Senin, 15 April 2013

Tampan Tailor - Hidup itu berputar, seperti Roda.


Apa yang kamu harapkan dari sebuah film Indonesia tanpa promo yang kuat, Production House yang besar, serta cerita yang bisa dikatakan pasaran? Pasti secara tidak langsung akan memilih untuk tidak menontonnya. Tidak hanya karena itu film Indonesia, juga karena kurang familar dengan film tersebut, sehingga peluang majunya film Indonesia sangat tipis, maju, tapi butuh waktu yang lebih lama.

Tampan Tailor. Film yang dibintangi oleh Vino G. Bastian ini menjadi tanda tanya tersendiri, di mana pada hari yang sama, ada juga film yang dibintangi oleh suami Marsha Timothy ini, yaitu Madre. Madre tidak hanya terkenal karena promosi yang kuat oleh tim tersendiri, juga karena suksesnya Perahu Kertas, yang merupakan milestone untuk novelnya Dewi 'Dee' Lestari merangkak ke layar lebar.

Telah menjadi hal yang lumrah untuk penonton Indonesia, jarang melihat siapa sutradara, apa production house, hanya tau siapa artisnya, dan dari novel siapa. Hanya bermodalkan itu Madre sukses menjajal bioskop Indonesia, meski tidak selama Habibie dan Ainun, tapi cukup untuk sebuah film yang, sekali lagi saya katakan, biasa.

Berlatar belakang industri tekstil, Topan (Vino G. Bastian) dengan Tami, istrinya, membangun sebuah mimpi, untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Sayang kanker merebut kebahagian Topan, mulai dari istri tercinta, hingga uang. Itu yang membuat perjalanan 'Pursuit of Happyness' Topan dan Bintang dimulai.

Mulai berpindah dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, membuat Bintang secara paksa tidak lanjut sekolah. Serta masalah yang masih saja ditemui oleh Topan ketika ia sudah mulai berdiri, dan bisa memberi kehidupan yang layak untuk Bintang.

Adanya Prita, yang secara tidak sengaja Topan temui, membuatnya memiliki harapan lagi, harapan yang sama, mewujudkan mimpi-mimpi Bintang. Serta adanya Darman (Ringgo Agus Rahman) membuat film ini terasa lebih santai, dan lebih meyakinkan.

Tidak heran jika Maxima menerima inputan yang bagus melalui film ini. Selain pengambilan gambar yang bagus, juga berhasil menciptakan momen berharga, chemistry antara satu pemain dan pemain lainnya sangat nyaman untuk dinikmati. Jefan Nathanio dengan sukses memerankan Bintang, dan tidak hanya berperan sebagai anak kecil yang sedang berada di masa jail, juga chemistry dengan Vino tidak dapat dipungkiri, terlihat nyata.

Mungkin bagi beberapa orang, yang suka dengan pembawaan Vino, akan menyadari betapa bagusnya ia di sini. Tidak hanya dapat memerankan Topan dengan bagus, juga dapat menciptakan chemistry yang begitu hebat dengan Jefan, yang ia jarang sekali mendapatkan peran sebagai seorang ayah.

Hidup itu berputar. Di mulai dari bersama Darman menjadi calo tiket kereta api di stasiun Senen, lalu bekerja di sebuah perusahaan yang membuat Jas dan Tuxedo, serta menjadi stuntman untuk film action. Lalu menjadi pengusaha jas sendiri, dengan bantuan seseorang.

Lebih menekankan untuk tidak berputus asa, meski hidup kerap kali bermain dengan kita, tetap menjaga satu hal yang terpenting, yaitu harapan. Secara tidak langsung memberi pelajaran tersendiri untuk para kaum Adam diluar sana, bagaimana cara mendidik anak, serta bersikap kepada anak.

Selain dari hal diatas, dengan sangat tidak langsung, telah menjelaskan kepada penonton bahwa menjadikan suatu yang dicintai menjadi pekerjaan adalah jalan yang benar, karena ketika manusia sudah berbicara tentang hati, tidak ada yang salah.

Begitulah ketika sebuah cerita sederhana dibalut dengan pengambilan gambar yang bagus, dan chemistry antar tokoh yang kuat. Menjadikan sebuah film yang memorable bagi penonton. Jika anda ketinggalan menontonnya, harap beli DVD ataupun VCD originalnya. Hargai karya anak bangsa. Dari situ mereka hidup, dan dengan tindakan seperti itu membuat kita tidak terbiasa dengan hal yang buruk. (as)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar