Kamis, 12 Desember 2013

Soekarno (2013) - Are We Really Freed?

Entah dari mana harus memulai tulisan satu ini, sisi sejarah, atau bisnis. Sineas atau otentik. Film ini bukan sebuah propaganda ataupun sebuah penggeseran karakter untuk seorang founding father. Dapurfilm yakin dengan memilih Ario Bayu akan membawa efek yang lebih besar dibanding sosok karismatik Anjasmara yang lebih meyakinkan.
Tak terelakkan, kontroversi terjadi, antara pihak keluarga dan pihak produser. Pihak keluarga yang diwakilkan oleh Rachmawati lebih mempercayai Anjasmara dibanding Ario Bayu, namun sang sutradara, Hanung Bramantyo mempertahankan Ario Bayu karena dedikasinya terhadap perfilman Indonesia, dedikasi saat kerja, maupun kecocokan karakter terhadap Soekarno sendiri.
Mari tinggalkan sejenak mengenai otentikasi, karena sayapun tidak begitu ingat akan pelajaran sejarah mengenai hal ini. Dan sudah sewajarnya kita memberi penghargaan untuk para sineas yang mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk mengubah sejarah yang bersifat tekstual menjadi lebih audio dan visual. Lebih menarik untuk disimak.
Meskipun Hanung Bramantyo terkenal dengan keberaniannya membuat film yang penuh akan kontroversial, tapi sepertinya kali ini ia serius dalam menggarap autobiography mengenai bapak negara kita satu ini. Memang sengaja tidak bergelimang bintang, lebih fokus terhadap masa sebelum kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Berpuluh-puluh tahun Inggit Garnasih (Maudy Koesnaidi) menemani suaminya, Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan untuk rakyat Indonesia. Ditahan di Banding, diasingkan di Ende, serta ke Bengkulu karena penyakit malaria yang dialami oleh Bung Karno. Dari mengajak rakyat untuk bersatu hingga menjadi guru di sekolahan, telah dialami oleh Bung Karno. Inggit Garnasih sendiri bukanlah istri pertama, dan Bung Karno juga bukan suami pertama untuk Inggit. Mungkin kita bisa melihat silsilah untuk hal ini di wikipedia.
Film yang berdurasi 2 jam 30 menit lebih ini lebih berfokus pada Bengkulu dan Jakarta. Bengkulu di mana sebuah intro yang bagus untuk karakter ibu negara nomor satu milik Indonesia, Fatmawati yang dilakonkan oleh Tika Bravani.
Dengan lengsernya Belanda dari tanah Indonesia, maka Bung Karno dan Fatma berpisah, meskipun Inggit tau benar apa yang terjadi, dan ia tetap setia mendampingi sang suami, ke manapun. Masuknya Nippon ke Indonesia menjadi gerbang tersendiri untuk Bung Karno, karena 350 tahun Belanda tidak dapat tergantikan dengan cepat oleh Nippon. Mereka membutuhkan dukungan pemerintah setempat, orang yang dapat menggerakkan hati rakyat.
Memang tidak terpaparkan dengan sangat jelas mengenai cerita cinta antara Bung Karno dan Ibu Fatma, tapi hingga berpindah ke Jakarta, Inggit masih menemani dengan setia, namun hubungan yang tidak terputus memaksa Inggit untuk berpisah dari Bung Karno, meskipun Bung Karno tidak pernah mau mengambil jalan cerai.
Sudah menjadi takdirnya Inggit hanya sebagai benefactor yang sangat berjasa untuk Bung Karno, selepas dari Inggit, Bung Karno (Ario Bayu) langsung meminang Fatma, dan sisanya bisa dibaca dalam biografi seorang Bung Karno. Film hanya mediasi untuk menjelaskan secara audio dan visual, bukan ilustrasi dari kata-kata.
Mungkin alasan Dapurfilm adalah nilai jual dari Ario Bayu, namun di dalam keseluruhan film tersebut, adanya Bung Hatta (Lukman Sardi) yang membuat cerita menjadi lebih hidup dibanding perkenalan hidup Bung Karno itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan akting Ario Bayu, hanya saja penjiwaannya lebih bagus dilakukan oleh Lukman Sardi, tidak tau kenapa, setiap film yang ia bintangi, cukup bagus dalam eksplorasi karakter.
Sebenarnya masih banyak kekurangan film ini selain minimnya informasi, karena tidak semua orang mengetahui detail yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan tersebut. Mungkin bisa menjadi pelajaran untuk generasi mendatang.
Logat yang dibawakan oleh Tika Bravani yang berperan sebagai orang Sumatera kurang fasih, serta bahasa-bahasa penting lainnya, bahasa Jepang, Belanda dan lainnya. Ditambah para pemain pendukung kurang menggunakan dialek yang terdapat pada tahun itu.
Effort yang bagus dilakukan oleh Ario Bayu dalam berkomunikasi, namun untuk menjalankan sebagai kepala rumah tangga, Ario Bayu masih kurang, kurang terlihat kehangatan di dalam rumah tangga tersebut. Dan kurang memperlihatkan sisi flamboyan seorang kepala negara. Mungkin memang belum saatnya, karena Indonesia baru saja merdeka. Serta Tanta Ginting yang berperan sebagai Sjahrir juga cukup menjadi scene-stealer. Dan dalam penulisan yang dilakukan oleh Ben Sihombing masih kurang banyak quotes yang dapat diambil serta sepertinya memang tidak disiapkan sebagai film yang inspirasional dan motivasional.
Namun scoring yang dihadirkan sangat bagus, menggetarkan hati nurani sebagai suatu bangsa yang memiliki dasar Pancasila. Masih banyak meninggalkan pertanyaan di dalam karya besutan Hanung Bramantyo ini, namun menjadi bonus tersendiri untuk nonton film yang lebih dari 120 menit. Serta adanya ajakan untuk berdiri sekedar menghormati lagu Indonesia Raya merupakan tindakan yang benar, dan sangat disayangkan, di saat saya menonton, Citra XXI, 18:05, Kamis, 12 Desember 2013, tidak sampai 50% yang berdiri ketika lagu nasional tersebut diputar.
Secara pribadi, saya berterima kasih kepada seluruh sineas yang telah membuat film ini, maupun autobiography lainnya, K.H. Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah, K.H. Hasyim Asyari dalam Sang Kiai. Terima kasih untuk para sutradara, para produser. Dan terima kasih untuk Raam Punjabi yang telah bersedia menjadi produser di dalam film ini. Dan ditunggu biography pejuang lainnya.
We have been encouraged to praise our local product, and it's a great milestone of film Industry whereas about historical idols, and historical events. It's time to know our country better before other tell us. It's time to love our local product rather than others'. And inputs really need in term of betterment. If we aren't, then who will? If we're not pleased with our product, then how we will survive? Will we always be colonized? Soekarno and his friends were feel the pain of colonized by others, and now we are suffered for being colonized by our own government.
Will we always be a consumptive country? Will we always be feeding by others' countries? We have been freed since 1945, but we haven't stand with our own feet. Hatta were asking, "Are we ready to govern about 79 mio people?" If Bung Karno said no, maybe we haven't been this far, but he replied, "Let next generation make it better."
Sejarah memang sebuah pelajaran untuk kita, namun masa kini bukanlah peninggalan sejarah, melainkan titipan masa depan. Kita yang akan menentukan seperti apa masa depan, bukan sejarah, dan bukan masa depan itu sendiri. (as)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar