Rabu, 01 November 2017

We're moving

Hi! I just want to inform we're moving to a website, and it will be updated constantly.
Go click New Blog

Cheers.

Jumat, 22 April 2016

Prem Ratan Dhan Payo - A misleading family issues

Ada banyak spekulasi mengenai film ini. Berawal dari actor-who-never-won dan seorang aktris yang terkenal dengan skill akting yang tidak begitu mumpuni, terlebih dengan icon fashionista yang ia genggam membuat film ini menjadi film paling dinanti, ntah itu untuk dipuji, atau hanya sekedar untuk dihujat.
Ternyata tidak sesederhana itu, alih-alih dengan slogan, "Prem is back" yang beredar di dunia jurnalistik, membuat orang lebih ingin menontonnya. Siapa tau Prem yang dulu dielu-elukan di India kembali, setelah Rahul kembali di Chennai Express, mungkin ini saatnya Prem kembali di Prem Ratan Dhan Payo. What a title.
Sang sutradara, Sooraj Barjatya terkenal dengan membuat film-film yang berlandaskan kekeluargaan. Dapat dilihat perjalanannya sebagai sutradara pada tautan ini. Sehingga sudah pasti akan ada penonton yang menonton, baik itu hanya untuk menghibur diri, atau sebagai fan.
Kisah bermula ketika seorang pangeran, Yuvraj Vijay Singh (Salman Khan) sedang terancam karena ada yang tidak suka dengan kenyataan bahwa ia memegang penuh kerajaan. Atas idenya Diwan (Anupam Kher) akhirnya sang pangeran disembunyikan karena cedera pada saat kecelakaan kereta kerajaan.
Posisi sang pangeranpun digantikan oleh Prem Dilwala (Salman Khan) karena mereka mirip. Jalinan kasih tercipta antara putri Mithaili (Sonam Kapoor) dan sang Pangeran. Mithaili adalah temannya Chandrika (Swara Bhaskar) yang merupakan saudara Yuvraj yang berasal dari ibu yang berbeda.
Karena satu masalah, akhirnya hubungan mereka menjadi tidak baik, terlebih Yuvraj Ajay (Neil Nitin Mukesh) yang telah dihasut atas ketidak-bijakan sang kakak dalam mengelola kerajaan.
Permasalahan dan inti dari sebuah film Prem Ratan Dhan Payo ada di sini. Tentang sebuah keharmonisan keluarga, untuk saling percaya satu sama lain, untuk berjalan ke arah yang sama. Jika Dil Dhadakne Do merupakan ilustrasi modern, maka Prem Ratan Dhan Payo adalah sebuah ilustrasi pada sebuah masa lampau. (as)

Bajrangi Bhaijaan - A hero can't do it alone.


Tahun 2015 ini benar-benar tahun yang dimiliki oleh Salman Khan. Bagaimana tidak, pada waktu Eid, filmnya Bajrangi Bhaijaan rilis, dan pada Diwali, Prem Ratan Dhan Payo. Sudah pasti dua waktu ini menjadi waktu favorit untuk para penonton, terlepas dari para penggemar 'The Hulk' nya Bollywood.
Saya sudah melakukan review di IMDb, kalau berkenan bisa melihat pada tautan ini.

Bajrangi Bhaijaan menceritakan tentang seorang penganut kepercayaan terhadap Bajrangi. Dia menjalani kehidupannya dengan penuh kepatuhan. Karena kepatuhan tersebutlah yang membawanya berpetualang ke perbatasan India-Pakistan, hingga namanya menjadi terkenal karena usahanya tersebut.
Ada beberapa casts yang bermain di film ini selain Salman Khan. Meskipun terlihat seolah seorang Pawan adalah pahlawan untuk Munni/Sahida (Harshali Malhotra) tetapi jika dilihat dari sudut lain, maka tidak dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang pahlawan. Karena jika diikuti jalan ceritanya, adanya bantuan dari Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui) yang membantunya dalam melewati halangan dan rintangan selama di Pakistan.
Secara keseluruhan, film Bajrangi Bhaijaan ini merupakan film keluarga yang dapat ditonton ketika sedang bersama, ataupun pada saat acara tertentu, semisal Eid.
Bajrangi Bhaijaan juga dengan sangat cepat tayang di TV lokal pada awal tahun 2016 ini. Semuanya karena virus India sedang melanda Indonesia, baik dari segi serial, hingga perfilmannya.
Semoga akan lebih banyak bioskop yang menayangkan film Hindi sehingga juga cepat turun di Televisi lokal. (as)

Jumat, 15 April 2016

FAN - A solely broken-heart Fan and an egoist Megastar

Merupakan film yang paling dinanti oleh para peminat (fan) Shah Rukh Khan. Sekilas terlihat bahwa ini hanya sebuah proyek narsis seorang mega-bintang. Ada banyak makna di dalam film ini. Ekspektasi bahwa ini akan menjadi sebuah breakthrough seorang Shah Rukh Khan yang dalam 5 tahun terakhir ini tidak memiliki film yang membuat penonton berdecak kagum.
Kabarnya skenario film ini sudah diomongkan oleh Yash Chopra beberapa tahun silam. Shah Rukh sendiri menyukai cerita tersebut, sehingga penggarapannya yang tidak main-main juga membuahkan hasil.
Meskipun dengan teknologi yang maju seperti sekarang ini, tidaklah sulit untuk membuat peran ganda seperti Aryan dan Gaurav. Namun, ada tawaran tersendiri untuk para fans di luar sana. Fans yang paham seperti apa idolanya, yang tau mimik-mimik wajahnya, serta yang hidup bersama dalam 23 tahun terakhir ini.
Bermula dari hidup seorang anak Delhi, Gaurav Chandna (Shah Rukh Khan) yang dikenal dengan Junior Aryan Khanna. Hidupnya yang bergantung pada warnet di sebuah pusat keramaian di Delhi. Berturut-turut menang pada pentas Commonwealth Move Money, Sitara, karena totalitas aktingnya dalam memerankan sang Senior, Aryan Khanna (Shah Rukh Khan).
Semuanya berubah hanya karena Gaurav tidak diperlakukan dengan baik oleh sang Idola, Seperti love turn into hatred. Seperti itulah ringkasan cerita Gaurav dan Aryan. Namun jangan berpikir bahwa ini hanya sebatas film mengenai kekecewaan tentang seorang Fan. Definisi fan juga dibuat ke arah lebih posesif dibanding yang sewajarnya.
Lokasi yang diambil 3 negara ini menjadi tidak begitu menarik karena penonton akan fokus pada ceritanya yang mengundang rasa penasaran. Keindahan Dubrovnik dan Causality of London kalah dengan ulah Gaurav.
Jalan cerita yang tidak terdapat twist tetapi cukup menarik perhatian penonton menjadi satu nilai positif untuk film ini. Di dalam film ini, kalian akan menemukan cinta seorang fan terhadap idolanya. Meskipun tidak seperti Kabhi Kushi Kabhie Gham, Fan juga memiliki pergerakan emosional seperti yang kita rasa ketika melihat Yashvardhan Raichand mengutarakan bahwa ia begitu menyayangi anaknya, Rahul Raichand.
Fan bukanlah bagian dari 'the reign of Rahul' tetapi 'best of best' Shah Rukh Khan. Mungkin ini terkesan cerita yang mediocre, namun dalam satu sisi tertentu, hanya seorang fan yang bisa merasakan setiap pergerakan emosi yang ada di dalam film ini. Tontonlah jika memang kamu seorang fan, meskipun bukan fan Shah Rukh Khan, karena seorang fan yang membuat sang Idola.
Gaurav hai, toh Aryan hai. Aryan ada karena ada Gaurav. Idola dan fan tidak akan pernah bisa dipisahkan.

Senin, 21 Maret 2016

Neerja - Autobiography of a Brave Girl.

Sonam Kapoor terkenal tidak begitu mengena dalam segi akting. Banyak film yang terdapat namanya sebagai aktris, namun kontribusinya tidak begitu besar. Bisa dibilang Ranjhaanaa atau film sekelas Bhaag Milkha Bhaag banyak yang menganggap bahwa ia tidak termasuk pada bagian film tersebut. Namun ada misteri tersendiri ketika Sonam Kapoor bermain dengan Salman Khan pada judul Prem Ratan Dhan Payo... seolah keberutugan Sonam Kapoor berubah.
Neerja Bhanot (Sonam Kapoor) merupakan seorang pramugari sekaligus seorang model di Delhi. Selepas perceraiannya dengan Navish, ia memilih untuk bekerja sebagai Pramugari dari Pan Am Air. Kehidupannya yang sederhana membuatnya menjadi putri yang paling disayang, baik di dalam keluarga maupun di koloninya.
Beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke 23, Neerja yang baru saja dipromosikan menjadi kepala pramugari mengambil penerbangan terakhirnya. Pesawat yang bertujuan ke Frankfurt tersebut harus singgah di Karachi karena prosedur yang ada.
Ketika berhenti di Karachi, masuklah beberapa perompak yang memiliki agenda di bawah organisasi Abu Nidal. Neerja sempat memberi kabar kepada para pilot dan co-pilot, sehingga mereka sempat menyelamatkan diri. Hal ini membuat penerbangan Pan Am tersebut terhenti selama 18 jam untuk melakukan negosiasi.
Sonam Kapoor sukses memerankan Neerja Bhanot dengan segala tindakannya untuk menyelamatkan para penumpang. Dengan suguhan cerita yang lebih menonjolkan keberanian seseorang dalam melakukan tugasnya. Rilis pada tanggal 19 Februari 2016 hingga hari ini 21 Maret 2016 masih tayang di Plasa Senayan XXI. Bukankah berarti film ini bagus? Jarang-jarangnya film Hindi bertahan lama dalam bioskop, terlebih lagi ini jarigan 21.
Go for your own risk.

N.B. Sorry for lateness. Barely have time to do review.

Jumat, 12 Juni 2015

Dil Dhadakne Do - Heart warming conclusion

Sudah lama rasanya film yang bertaburan bintang seperti ini di ranah Bollywood. Pada tahun 90an, masih banyak film multi-casts seperti Hum Saath Saath Hain, ataupun disusul dengan Kabhi Khushi Kabhie Gham pada tahun 2001. Tantangan dalam film yang memiliki multi-casts adalah membuat semua karakter berperan dengan rata, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
Zoya Akhtar dikenal dengan salah satu film mediocre yang membawa tema persahabatan dengan memberikan Eropa sebagai pemandangan yang luar biasa dengan bantuan Carlos Catalan pada bagian director of photography. Tak heran jika nuansa yang terbentuk memang jauh dari film Bollywood lainnya. Dengan Reema Kagti, yang juga menulis cerita Zindagi Milegi Na Dobaraa, Zoya Akhtar memulai perjalanan Dil Dhadakne Do. Tidak hanya sampai di situ, Farhan Akhtar (actor, singer) juga membantu dalam menulis dialog untuk film ini, serta sang Ayah, Javed Akhtar (lyricist) membuat narasi untuk Pluto Mehra. Sebuah proyek yang berdasarkan asas kekeluargaan dan cinta. Itulah yang dapat dikatakan untuk Dil Dhadakne Do dari balik layar.

Kamal Mehra (Anil Kapoor) adalah seorang pengusaha yang sangat berambisi dengan bisnisnya. Dibantu dengan adiknya, Prem (Pawan Chopra) ia terus menjalankan Ayka. Di dalam ketatnya persaingan bisnis, ia merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke- 30 bersama Neelam (Shefali Shah). Kabir Mehra (Ranveer Singh) sang pangeran, mengundang kerabat dekat mereka untuk bergabung merayakan ulang tahun pernikahan 'Kamal dan Neelam' yang semuanya diatur oleh kakaknya, Ayesha (Priyanka Chopra).
Semuanya terlihat sempurna. Perusahaan yang sedang berjalan, anak lelaki yang 'berhasil' membuat event terjadi, hingga menantu yang credible membuat Kamal merasa berada 'on top of the world'. Masalah mulai berdatangan ketika Kabir jatuh hati pada Farah Ali (Anushka Sharma) yang merupakan seorang penghibur pada klub malam di kapal. Serta munculnya sang mantan, Sunny Gill (Farhan Akhtar) di dalam perjalanan tersebut membuat Ayesha yang tidak bahagia dengan pernikahannya memutuskan untuk bercerai dengan suaminya, Manav Sangha (Rahul Bose).

Sebuah cerita yang sangat mengena di dalam keluarga yang disfungsional serta lingkungannya. Durasi 170 menit memang panjang untuk sebuah melo-drama. Tetapi dengan cerita yang kaya akan kelanjutan kisahnya yang bersifat parsial memang pantas. Selain itu juga, musik yang diberi oleh Shankar-Ehsaan-Loy dapat menghibur penonton di kala bosan dengan drama yang banyak.
Suguhan eropa-tengah memang tidak dapat diabaikan, Turkish Hamam, serta situs-situs yang bagus juga diambil dalam film ini. Tidak hanya itu, secara magis, Istanbul dapat mencuri hati penonton. Komedi yang disisipkan di dalam film ini juga seimbang, tidak begitu banyak, namun dapat menghibur penonton meski tanpa tawa oleh para pemain.
A heart warming conclusion of bunch of problems of high societies people on a cruise journey and found themselves in crisis of a family. I'd like to give the honor of this writing to my Dad, who loved to say untrue things just to make him self look good, just like Kamal. This is a family, my family. Despite of disappointed, I found the conclusion is way better than I thought. This is a family matter, and we should go away in one direction, let every heart beat... har dil dhadakne do. (as)

Sabtu, 09 Mei 2015

Piku - Simplicity of Father-Daughter Movie

Tidak banyak yang dapat dijabarkan di dalam produksi Piku. Shoojit Sircar, sang sutradara telah unjuk gigi dalam dua film fenomenalnya dibawah naungan John Abraham Production. Vicky Donor dan Madras Cafe. Vicky Donor mendapat pujian yang luar biasa di dalam ceritanya, dengan bantuan Juhi Chaturvedi di dalam penulisan cerita.
Teamwork memang sangat penting dalam segala proyek, oleh karena itu, untuk Piku, ia memberi ruang kepada Juhi Chaturvedi untuk membuat cerita serta screenplay. Untuk casts, telah ditetapkan pada pertengahan tahun 2014 trio Amitabh, Deepika dan Irrfan. Deepika dan Amitabh pernah bermain dalam satu judul film dengan hubungan yang sama, Ayah dan Anak. Sehingga Piku memang menjadi pengharapan tentang hubungan Ayah-Anak yang tidak pernah terbahas di dalam film Aarakshan tersebut.
Piku (Deepika Padukone) adalah seorang arsitektur di Delhi yang tinggal bersama ayahnya. Dengan bantuan temannya, Syed Afroz (Jishu Sengupta) ia bekerja pada satu firma yang sama. Bhashkor Banarjee (Amitabh Bachchan) mengalami konstipasi, sehingga seluruh permasalahan selalu dicatat dalam satu catatan khusus kesehatan, dan bahkan itu berlebihan.
Piku berlangganan taksi dengan teman Syed, Rana (Irrfan Khan) di mana selalu terjadi kekacauan antara Piku dan supir-supir taksi tersebut. Pada satu titik, Piku ingin menjual rumah mereka di Kolkata, namun ditentang oleh sang Ayah. Karena hal itu, Bhashkor ingin pergi ke Kolkata untuk membatalkan proses pembelian rumah tersebut. Namun banyak alasan untuk tidak dapat menggunakan transportasi umum seperti pesawat, kereta api, dan bus. Hingga akhirnya Piku membawa ayahnya dengan taksi, yang sayangnya, tidak ada supir yang mau, kecuali Rana sendiri.

Piku merupakan sebuah film yang simpel, tapi memiliki cerita yang tidak biasa. Film yang memperlihatkan cinta seorang anak terhadap orang tuanya, serta aksi-reaksi pada setiap masalah yang di dapat selama perjalanan dapat menghibur penonton. Deepika Padukone tidak dapat diragukan lagi dalam memerankan karakter yang natural, seperti yang ia lakukan di Finding Fanny, Amitabh Bachchan juga menampilkan perannya sebagai seorang ayah dengan mulus tanpa rintangan. Irrfan Khan selalu dapat menghibur penonton dengan aktingnya.
Suguhan musik Anupam Roy yang easy listening dapat menemani perjalanan Piku dari Delhi menuju Kolkata dengan berbagai masalah yang muncul. Sebuah film yang simpel tanpa adanya tarian memang bukan identitas film Bollywood, tapi, Piku yang tayang seminggu lebih awal dari Bombay Velvet dapat mendapatkan perhatian penonton lebih banyak. Kita tidak akan pernah tau selera penonton, tapi satu yang jelas, ketika satu proyek dibuat dengan kesungguhan serta dipoles begitu natural, maka penonton akan datang dengan sendirinya. (as)