia artis nomor satu tentunya, begitu banyak artis yang bisa dipakai, kenapa Reza? Anyway, itu bukan jadi masalah besar, karena Srimulat sendiri lebih menarik perhatian dibanding Reza sendiri.
Berlatar belakang bangkrutnya tempat Adi bekerja yang ia tidak membiarkan Astrid Lyanna (Rianti Cartwright) istrinya, mengetahui apa yang terjadi, dikarenakan sedang hamil tua. Secara tidak sengaja ia menemukan sejenis baliho mengenai Srimulat, yang lantas muncul Kadir, yang memiliki warung soto, lantas ia berpikir untuk menyatukan lagi. Inilah yang membuka perjalanan Adi beserta Mamik dan Tessy untuk menghampiri ibu Tjutjuk dan Gogon di Solo. Adi beralasan bahwa perusahaan mengadakan perjalanan dinas ke Solo.

Bagi yang akrab dengan segala jokes Srimulat, akan terasa nyaman dengan perjalanan mereka selama di Solo. Adanya Icha (Nadila Ernesta) membuat karakter Adi sendiri bukanlah karakter hero yang biasanya ada di film-film lainnya. Icha yang dulu satu kantor dengan Adi, menyusul Adi ke Solo. Pertama kalinya, mereka mencoba untuk melakukan aksi di stasiun Balapan, dengan alasan bahwa dapat menarik perhatian orang banyak, tanpa harus melakukan pengorbanan seperti membeli tiket atau sejenisnya.
Amazingly, the ideas going smoothly, until they see a light.Ya, semuanya berjalan sempurna seperti yang telah diperhitungkan oleh Adi. Sampai mereka mendapatkan sponsor yang ingin Srimulat tampil, sayangnya, belum sempat pementasan, sponsor yang berupa individu itu telah dipanggil sang Khalik. Icha datang dengan solusi tanpa kejelasan. Adi dan yang lainnya telah kembali ke Jakarta, tanpa menemui Astrid, Adi langsung mengurus semuanya. Sayang, solusi yang dikasih oleh Icha ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang telah dipegang oleh Adi, solusi itu disediakan oleh JoLim (Fauzi Baadila). Seorang plagiat yang selalu mencuri ide-ide brilian dari Adi.

Putus asa. Itulah yang dirasakan oleh Adi. Uang sudah tidak ada, pementasan masih belum jelas gimana. Hingga akhirnya, scene yang menjadi favorit saya. Dimana terdapat sedikit twist, dan sebuah inspirasi tersendiri untuk tetap percaya dengan kepercayaan kita. Menonton film yang membuat kita melupakan masalah, merasa segar dengan lelucon dan pengambilan gambar yang bagus. Serta merasa Indonesia kaya akan dengan budaya yang seharusnya dijaga, bukan dilupakan, lalu bergerak kearah westernisasi. Kabar tidak ada source lain selain bioskop membuat keterpaksaan tersendiri untuk nonton, tapi, alangkah baiknya kalau ada source yang jika nanti kalau kita kangen, dapat menontonnya, kapan saja. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari perfilman horror dan sex yang mendominasi, dan lepas dari drama yang sentimentil dan terkesan biasa, saatnya revolusi perfilman. Mari kita selamatkan Indonesia dengan tawa.(as)

Senin, 15 April 2013

Tampan Tailor - Hidup itu berputar, seperti Roda.


Apa yang kamu harapkan dari sebuah film Indonesia tanpa promo yang kuat, Production House yang besar, serta cerita yang bisa dikatakan pasaran? Pasti secara tidak langsung akan memilih untuk tidak menontonnya. Tidak hanya karena itu film Indonesia, juga karena kurang familar dengan film tersebut, sehingga peluang majunya film Indonesia sangat tipis, maju, tapi butuh waktu yang lebih lama.

Tampan Tailor. Film yang dibintangi oleh Vino G. Bastian ini menjadi tanda tanya tersendiri, di mana pada hari yang sama, ada juga film yang dibintangi oleh suami Marsha Timothy ini, yaitu Madre. Madre tidak hanya terkenal karena promosi yang kuat oleh tim tersendiri, juga karena suksesnya Perahu Kertas, yang merupakan milestone untuk novelnya Dewi 'Dee' Lestari merangkak ke layar lebar.

Telah menjadi hal yang lumrah untuk penonton Indonesia, jarang melihat siapa sutradara, apa production house, hanya tau siapa artisnya, dan dari novel siapa. Hanya bermodalkan itu Madre sukses menjajal bioskop Indonesia, meski tidak selama Habibie dan Ainun, tapi cukup untuk sebuah film yang, sekali lagi saya katakan, biasa.

Berlatar belakang industri tekstil, Topan (Vino G. Bastian) dengan Tami, istrinya, membangun sebuah mimpi, untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Sayang kanker merebut kebahagian Topan, mulai dari istri tercinta, hingga uang. Itu yang membuat perjalanan 'Pursuit of Happyness' Topan dan Bintang dimulai.

Mulai berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, membuat Bintang secara paksa tidak lanjut sekolah. Serta masalah yang masih saja ditemui oleh Topan ketika ia sudah mulai berdiri, dan bisa memberi kehidupan yang layak untuk Bintang.

Adanya Prita, yang secara tidak sengaja Topan temui, membuatnya memiliki harapan lagi, harapan yang sama, mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Serta adanya Darman (Ringgo Agus Rahman) membuat film ini terasa lebih santai, dan lebih meyakinkan.

Tidak heran jika Maxima menerima inputan yang bagus melalui film ini. Selain pengambilan gambar yang bagus, juga berhasil menciptakan momen berharga, chemistry antara satu pemain dan pemain lainnya sangat nyaman untuk dinikmati. Jefan Nathanio dengan sukses memerankan Bintang, dan tidak hanya berperan sebagai anak kecil yang sedang berada di masa jail, juga chemistry dengan Vino tidak dapat dipungkiri, terlihat nyata.

Mungkin bagi beberapa orang, yang suka dengan pembawaan Vino, akan menyadari betapa bagusnya ia di sini. Tidak hanya dapat memerankan Topan dengan bagus, juga dapat menciptakan chemistry yang begitu hebat dengan Jefan, yang ia jarang sekali mendapatkan peran sebagai seorang ayah.

Hidup itu berputar. Di mulai dari bersama Darman menjadi calo tiket kereta api di stasiun Senen, lalu bekerja di sebuah perusahaan yang membuat Jas dan Tuxedo, serta menjadi stuntman untuk film action. Lalu menjadi pengusaha jas sendiri, dengan bantuan seseorang.

Lebih menekankan untuk tidak berputus asa, meski hidup kerap kali bermain dengan kita, tetap menjaga satu hal yang terpenting, yaitu harapan. Secara tidak langsung memberi pelajaran tersendiri untuk para kaum Adam diluar sana, bagaimana cara mendidik anak, serta bersikap kepada anak.

Selain dari hal diatas, dengan sangat tidak langsung, telah menjelaskan kepada penonton bahwa menjadikan suatu yang dicintai menjadi pekerjaan adalah jalan yang benar, karena ketika manusia sudah berbicara tentang hati, tidak ada yang salah.

Begitulah ketika sebuah cerita sederhana dibalut dengan pengambilan gambar yang bagus, dan chemistry antar tokoh yang kuat. Menjadikan sebuah film yang memorable bagi penonton. Jika anda ketinggalan menontonnya, harap beli DVD ataupun VCD originalnya. Hargai karya anak bangsa. Dari situ mereka hidup, dan dengan tindakan seperti itu membuat kita tidak terbiasa dengan hal yang buruk. (as)

Oblivion - Please Stay Focus

Kalau ada yang sudah baca review dari blognya @danieldokter, maka di sini saya akan membahas kenapa saya menggunakan kata-kata "Please Stay Focus" sejajar dengan judul post.

Membawa nama Tom Cruise cukup membuat film yang bertajuk fantasi ini menjadi pilihan tontonan untuk masyarakat Indonesia. Tak perlu dijelaskan kenapa harus ditonton, dengan stereotype 'siapa pemainnya' selalu sukses untuk film yang dibesut oleh negara paman Sam ini. Tak hanya itu, adanya Morgan Freeman membuat Oblivion ini lebih menjual, tidak diragukan dengan artis-artis papan atas tersebut.

Kisah yang bermulai dengan Jack Harper, seorang teknisi untuk negeri Titan, yang diarahkan secara langsung oleh seorang pemandu dari tower yang bernama Victoria. Rutinitas yang dijalani mereka hampir sama setiap harinya. Jack turun ke Bumi, memperbaiki robot yang rusak, sementara Vica memandu dari tower, sekaligus menjaga Jack, sekalinya ada pemakan bangkai yang memburu Jack.

Lama, itulah durasi yang dipakai oleh Kosinki untuk menjelaskan rutinitas sepasang tim efektif ini. Sehingga wajar jika ada penonton yang merasa bosan, karena memang alurnya bergerak dengan lambat, dan tidak memiliki suspense yang membuat penonton penasaran.

Ternyata Jack dan Vica sendiri telah dihapus ingatannya paska menangnya mereka-manusia-dalam berperang dengan alien dari planet lain. Ingatan Jack kerap datang ketika ia berusaha untuk relax, baik di tengah hari, maupun malam hari. Hingga suatu ketika ia bertemu secara langsung dengan orang yang ada di dalam bayangan yang ia lihat, dan percaya sebagai masa lalunya.

Dialah Julia, seorang manusia yang diselamatkan oleh Jack ketika hendak dibunuh oleh robot. Di sini kita bisa mencoba menerka, siapa yang baik dan jahat. Sayang Jack yang ingatannya dihapus masih tidak percaya, hingga ia dan Julia disekap oleh sekawanan pemakan bangkai, yang ternyata adalah sekumpulan manusia yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai tanpa rasa takut akan adanya robot yang akan membunuh manusia, tidak mengenal siapapun, kecuali Jack Harper.

Ternyata Julia merupakan kunci dari film ini, penerang jalannya Jack, yang tidak lain adalah istri Jack Harper. Sedikit demi sedikit membuat ingatan Jack mulai pulih, sehingga ia berniat untuk membantu Malcolm (Morgan Freeman) untuk membasmi para robot tersebut.

Harus fokus. Karena akan ada saatnya penonton akan berpikir bahwa ini sejenis film Inception, dimana ketika penonton melihat Jack melihat dirinya, Jack sedang memperbaiki robot yang kebetulan bernomor 166. Di situ mungkin penonton akan mulai berpikir, apa yang terjadi, apakah hanya mimpi Jack, atau ada program yang menggantikan orang yang telah dianggap kabur atau menghianati.

Tech-49. Itu merupakan salah satu unsur penting di dalam film ini. Ketika tidak fokus, akan merasa buta dengan percakapan Malcolm dan Jack. Dimana telah berkali-kali Malcolm berusaha untuk menangkap Jack, lalu menceritakan semuanya.

Terlepas dari hebatnya khayalan Kosinki, Oblivion memang sebuah film fantasi yang benar-benar menjadi tolak ukur penonton sendiri, apakah penikmat film yang bertajuk fantasi, atau hanya pencari cerita yang banyak disuguhkan di drama. (as)

Senin, 08 April 2013

Identity Thief - It is just another Comedy


Social Security Number. Bisa dianggap sebagai nomor KTP untuk warga yang tinggal di negeri paman Sam ini. Apa yang dapat dilakukan dengan SSN? Banyak! Layaknya hal Kartu Tanda Penduduk untuk Indonesia. Bisa untuk membuat kartu kredit, salah satunya.
Tim Produksi dari Universal ini sangat cakap dalam membuat trailer yang apik. Hanya dengan melihat trailernya, kita dapat menyimpulkan bahwa ini merupakan comedy movies that already outnumbered out there. It's not much, a lot! Selaras dengan That's My Boy, a Madison Production. That's what I called this movie.
Membawakan isu yang sangat menarik membuat Identity Thief menjadi pilihan tontonan masyarakat saat ini. Apa yang ada di dalam film yang diarahkan oleh Seth Gordon ini? Mari simak menurut sudut pandang saya.
Jason Bateman berhasil membuat karakter Sandy Patterson sebagai seorang ayah yang sangat sadar dengan keuangan. Hal ini merupakan hal yang unik. Karena, jarang sekali sebuah film membuat karakter yang mapan, tapi tidak glamour. Dimulai dengan mendapat telepon dari Anti-fraud of Credit Card, Sandy Patterson dengan polosnya memberi informasi yang dibutuhkan untuk membuat kartu kredit. Nama menjadi satu perhitungan sendiri. Terlebih lagi jika memiliki nama yang unisex. Bisa dipakai oleh semua gender. Itulah yang terjadi dengan kehidupan lelaki yang memiliki dua anak perempuan ini.
Pembawaan isu keuangan negara hanya menjadi pemanis yang hanya diucap selenting oleh Harold Cornish (Jon Fevreau) atasannya. Seorang akuntan yang memiliki gaji tidak sampai $50,000 pertahun ini tidak merasa janggal dengan penggunaan kartu kreditnya. Dengan saving $14.47 dalam satu bulan, dapat dilihat bahwa gajinya tidak cukup untuk memberikan kehidupan yang mewah kepada keluarga. Hal ini yang membuatnya menerima ajakan Daniel Casey (John Cho), temannya di dalam firma tersebut.
Hadirnya John Cho di dalam film ini membuat penonton lebih yakin dengan unsur komedinya. Siapa yang tidak kenal dengan Harold di dalam film Harold and Kumar? Bagi penikmat komedi, pasti mengenal dua orang ini.
Kasus terbuka ketika ia ditangkap polisi setempat. Alih-alih karena melakukan konversasi melalui telepon genggam, ternyata karena ia dilaporkan telah membuat kerusuhan di Florida, dimana ia sendiri tidak pernah keluar dari Denver. Hal ini yang membuatnya sadar, dimulai dari telepon dari sebuah salon di Florida, hingga atas pembelian alat-alat surfing. Hal ini yang membuatnya mengerti, hingga ingin mencari si pelaku demi pekerjaannya, karena Daniel tidak sepercaya itu terhadap vice-president nya yang memiliki reputasi buruk, sementara firma tersebut baru jalan sebentar. Tujuannya bulat, ingin membuat statement bahwa ia, Sandy Patterson tidak memiliki riwayat kriminal, dan juga tidak pernah memiliki tunggakan kartu kredit.
Petualangan dimulai dari sini. Murni mengusung tema komedi, membuat cerita ini memang menghibur. Dimulai dari bertemunya Sandy dengan Sandy Palsu (Melissa McCarthy), hingga melakukan perjalanan bersama dari Florida hingga ke Denver yang memiliki banyak rintangan yang menghadang mereka.
Dramanya muncul ketika Sandy sadar bahwa Diana-Sandy Palsu-, tidaklah penjahat, ia hanya seorang wanita yang memiliki keahlian membohongi orang serta tidak memiliki teman. Hal ini membuat Sandy memutuskan untuk tidak melaporkan Diana. Namun Diana yang memiliki hati nuranipun mulai menyerahkan diri. Ia sudah letih dengan kehidupan yang serba tidak pasti. Hal ini yang membuat saya bersikeras menganggap ini seperti film Madison, lucu, tapi dramatikal.(as)