Jumat, 24 Januari 2014

59th Idea Filmfare

So, recently 59th Idea Filmfare Awards has ended. With a glorious thing to say, Bhaag Milkha Bhaag announced as best movie in 2013 along with Rakeysh Omprakash Mehra as director and Farhan Akhtar as actor, and Deepika Padukone as best actress from Goliyon Ki Rasleela Ram-Leela.

Hereby attached the lists, copied from Filmfare.com

Best Film - Bhaag Milkha Bhaag
Best Director - Rakeysh Omprakash Mehra (Bhaag Milkha Bhaag)
Best Actor - Farhan Akhtar (Bhaag Milkha Bhaag)
Best Actress - Deepika PAdukone - Goliyon Ki Raasleela Ram-leela

Best Actress in a Supporting Role - Supriya Pathak Kapur (Goliyon Ki Raasleela Ram-leela)
Best Actor in a Supporting Role - Nawazuddin Siddiqui (The Lunchbox)

Best Music - Mithhoon, Ankit Tiwari, Jeet Ganguly (Aashiqui 2)
Best Playback Singer (Male) - Arjit Singh - Tum hi ho - (Aashiqui 2)
Best Playback Singer (Female) - Monali Thakur - Sawaar (Lootera)
Best Lyrics - Prasoon Joshi - Zinda (Bhaag Milkha Bhaag)


Best Debut (Male) - Dhanush (Raanjhanaa)
Best Debut (Female) - Vaani Kapoor (Shuddh Desi Romance)
Best Debut Director - Ritesh Batra (The Lunchbox)

Best Actor (Critics) - Rajkumar Rao (Shahid)
Best Actress (Critics) - Shilpa Shukla (BA Pass)
Best Film (Critics) - The Lunchbox


Lifetime Achievement Award - Tanuja
RD Burman Award - Sidharth Mahadevan

Best Action - Thomas Struthers and Guru Bachchan (D Day) 
Best Background Score - Hitesh Sonik (Kai Po Che)
Best Choreogrpahy - Samir and Arsh Tanna – Lahu muh lag gaya (Goliyon Ki Raasleel Ram-leela) 
Best Cinematography - Kamaljit Negi (Madras Cafe) 
Best Costume - Dolly Ahluwalia (Bhaag Milkha Bhaag) 
Best Dialogue - Subhash Kapoor (Jolly LLB) 
Best Editing - Aarif Sheikh (D-Day)
Best Production Design- Acropolis Design (Bhaag Milkha Bhaag) 
Best Story - Subhash Kapoor (Jolly LLB) 
Best Sound Design - Bishwadeep Chatterjee and Nohar Rajan Samal (Madras CafĂ©) 
Best Screenplay - Chetan Bhagat, Abhishe Kapoor, Supratik Sen and Pubali Chaudhari (Kai Po Che)

Jai Ho (2014) - A Nice Restoring Humanity, yet a Failed Romance

Dengan tagline People's Man, film besutan Sohail Khan yang dibintangi oleh abangnya sendiri ini merupakan sebuah film yang tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Juga, ini bukan kali pertamanya Salman Khan berperan di dalam film yang didanai oleh adiknya. Jika kemarin Arbaaz berhasil membangun karakter Chulbul Pandey melalui film yang berjudul Dabangg, kali ini juga tidak jauh berbeda.

Jika Chulbul Pandey merupakan karakter yang kuat, dan berjalan sesuai kepercayaannya di dalam seragam yang berwarna kakhi tersebut, Jai, merupakan orang biasa yang gagal dalam membela negara dari militer. Selebihnya memiliki komposisi yang hampir sama dengan Dabangg series.

Bermula dari karakterisasi Jai yang begitu kuat dibuat oleh Sohail, lalu perkenalan Rinky (Daisy Shah) yang terlalu memperlihatkan keahlian menari yang masih kurang dari tarian-tarian ala bollywood yang pernah ada. Tapi kesalahan ini termaafkan dengan akting Daisy yang lumayan menghibur. Dan tak bisa disangkal pula bahwa adanya Tabu menjadi daya tarik tersendiri untuk film ini. Siapa yang tidak mengenal Salman-Tabu di dalam Hum Saath Saath Hain yang pada tahun 90an terkenal dalam sebuah film yang bertabur bintang, Karisma Kapoor, Saif Ali Khan, dua nama yang sampai sekarang masih aktif di dalam industri.

Geeta (Tabu) adalah adik Jai yang memiliki hubungan tidak baik dengan Ibunya karena tidak pernah jujur dalam hal berkencan, hingga ia memutuskan menikah dengan Reehan (Mahesh Thakur) seorang Gujarati. Nadira Babbar memiliki peran tersendiri sebagai Ibu Jai yang berperan dalam hubungan segitiga antara Jai dan Geeta, serta komedi yang disuguhkannya juga fresh dan tidak melenceng dari peran seorang ibu.

Tujuan dari film sesederhana mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin telah lama dilupakan oleh manusia kini. Mungkin jika dikategorikan film dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka Khan's family memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh pihak manapun. Solidaritas, serta they own the masses. Tidak hanya sekedar menghibur, tapi juga konsisten dalam menyampaikan pesan, sebagai seorang insan, yang hidup untuk saling membantu satu sama lain, tidak mengenal posisi yang ada.

Meskipun Jai Ho ini adalah sebuah remake dari film Tamil yang berjudul Stalin, esensi yang disuguhkan tidak jauh berbeda dari film Khan lainnya, terlebih yang diproduseri oleh Khan's family satu ini. Tidak banyak yang dapat diseret di dalam bacaan kali ini, hanya quote yang selalu terulang-ulang di dalam cerita Jai Ho sendiri, "jangan berterima kasih. Cukup lakukan kebaikan terhadap tiga orang, dan suruh mereka berbuat kebaikan kepada tiga orang lagi.". Sebuah ideologi yang sangat menyentuh, dan ada saatnya ideologi ini akan memperbaiki sistem yang berlaku di dalam kehidupan manusia yang semakin instan dan kompleks ini.
Dari sisi villain, ada Danny Denzongpa sebagai menteri dalam negeri yang memiliki dua orang anak, seorang putra, dan putri.

Kisah Agnihotri (nama keluarga Jai) bertemu dengan Dashrat Singh memiliki cerita yang hampir sama dengan kebanyakan film Bollywood lainnya, hanya saja dibuat lebih indah dari yang pernah ada. Dengan penampilan Genelia D'Souza sebagai seorang handicap yang menjadi korban kekuasaan seorang menteri. Tidak hanya itu, karena ketakutannya sendiri, Dashrat bahkan membuat setting bahwa Jai adalah seorang mantan militer yang dikeluarkan karena penyakit mental, dan membunuh Perdana Menteri.

Perpolitikan di India dapat dilihat dari film-film yang berbau politik, seperti Satyagraha, ataupun Sarkar the series. Ya begitulah, tidak jauh berbeda dengan yang kita lihat sehari-hari.

Tidak ada yang bisa dibanggakan selain sisi humanisme yang dimiliki oleh Salman Khan, serta topless yang selalu ia lakukan di film-film yang bertajuk action. Dan juga, pemilihan tanggal penayangan juga tepat karena tanggal 26 Januari nanti adalah hari dimana sahnya India sebagai sebuah replubik yang lepas dari koloni Inggris. Dan juga, tidak lupa kita berikan ucapan terima kasih untuk Aamir Khan, yang setia menjadi Buzzer untuk film Jai Ho ini. Memang tidak bergelimang artis, tapi membuktikan bahwa sesuatu film yang dilandasi dengan cinta, dan kekuasaan yang dimiliki oleh Sallu juga pantas untuk menjadi sebuah film blockbuster, tanpa harus memiliki tokoh iconic seperti Chulbul Pandey.

Adanya Pulkit Samrat sebagai karakter polisi yang jujur menjadi scene-stealer tersendiri, karena paras yang begitu rupawan dan juga aura yang tak terbantahkan untuk seorang bintang. Hanya saja, jika Pulkit Samrat digantikan oleh Shahid Kapoor, akan lebih bagus mengenang Phata Nikla Poster Hero yang juga bukan film yang begitu sukses. Ketika bisa disatuin, kenapa engga? Tapi inilah bisnis, family business selalu memainkan ego yang berada disekitar.

Well, to be brief, I'd say that the message well-delivered, but failed at romance, and bad at choosing song. Telling you the truth, I just like the first song of the movie, after introduction, and the rest just skipping time. Total wasted. Yet it hasn't be a good movie, Salman just did his best, and well, that's the best thing that I could say about him beside Farhan's "No string attached." (as)