Minggu, 21 Desember 2014

PK - What a Class!

The most anticipated movie of the year. Setidaknya begitu yang beredar di kalangan media. Tidak hanya star factor, Aamir Khan, tetapi juga reka ulang kesuksesan 3 Idiots. Bersama Rajkumar Hirani yang terkenal dengan film-film berbobot tinggi dalam nilai serta norma-norma, Jika diulas balik tentang film-filmnya, sudah pasti akan menjadi jaminan sukses, ditambah dengan adanya star factor.
Aamir Khan merupakan salah satu aktor India yang berhasil nangkring di dalam Top 250 iMDB all times, dan PK termasuk di dalamnya. Bersama Abhijat Joshi, lagi dan lagi Raju Hirani membuat suatu karya yang memang kaya akan nilai-nilai yang selama ini melenceng di dalam sosialita.
Anushka Sharma mendapatkan peran di dalam film ini, yang mana ia juga pernah mencoba casting untuk film 3 Idiots. Tidak hanya itu, adanya Sanjay Dutt di dalam film ini menjadi daya tarik sendiri, Raju Hirani yang dikenal dengan dua orang ksatria ini pun akhirnya menggabungkan mereka ke dalam satu judul.
Sebuah alien mendarat di Bumi, di Rajasthan, India. Dengan segala perbedaan yang ada, terutama bahasa, membuat satu-satunya alat komunikasinya dengan kawanannya dicuri oleh orang pribumi. Karena terus mencari alat tersebut, ia dipanggil Peekay atau Pemabuk. Peekay (Aamir Khan) terus mendapatkan jawaban yang sama mengenai pertanyaannya. Hingga membuat ia mencari Tuhan. Yang mengarahkan ia kepada miskonsepsi mengenai Tuhan. Dengan pola pikirnya yang unik, membuat Jagat "Jaggu" Janani (Anushka Sharma) tertarik untuk menulis liputan mengenai keunikannya, serta pencariannya akan Tuhan.
Menghadap bosnya, Cherry Bajwa (Boman Irani) Jaggu mendapat masalah karena Cherry tidak ingin membahas mengenai hal yang berbau religi karena pernah mengalami pengalaman buruk ketika berhadapan dengan Tapasvi Maharaj (Shaurabh Shukla). Namun karena terhibur dengan polosnya pikiran PK, akhirnya Cherry setuju, dan akhirnya sampai pada satu debat antara PK maupun Tapasvi yang membawa masa lalu Jaggu menjadi tontonan bebas.
Jaggu pernah menjalin hubungan serius dengan seorang mahasiswa berasal dari Pakistan bernama Sarfaraz (Sushant Singh Rajput). Karena 'wrong number' yang terjadi, akhirnya Jaggu dan Sarfaraz berpisah. Hal itu pula yang membuat PK ingin menyatukan mereka.
In a nutshell, PK adalah sebuah film yang benar-benar sensitif, tapi juga menghibur. Bagi penonton yang memang berpikiran terbuka dan tidak gampang emosi, maka memang dapat menikmati setiap plot dengan mudah. Memang lebih menonjolkan agama Hindu, dimana ada Lord Shiva yang menjadi perhatian di dalam film ini.
Jika Munna Bhai dan 3 Idiots memiliki plot yang hampir sama, PK memiliki plot yang lebih segar, dan lebih komedi. Tentunya kualitasnya tetap terjaga. Rasanya film ini tidak perlu banyak promosi, karna nilai dalam filmnya sendiri sudah tinggi. (as)

Kamis, 11 Desember 2014

Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh.

Bisa dikatakan sedang bagus. Soraya Intercine Films, paska film fenomenal 5cm, terus membuat film yang memiliki formula yang hampir sama. Tak bisa dielakkan, rumah produksi film yang memiliki darah India ini menggunakan metode seperti negeri Bollywood sana. The actor. Seperti Arjun Kapoor dan Ranveer Singh. Mereka adalah yrf boy, kalau di sini, ada juga. Herjunot Ali, dengan sepak terjang consecutively three years, sudah sewajarnya ia menjadi Soraya boy. Debut sepuluh tahun lalu sebagai VJ MTV, dengan track record yang tidak begitu banyak film, sepertinya ini adalah sebuah redemption untuk Junot.
Now we're moving to the girl. Yak. Raline Shah. Namanya baru terdengar dua tahun belakangan ini, dengan debutnya pada film 5cm. Ia pernah menjadi pilihan untuk memerankan Hayati (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) yang digarap oleh sang produser langsung, Sunil Soraya. Namun karena ia belum begitu tenar, akhirnya peran Rangkayo Hayati jatuh kepada Pevita Pearce.
Pernah melakukan film bersama, tentunya tidak susah untuk menghidupkan chemistry antara Junot dan Raline. Tidak sampai disitu, casting director juga memilih Fedi Nuril untuk bergabung dengan projek ini. Lengkap sudah, trio 5cm., digiring ke dalam film ini.
Menggunakan formula yang sama bukan berarti pemeran harus sama. Ini hanya kebetulan karakter yang diperankan dapat direpresentasikan dengan aktor tersebut. Untuk musik, Soraya tetap menggunakan Nidji sebagai pengisi musik untuk Original Motion Picture Soundtrack. Tentu saja orang yang menonton filmnya akan dapat membaca formula ini, ditambah dengan jadwal tayang yang sudah diambil jauh hari sebelumnya. Akhir tahun.
Untuk yang suka memperhatikan sisi teknis sebuah film, pasti akan sangat sadar akan hal ini. Ensemble casts, groovy musics, and rightly release on December second week. It will be on the cineplex till the new year eve, for sure.
Tidak hanya itu, ketiga film Soraya-Junot ini semuanya berasal dari novel. Apakah itu bisa dimasukkan untuk mencari success formula milik Soraya?
Film ini diarahkan oleh salah satu sutradara ternama yang pernah dimiliki Indonesia, Rizal Mantovani. Dan juga, ia yang menggarap 5cm., jadi sudah jaminan mutu bahwa film ini akan sangat menyegarkan mata dengan indahnya pemandangan dunia.

Bermula dengan bertemunya Dimas (Hamish Daud) dan Reuben (Arifin Putra) di Washington D.C., berujung pada pengakuan orientasi seksual Dimas yang gay karena mereka sama-sama mengkonsumsi Serentonin. Pada saat itu, Reuben membuat janji bahwa 10 tahun lagi, ia akan membuat sebuah masterpiece, sebuah roman yang melampaui sains. Cerita tersebut berawal pada Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, secara paralel, hubungan kisah cinta terlarang dari seorang pengusaha muda, Ferre (Herjunot Ali) dengan wartawati muda dan cantik, Rana (Raline Shah) seorang istri dari Arwin (Fedi Nuril) yang merepresentasikan karakter dari Ksatria dan Putri.
Hadirnya seorang Diva (Paula Verhoeven) yang merupakan Bintang Jatuh yang dibuat oleh duo Dimas-Reuben.

Roman Ferre-Rana terasa begitu indah, dan didukung dengan teknik pengambilan gambar yang tepat dan pengaturan setting yang tepat menjadikannya sebuah momen romantis. Pertentangan batin yang tercipta di dalam diri Rana serta penantian Ferre akan jawaban Rana menjadi konflik yang hanya mereka berdua yang dapat menyelesaikannya.

Keadaan semakin kacau ketika Arwin mengetahui apa yang terjadi, dan ia yang begitu mencintai Rana ingin memberikan kebahagian untuk Rana, meskipun itu harus menceraikan Rana. Namun Rana yang tidak hanya menikahi Arwin, orang tua, keluarga, serta status sosial Arwin merasa itu sangat mustahil. Perceraian itu tidaklah hal yang lazim.

Awal jumpa Ferre dan Diva adalah ketika ia frustasi akan keadaanya. Keadaan dimana selalu Ferre yang ditinggal, baik oleh ayahnya, oleh ibunya, oleh kakek-neneknya. Hingga Rana, yang ia cintai dan mencintainya juga memilih bersama Arwin dibanding menghidupkan rasa yang sudah mengkristal tersebut.
Kisah tersebut menjadi lebih complicated ketika sosok cyber avatar yang dipikir hanya ada dalam tulisan Reuben dan Dimas, ternyata juga menghampiri mereka berdua. Tidak hanya itu, sang Supernova juga mencari penerus, dan mereka percaya bahwa dua orang ini dapat menjalankan Supernova sebagaimana mestinya.
Diakhiri dengan ketidakteraturan dunia, berpisahnya Ferre dan Diva. Diva menjadi tetangga Rana tidak berarti installment kedua dari film Supernova akan menceritakan tentang mereka lagi.
Dalam Novelnya, Dee, telah membuat serial Supernova hingga lima, yang terbaru adalah Gelombang. Hampir mirip dengan omnibus, tapi ini memiliki skala yang lebih besar, dan waktu yang lebih lama.
Dengan casts yang banyak, membuat para pemain harus tampil lebih ekstra untuk dapat mencuri perhatian penonton. Image Junot yang cool dari Zafran hingga Ferre bisa dikatakan bagus. Pembawaan karakternya juga dapat dibedakan antara tiga karakter sebelumnya. Raline Shah menawan dengan actively seducing Rana, dan Hamish Daud yang dapat membuat karakter Dimas menjadi lebih sentral, bersama Arifin Putra.
Arifin Putra yang seharusnya mendapatkan spot yang lebih banyak, malah digunakan sebagai supporting casts. Bagus, ia menempatkan posisinya dengan baik, tapi jarang aktor yang sudah sering menjadi lead, ataupun second lead untuk bermain menjadi supporting cast.
Balutan musik yang terkesan religius, mengantarkan sensasi film ini lebih wow dengan beberapa lokasi yang memang menawan.
Akan selalu ada dua kubu, yang lebih mencintai versi novel, maupun film. Namun satu hal yang kurang dari film ini. Sepertinya, gagal dalam engaging penonton. Mungkin bagi penonton yang sudah membaca novelnya, memiliki imajinasi tersendiri bagaimana cerita tiga tokoh tersebut, tapi untuk penonton yang sama sekali tidak mengerti akan mengalami kesulitan inti dari cerita tersebut.
Apakah itu fiksi, atau nyata. Apakah itu logis apa tidak. Meninggalkan banyak pertanyaan untuk hal teknis.
Overall, this movie is such another phenomenon. When romance meets fantasy, beyond all sciences notes. Have you prepared your self to get turbulence from this awesome Supernova? If yes, surely, do watch this movie. You won't regret it. And if you have no idea about this movie, just watch it, and do not think it further. It will squeeze your brain. (as)

Senin, 08 Desember 2014

Time to Vote


So, filmfare hasn't begin yet, but I just voted for Stardust Awards.
You could go vote also, here.
And if you want to know about my vote, go visit my tumblr.

 
-x0x0-

 
Have a nice day, folks.

Minggu, 07 Desember 2014

Preparing for Filmfare 2015


So, it has been quite a year. Time to give votes. But, hold on. It hasn't open yet.
I have few names in my mind, but I will speak on about other's idea about Filmfare awards. So many people said that this awards is not real, it's manipulative. But hold on, I am not agree on this point.
Because I scored them by the whole section of movie, some of my judgement were right. So I believe it has nothing to do with manipulative, but people can't understand the value of Filmfare itself. Embrace your self, folks.
So, first thing. What is filmfare awards?
Here you go, folks.
The Filmfare Awards are presented annually by The Times Group to honour both artistic and technical excellence of professionals in the Hindi language film industry of India. The Filmfare ceremony is of the oldest and most prominent film events in India
So it is like an event for show off, but not to mention, it also has its quality. One doesn't last longer if it wasn't true at all. Agreed?
To sum up, let me bring you a flash back! 59th Idea Filmfare. Who are the winners?
It divided into two, technical and main awards. For your information, technical goes to people who worked hard for the movies, but no one get noticed. At least normal people do. Even some people don't give a damn care to the director.
For main awards, some of my guess names were right. Such:
Best Actor went to Farhan Akhtar. I knew it since I watched Bhaag Milka Bhaag. No one will ever say that is a crap. He was so total in that character.
Best Actor (Female) went to Deepika. Agreed on the point. She nominated for two movies, but yes, Ram Leela was a great start to collect her Black Lady.
Best Music Director. None other than Aashiqui 2 team. Beat me. No one of you will know which movie was that. Furthermore, it has Shraddha Kapoor (daughter of Shakti Kapoor) and Aditya Roy Kapur. Not a familiar name, but the music is a nation scale. And the Playback Singer Male also went to the singer of the Nation Sound. Arijit Singh. I fell in love at the first sound! I did!
The rest gone raw. I don't have any idea why it could be win.
To look more about filmfare you could see this wikipedia. Yes, it is editable, but you could do cross check then.
To begin with 2014 release movies. You should visit this WIKIPEDIA.
I have watched several movies, in cinemas or illegally download. Beat me! No one distribute Hindi movies here.
Jai Ho. Nice movie. But it can't beat movies after.
Dedh Ishqiya. Not totally watched it. By necessary it means Boring. (It was not my cup of tea)
Hasee Toh Phasee. Newbies. Sid was debuted 2012, and Parineeti was debuted 2010. But this couple could bring love in to another level. But hold on, it was not iconic like DDLJ.
Gunday. Sholay wanna be. But it has conflicted with Bengali. If you look at the iMDB, you will see that this movie isn't touch 3 as yet. But it's YRF guys... Money Spinner of Bollywood.
Highway. This is the idea. You have credible director, Focus on the main lead, Alia Bhatt. She is newbie, so she won't ask for much money. And Boom! Great movie. You shouldn't miss this one. Highly recommended by me.
Shaadi Ki Side Effects. Balaji in action. Give this thought. Filmfare winners in one movie, should that be something to be proud of? But no... I mean no. This is was a nice movie, but won't bring both of them as nominee.
Queen. This is phenomenon. Here's the fact. It has ended, and few weeks after, cinema screen them again! I heard that due to people's demand. And yes. I was great movie. I mean nice one. You could traveling through movie. People was asking Kangna Ranaut for best actor for this.
I don't really care as long as Kangana wins for Queen. This year wasn't all that great to begin with. 

 

Kangana deserves best actress.
Shahid has done gud in haider.

I guess shraddha can also get power award as her two movies this year were awesome.
EV&Haider.

I giess ritesh and sid from EV also deserves an award.

 

Best Actress - Kangana for Queen, hands down. They'll most likely give it to Aaloo Bhatt, but it has to be Kangana.

 

Maybe Deepika will receive a nomination for Finding Fanny or win the Critic's Award. PC and Kangana both deserve the best actress! It could be a tie. Shahid DEFINITELY for Haider.
Katrina has no acting skills as usual.
Kangana and PC will be rewarded but Deepika's role in Finding Fanny shouldn't be ignored!

 

 

 
A Kangana, Priyanka and Deepika Fan:
Sharon
Well. Sort of... yeah... demand.
Total Siyappa and Bewakoofiyan. Same league movie. Total Siyappa has Kerr couple and Bewakoofiyan has Sonam and her father in law (not) to be. Ayushmann was good. But we can't expect an award from middle movie.
It has to be big or damn good.

Main Tera Hero. If anyone ask me about funny movie. This would be one of my answer. Man... to watch this movie, you could leave your brain in home or give it to zombies. *warning... do it on your own risk. Commercially succeed.

Bhoothnath Returns. Politics. Have no word. Casual movie, no out standing, except Ranbir for asking Voter ID. #hee

2 States. I think Dharma favors to use Newbie in movies. I don't know the reason, it could be good, or "bad" one. You know what I mean. Commercially succeed. And Arjun was remarkable brilliant in this movie.

Revolver Rani. If Vir Das succeed reliving the comedy area of SKSE, now he tried a lot to be a hero. But it turns out that Kangna deserves better recognition.

Purani Jeans. In a short, I should say that this movie is not capable for running around Filmfare. I bet you will not know all of the casts.

Hawaa Hawaai. We had Kai Po Che last year which is produced some nominees, but I don't think this movie will fly higher. It's a sport movie, anyway.

Heropanti. I have a son. He want to join Bollywood. Make him some movies! In short. But, I am my self, acknowledge Tiger's skill of act. And he could so some martial arts also. Considered for Best Male Debut. But yeah... you have to work harder, Tiger.

Holiday. One thing about Akshay Kumar you should know. He is progressing better, but it takes long run. He could do comedy, he could do drama, and he could do action as well. Holiday should be a consideration to put Akshay to nominee, but I can't vote for him.

Fugly. Boring movie (again, it is me).

Humshakals. Compared to Main Tera Hero. This is the most brainless movie. If I can watch Main Tera Hero for times. This one, just once in a life time. And I regretted for watching this. Saif also said that. His performance that good was 'Omkara'.

Ek Villain. Newbies. But it turned out that Riteish Deshmukh is capable of being psycho. And 'Galliyan' is another magic music that sang by Ankit Tiwari. Considered as best Music Director, but I am still examine it. Can't say it good just for one song. Maybe Playback Singer, but Music Director? Wait a moment.

Viola! We just passed half year. I won't post in sequence. So, bear with me. I will tell you more titles.

Bobby Jasoos. There's a plan... that 2014 will full of Jasoos. But it turned out that this female detective gone abroad too early. And yea... nothing stand out.

Lekar Hum Deewana Dil. Armaan Jain debut. Such a flick, if I may say. Nope. Nope. Nope.

Humpty Sharma Ki Dulhania. Newbies and boring. Seriously. I got split. In one case, this movie would be great if not title such DDLJ wanna be, and there is a potential story, but it turned out to be unwanted side dishes. Nope. But yea, commercially succeed.

Kick. Last year SRK. This year Salman. Next year maybe Hrithik... regularly they pick Eid date. People are gathering around, and movies is a best choice. Remake of Kick (Telugu). All was about Salman. Jacqueline was superb along with Randeep Hooda. But who will give a shit for RH? Think again.

Entertainment. Big failed movie, I guess. Akki is like usual. The bachelor boy, Sonu Sood is not better than Rammaiya Vastavaiya. I don't get the idea, and still... I regretted it.

Singham Returns. Better. Movement. But, hold on, I still love the first installment. 

Mardaani. Trafficking. Stolen. Yea, you heard me right. This is about Stolen remade with a female actor. And, it is Rani came back. Give a shot! I love it.

Mary Kom. PeeCee astonishing in this title. Autobiography from a Boxer, Mary Kom. Desperately join 100cr club by its one month release. But, the performance is brilliant.

Finding Fanny. Exceptionally great movie. I mean great is way ahead good. All casts was superb. And Deepika Padukone nailed it. 

Dawaat-e-Ishq. Feast of love. Light movie. Good music. Have no reason to avoid this beautiful movie. But it has tough competitor. Khoobsurat. Let me tell you. Parineeti is a great actress. And the actor who could act with her and make her look not so good is good actor as well. Yes. Mr. Kapur show his ability of acting. Give him applause.

Khoobsurat. Disney theme. And yea. Good movie. Fawad Khan is unbearable. Considered for best debut male. But, hold on... who even care? He is Pakistani.

Coming to October. My fave month. My fave movies!

Bang Bang. A remake. A Hrithik. And Big movie. What are you waiting for? But yea... Watch it for Hrithik. He retake all scene while stunts doing it not so good. Good music and dance... Who will deny Hrithik's dance?

Haider. Head to head with the big, Haider show it true value thru the audience and remarkable genius act by Shahid Kapoor. Once again, if I have to vote best actor, it should be him. Nevertheless. Both Shahid and Vishal didn't take a penny. And Shraddha is quite a performer as well.

Happy New Year. Total entertainment. I can't lie. This movie won't get any acknowledge except for Abhisekh for his brilliant performance, but we have Riteish as well from Ek Villain. So, it will be a tough fight.

So... those all this year movies that I've watched. And will try to watch the rest...
Now coming to our expectation. I dragged from this funny site. http://www.india-forums.com/forum_posts.asp?TID=4183557&TPN=3.
Best Actor - Shahid - Haider
Best Actress - Kangana - Queen
Best Film - Queen/Haider/PK
Best Director - Vishal Bhardwaj - Haider

 
Best Supporting Actor - Kay Kay Menon - Haider
Best Supporting Actress - Tabu - Haider

 
Best Music - Mithoon, Ankit Tiwari - Ek Villain
Best Singer Male - Aao Na - Vishal Dadlani - Haider
Best Singer Female - Kanika Kapoor - Baby Doll - Ragini MMS2
Best Lyrics - Aao Na - Gulzar - Haider

 
Best Film Critics - Highway
Best Actress Critics - Priyanka Chopra - Mary Kom
Best Actor Critics - Randeep Hooda - Highway

 
Best Choreography - Bhismil - Haider
Best Action - Kick or Bang Bang
Best Cinematography - Highway
Best Art Direction - Haider

 
Filmfare Power Award - Alia Bhatt for 3 appreciated performances - HSKD, Highway & 2 States

From the list... one thing for sure. Shahid Kapoor. He should get an award for his brilliant 'Chutzpah' Haider.

 
Comments are welcome.

 

Kamis, 13 November 2014

Haider - Another 'Chutzpah' Adaptation


Let it be plain.
To feel Haider's agony.

Rilis bersamaan dengan film mega besar Bang Bang yang dibintangi oleh superhero Bollywood, Hrithik Roshan, tidak membuat Vishal maupun Shahid Kapoor takut kehilangan penonton. Bagaimana juga, ini bisnis.
Kerja sama Vishal Bhardwaj dengan Shahid Kapoor dimulai pada film Kaminey, dimana Shahid Kapoor berperan ganda, menjadi kembar, dengan karakter seperti Manu-Dada, (Duplicate, Shahrukh Khan). Sepertinya, Shahid Kapoor menemukan chemistry tersendiri dengan sang sutradara, ia menerima tawaran film ini tanpa imbalan apapun, walaupun ia ditawari untuk menjadi Rajveer Nanda (Bang Bang, Hrithik Roshan) dengan bayaran yang cukup, 25crores.
Bang Bang mendapatkan review yang sederhana, dengan action yang mantap, sukses mengantarkan Bang Bang menjadi film yang paling laris pada minggu pertama tayang.
Mendengar berita ayahnya hilang, Haider (Shahid Kapoor) kembali ke Jummu, Kashmir. Ia melihat rumahnya hancur lebur ditemani oleh Arshia (Shraddha Kapoor). Ia mendapati ibunya, Ghazala Meer (Tabu) sedang asik bersenda gurau dengan pamannya, Khurram Meer (Kay Kay Menon). Dengan bantuan Arshi yang merupakan seorang jurnalis, ia berusaha mencari ayahnya, Dr. Hilal Meer. Lalu, perubahan karakter Haider menjadi sangat signifikan dengan seiring berjalannya cerita. It's Hamlet. You could google the full story!
Haider, lebih menonjolkan drama konflik yang sebenarnya sering diangkat ke dalam film, maupun drama serial, atau sinetron. Diberi nuansa comedy yang dilakukan oleh duo Sumit Kaul-Rajat Bhagat yang berperan sebagai Salman (keduanya bernama Salman) yang juga penggemar Salman Khan. Mungkin ada terdapat time constraint, dimana latar belakang adalah tahun 1995, meskipun Salman Khan sudah terkenal pada saat itu, kebanyakan film yang dibawa di dalam film adalah film Salman yang diproduksi di atas tahun 1995.
Roohdar (Irrfan Khan) yang masuk ke dalam cerita membawa suatu vibe baru di dalam drama Haider dengan keluarganya, dan juga avatar Irrfan Khan yang begitu memukau, memang pantas untuk menjadi perhatian, meskipun tidak mencuri spot Shahid Kapoor.
Alunan musik yang diusahakan oleh Vishal sebagai music director juga mendukung film menjadi lebih intense, namun, gemercik cinta yang hadir diantara Haider dan Arshia tidak dipoles begitu bagus, namun Arijit Singh dapat menghadirkan suasana cinta di dalamnya.
Bismil saga juga begitu mempesona yang membawa Shahid Kapoor, sebagai salah satu penari hebat yang pernah dimiliki oleh Bollywood memang menjadi suatu suguhan yang indah. Namun, dengan kostum yang seperti itu, pergerakan Shahid Kapoor tidak begitu lincah seperti yang sudah-sudah. Mungkin, Vishal Bhardwaj akan mendapatkan sindiran seperti yang diterima oleh Sanjay Leela Bhansali pada 59th Idea Filmfare. (see Filmfare Awards)
Dibandingkan dengan tarian Hrithik di Tu Meri (Bang Bang) memang lebih memukau, namun, untuk musik yang memiliki jiwa, Haider memiliki banyak.
Pada adegan klimaks, putihnya salju dilawan dengan merahnya darah menjadi pengalaman tersendiri bagi penonton, dengan kontras warna tersebut, menghasilkan depresi yang begitu dalam. Semuanya habis seketika seperti bom atom. Juga, lagu So Jao juga merupaka lagu yang enak didengar.

In short, Haider merupakan alternatif penceritaan ulang dari kisah yang dibuat oleh William Shakespeare yang bertajuk 'Hamlet'. Adegan favorit, dan juga menjadi adegan terbaik di dalam film ini adalah ketika Haider berada di time square (model) yang ia berorasi, dengan pidato seperti berikut:
Chutzpah Monologue Hello? Hello? Mic testing 1,2,3... Hello...? Awaz aa rahi hai aap laog ko? Hello, hello, hello, hello, hello? UN council resolution no. 47 of 1948, Article 2 of the Geneva convention, and Article 370 of the Indian Constitution. Bas ek sawaal utahta hai, sirf ek. Hum hai, ya ham nahi. Hum hai to kaha hai , aur nahi hai to kaha gaye ? Hum hai to kisliye aur kaha to kab? Janaaaaab... Hum teh bi, ya hum teh hi nahi? CHUTZPAH ho gaya hamare sath! Chutzpah jante hai aap log? Dacoti na bank gai to dheklte hoi... Dacoit ne bank ke cashier per pistol raki aur bola paise de warna maut le! Cashier ne jat so oota kar saare paise usko dey diye Dacoit paise le kar ugle counter per gaya . *Whistles innocently* Excuse me, ek form dijaye mujhe account kholna hai... Yeh hoota hai CHUTZPAH! CHUTZPAH!
 Adalah sebuah keuntungan untuk dapat merasakan cinema experience untuk film yang bagus, meskipun, tidak menyuguhkan item song seperti film-film Bollywod yang pernah ada. Dan, jangan kaget kalau Shahid Kapoor mendapatkan black lady untuk ini, meskipun ada beberapa saingan, tapi, banyak yang akan memilih Shahid untuk menjadi pemenang, karena tidak mungkin Shahrukh dengan Happy New Year. It's all about love. Shahid and Vishal did the best, and outcome will speaks on behalf. To believe or not to believe. (as)

Sabtu, 25 Oktober 2014

Bang Bang! (2014) - Oops.

It is a remake. And it is official. Hanya dua kata itu yang dapat mewakilkan film Bang Bang. Film yang menceritakan ulang Knight and Day (Cruise, Diaz) dengan memasang Hrithik Roshan sebagai pentolan dan Katrina Kaif menjadi hot chick di dalam film ini.
Bersamaan dengan Haider (Shahid Kapoor, Shraddha) rilis pada tanggal 2 Oktober, Bang Bang mendapatkan perhatian khusus, tidak hanya dari fans Hrithik, juga dari penikmat wajah cantik Katrina, meskipun ia tidak begitu bisa ekspresif seperti July (Cameron Diaz) di Knight and Day. Then, It's Bollywod, baby.
Untuk cerita, Bang Bang! hanya melengkapi apa yang kurang dari Knight and Day. Berawal pada Omar Zafar (Danny Denzongpa) yang ditangkap oleh FBI, lalu Capt. Viren Nanda (Jimmy Shergill) datang untuk menjemput, lalu membawa ke India. Namun itu hanya wacana semata, Viren dinyatakan dead on a mission.
Kohinoor, menjadi incaran Omar Zafar. Rajveer Nanda (Hrithik Roshan) berhasil merebut Kohinoor dari instana Inggris. Dari situ, Omar mengincar Rajveer. Yang tidak sengaja, Rajveer menjadi pasangan Harleen Sahni (Katrina Kaif) yang mencoba online dating di Trueluvv.com. Dalam semalam, hidup Harleen yang biasa saja menjadi luar biasa, dikejar oleh berbagai pihak, Zorawar (Pavan Malhotra) dan juga anak buah Omar Zafar lainnya.
Adanya Pratik Dixit sebagai comic-artist untuk film ini juga tidak begitu membantu film ini dari inti yang tidak begitu berubah dari film aslinya. Setidaknya, dapat terhibur dengan dance Hrithik yang tidak pernah mengecewakan di dalam lagu Tu Meri.
That's all. Big movies, nothing substance. Go for your preference. (as)

Happy New Year (2014) - All time Entertainer.

Mari dimulai dari perjalanan duo Farah-Shahrukh di dalam industri Bollywood. Shahrukh memluai karirnya sebagai aktor pada tahun 1992, dan Farah Khan telah lama menjadi choreographer untuk Bollywood. Hubungan aktor-sutradara di antara mereka terjalin pada tahun 2003-2004, dalam membuat film untuk Red Chillies (former Dreamz Unlimited), Main Hoon Na. Blockbuster. No wonder, it's Shahrukh.
Lalu, pada kesempatan kedua, mereka dipertemukan lagi dengan mengorbitkan bintang baru, yang pada tahun itu, terjadi regenerasi yang cukup banyak, Anushka Sharma, Ranbir Kapoor, Sonam Kapoor, Deepika Padukone, adalah nama-nama para debutan pada saat itu. Shahrukh membantu dua aktris, Deepika Padukone, dan Anushka Sharma.
Om Shanti Om. Film kedua Shahrukh yang diarahkan langsung oleh temannya ini mempromosikan Deepika Padukone ke dalam industri Bollywood. Setelah itu, leading actors Om Shanti Om dipertemukan kembali di bawah naungan Red Chillies untuk film yang disutradarai oleh Rohit Shetty. Hasilnya cemerlang! Deepika Padukone sangat-sangat berubah dari seorang aktris yang kaku menjadi seorang performer hebat.
Untuk tahun 2014, Shahrukh sudah mengumumkan bahwa hanya akan ada satu judul film yang akan tayang, yaitu Happy New Year. Tidak ada keraguan dalam memilih leading female, Deepika Padukone. Meski Shahrukh membantah kalau ia tidak berperan dalam pemilihan sang aktris, tetap saja, dua tahun berturut-turut dengan pasangan yang sama, bisa saja sebuah aji mumpung.
So, Happy New Year is like reunion of Om Shanti Om. Bear with that idea.

Chalie (Shah Rukh Khan) adalah anak Manohar (Anupam Kher) yang hidupnya berubah hanya dalam semalam, pada saat tahun baru. Manohar dijebak oleh Charan Grover (Jackie Shroff) yang mengakibatkan Manohar mengakhiri hidupnya di dalam sel tahanan, dibanding hidup tanpa pengharapan yang jelas.
Delapan tahun sudah berlalu, kini Charan memiliki segalanya, Charlie sudah merencanakan untuk membalaskan dendam, ia tidak dapat melakukannya sendiri, ia membutuhkan tim. Ia menjemput kerabat dekatnya, Jag (Sonu Sood). Dan juga, ia menjemput Tammy (Boman Irani) yang merupakan teman dekat sang ayah, dan juga lock specialist.

Sistem yang diakui oleh Charan sebagai miliknya adalah hasil kerja Manohar, yang kini menjadi berangkas teraman yang pernah ada. Dilengkapi dengan beberapa sistem yang dioperasikan komputer, membuat Rohan (Vivaan Shah) seorang remaja yang ahli dalam meretas sistem komputer bergabung dalam tim ini, yang dinamakan Team Diamond.
Charlie menjelaskan bagaimana sistematika keamanan yang akan mereka hadapi, terdapat satu ujian yang harus dilewati. Bahwa hanya Vicky Grover (Abhishek Bachchan) yang bisa membuka ruang berangkas tersebut. Hal itu membawa Charlie dan the angels menjemput Nandu (Abhishek), seorang alcoholic.
Team up. Semuanya sudah terbentuk, sudah mengetahui rencana dan siap untuk beraksi. Satu-satunya cara untuk dapat melakukan operasi ini adalah dengan masuk melalui sebuah kamar hotel yang ternyata kamar tersebut sudah dibooking untuk para peserta World Dance Championship. Hal ini pula yang mempertemukan mereka berlima dengan Mohini (Deepika Padukone) seorang penari bar yang sangat suka terhadap bahasa Inggris, namun tidak dapat berbahasa Inggris dengan benar. All set, then go.
Di film ini juga, terdapat beberapa cameo. Ada Sajid Khan, Prabhudeva, Geeta Kapur, Vishal Dadlani, dan Anurag Kashyap. Meskipun tidak seperti Om Shanti Om, yang berhasil mengumpulkan aktor ternama di ranah Bollywood, kali ini Farah Khan memberikan pemandangan baru, eksotisme Dubai.
Film ini memiliki kualitas yang lebih bagus dibanding Om Shanti Om, namun film ini juga merupakan degradasi untuk Shahrukh sendiri. Sadar atau tidak, Shahrukh yang berperan sebagai Charlie di dalam film ini bagaikan seorang sutradara di dalam film ini. Ia yang menyuruh Jag untuk berkelahi, merakit bom, dan yang lainnya. A total heart broken fact.
Dengan pembelaan labor of love, tetap saja Shahrukh alasan untuk menonton film ini. Apalagi kita, sebagai orang luar, pasti akan menontonnya, karena ini Shahrukh. Juga, fakta bahwa Happy New Year mengalahkan Dhoom 3 untuk show hari pertama. So, it begins at forty.
Ceritanya sendiri tidak begitu eksklusif, karena bisa ditebak oleh penonton, namun suguhan visual effect yang ditangani oleh Red Chillies adalah sebuah milestone untuk mereka. Bahkan dengan rilisnya film ini, Red Chillies merubah logo mereka.
In short, Happy New Year adalah film yang tepat untuk ditonton bersama keluarga. Jangan harapkan akting yang luar biasa dari Shahrukh, kali ini ia benar-benar lepas kontrol, dan mungkin ini juga yang akan menjadi titik jatuhnya Shahrukh, lalu bangkit dengan Fan dan Raees tahun depan. Tontonlah film ini tanpa harapan yang tinggi, sehingga film ini dapat menyihir kalian dengan lelucon yang lucu. (as)

Rabu, 27 Agustus 2014

Bobby Jasoos (2014) - Heartwarming Conclusion with Detective Work

Let's say... tahun ini, akan ada dua judul film yang bertema detektif. Selain Bobby Jasoos, akan ada Jagga Jasoos dan Detective Byomkesh Bakshi. Kedua film tersebut tidak main-main, Jagga Jasoos yang diarahkan oleh Anurag Basu dengan Ranbir Kapoor sebagai pemeran utama, ditantang oleh Byomkesh Bakshi yang percaya pada Sushant Singh untuk pemeran utama. Hmm... Bagaimanakah perjalanan para detektif tersebut di tahun 2014?
Bobby Jasoos, dengan pentolan pemegang Black Lady untuk filmfare tahun 2012 yang mengalahkan Priyanka Chopra (Barfi) atas perannya di Kahaani. Karan Johar mengatakan bahwa Vidya Balan adalah money spinner yang handal. Lantas untuk film ini menjadi perhatian para cine-go tersendiri.
Bilkis atau yang lebih biasa dipanggil Bobby memiliki hobi sebagai detektif. Ia mencoba berkali-kali untuk bekerja dibawah naungan detektif terkenal. Namun, usahanya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil.
Dan, semenjak itulah petualangan seorang Bobby dimulai. Adanya Khan saab (Kiran Kumar)
Tidak banyak yang dapat diulas dari film yang ditujukan untuk menjadi thriller, hanya saja outcome yang didapat berupa heartwarming scene yang tercipta oleh Khan saab dan yang lainnya.
Overall.
It is just a waste of time. No, don't take it as hatred to the movie. I mean, you could do something better than watching this one.
And I admitted, I have nothing to say to this movie. I didn't know the team, and things.

Ceritanya berujung pada daughter-father relationship. Ntah mengapa film ini menjadi sangat membosankan.
(peace)

Senin, 02 Juni 2014

Gunday (2014) - Friendship Upon All

Mari dimulai dari Bikram dan Bala. Siapa mereka? Iya. Mereka adalah tokoh utama dalam cerita Gunday yang berlatar belakang Kolkata pada tahun 70an ini. Sinopsis, secara singkat adalah cerita dua orang sahabat, yang selalu bersama dalam menghadapi kejamnya hidup. Dari pengungsian hingga illegal working. Menjadi target semua para musuh hingga polisi juga mengejar mereka, hanya saja bukti tidak ada. Hingga pencarian bukti itu terus dicari.
Pencarian tersebut melibatkan Nandita (Priyanka Chopra) yang mengaduk perasaan Bala dan Bikram, hingga persahabatan mereka menjadi taruhan dalam mengejar cinta ini. What a movie!
Let's break it down.
Gunday ini adalah sebuah drama romance yang dibesut oleh Yash Raj film. Shanu Sharma sebagai casting director telah menemukan dua artis ini ketika Gunday sendiri masih dalam ide pembentukan. Hal ini dapat dilihat pada Koffee With Karan season 4.
Ketika melihat rating Gunday di iMDB, pasti tidak ingin menonton, karena film ini mendapati rating 1.6/10. Kaget? Saya juga.
Try to be fair. I guess we should give it half of rate. Akting Arjun Kapoor yang berperan sebagai Bala lebih bagus dibanding dengan Ranveer Singh. Setidaknya, dalam karakterisasi, Arjun Kapoor lebih dominan dibanding Ranveer Singh. Sementara itu, untuk Priyanka Chopra yang sudah berpengalaman dalam dunia akting, tak jauh dari Roma di Don. To be honest.
Konteks yang disuguhkan oleh YashRaj memang terpecah fokusnya. Apakah sebuah cerita mengenai dua orang sahabat, atau actualization mengenai latar belakang. Karena, ternyata Gunday memiliki masalah karena latar belakang yang dimilikinya. Bangladesh. Hal ini menyebabkan amukan massa dari Bangladeshi. Well, rasanya tidak kaget kalau film seperti ini mendapat rating yang tidak wajar. But leave it there, since it's YRF anyway. They are money spinner.
To be concluded, Gunday is a movie that shows you about friendship. Can't say anything about it, since it was a controversy movie. Even YRF did an official apology to Bangladesh, but the scar still there. Watch it if you really want to know the meaning of friendship. (as)

Jumat, 18 April 2014

2 States - Endearing journey with lot of obstacles

Film yang bertajuk tentang perbedaan kultur ini memang menjadi film yang ditunggu-tunggu, tidak hanya karena dipromosikan dengan baik, juga karena 2 States sendiri adalah sebuah film yang berdasarkan novel semi autobiography dari Chetan Bhagat. Akan selalu ada pro dan kontra untuk membahas sebuah film yang diadaptasi dari novel. Film hanya sebuah wadah untuk menjadikan imaginasi pembaca menjadi universal, meskipun kreativitas manusia itu berbeda.
Ini adalah film kedua Dharma Productions pada tahun ini, dengan casts yang baru, sepertinya Karan Johar ingin membuat 'student'nya menjadi lebih berpengalaman di dalam dunia akting. Sudah menjadi tradisi di dalam industri untuk mencoba segala macam formula untuk menciptakan film yang box office. 2 States merupakan film yang diarahkan oleh Abhishek Varman, seorang debutan sutradara yang sempat menjadi assistant director untuk dua film ternama, Jodhaa-Akbar dan My Name is Khan.
Untuk musik, kali ini sepertinya Dharma memilih Shankar-Ehsaan-Loy, setelah victorious year kemarin, sepertinya akan menjadi bantuan tersendiri untuk mengundang penonton. Musik yang bagus didukung dengan timing yang bagus akan sangat memorable, hanya saja sepertinya peletakan musiknya terlalu kacau, sehingga tidak begitu memorable.
Untuk plot cerita sendiri, Chetan Bhagat tidak turun tangan dalam screenplay, sehingga apa yang disuguhkan murni dari Abhishek selaku sutradara dan screenplay didukung dengan Hussain Dalal pada bagian dialogue, yang juga memegang Yeh Jawaani Hai Deewani tahun lalu, hanya saja masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi bukan berarti tidak bagus. Hanya saja mirip dengan penempatan lagunya, tidak memorable sama sekali.
Krish Malhotra (Arjun Kapoor) anak tunggal dari Vikram dan Kavita. Sempat mengawali kuliah di IIT(Engineer) dan akhirnya berbalik arah ke IIMA (Management). Di sanalah ia bertemu dengan Ananya Swaminathan (Alia Bhatt), seorang tamilian yang sama sekali tidak terlihat seperti south indian (Well, in this case, I really don't know what's the differences except their languages). Ananya terlihat begitu lancar dalam berbahasa Hindi, dan juga parasnya yang cantik menjadi sasaran para mahasiswa IIT. Krish dan Ananya menjadi dekat karena pada satu kelas, Ananya gagal menjelaskan rumus matematika dari sebuah kurva ekonomi, Krish berusaha untuk menenangkan Ananya, berujung pada undangan belajar bersama, alias pendekatan secara tidak langsung.
Tiga tahun mereka lalui bersama hingga pada akhir masa perkuliahan Ananya bertanya akan hubungan yang nantinya akan terpisah akan jarak, dan perbedaan kultur. Krish kembali ke Delhi dan Ananya kembali ke Chennai, bekerja di Sunsilk. Krish telah berjanji akan bekerja di kota yang sama dengan Ananya, sehingga mereka tidak harus mengalami LDR. Awalnya berat untuk melawan keinginan orang tua, terlebih Krish begitu sayang dengan ibunya. Hingga kekacauan itu lagi dan lagi muncul, yang menyebabkan Krish membulatkan keputusan untuk kerja di Chennai. Lebih tepatnya meluluhkan hati orang tua Ananya, kerjaan yang lebih berat dibanding menjadi seorang pekerja di Yes Bank.
Salah satu keunikan dari Abhishek adalah ia mampu membawa penonton ke dalam usaha Krish dalam meyakinkan orang tua Ananya, dan juga meyakinkan orang tuanya sendiri. Mungkin di sini, di Indonesia jarang menjadi kasus inter-cultural marriage, tapi di India sana, hingga kini masih menjadi kebiasaan walaupun negara penjinak ular ini terkenal dengan toleransinya yang kuat, tetap saja ingin diperlakukan eksklusif di dalam komunitas (setidaknya seperti itu).
Namun side story yang dimiliki oleh Krish lebih menarik dibanding dengan perjalanan usaha Krish dalam mendapatkan restu dari kedua belah pihak. Hubungan Krish dengan ayahnya Vikram (Ronit Roy) tidak begitu baik, sehingga di dalam keluarga ini terdapat kesimpang siur yang mengakibatkan tekanan dari berbagai pihak. Memang akan selalu menarik ketika membahas tentang Father-Son relationship, dan ini juga dikarenakan akting dari Ronit yang begitu memukau.
To sum up, this is quite an endearing journey of Krish and Ananya, but for whole package, it seems they had a lot of troubles. Arjun simply did it, but he is no where, and Alia trying very hard to fit in her role, but she isn't going anywhere. And it will be case per case basis, but for a movie, it is just convinced me what Krish had done is really tough and I want it to be happy at the end, and yet I don't know the conclusion beside they made their way. Ronit Roy is the one that brought up emotional sense of the movie.
Quite famous words they had about this one, 
'Love marriages around the world are simple:
Boy loves girl. Girl loves boy. They get married.
In India, there are a few more steps:
Boy loves Girl. Girl loves Boy.
Girl's family has to love boy. Boy's family has to love girl.
Girl's Family has to love Boy's Family. Boy's family has to love girl's family.
Girl and Boy still love each other. They get married.'
Kalau ditanya harus ditonton apa tidak, harus ketika menghabiskan long weekend tanpa ada itinerary yang khusus, terlebih akan terbawa dengan suasana galau yang diciptakan oleh Krish dan judes cantiknya Ananya. Dan akan lebih menarik jika kalian tau mengenai India sedikit, tidak hanya sebatas sebuah negeri yang memiliki Shah Rukh Khan. Dan iya, jika berniat untuk menikah dalam setahun atau dua tahun kedepan, ada baiknya ajak orang tua nonton ini. It's all about love, nothing else. (as)

Rabu, 12 Maret 2014

Highway (2014) - Shocking event, yet warming conclusion

Shaadi Ke Side Effects muncul dengan gagah berani karena dua casts yang pernah mencicipi black lady, bahkan 3 kali untuk Vidya Balan. Highway justru berani dengan casts yang baru, dan tidak begitu terkenal seperti pentolan SKSE. Alia Bhatt, muridnya Karan Johar ini berhasil membuktikan bahwa ia adalah seorang aktor yang tidak hanya berbakat dengan dempulan-dempulan make up yang kerap kali ditemukan di dalam diri seorang heroine.
Randeep Hooda sendiri lebih berpengalaman di dunia akting, namun namanya juga tidak begitu nyaring seperti Ranbir Kapoor. Dengan dua casts ini, Imtiaz Ali membuat sebuah keajaiban dengan suguhan perjalanan selama 133 menit di dalam bioskop.
Imtiaz Ali termasuk jajaran sutradara handal yang pernah dimiliki oleh Bollywood, Filmfare pernah mengabadikan 7 sutradara paling berpengaruh di Bollywod. Rakesh Roshan, Farhan Akhtar, Rajkumar Hirani, Ashutosh Gowariker, Rakesyh Omprakash Mehra, dan Sanjay Leela Bhansali. Superb.
Highway saat ini dinilai 7.9/10 di situs perfilman paling besar, internet movie database (IMDb). Beberapa reviewer bingung untuk memberi rate sendiri. Bukannya bermain aman, tapi untuk kepuasan sendiri, saya sarankan untuk nonton film-nya sendiri, tentunya dengan membeli DVD original.
Mengisahkan Veera Tripathi (Alia Bhatt) yang mengalami social pressure akibat pernikahan yang sudah dekat. Hal ini biasa terjadi kepada wanita yang belum siap untuk menikah, dan sangat wajar jika terjadi. Pada dua hari sebelum pernikahannya, ia menghubungi calon suaminya, Vinay untuk refreshing sebentar, sekedar berjalan-jalan di sepinya malam.

Pada saat mengisi bensin, terjadi sebuah adegan kriminal dimana disaksikan oleh dua sejoli ini, hanya saja Vinay selamat dari ancaman para kriminil tersebut. Veera diculik, tidak ada alasan kenapa harus Veera, kenapa bukan Vinay, tidak memiliki kejelasan sama sekali, mungkin Imtiaz Ali dapat membuatnya lebih jelas dengan memperkenalkan siapa Veera sebenarnya.
Mahabir Bhati (Randeep Hooda) yang tidak terima kenapa anak Tripathi-ji tidak boleh diculik akhirnya memilih berpisah dengan yang lain, demi mencapai tujuannya. Pada saat ini masih terlihat belum jelas tujuan dari sutradara, hanya saja fokusnya penonton akan menjadi bonus tersendiri ketika melihat Veera mulai tidak berhenti berbicara.
Stockholm Syndrome, sebuah sindrom yang ternyata dialami oleh Veera. Ia lebih senang berada diantara Mahabir dan teman-temannya dibanding berada di dalam rumahnya. Hingga langkah Mahabir terhenti karena pencarian Veera sudah melebar, dan ia ingin meninggalkan Veera di kantor polisi. Hubungan yang terjalin antara ia dan Veera membuat ia lebih memilih untuk bertanggung jawab, untuk menemani perjalanan anak pejabat tersebut.
Mahabir merindukan kasih yang dulu sempat diberikan oleh ibunya, kini ia temukan di Veera. Seorang korban penculikan dari aksi konyolnya yang lebih menghargai dirinya, dibanding yang lain. Sehingga apa yang terjadi di sepanjang jalan adalah sebuah pengalaman yang tidak saja dialami oleh tokoh Veera, tetapi juga penonton. Jika Gravity adalah sebuah film survival, maka Highway tidak jauh berbeda, hanya saja semuanya dibalikkan lagi ke penonton, akankah penonton menyukai apa tidak.
Bukan bermaksud untuk membandingkan, hanya saja dengan balutan setting yang indah serta alunan musik dari A.R. Rahman adalah rumus yang tepat untuk membuat sebuah film. Hanya saja, sebuah pengalaman yang disuguhkan tidak begitu banyak musik, minim musik, hanya alunan yang beberapa kali terdengar. Kisah Veera dan Mahabir bukanlah seperti kisah Raj dan Rashmi di dalam Qayamat Se Qayamat Tak yang penuh dengan halangan, meskipun sempat terpikir akan berakhir seperti itu.
Setting yang begitu menawan juga menjadi daya tarik dari perjalanan spiritual Veera dan Mahabir.
Highway sebuah perjalanan yang hanya dapat dinikmati dari orang-orang yang mencari jawaban, atau bahkan yang mencari arti dari kehidupan sesungguhnya. Bukanlah sebuah film yang bertipe hiburan, dan juga bukan sebuah film yang mengharuskan penonton untuk memikirkan bagaimana jalan ceritanya, hanya sebuah pengalaman yang diceritakan di dalam lebarnya layar bioskop. (as)

Shaadi Ke Side Effects (2014) - Big casts, unclear aim.

Balaji Telefilm. Siapa yang tidak kenal dengan Balaji? Ups. Iya, memang, untuk film yang setenar Kuch Kuch Hota Hai, Balaji belum bisa mengalahkannya. Dua besar production house yang ada di Bollywood memang begitu terkenal. Karan Johar dengan Dharma Production, serta Aditya Chopra dengan Yashraj Film. Bukan berarti tidak ada saingan, kini Balaji mulai merencanakan branding yang begitu besar dengan menggaet Vidya Balan sebagai best actor (female) di Filmfare 2013, serta Farhan Akhtar sebagai best actor (male) di Filmfare 2014.
Merupakan sequel dari Pyaar Ke Side Effects dari Pritish Nandy Communication, dengan sutradara Saket Chaudhary. Kali ini memang Balaji menginginkan sebuah sequel yang bagus, mengalahkan film terdahulu. Sayang, estimasi dari Balaji sepertinya ketinggian, dan dengan dua bintang film tersebut, seperti sebuah kesia-siaan semata.
Kisah berawal pada sebuah ide untuk memiliki anak dimana keadaan keluarga Sid (Farhan Akhtar) dan Trisha (Vidya Balan) belum begitu mapan, sehingga keputusan ini juga memiliki dampak besar terhadap hidup Sid. Ada saatnya dimana memiliki anak adalah sebuah keputusan yang sangat besar, dimana tidak hanya tanggung jawab yang akan bertambah, tapi juga serentetan masalah yang kian muncul dengan hadirnya sang anak.

Adanya Ram Kapoor di dalam film ini membuat cerita lebih taktikal, dimana disini letak dari inti cerita mengenai kehidupan pernikahan. Film yang diharapkan oleh Balaji Telecine akan menjadi sebuah breakthrough ternyata hanya impian belaka. Film ini, hanya sekedar sebuah film yang menjual nama pemainnya dibanding dengan cerita yang ingin ditonjolkan.
Selain Ram Kapoor, adanya Vir Das membuat film ini lebih terkesan masala, dimana ia berhasil membuat masa-masa Sid yang kelam menjadi begitu banyak kesempatan. Untuk Farhan Akhtar sendiri, memang terlihat ia berusaha untuk menghidupkan beberapa karakter yang terlihat susah. Bermula dari seorang suami, seorang ayah, seorang teman, hingga seorang bujang. Hats off. Farhan begitu ciamik memerankan Sid, sehingga perjuangan Sid terlihat begitu nyata, sehingga faktor-faktor pendukung tidak terperhatikan dengan baik oleh tim produksi.

Musik yang tidak begitu terkena di telinga, hingga tarian yang begitu biasa membuat nilai film ini menjadi lebih standar dibanding dengan dua pentolannya. Seperti yang telah terungkap di paragraf awal, bahwa komposisi ini diharapkan untuk menjadi breakthrough dari Balaji Telecine, dengan dua pentolan Filmfare award. Hanya saja hasil dari filmnya mengabaikan kemampuan akting dari duo Vidya-Farhan ini, sehingga film ini akan cepat terlupakan seiring hadirnya beberapa film yang lebih menjanjikan.
We know that actors will be our concerned to watch a movie, further more with their acknowledgement as best actor, but somehow, packaging will be more important. See Ranbir's Besharam, not well-scripted, and yet, people trying to ignore him. People interesting in his personal life than his movie, but he will show us who he really is in Roy and Bombay Velvet.
Clean slate for this Side Effects's venture. Kabhi Alvida Naa Kehna isn't successful in India, and I don't think there will be 'Cheating Ke Side Effects'. And for Farhan, supposed to be shared screen with SRK in Raees under his production, but it seems Excel proudly say that Nawaz replaced him, due to clash of availability date.
A margin effect caused by this movie. And maybe both parties would learn something within it. (as)

Senin, 10 Maret 2014

Hasee Toh Phasee - New Age of Romance


Romansa acap kali terdefinisikan tanpa adanya teknologi yang menghampiri. Teknologi yang bergerak di bidang informasi dan komunikasi. Semuanya dilakukan agar esensi romansa tersebut tetap kental dan membuat penonton menjadi lebih tersentuh. Ketika Veer-Zaara hadir dengan classical idea, kini Haase Toh Phaase datang dengan formula yang berlawanan. Masa kini, teknologi, bahkan kemerdekaan dalam bertindak menjadi parameter yang unik di dalamnya.
Arahan dari Vinil Matthew sendiri belum memiliki signature yang unik, karena ini adalah film pertamanya yang ia juga merangkap di dalam penulisan dialog bersama sutradara yang sudah memiliki nama karena Gangs of Wasseypur, Anurag Kashyap. Dharma Production memilih murid baru, Sidharth Malhotra, yang merupakan debutan dari Student of the Year yang diproduksi oleh Dharma dan Red Chillies Entertainment. Memang, untuk sebuah debut, Sid berhasil memberikan tampilan yang memukau, tapi film kedua yang menentukan apakah ia seorang aktor yang cakap, atau tidak.
Adanya Parineeti Chopra yang menjadi lawan main dari Sid, membuat film ini menjadi lebih berwarna. Tidak karena penampilannya di Ishaqzadee yang memukau, tetapi memang kemampuan sepupu dari Priyanka Chopra ini memang bagus, bahkan di dalam akting, bisa diakui bahwa Pari jauh lebih bagus dibanding Priyanka.

Nikhil (Sidharth Malhotra) adalah seorang pria normal yang pada masa kecilnya sering sekali menerima perlakuan yang sangat disiplin, tetapi masih bisa mencari celah dari ketatnya peraturan dan kedisiplinan yang diterapkan oleh ayahnya. Di suatu tempat, Meeta (Parineeti Chopra) adalah seorang yang jenius, memiliki ide-ide yang cemerlang, dan kerap kali bertindak seperti seorang lelaki, dibanding seorang wanita.
Pertemuan pertama Nikhil dan Meeta adalah dipernikahan kakaknya Meeta, dimana pada malam itu ia memilih untuk kabur dari rumah.
Di malam itu, cerita terjadi antara Karishma, kakaknya Meeta dengan Nikhil. Hubungan mereka terus berkembang hingga menuju jenjang pernikahan, dimana Nikhil bertemu kembali dengan Meeta, dan cerita mulai berubah ketika rasa demi rasa hadir di relung hati Nikhil dan Meeta.
Adanya duo Vishal-Shekar yang dipercaya untuk mengatur musik sedemikian rupa ternyata tidak begitu menarik perhatian penonton. Bukan tidak bagus, hanya saja minim dengan lagu-lagu yang membuat decak kagum penonton, seperti Badtameez Dil yang dibuat Pritam pada film Yeh Jawaani Hai Deewani. Bukan tidak bagus, hanya ceritanya lebih menarik dibanding musiknya.
Pergeseran karakter dari Abhimanyu Singh menjadi Nikhil memang terlihat sangat jelas, dimana Sid berhasil menampilkan karakter yang berbeda, daripada seorang anak muda yang cool, kali ini Sid yang selalu berusaha untuk menutupi celah-celah yang ada di dalam hubungan Nikhil dan Karishma, hingga hadirnya Meeta.
Memang, Parineeti lebih berpengalaman di dalam dunia akting, karena ini bukanlah film keduanya, sehingga Hasee Toh Phasee terselamatkan karena akting dari Parineeti yang memukau, berhasil memerankan Mental Meeta yang selalu dapat menutupi Sentimen dari Nikhil. Dari durasi 2 jam 21 menit ini memang memiliki beberapa scene yang begitu menyentuh, tidak hanya sekedar lawakan yang hadir di dalam reaksi Nikhil dan Meeta terhadap satu sama lain.

Tayang pada seminggu sebelum hari Valentine, Hasee Toh Phasee cukup menggantikan romansa yang sekarang banyak hilang dari layar lebar. Memang, untuk Bollywood sendiri, setiap tahun pasti memiliki film yang yang bertema roman, hanya saja Hasee Toh Phasee adalah obat yang ampuh bagi orang yang kangen akan romansa sebuah film di saat yang tepat.
Parineeti berhasil memerankan Meeta yang merupakan seorang pecandu obat-obatan non narkotika. Hal ini menyebabkan ketika ia panik, ia butuh obat tersebut. Lain halnya dengan Nikhil, yang fokus terhadap pernikahannya dengan Karishma disertai dengan segala macam janji dan utang-piutang, serta tanggung jawab akan keselamatan Meeta. Hal ini yang membuat Nikhil menyadari bahwa cinta tidak hanya sekedar masa depan yang terlihat, tapi juga kepercayaan hati dan kepastian sikap.
Memang, Hasee Toh Phasee bukan sebuah film yang klasik yang penuh akan setting yang memanjakan mata, tetapi memberi gambaran baru terhadap romansa yang sekarng mulai pudar karena takut akan kehilangan, padahal belum tentu yang digenggam sekarang adalah yang tepat. Jika Nikhil tidak yakin akan cintanya terhadap Meeta, ia tidak akan sanggup untuk berkata "I am so sorry yaar.", dan jika cinta Meeta yang telah hadir dari pertama mereka bertemu tidak nyata, maka ia akan mengambil uang tersebut. Terkadang, waktu memang jawaban yang paling akurat akan semua pertanyaan mengenai hati. (as)

Jumat, 24 Januari 2014

59th Idea Filmfare

So, recently 59th Idea Filmfare Awards has ended. With a glorious thing to say, Bhaag Milkha Bhaag announced as best movie in 2013 along with Rakeysh Omprakash Mehra as director and Farhan Akhtar as actor, and Deepika Padukone as best actress from Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela.

Hereby attached the lists, copied from Filmfare.com

Best Film - Bhaag Milkha Bhaag
Best Director - Rakeysh Omprakash Mehra (Bhaag Milkha Bhaag)
Best Actor - Farhan Akhtar (Bhaag Milkha Bhaag)
Best Actress - Deepika PAdukone - Goliyon Ki Raasleela Ram-leela

Best Actress in a Supporting Role - Supriya Pathak Kapur (Goliyon Ki Raasleela Ram-leela)
Best Actor in a Supporting Role - Nawazuddin Siddiqui (The Lunchbox)

Best Music - Mithhoon, Ankit Tiwari, Jeet Ganguly (Aashiqui 2)
Best Playback Singer (Male) - Arjit Singh - Tum hi ho - (Aashiqui 2)
Best Playback Singer (Female) - Monali Thakur - Sawaar (Lootera)
Best Lyrics - Prasoon Joshi - Zinda (Bhaag Milkha Bhaag)


Best Debut (Male) - Dhanush (Raanjhanaa)
Best Debut (Female) - Vaani Kapoor (Shuddh Desi Romance)
Best Debut Director - Ritesh Batra (The Lunchbox)

Best Actor (Critics) - Rajkumar Rao (Shahid)
Best Actress (Critics) - Shilpa Shukla (BA Pass)
Best Film (Critics) - The Lunchbox


Lifetime Achievement Award - Tanuja
RD Burman Award - Sidharth Mahadevan

Best Action - Thomas Struthers and Guru Bachchan (D Day) 
Best Background Score - Hitesh Sonik (Kai Po Che)
Best Choreogrpahy - Samir and Arsh Tanna – Lahu muh lag gaya (Goliyon Ki Raasleel Ram-leela) 
Best Cinematography - Kamaljit Negi (Madras Cafe) 
Best Costume - Dolly Ahluwalia (Bhaag Milkha Bhaag) 
Best Dialogue - Subhash Kapoor (Jolly LLB) 
Best Editing - Aarif Sheikh (D-Day)
Best Production Design- Acropolis Design (Bhaag Milkha Bhaag) 
Best Story - Subhash Kapoor (Jolly LLB) 
Best Sound Design - Bishwadeep Chatterjee and Nohar Rajan Samal (Madras CafĂ©) 
Best Screenplay - Chetan Bhagat, Abhishe Kapoor, Supratik Sen and Pubali Chaudhari (Kai Po Che)

Jai Ho (2014) - A Nice Restoring Humanity, yet a Failed Romance

Dengan tagline People's Man, film besutan Sohail Khan yang dibintangi oleh abangnya sendiri ini merupakan sebuah film yang tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Juga, ini bukan kali pertamanya Salman Khan berperan di dalam film yang didanai oleh adiknya. Jika kemarin Arbaaz berhasil membangun karakter Chulbul Pandey melalui film yang berjudul Dabangg, kali ini juga tidak jauh berbeda.

Jika Chulbul Pandey merupakan karakter yang kuat, dan berjalan sesuai kepercayaannya di dalam seragam yang berwarna kakhi tersebut, Jai, merupakan orang biasa yang gagal dalam membela negara dari militer. Selebihnya memiliki komposisi yang hampir sama dengan Dabangg series.

Bermula dari karakterisasi Jai yang begitu kuat dibuat oleh Sohail, lalu perkenalan Rinky (Daisy Shah) yang terlalu memperlihatkan keahlian menari yang masih kurang dari tarian-tarian ala bollywood yang pernah ada. Tapi kesalahan ini termaafkan dengan akting Daisy yang lumayan menghibur. Dan tak bisa disangkal pula bahwa adanya Tabu menjadi daya tarik tersendiri untuk film ini. Siapa yang tidak mengenal Salman-Tabu di dalam Hum Saath Saath Hain yang pada tahun 90an terkenal dalam sebuah film yang bertabur bintang, Karisma Kapoor, Saif Ali Khan, dua nama yang sampai sekarang masih aktif di dalam industri.

Geeta (Tabu) adalah adik Jai yang memiliki hubungan tidak baik dengan Ibunya karena tidak pernah jujur dalam hal berkencan, hingga ia memutuskan menikah dengan Reehan (Mahesh Thakur) seorang Gujarati. Nadira Babbar memiliki peran tersendiri sebagai Ibu Jai yang berperan dalam hubungan segitiga antara Jai dan Geeta, serta komedi yang disuguhkannya juga fresh dan tidak melenceng dari peran seorang ibu.

Tujuan dari film sesederhana mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin telah lama dilupakan oleh manusia kini. Mungkin jika dikategorikan film dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka Khan's family memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh pihak manapun. Solidaritas, serta they own the masses. Tidak hanya sekedar menghibur, tapi juga konsisten dalam menyampaikan pesan, sebagai seorang insan, yang hidup untuk saling membantu satu sama lain, tidak mengenal posisi yang ada.

Meskipun Jai Ho ini adalah sebuah remake dari film Tamil yang berjudul Stalin, esensi yang disuguhkan tidak jauh berbeda dari film Khan lainnya, terlebih yang diproduseri oleh Khan's family satu ini. Tidak banyak yang dapat diseret di dalam bacaan kali ini, hanya quote yang selalu terulang-ulang di dalam cerita Jai Ho sendiri, "jangan berterima kasih. Cukup lakukan kebaikan terhadap tiga orang, dan suruh mereka berbuat kebaikan kepada tiga orang lagi.". Sebuah ideologi yang sangat menyentuh, dan ada saatnya ideologi ini akan memperbaiki sistem yang berlaku di dalam kehidupan manusia yang semakin instan dan kompleks ini.
Dari sisi villain, ada Danny Denzongpa sebagai menteri dalam negeri yang memiliki dua orang anak, seorang putra, dan putri.

Kisah Agnihotri (nama keluarga Jai) bertemu dengan Dashrat Singh memiliki cerita yang hampir sama dengan kebanyakan film Bollywood lainnya, hanya saja dibuat lebih indah dari yang pernah ada. Dengan penampilan Genelia D'Souza sebagai seorang handicap yang menjadi korban kekuasaan seorang menteri. Tidak hanya itu, karena ketakutannya sendiri, Dashrat bahkan membuat setting bahwa Jai adalah seorang mantan militer yang dikeluarkan karena penyakit mental, dan membunuh Perdana Menteri.

Perpolitikan di India dapat dilihat dari film-film yang berbau politik, seperti Satyagraha, ataupun Sarkar the series. Ya begitulah, tidak jauh berbeda dengan yang kita lihat sehari-hari.

Tidak ada yang bisa dibanggakan selain sisi humanisme yang dimiliki oleh Salman Khan, serta topless yang selalu ia lakukan di film-film yang bertajuk action. Dan juga, pemilihan tanggal penayangan juga tepat karena tanggal 26 Januari nanti adalah hari dimana sahnya India sebagai sebuah replubik yang lepas dari koloni Inggris. Dan juga, tidak lupa kita berikan ucapan terima kasih untuk Aamir Khan, yang setia menjadi Buzzer untuk film Jai Ho ini. Memang tidak bergelimang artis, tapi membuktikan bahwa sesuatu film yang dilandasi dengan cinta, dan kekuasaan yang dimiliki oleh Sallu juga pantas untuk menjadi sebuah film blockbuster, tanpa harus memiliki tokoh iconic seperti Chulbul Pandey.

Adanya Pulkit Samrat sebagai karakter polisi yang jujur menjadi scene-stealer tersendiri, karena paras yang begitu rupawan dan juga aura yang tak terbantahkan untuk seorang bintang. Hanya saja, jika Pulkit Samrat digantikan oleh Shahid Kapoor, akan lebih bagus mengenang Phata Nikla Poster Hero yang juga bukan film yang begitu sukses. Ketika bisa disatuin, kenapa engga? Tapi inilah bisnis, family business selalu memainkan ego yang berada disekitar.

Well, to be brief, I'd say that the message well-delivered, but failed at romance, and bad at choosing song. Telling you the truth, I just like the first song of the movie, after introduction, and the rest just skipping time. Total wasted. Yet it hasn't be a good movie, Salman just did his best, and well, that's the best thing that I could say about him beside Farhan's "No string attached." (as)