Jumat, 12 Juni 2015

Dil Dhadakne Do - Heart warming conclusion

Sudah lama rasanya film yang bertaburan bintang seperti ini di ranah Bollywood. Pada tahun 90an, masih banyak film multi-casts seperti Hum Saath Saath Hain, ataupun disusul dengan Kabhi Khushi Kabhie Gham pada tahun 2001. Tantangan dalam film yang memiliki multi-casts adalah membuat semua karakter berperan dengan rata, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
Zoya Akhtar dikenal dengan salah satu film mediocre yang membawa tema persahabatan dengan memberikan Eropa sebagai pemandangan yang luar biasa dengan bantuan Carlos Catalan pada bagian director of photography. Tak heran jika nuansa yang terbentuk memang jauh dari film Bollywood lainnya. Dengan Reema Kagti, yang juga menulis cerita Zindagi Milegi Na Dobaraa, Zoya Akhtar memulai perjalanan Dil Dhadakne Do. Tidak hanya sampai di situ, Farhan Akhtar (actor, singer) juga membantu dalam menulis dialog untuk film ini, serta sang Ayah, Javed Akhtar (lyricist) membuat narasi untuk Pluto Mehra. Sebuah proyek yang berdasarkan asas kekeluargaan dan cinta. Itulah yang dapat dikatakan untuk Dil Dhadakne Do dari balik layar.

Kamal Mehra (Anil Kapoor) adalah seorang pengusaha yang sangat berambisi dengan bisnisnya. Dibantu dengan adiknya, Prem (Pawan Chopra) ia terus menjalankan Ayka. Di dalam ketatnya persaingan bisnis, ia merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke- 30 bersama Neelam (Shefali Shah). Kabir Mehra (Ranveer Singh) sang pangeran, mengundang kerabat dekat mereka untuk bergabung merayakan ulang tahun pernikahan 'Kamal dan Neelam' yang semuanya diatur oleh kakaknya, Ayesha (Priyanka Chopra).
Semuanya terlihat sempurna. Perusahaan yang sedang berjalan, anak lelaki yang 'berhasil' membuat event terjadi, hingga menantu yang credible membuat Kamal merasa berada 'on top of the world'. Masalah mulai berdatangan ketika Kabir jatuh hati pada Farah Ali (Anushka Sharma) yang merupakan seorang penghibur pada klub malam di kapal. Serta munculnya sang mantan, Sunny Gill (Farhan Akhtar) di dalam perjalanan tersebut membuat Ayesha yang tidak bahagia dengan pernikahannya memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, Manav Sangha (Rahul Bose).

Sebuah cerita yang sangat mengena di dalam keluarga yang disfungsional serta lingkungannya. Durasi 170 menit memang panjang untuk sebuah melo-drama. Tetapi dengan cerita yang kaya akan kelanjutan kisahnya yang bersifat parsial memang pantas. Selain itu juga, musik yang diberi oleh Shankar-Ehsaan-Loy dapat menghibur penonton di kala bosan dengan drama yang banyak.
Suguhan eropa-tengah memang tidak dapat diabaikan, Turkish Hamam, serta situs-situs yang bagus juga diambil dalam film ini. Tidak hanya itu, secara magis, Istanbul dapat mencuri hati penonton. Komedi yang disisipkan di dalam film ini juga seimbang, tidak begitu banyak, namun dapat menghibur penonton meski tanpa tawa oleh para pemain.
A heart warming conclusion of bunch of problems of high societies people on a cruise journey and found themselves in crisis of a family. I'd like to give the honor of this writing to my Dad, who loved to say untrue things just to make him self look good, just like Kamal. This is a family, my family. Despite of disappointed, I found the conclusion is way better than I thought. This is a family matter, and we should go away in one direction, let every heart beat... har dil dhadakne do. (as)

Sabtu, 09 Mei 2015

Piku - Simplicity of Father-Daughter Movie

Tidak banyak yang dapat dijabarkan di dalam produksi Piku. Shoojit Sircar, sang sutradara telah unjuk gigi dalam dua film fenomenalnya dibawah naungan John Abraham Production. Vicky Donor dan Madras Cafe. Vicky Donor mendapat pujian yang luar biasa di dalam ceritanya, dengan bantuan Juhi Chaturvedi di dalam penulisan cerita.
Teamwork memang sangat penting dalam segala proyek, oleh karena itu, untuk Piku, ia memberi ruang kepada Juhi Chaturvedi untuk membuat cerita serta screenplay. Untuk casts, telah ditetapkan pada pertengahan tahun 2014 trio Amitabh, Deepika dan Irrfan. Deepika dan Amitabh pernah bermain dalam satu judul film dengan hubungan yang sama, Ayah dan Anak. Sehingga Piku memang menjadi pengharapan tentang hubungan Ayah-Anak yang tidak pernah terbahas di dalam film Aarakshan tersebut.
Piku (Deepika Padukone) adalah seorang arsitektur di Delhi yang tinggal bersama ayahnya. Dengan bantuan temannya, Syed Afroz (Jishu Sengupta) ia bekerja pada satu firma yang sama. Bhashkor Banarjee (Amitabh Bachchan) mengalami konstipasi, sehingga seluruh permasalahan selalu dicatat dalam satu catatan khusus kesehatan, dan bahkan itu berlebihan.
Piku berlangganan taksi dengan teman Syed, Rana (Irrfan Khan) di mana selalu terjadi kekacauan antara Piku dan supir-supir taksi tersebut. Pada satu titik, Piku ingin menjual rumah mereka di Kolkata, namun ditentang oleh sang Ayah. Karena hal itu, Bhashkor ingin pergi ke Kolkata untuk membatalkan proses pembelian rumah tersebut. Namun banyak alasan untuk tidak dapat menggunakan transportasi umum seperti pesawat, kereta api, dan bus. Hingga akhirnya Piku membawa ayahnya dengan taksi, yang sayangnya, tidak ada supir yang mau, kecuali Rana sendiri.

Piku merupakan sebuah film yang simpel, tapi memiliki cerita yang tidak biasa. Film yang memperlihatkan cinta seorang anak terhadap orang tuanya, serta aksi-reaksi pada setiap masalah yang di dapat selama perjalanan dapat menghibur penonton. Deepika Padukone tidak dapat diragukan lagi dalam memerankan karakter yang natural, seperti yang ia lakukan di Finding Fanny, Amitabh Bachchan juga menampilkan perannya sebagai seorang ayah dengan mulus tanpa rintangan. Irrfan Khan selalu dapat menghibur penonton dengan aktingnya.
Suguhan musik Anupam Roy yang easy listening dapat menemani perjalanan Piku dari Delhi menuju Kolkata dengan berbagai masalah yang muncul. Sebuah film yang simpel tanpa adanya tarian memang bukan identitas film Bollywood, tapi, Piku yang tayang seminggu lebih awal dari Bombay Velvet dapat mendapatkan perhatian penonton lebih banyak. Kita tidak akan pernah tau selera penonton, tapi satu yang jelas, ketika satu proyek dibuat dengan kesungguhan serta dipoles begitu natural, maka penonton akan datang dengan sendirinya. (as)