Sabtu, 21 Desember 2013

Dhoom:3 - When Villain has Reason

Ah... Darimana harus dimulai Ketika berbicara mengenai franchise satu ini, mungkin akan teringat dengan lagu 'Dhoom' yang pernah hits ditahun 2004 lalu. Dinyanyikan oleh Tata Young, seorang penyanyi Thailand. Lalu, dua tahun kemudian lahir sebuah sequelnya. Blockbuster.
Hrithik Roshan disandingkan dengan Aishwarya Rai. Siapa yang menolak jika disuguhkan dengan pasangan ini? Meskipun sebatas pasangan on-screen, dua artis ini sangat memiliki chemistry yang tinggi. Tidak terelakkan. Sedari Dhoom:2, lalu disusul dengan Jodhaa-Akbar yang menjadi film favorit di Filmfare 2008, serta Guzaarish. Undebatable.
Awal tahun 2013 lalu telah dirancang untuk sequel ketiga dari duo Jai-Ali ini. Dan tak tanggung, Aamir Khan menjadi villain di sequel ini. Tidak hanya Aamir Khan, yrf ternyata menggaet si sexy Katrina untuk bermain di sini sebagai 'Dhoom Girl' yang lalu 'Aishwarya Rai'. Once said, there's nothing that Aamir can't do. Membuat film dengan jenis Art House-pun, akan menjadi sebuah big hits jika ia telah turun tangan. Tidak hanya sebagai actor, ia-pun berhasil menggaet 'Best Director' untuk filmnya Taare Zamen Paar. Film pertamanya, dan juga satu-satunya hingga saat ini.
Aditya Chopra selaku produser-pun telah berkata, kalau Dhoom:3 ini adalah film Aamir. Tidaklah tanpa alasan ia mengatakannya. Karena diantara Dhoom franchise ini, kali ini adalah film terbaik yang pernah ada. Sebelum memasuki Dhoom:3 ini, ada baiknya coba kita review dari villain yang ada. John Abraham (2004), Hrithik Roshan (2006). Untuk pertama kalinya, Jai Dixit (Abhishek Bachchan) merupakan seorang hero, dan di sequel selanjutnya, ia tampak berbagi scene dengan si villain. Untuk seri ketiga dari Dhoom ini, Jai Dixit terlihat lebih lemah dibanding yang kedua. Kalah dari segimanapun. So, Aditya was right. It's Aamir's, not Abhi.
Berlatar belakang di Chicago (United States of America) Sahir Khan (Aamir Khan) menjalankan aksinya. Baik itu sebagai pencuri, juga sebagai seorang sirkus. Film dimulai pada tahun 1990, ketika Sahir kecil berusaha mencari duit dengan menjual cincin dan juga jam tangannya. Ia melakukannya untuk menyelamatkan The Great Indian Circus milik ayahnya (Jackie Shroff) pada hari itu, direncanakan untuk melunakkan hati direktur Bank of Chicago, Mr. Anderson (Andrew Bicknell). Namun taktir yang dilakukan tidak berhasil, alih-alih mendapatkan keringanan, Iqbal Khan lebih memilih mengakhiri hidupnya, tepat di depan Sahir kecil.
Villain has reason. Begitulah yang saya dapat ketika melihat kejadian tahun 1990 ini. Dimana tidak pernah terjadi di dua sequel sebelumnya. Tidak ada penjelasan khusus mengenai villain, hanya kemampuan yang dimiliki oleh villain tersebut. Film arahan Vijay Krishna Acharya yang ketiga dalam installment-nya ini memang sangat berbeda. Baik itu dari segi penceritaan, juga lokasi.
Jika pada instalmen kedua mengambil lokasi separuh di Rio, Brasil. Kali ini hampir 80% berlatar belakang di Chicago. Ntah apa mau dikata. Ini Bollywood atau Hollywood. Tapi, memang sangat mengganggu jika latar belakang western dengan dialog Hindi. Masih terdengar kurang valid, setidaknya ditelinga saya.
Tidak jelas alasan Jai Dixit beserta Ali Akbar dipanggil ke Chicago. Tidak ada penjelasan sama sekali. Intersection yang dipilih oleh editor malah terkesan Jai dan Ali sedang berliburan ke luar negeri. Dan mungkin banyak yang setuju bahwa setengah awal dari film ketiga Dhoom ini membosan kan. Introduction Sahir Khan as villain cukup menarik perhatian dengan segala teknis yang dilakukannya, dan juga dengan teknik pengambilan gambar yang lebih mantap. Hanya saja tap dance yang dilakukan Aamir Khan tidak begitu bagus, tidak bisa dijadikan hiburan. Dalam hal dance, Aamir tidak bisa lebih bagus dari Hrithik. Everyone in Bollywood admitted it, Hrithik really good at dance.
Karena ketidak-jelasan alasan Jai Dixit dipanggil kepolisian setempat, membuat Jai Dixit beserta Ali Akbar, yang menjadi kunci dari serial Dhoom ini terlihat mati. Tidak memiliki peran yang begitu penting, ada ataupun tidak, diganti maupun tidak, pertunjukan Dhoom 3 akan tetap berlanjut. Ya, begitulah kasarnya. Bahkan duo Jai-Ali ini dikalahkan dengan Aaliya (Katrina Kaif), the Kamli Ladki.
Khusus untuk Katrina Kaif, kali ini saya lebih bisa menerima perannya, selain sedikit fokus, juga hanya menjadi tempelan, dan lebih memperlihatkan aksinya sebagai seorang gymnastic. Kali ini yrf tidak salah meletakkan Katrina di dalam filmnya. Tapi perannya cukup penting untuk kisah Sahir Khan the Magician ini.
Adanya Pritam sebagai Music Director untuk Dhoom:3 ini membuat identitas Dhoom lambat laun mulai menghilang. Memang, masih santer terdengar alunan musik 'Dhoom' yang telah ada dari sequel pertama, hanya saja Pritam lebih menggunakan musik baru untuk memperlihatkan battle, dan juga Sahir's single battle versus polices.
Selain itu, terlalu banyak drama yang mengikat. Jika Dhoom:2 terkenal dengan partner in crime - fall in love - conclusion, untuk Dhoom:3 ini sendiri adalah meeting - doubting - failing - ghost protocol. Ya seperti itulah, banyak perbedaan yang nyata dapat dilihat dari sequel Dhoom terbaru ini.
Namun untuk secara keseluruhan, dalam sebuah film, Dhoom:3 berhasil memukau penonton dengan hari pertama mendapatkan 40cr. Sebuah fakta yang mengejutkan. Hanya hari pertama, dengan advance booking dan sejenisnya, tidak aneh. Dan lagipula, entah ini sequel Dhoom atau tidak, akan selalu ada penonton untuk Aamir Khan.
Tidak tau siapa yang mengambil nama, apakah Aamir, atau Dhoom series sendiri, tapi yang jelas ekspektasi orang tinggi akan film ini. Namun banyak yang tidak tercapai ekspektasinya, dimulai dari cerita yang tidak menarik, serta hilangnya identitas Dhoom.
Tapi tetaplah sebuah film yang pantas ditonton bersama keluarga tercinta di momen liburan natal dan tahun baru ini. Banyaknya gimmick mobil hancur, trik yang memukau, dan segala Hollywood type. Dan juga jangan kaget jika twist yang disuguhkan lebih dramatis dari yang dibayangkan. Twistnya cukup besar, dan itu dimulai sejak intermission.
So, dhoom seekers, challe mere saath. Let's get immersed in Aamir's movie, and forgot about Jai and Ali. They are controlled by Sahir Khan. And yes, don't forget Samar Khan... Who is he? Just come to your nearest cinema, and get immersed in love and faith. If being harsh, I would like to say that this is Now You See Me, Prestige, and Rain Man in one movie. To say what I got, I have to revealed the twist, but I choose not to. Just enjoy the ride with Aamir. (as)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar