Minggu, 08 Desember 2013

99 Cahaya di Langit Eropa - Let's learn History!

Masih teringat tahun 2006 lalu ketika novel pembangun jiwa "Ayat-Ayat Cinta" akan diangkat ke layar lebar. Mendapatkan masukan yang menarik, dan juga ekspektasi tinggi terhadap film itu sendiri. MD mempercayakan film ini kepada Hanung Bramantyo. Meskipun film ini bertahan hingga bulan ketiga di bioskop, setting yang tidak asli tetap menjadi nilai kurang dari dalam film ini. Alih-alih Mesir, India menjadi pilihan untuk menggantikan suasana mesir itu sendiri.
Lalu Ketika Cinta Bertasbih, diproduksi oleh SinemArt, membawa keunggulan lebih. Dimana casts utama bukanlah artis, melainkan orang-orang baru yang sengaja dicari hingga mirip dengan karakter imajinasi Kang Abik.
Kali ini, perjalanan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra yang tertuang di dalam sebuah buku berjudul "99 Cahaya di Langit Eropa" diangkat ke layar lebar. Untuk jujur, saya tidak tau mengenai judul ini, dan tidak ada bayangan bahwa ini adalah film yang bertajuk islami. Beralatar di Vienna, Jerman membuat film ini menjadi layak ditonton, selain dari orisinalitas scene dan set, juga casts yang berperan juga melakukan effort yang besar untuk film ini.
Berawal dari mengikuti suaminya, Hanum (Acha Septriasa) mencoba mengabadikan momen yang ia lihat di kota yang penuh inspirasi tersebut. Sementara Rangga (Abimana Aryasatya) sibuk dengan program doctorate dibawah didikan Professor Reinhard.
Plot di dalam film ini terbagi menjadi dua plot yang penting. Plot Hanum dan Rangga. Plot pertama, adanya Fatma Pascha (Raline Shah) seorang Turkestan, dengan anaknya Ayse (Geccha Tavvara) yang menemani Hanum menjelajahi Vienna dari sudut pandang Islam. Plot kedua, kehidupan di kampus Rangga, adanya Muhammad Khan (Alex Abbad) yang kerap menemani Rangga di dalam beribadah beserta Stefan (Nino Fernandes) yang selalu penasaran akan Islam, namun tetap tidak mengerti akan indahnya Islam. Lalu adanya Marissa Nasution (yang ini saya lupa karakternya) yang tertarik dengan Rangga.
Untuk part pertama ini, lebih banyak menyusuri indahnya Islam, serta tempat-tempat yang bersejarah. Adanya Marion (Dewi Sandra) sebagai salah satu special appearance di dalam film ini yang berkarakter sebagai orang Prancis yang juga teman dari Fatma.
Terlalu fokus terhadap perjalanan Hanum dengan Fatma membuat film ini terkesan benar-benar menelusuri Vienna dari sudut pandang Islam, padahal di plot kedua, terdapat masalah yang dapat dikembangkan. Tidak hanya sekedar pemilihan Tuhan dengan hal yang bersifat duniawi, lebih masalah-masalah yang akan menunjukkan indahnya Islam dan juga membagun jiwa para penonton.
Namun sepertinya tidak dapat dimunculkan di bagian pertama dari film ini, hal yang bersifat dramatis malah muncul di bagian kedua nanti. Memang, ini menjadi tantangan tersendiri untuk sutradara bagaimana mengatur komposisi film lanjutannya menjadi tidak hambar, dan penuh akan drama semata.
Adanya Fatin Shidqia Lubis sebagai cameo di dalam film ini mengurangi esensi film ini. Mungkin karena bias, tapi rasanya dengan ada atau tidak adanya Fatin, tidak akan mengganggu cerita dari film ini. Untuk cameo, rasanya seorang Fatin masih belum bisa, karena ia sendiri belum menjadi superstar.
Dan juga kurangnya musik dan scoring membuat film ini menjadi lebih fokus ke dalam motion picture itu sendiri dibanding dengan penjiwaan yang mendalam. Sebagai seorang yang belum membaca novel "99 Cahaya di Langit Eropa", saya merasa takjub dengan chemistry antara Acha dan Abimana, Acha dan Raline Shah. Namun di sini Raline Shah belum dapat mengeluarkan sisi keibuannya. Terlihat sangat kaku ketika di dekat Geccha. Serta tokoh Khan sendiri masih menjadi pertanyaan, apakah ia menjadi orang penting atau hanya karakter yang akan membantu Rangga semata.
Untuk cerita pada plot pertama, saya merasa kagum, dan terus menghadirkan tanda tanya terhadap scene selanjutnya. Pada plot kedua, saya sudah dapat menebak serentetan drama yang akan terjadi. Sengaja dibuat bersih dan transparan, meskipun jika dihadirkan twist yang kecil akan membuat film ini lebih indah.
Berbeda dengan Laura dan Marsha yang sama-sama mengambil setting di Eropa, "99 Cahaya di Langit Eropa" memilih set yang tepat, terutama ketika di Paris. Itu tempat yang legenda, dan tempat itu pernah menjadi lokasi shooting dari 'Before Sunset' (Julie Delphy and Ethan Hawkes). Selain menyampaikan pesan, film ini juga mengajak kita berjalan-jalan ke Eropa, bagian Eropa yang indah.
It has been a history in century that Islam was the light for European. It seems they forgot for the one who gave them the light of life, technology, and hopes. And there's nothing to lose to know what exactly is. So "99 Cahaya di Langit Eropa" is a good movie to spend the day with your beloved. Beside showing off how good Islam is, the way Hanum and Rangga (on screen) represent as husband-wife really good. Fit to each other, and will give you some inspiration toward it.(as)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar