Jumat, 26 April 2013

Lupus, Bangun Lagi Dong... - Sebuah Usaha Untuk Kembali


Hilman Hariwijaya. Bagi orang produksi, namanya tidak begitu asing, sukses menulis membuatnya bekerja dibagian belakang layar untuk dapat disuguhkan kepada penonton setia televisi. Karya yang paling diingat oleh seantero anak-anak 90's adalah Lupus.
Mungkin kalau memperkenalkan tokoh satu persatu akan memakan waktu yang banyak, dan jujur, saya tidak hapal semuanya. Karena saya berada dijaman Kambing Jantan, bukan Lupus. Tapi saya sempatkan diri menonton film ini karena ada Acha, seorang aktris yang saya anggap sangat promising untuk layar lebar.
Menceritakan pertemuan Lupus (Miqdad Addaussy) dengan Poppy (Acha Septriasa) di SMA Merah Putih.
Bangun Lagi Dong, sebuah rujukan terhadap suatu animo masyarakat yang dulunya sangat akrab dengan Lupus, Lulu dan Mami. Tidak hanya itu, film hasil kerja sama RCTI ini membawa tema go green untuk menarik empati masyarakat dan juga pemerintah.
Sebuah kisah klasik. Itu yang dapat saya simpulkan mengenai kisah Lupus yang sudah beranjak dewasa ini. Miqdad membawa karakter Lupus lebih dewasa, lebih bijak. Acha membawa Poppy lebih manusiawi, dan lebih nyata untuk sebuah karakterisasi tokoh fiktif. Adanya Daniel (Kevin Julio) yang merupakan pacar Poppy membuat film semi romantis ini menjadi lucu. Bukan komedi, tapi memiliki jokes tersendiri untuk beberapa pihak. Tidak hanya itu, ada juga artis pendukung lainnya seperti Ira Maya Sopha, Deddy Mizwar, dan Eko Patrio, yang merupakan salah satu produser. Mereka membuat cerita drama romantis ini menjadi komedi. Iya, Lupus memang komedi.
Romantis. Itulah yang saya dapatkan dari hubungan Lupus dan Poppy. Meski tidak dibalut untuk film yang romantis, tapi Miqdad dan Acha dapat melahirkan adegan romantis yang sederhana, dan sangat menyentuh. Tidak terlihat memang, Lupus mendekati Poppy, ia hanya berniat menjadi teman Poppy, tidak lebih. Namun Poppy berharap lebih, hanya saja Lupus menjaga tingkah laku karena Daniel bisa berbuat apa saja, selama masih bisa menjaga kedamaian, kenapa tidak? Itu mungkin yang dipikir oleh Lupus.
Gusur dan Boim menjadi pelengkap komedi di dalam film ini. Adanya Engkong Gusur yang notabene adalah artis yang telah lama berkecimpung di dunia perfilman, dan masih tetap setia terhadap dunia sineas ini, Didi Petet. Menjadi poin pending di dalam menghibur penonton, dimana kurangnya eksplorasi Lupus itu seperti apa, karena tidak semua orang mengenal Lupus, dan terlebih lagi ini adalah upaya untuk pengenalan Lupus kepada generasi selanjutnya, sangat disayangkan.
Singkat cerita, Lupus sendiri pernah membantu Daniel untuk dapat balikan dengan Poppy. Ia menampakkan baiknya Lupus, entah itu karena bijak, atau memang ia terlalu mendahulukan orang lain daripada kebahagiannya dirinya sendiri. Poppy marah, dan semua pekerjaan Poppy sebagai editor majalah sekolah berantakan. Disini tampaknya mas Hilman mencoba menyisipkan pentingnya persahabatan, sayangnya terlalu lama berkecimpung di dunia sinetron membuatnya terlalu fokus terhadap drama Lupus dan Poppy dibanding kepentingan pesan ini.
Menurut saya, ini adalah sebuah upaya untuk pengenalan kembali karakter yang dulu menjadi favorit. Untuk sebuah usaha, itu memang bagus, hanya saja untuk dikategorikan sebuah film, ini masih terkesan datar. Mungkin dengan cerita yang lebih menarik serta detil yang lebih mantap akan mengantarkan Lupus ke masa jayanya. (as)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar