Selasa, 16 April 2013

Finding Srimulat - Selamatkan Indonesia dengan Tawa


Siapa yang akrab dengan sekelompok pelawak yang disebut dengan Srimulat? Ada Tessy, Gogon, Nunung, Kadir, Mamik dan serentetan anggota lainnya. Jika kita melihat sekarang, mungkin Nunung masih eksis dibelantara komedian, sering tampil di OVJ, salah satu program dari Trans Corp.
"Srimulat bukan jokes, itu budaya!" seru Adi (Reza Rahadian) itulah yang menjadi alasan Charles Gozali untuk memulai project ini. Saya sendiri tidak begitu sepaham dengan hal ini, karena saya tidak tau apa itu Srimulat, dan kenapa dianggap budaya.

Adanya Reza Rahadian bisa saja menjadi nilai plus, ataupun minus. Untuk saya sendiri, saya tidak begitu suka dengan munculnya Reza dalam beberapa bulan terakhir, terlebih lagi di tahun 2012, ada banyak filmnya yang tayang di bioskop se-Indonesia. Suksesnya Reza berperan menjadi Bacharuddin J. Habibie tidak menjadikan dia artis nomor satu tentunya, begitu banyak artis yang bisa dipakai, kenapa Reza? Anyway, itu bukan jadi masalah besar, karena Srimulat sendiri lebih menarik perhatian dibanding Reza sendiri.
Berlatar belakang bangkrutnya tempat Adi bekerja yang ia tidak membiarkan Astrid Lyanna (Rianti Cartwright) istrinya, mengetahui apa yang terjadi, dikarenakan sedang hamil tua. Secara tidak sengaja ia menemukan sejenis baliho mengenai Srimulat, yang lantas muncul Kadir, yang memiliki warung soto, lantas ia berpikir untuk menyatukan lagi. Inilah yang membuka perjalanan Adi beserta Mamik dan Tessy untuk menghampiri ibu Tjutjuk dan Gogon di Solo. Adi beralasan bahwa perusahaan mengadakan perjalanan dinas ke Solo.

Bagi yang akrab dengan segala jokes Srimulat, akan terasa nyaman dengan perjalanan mereka selama di Solo. Adanya Icha (Nadila Ernesta) membuat karakter Adi sendiri bukanlah karakter hero yang biasanya ada di film-film lainnya. Icha yang dulu satu kantor dengan Adi, menyusul Adi ke Solo. Pertama kalinya, mereka mencoba untuk melakukan aksi di stasiun Balapan, dengan alasan bahwa dapat menarik perhatian orang banyak, tanpa harus melakukan pengorbanan seperti membeli tiket atau sejenisnya.
Amazingly, the ideas going smoothly, until they see a light.Ya, semuanya berjalan sempurna seperti yang telah diperhitungkan oleh Adi. Sampai mereka mendapatkan sponsor yang ingin Srimulat tampil, sayangnya, belum sempat pementasan, sponsor yang berupa individu itu telah dipanggil sang Khalik. Icha datang dengan solusi tanpa kejelasan. Adi dan yang lainnya telah kembali ke Jakarta, tanpa menemui Astrid, Adi langsung mengurus semuanya. Sayang, solusi yang dikasih oleh Icha ternyata bertentangan dengan nilai-nilai yang telah dipegang oleh Adi, solusi itu disediakan oleh JoLim (Fauzi Baadila). Seorang plagiat yang selalu mencuri ide-ide brilian dari Adi.

Putus asa. Itulah yang dirasakan oleh Adi. Uang sudah tidak ada, pementasan masih belum jelas gimana. Hingga akhirnya, scene yang menjadi favorit saya. Dimana terdapat sedikit twist, dan sebuah inspirasi tersendiri untuk tetap percaya dengan kepercayaan kita. Menonton film yang membuat kita melupakan masalah, merasa segar dengan lelucon dan pengambilan gambar yang bagus. Serta merasa Indonesia kaya akan dengan budaya yang seharusnya dijaga, bukan dilupakan, lalu bergerak kearah westernisasi. Kabar tidak ada source lain selain bioskop membuat keterpaksaan tersendiri untuk nonton, tapi, alangkah baiknya kalau ada source yang jika nanti kalau kita kangen, dapat menontonnya, kapan saja. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari perfilman horror dan sex yang mendominasi, dan lepas dari drama yang sentimentil dan terkesan biasa, saatnya revolusi perfilman. Mari kita selamatkan Indonesia dengan tawa.(as)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar