Jumat, 26 April 2013

Iron Man 3 - It's Time to Fix Everything

3 May direncanakan menjadi tanggal rilis film besutan Marvel ini, memang, tidak ada yang berubah. Hanya saja untuk Asia dipercepat. Oleh karena itu Kamis kemarin, 25 April 2013, Iron Man 3 sudah bisa disaksikan di bioskop kesayangan anda.

Sebelum saya mulai menulis review, saya ingin menciptakan sebuah perizinan. Tolong yang baca, jangan sesekali mencampur dengan komik. Karena saya tidak baca komik, dan juga esensial film dan komik berbeda. Oh ya, dan satu lagi, gambar. Saya tidak bisa memberikan gambar yang bagus untuks saat ini, cukup dengan poster saja ya. Siap? Mari kita mulai.

Robert Downey Jr. alias Tony Stark ini selalu berhasil membawakan tokoh fiksi ini menjadi nyata, dan lebih philanthropic dibanding yang ada dikomik (lagi, ini asumsi). Cerita berawal dari ia menceritakan sebuah cerita (persis pola Bollywood movie) ia menceritakan sesuatu kepada Dr. Banner (Hulk) itulah yang menjadi kisah untuk Iron Man 3 ini.

Ia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan villain yang akan muncul di sequel ketiga ini, Mandarin atau Aldrich Killian (Guy Pearce) pertama kalinya. Berlatar tahun 1999 di Swiss, Stark sedang menghadiri pertemuan para ilmuwan, dan juga malam tahun baru. Pada malam itu ia ditemui oleh seorang peneliti yang sedang meneliti tentang AIM (Advance Idea Mechanics), sebuah teknologi re-code DNA, sehingga bisa memperbaiki DNA yang rusak. Flamboyan, sudah menjadi identitas Stark, ia mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Aldrich Killian di atas atap hotel, sayangnya ia lupa, karena ditemani oleh Maya (Rebecca Hall).
Every human create its own demon. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan pertama kali di dalam film ini. Ntah itu ditujukan terhadap Mandarin, atau bahkan dirinya sendiri. Yang jelas ceritanya sudah melewati masa Avengers, 2012 kemarin. Yang tersisa dari Tony adalah ketika ia panik, ia tidak bisa mengatur tindakannya, bisa saja membahayakan diri sendiri, atau bahkan orang lain. Okay here we go.
Seperti biasa, Stark bereksprimen di dalam laboratoriumnya sendiri, mulai dari memasukkan sensor untuk tubuhnya sendiri, maupun cloud control, mengontrol Iron Suit dari jauh. Tanpa harus ada pengemudi di dalam baju besi itu.

Happy (Jon Favreau) menjadi unsur komedi tersendiri, selain pembawaan RDJr yang memang memukau. Happy yang curiga ketika Aldrich mendatangi Pepper yang menjelaskan tentang AIM, tanpa memberi tau apa itu AIM. Ketika ia menjelaskan bahwa ia sudah pernah mencoba bicara dengan Tony, hanya saja ditolak, dan Pepper lantas menolak juga. Happy yang curiga, menghubungi Tony, di sini memang ditekankan tentang teknologi masa depan, terutama yang dipakai oleh Tony, ntah itu berupa Augmented Reality atau teknologi lainnya, tetap saja adalah sebuah teknologi yang memukau dan memanjakan mata.

Adegan romantis antara Ironbot dan Pepper menjadi poin yang penting untuk film ini, dan mungkin untuk Iron Man kedepannya, jika masih ada. Happy yang curiga dengan driver si Killian, mengikutinya, lalu tidak sengaja mengalami kecelakaan, yang menyebabkan Happy masuk rumah sakit, dan Tony mau tidak mau harus keluar dan memberi klarifikasi.

Sehabis dari rumah sakit, Tony dihadang oleh para wartawan, mengenai Mandarin yang telah meresahkan masyarakat serta pemerintah. Rhodes pun telah berubah profesi dari Colonel menjadi tentara War Machine yang diganti nama menjadi Iron Patriot. Tony yang memang suka bertindak sesukanya membuka pernyataan bahwa ia mengundang Mandarin ke rumahnya, ia memberikan alamat rumahnya.

Dan tak disangka Maya hadir lagi kedalam kehidupan Stark, meskipun bukan tipikal Mischa Amaira (Cinta Fitri season 2-7) tapi membawa bencana kedalam hidupnya Stark, dan juga Potts. Tak disangka, pesan iseng yang ia sampaikan akhirnya terjadi, Malibu Point hancur dalam seketika. Hasil kerja Tony tidak sia-sia, ia berhasil menyelamatkan Pepper dengan Iron Suit. Dan ini yang membuat ia menjalani petualangan di Tennesse.

Jarvis. Itulah satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Tony, dimanapun ia berada. Sayang sekali, kali ini Jarvis harus istirahat, sehingga Tony harus berjuang melawan Mandarin tanpa baju besi yang selalu ia gunakan. Munculnya Harley (Ty Simpkins), seorang anak berumur 8 atau 9 tahun yang membantu Tony, si Mekanis.
Iron Man bukanlah film yang berat seperti Batman yang kerap mengusung pemerintahan, Iron Man kali ini lebih fokus terhadap Tony Stark yang sudah membutuhkan bantuan.

Tanpa baju besi itu, ia berhasil menemui Mandarin (Ben Kingsley), yang ternyata adalah sebuah image penyamaran dari si villain yang sebenarnya, ini adalah sebuah twist story yang minor, bahkan dengan ada atau tidaknya si kedok Mandarin ini, musuhnya tetaplah pelopor AIM, Killian. Alhasil Tony ditangkap, begitu juga Pepper, hanya saja Pepper diracuni dengan teknologi AIM tersebut.
Kembalinya Jarvis, membuat Tony Stark bisa menyelamatkan Presiden maupun kekasihnya. Meskipun sejujurnya saya merasa teringat dengan Sherlock Holmes (2010) yang dimana RDJr berlari di crane atau sejenisnya itu, hanya mengingatkan.

Adanya kontroversi mengenai Clean Slate ini membawa pertanyaan yang tiada henti. Hanya saja 'Tony Stark Will Return' bukan jawaban dari segala pertanyaan yang ada. Kebanyakan dari segitu banyak film Marvel, Iron Man yang menjadi frontir untuk terciptanya Avenger the Movie. Lagi, saya tekankan, jangan membawa komik, meski semua ini berasal dari komik, karena tanpa suksesnya Robert Downey memerankan Tony Stark, mungkin Avengers the Movie akan ditunda hingga Iron Man itu sendiri sukses. Ada banyak film dari Marvel mengenai tokoh heroic ini, hanya saja Iron Man tetap yang menjadi pelopor, bahkan Captain America (Chris Evans) sendiri pernah bermain di film Marvel yang Fantastic Four. Memang Marvel belum siap dengan Avengers, tapi setelah Iron Man lahir, semuanya menjadi lebih lancar.

Iron Man 3 disinyalir menjadi sequel terakhir dari Iron Man, namun Iron Man masih akan hadir di Avengers 2. Well, kalau saya saranin, jangan muluk-muluk deh nonton 3D, karena jujur, itu semata hanya fake 3D, bukan native. Dan ya, kalau ditelaah, Tony Stark sudah mulai memperbaiki semua yang ia perbuat di masa lalu, dimulai dengan komitmen. Ia memang memperbaiki sebisa mungkin, dari image, hingga kehidupan orang sekitarnya.

I am not sure whether it has bad ending or good, but according to my sense, it's good enough, due to responsibility that Tony has, and the goal that he want to aim, it's really time to end it. And well, it is good to spare your time with beloved. I'm sure, indirectly Shane Black trying to send love message toward Tony Stark - Pepper Potts - Iron Man. (as)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar